I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 51



"Bagaimana Antonio? Kau kenal dengan mereka bukan?" tanya Bell.


Vincent hanya diam memandang kedua jasad itu, Robin dan Jonas. Dengan kematian mereka, memberi isyarat bahwa tidak hanya tim Bruth yang jatuh korban, tapi tim yang sekarang adalah musuhnya itu pun demikian.


"Sekarang, coba lihatlah ke sana, jangan lupa bawa mereka juga," ujar Bell lagi, menggerakkan kelima jari lentik tangan kirinya.


Vincent pun berjalan sembari menyeret jasad Robin dan Jonas ke sisi lain kabin. Dia kemudian meletakkan jasad keduanya.


"Untuk apa kau membawa mereka kemari?" tanya Vincent tanpa menoleh.


Bell cukup terkejut dengan pertanyaan Vincent. Dia mengira sudah mengikat tubuh dan pikiran manusia itu.


"Kau sudah sadar?" tanya Bell tersenyum nakal, lalu hal yang mengejutkan kembali terjadi.


Ptas! Benang merah tipis di ujung jari Bell terputus, disambut dengan raut wajah bingung iblis berbentuk wanita itu.


"Bagaimana kau memutuskannya Antonio?" tanya Bell melayang turun mendekati Vincent.


"Tidak tahu," Vincent beringsut pergi, menghiraukan Bell yang mendekati dirinya.


Dia mencari kemungkinan adanya jasad lain di tempat itu. Benar saja insting reinkarnasi Antonio itu, dia berhasil menemukan jasad lagi.


Dua orang jasad dengan pakaian yang sama. Ketika dibuka, dirinya kembali melihat wajah yang familier, Laurid dan John.


"Robin, Jonas, Laurid, John...." ujar Vincent melihat keempat jasad yang ia jejerkan itu.


Kemudian dia menghadap ke arah kabin, "Dari suara teriakannya, itu pasti kau,"


"Maaf aku telah membunuhmu ... Hansen," lanjutnya.


"Untuk apa kau meminta maaf padanya?" tanya Bell.


"Karena ada hal dan kau tidak perlu tahu," jawab Vincent melirik Bell.


...**********...


Sementara itu di kawasan IGD rumah sakit Charlotte, rumah sakit dibawah naungan Xendra Grup, perusahaan raksasa milik keluarga Hermentsmith.


"Lho Dokter Luis? Kenapa Anda kemari?" tanya salah satu petugas melihat dokter IGD tanpa seragam datang ke rumah sakit.


"Ada berkas yang ketinggalan, jadi aku mau mengambilnya," jawab Luis seraya berjalan masuk ke lobby.


Namun belum juga masuk datang mobil SUV hitam dengan cepat, lalu mengerem mendadak hingga mobil itu hampir nge-drift. Dari dalamnya keluar dua orang pria memakai masker membopong seseorang yang berlumuran darah.


Sontak petugas IGD yang melihatnya langsung berlari mendekat dan menanyakan apa telah telah terjadi pada orang yang di bopong kedua pria itu. Namun keduanya tidak menjawab dan menyuruh untuk segera menolong orang yang mereka bopong, "Cepat selamatkan dia!"


Luis yang melihatnya, sontak jiwa seorang dokter di dalam benak menggerakkannya menemui pri yang diletakkan dalam ranjang IGD. Sontak Luis terkejut bukan main.


"Cepat bawa masuk!" ujarnya, meskipun di saat itu ukan jamnya bertugas, tapi dia punya tanggung jawab sebagai dokter IGD, apalagi dia mengenal pria itu. Dia pun ikut berlari masuk bersama dengan beberapa petugas lain.


Salah satu petugas di dalam IGD melihat kedua pria yang turun dari mobil ingin pergi, ia lantas berlari menghampiri mereka.


"Tunggu! Bisa serahkan identitas kalian? Sebagai wali pasien berusan? Dan kalian baik-baik saja?" Petugas itu melihat dua orang pria itu berlumuran darah.


Mendengar itu, Matt dan Terry saling memandang. Tidak mungkin mereka menyerahkan kartu identitas mereka ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa, mereka bisa terendus.


"Kami baik-baik saja, dan maaf kami tidak bawa Kartu Identitas," ujar Matt.


"Tapi pasien harus ada wali jika ingin ditangani, jika tidak pihak rumah sakit—"


"Ini," Terry memberikan sebuah kartu identitas yang sengaja dia balik. Setelahnya berlari menyeret Matt ke dalam mobil, lalu dengan cepat pergi meninggalkan kawasan IGD.


Petugas itu yang sebelumnya mematung, melihat kedua pria dengan keadaan berdarah-darah itu pergi pun segera berlari masuk ke dalam bangunan bertuliskan IGD itu. Dia mencatat identitas yang tertera di kartu identitas yang di berikan oleh pria tadi.


[Kartu Identitas Penduduk Negara Davante]


Sektor Firemore, Distrik Luinol


Nomor : 84637281003736


Nama : Aksel Fernandez


Sesampainya di depan hutan Yellowgreen, Matt dan Terry langsung turun dari mobil dan menghampiri mobil SUV hitam lain yang masih teparkir.


