I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 14



Wim dan Vincent tiba di Hutan Klausal. Meski dia sering ke tempat itu untuk latihan menembak dengan Justine, tapi hari ini rasanya sangat berbeda.


"Kenapa auranya sangat tidak mengenakan?!" ujar Vincent dalam hati menelan ludah.


Dengan santai Wim menggandeng putranya berjalan menuju sebuah bangunan yang sama sekali tidak pernah di masukin oleh Vincent. Karena selama ini, ketika latihan menembak bersama Justine, dia selalu berada di luar bangunan itu.


Sepanjang perjalanan hingga sampai di depan bangunan, mereka berjalan dalam keheningan. Hingga sampai di depan pintu gedung, dan di sambut oleh anggota tim Bruth.


"Selamat datang di White Krisan Tuan Wim, Tuan Muda Vincent," sapa Bogdan sopan.


"Iya Paman, Uhm nama Paman siapa?" tanya Vincent.


"Saya Bogdan anggota tim Bruth A, Tuan Muda Vincent." jawab Bogdan.


Dia kemudian membawa Wim dan Vincent masuk ke dalam bangunan yang bernama White Krisan itu untuk bertemu anggota tim Bruth lainnya.


Bagian dalam White Krisan ternyata tidak semengerikan bayangan Vincent. Bersih dan rapih, tidak sekotor tempat latihan Tim A. Dimana tempat itu lebih mirip dengan penampungan anjing liar, daripada tempat latihan.


"Kondisinya lebih manusiawi ketimbang tempat Tim A." ujar Vincent dalam hati.


"Nah Vincent, sekarang kau akan bersama mereka ya. Telfon Pak Setyo jika sudah selesai. Papa pergi dulu." Pamit Wim.


"Tuan Muda pernah belajar bela diri sebelumnya?" tanya Ferrell, dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Vincent.


"Jika memang belum, silahkan Tuan Muda melawan kami," sahut Brick.


"Dia gila apa? Aku menjawab belum kenapa malah di suruh langsung melawan?!" ujar Vincent dalam hati kesal.


Meskipun kesal, Vincent pun menuruti perintah Brick. Dengan menggunakan ingatan serta kemampuannya dari kehidupan sebelumnya, dia mulai menyerang Brick.


Ternyata tidak hanya Brick, Bogdan, dan kelima anggota tim Bruth lain ikut menyerang Vincent.


"Tidak adil! Masa 1 lawan 7?!" ujar Vincent dalam hati benar-benar kesal.


Di tengah-tengah latihan, Houtman menyadari sesuatu. Tidak mungkin jika Tuan Mudanya itu tidak pernah belajar bela diri sebelumnya, karena gerakannya begitu cepat.


"Caranya menyerang dan menghindar bahkan posisi bertahannya, ini sama seperti,"ujar Houtman dalam hati menggantung.


"Si anjing rabies!" ujar ketujuh tim Bruth bersamaan.


"Astaga!" teriak Vincent kaget. Ia berhenti menyerang, kemudian menghindar, lalu mundur.


"Anda berbohong ya?" tanya Jackob.


"Berbohong soal apa?" Vincent balik bertanya setengah ngos-ngosan.


"Soal Anda tidak pernah berlatih bela diri," sahut Martin.


"Benar kok, ini pertama kalinya aku belajar," ucap Vincent datar.


"Masa?!" tanya Martin spontan.


Menyadari kelancangannya, Martin segera meralat, "Maksud saya tidak mungkin jika Tuan Muda benar-benar belum pernah belajar, dan dari gerakan Anda, Tuan Muda terlihat sudah terbiasa."


"Tapi aku memang belum pernah belajar! Aku hanya mengayunkan tangan dan kakiku." ucap Vincent menegaskan ulang.


Ketujuh tim Bruth yang mendengarnya pun saling pandang memandang satu sama lain.


"Oh dan anjing rabies itu apa? Jawab jujur!" ucap Vincent setengah memerintah.


"Apakah kalian jujur atau membohongiku?" ujarnya dalam hati.


Suasana hening. Para anggota tim Bruth tidak ada yang bersuara sama sekali.


"Sialan kanapa malah diam?!" ujar Vincent dalam hati kesal.


Dengan kekesalan yang tiba-tiba memuncak, dia pun mulai menyerang kembali, tapi kali ini Vincent sangat serius. Bahkan di tengah-tengah penyerangan, ia mengeluarkan pisau lipat dari balik bajunya.


"Dia berniat latihan atau benar-benar melumpuhkan kami?!" tanya Bogdan dalam hati.


"Sial mereka tidak serius! Seriuslah! Mana kemampuan kalian yang dulu sangat merepotkan Tim A-ku?!" ujar Vincent dalam hati marah.


Kemarahan Vincent tersirat jelas dari sorot matanya yang begitu ingin lebih dari sekedar melumpuhkan anggota tim Bruth, dia ingin menghabisi mereka semua.


"Tuan Muda te-tenang dulu!" ucap Martin mencoba menyadarkan Vincent yang terlalu serius mengganggap mereka sebagai musuhnya.


Rasa marah, dan stres yang tiba-tiba muncul, terus menumpuk di pikiran Vincent. Dia terus menyerang anggota tim Bruth, sehingga karena tidak bisa di hentikan dengan ucapan, dengan terpaksa Andreas 'memaksa' Tuan Mudanya untuk berhenti. Namun bukannya berhenti, Vincent malah semakin menjadi-jadi.


Antonio dikenal dengan sebutan 'Anjing Gila' bukan tanpa alasan. Tanpa di sadari oleh Antonio sendiri, dirinya sangat menikmati pertarungan serta darah dari lawannya.


Bahkan ketika dia di beri tugas untuk membawa seseorang dalam keadaan hidup, dalam prakteknya sang Anjing Gila itu malah membunuhnya.


"Ini menyenangkan!" ujar Vincent dalam hati.


Tanpa sadar ia menyeringai, terlihat cukup menakutkan untuk seorang bocah yang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar.


"Tuan Muda!" teriak Ferrell sembari menghindari sabetan pisau Vincent yang begitu cepat dan lihai.


Meski Vincent hanya bocah dan lawannya adalah tujuh orang dewasa, tapi ketujuh anggota tim Bruth itu mengakui Vincent cukup membuat mereka kerepotan, apalagi gerakannya sangat cepat hingga sulit dilihat.


"Astaga, Tuan Muda itu orang apa bukan?! Kenapa gerakannya sulit dilihat?!" ujar Jackob dalam hati.


Saat perhatian Vincent teralihkan oleh teriakan Ferrell, Jackob memanfaatkan kesempatan itu untuk memegangi tangan kanan Vincent yang memegangi pisau, lalu menjauhkannya.


Pisau itu terjatuh, lalu dengan cepat Brick segera menendangnya. Membuat pisau lipat itu terlempar cukup jauh.


Dengan berat hati Houtman memukul tengkuk Vincent. Tapi di luar dugaan Vincent sama sekali tidak pingsan.


"Apakah aku tidak mengenai sarafnya?!"ujar Houtman dalam hati terkejut.


Vincent tiba-tiba terdiam, lalu menoleh ke belakang, menatap datar ke arah Houtman.


"Maafkan saya Tuan Muda! Saya terpaksa melakukannya!" ucap Houtman meminta maaf.


Jackob pun melepaskan pegangannya, lalu berlari ke samping Hotman diikuti oleh anggota tim Bruth lain. Mereka serentak meminta maaf pada Vincent.


"Maafkan kami Tuan Muda!”


Vincent tidak menanggapi, tatapannya kosong melihat ketujuh tim Bruth yang membungkuk di depannya.


Baru pertama kali dirinya merasakan hal yang sangat menyenangkan, setelah beberapa lama melupakan rasa itu.


"Aku jadi ingin memenggal kepala mereka," ujarnya dalam hati.


"Seharusnya aku yang minta maaf. Maafkan aku Paman semuanya. Jadi jangan terus membungkuk begitu." ucap Vincent.


Ketujuh anggota tim Bruth pun bangkit, lalu menatap Tuan Muda mereka dengan tatapan antara terkejut, senang, kaget, takut semua bercampur aduk.


"Tuan?" panggil Andreas lirih.


"Iya ada apa?" tanya Vincent.


"Sepertinya untuk latihan kali ini di sudahi dulu ya? Lalu ki—"


"Lalu kita akan meneruskannya dengan latihan menembak bukan?" tanya Vincent memotong ucapan Jackob.


Karena sang Tuan Muda sudah mengatakan demikian, Jackob pun tidak bisa membantahnya.


"Ba-baiklah." jawab Jackob.


Dengan gembira, Vincent berlari menuju pisaunya yang terlempar. Dia mengambilnya lalu berjalan menghampiri tasnya yang terletak dekat dengan tembok untuk mengambil pistol barunya atau lebih tepatnya pistol Wim.