"Kalian pas sekali, bantu kami membawa yang lainnya keluar," ujar Andreas.


"Iya, mereka masih di dalam," timpal Putney yang sedang mencoba memasukan salah satu jasad rekan mereka.


Terry yang tidak melihat keberadaan Tuannya lantas menanyakan pada Putney, "Tuan mana?"


"Dia ingin kita meninggalkannya disini."


Lalu tiba-tiba terdengar suara beberapa tembakan dari arah hutan. Mereka berempat pun terperanjat. Jangan-jangan musuh masih ada di dalam sana dan kini Tuan mereka sedang dalam bahaya?


Seolah satu pemikiran, mereka berempat langsung berlari masuk ke dalam hutan. Namun dugaan mereka salah, tidak lama setelah masuk, mereka melihat beberapa babi hutan yang tergeletak dengan lubang di kepala mereka, serta pistol Tuannya masih mengeluarkan asap.


"Bantu aku, jangan hanya menonton." titah Vincent melihat keempat bawahannya datang namun mereka berdiri mematung tanpa melakukan apa-apa.


Mendengar itu mereka pun sontak menyahut secara bersamaan, "Baik!"


Akhirnya beban Vincent teringankan. Menarik 3 jasad sendirian dari kabin secara bergantian, belum lagi menembaki babi hutan yang tiba-tiba datang menyerang sangatlah melelahkan.


Setelah jasad ketiga bawahannya dimasukan ke dalam mobil yang dibawa oleh Terry dan Matt, Vincent menyuruh mereka pergi lebih dulu.


"Kalian pergilah, masih ada sesuatu yang harus aku bereskan."


Anggota tim Bruth yang masih hidup pun masuk ke dalam mobil masing-masing, lalu kedua mobil SUV hitam itu pergi dari kawasan hutan Yellowgreen.


Setelah dia sendirian, Vincent masuk ke dalam mobil Aksel. Dia mengamati interior mobil itu dan melihat kembali gantungan yang dahulu dia berikan.


"Kau masih menyimpannya hingga saat ini, maka dari itu kau harus hidup!" gumamnya memegang gantungan itu erat.


Menurut ingatannya, kebiasaan adiknya selalu menyimpan beberapa baju di dalam mobil. Dan ketika dia menggeledah isi mobil itu, benar saja. Dirinya menemukan satu stel baju, dan juga botol air mineral.


Tanpa pikir panjang Vincent melepas baju lalu berlari ke dalam hutan untuk membersihkan sisa darah di tubuhnya. Dia melakukan itu agar tidak ada bekas darah pelataran depan hutan Yellowgreen. Ia mengantisipasi agar warga sekitar tidak melihat, dan melapor ke polisi.


Setelah bersih, meski tidak benar-benar bersih, dia kembali ke dalam mobil dan mengganti pakaiannya yang berlumuran darah dengan pakaian Aksel.


"Belum dicuci. Dasar dia itu, sifat joroknya belum juga hilang." gumam Vincent mencium aroma baju itu kurang sedap.


Ia segera menyalakan mesin mobil, dan pergi meninggalkan hutan Yellowgreen. Di perjalanan dirinya menghubungi Endrew untuk meminta bantuan.


”Endrew, retas CCTV rumah sakit Charlotte, kirim file rekaman CCTV padaku,"


"Baik Tuan."


Setelah beberapa saat, Endrew mengirimkan file rekaman kamera pengawas di sekitaran rumah sakit Charlotte.


Dalam rekaman itu dirinya melihat Terry dan Matt berlari ke dalam IGD, dan terlihat seorang dokter dengan beberapa petugas rumah sakit.


Vincent pun mempercepat laju mobil dan beberapa saat kemudian dia sampai di sisi samping gedung rumah sakit Charlotte, sisi yang tidak terdapat kamera pengawas, serta tidak masuk jangkauan kamera pengawas lain.


Dia masuk dan langsung bertanya pada recepsionis, "Apakah ada pasien yang sebelumnya datang? Ciri-cirinya seperti ini," Vincent menyodorkan foto di ponselnya.


Petugas recepsionis mengetahui siapa orang yang ada dalam foto itu. Dia adalah pasien yang sebelumnya datang bersama dua orang pria dalam kondisi berdarah-darah.


"Iya ada, tapi sebelumnya Anda siapa pasien itu?"


"Saya Vincent, walinya."


Petugas recepsionis pun mencatat Vincent sebagai wali dari pasien itu. Meski dia cukup heran, kenapa orang yang mengaku wali di depannya ini tampak masih muda.


Dilihat dari wajahnya, mungkin dia berumur sekitar 20 tahunan, sedangkan pasien tadi terlihat lebih tua darinya.


Namun si petugas tidak mau terlalu memusingkan hal itu, dan setelah selesai, dia memberikan kartu identitas si pasien beserta dimana pasien itu ditangani.


Vincent menerima kartu identitas itu dan segera berlari menuju ruangan yang dimaksud.


Sementara Bell yang melayang diatas gedung rumah sakit Charlotte tersenyum menyeringai, "Bukalah kejutan dariku Antonio, karena pertunjukanmu terlalu lamban."