
Sesampainya di depan teras rumah , nampaklah dua buah mobil SUV kembar berwarna hitam berjejer depan belakang. Didekat bagasi mobil dibagian belakang itu, Vincent melihat Justine berdiri, melipat kedua tangannya, dan juga Hermit. Mereka berdua seolah sedang menunggu kedatangan dirinya.
“Misi apa sampai semendadak ini? Tanpa persiapan pula,” ujar Justine.
Sedangkan Hermit, dia hanya diam saja melihat ke arah Tuannya itu.
“Mencari Kelinci,” jawab Vincent seraya melewati keduanya, lalu masuk ke dalam mobil lebih dahulu.
Melihat itu, Justine dan Hermit saling memandang untuk sesaat, sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Vincent hanya diam, tanpa bicara apa pun. Dirinya sedang berpikir, sinyal GPS Rebeca menyala di tempat diantara distrik Bee dan Yellowgreen. Manakah yang harus ia pilih, agar tidak memakan waktu terlalu lama. Saat memikirkan itu, Vincent baru sadar. Kenapa dirinya tidak membawa ponsel Ester saja? Endrew bisa membantu dengan melacak GPS Rebeca lebih akurat.
“Bodoh!” monolognya.
Dia lantas bergegas ke luar mobil dan kembali ke tempat taman belakang. Sedangkan Justine, dan anggota tim Bruth B yang berada satu mobil dengan Vincent cukup heran. Kenapa Tuan mereka berlari ke luar mobil kembali, setelah mengatakan ‘bodoh’?
“Siapa tadi yang dia katai bodoh?” ujar Justine.
“Tidak tahu, kita mungkin?” sahut Houtman dari kursi kemudi.
“Lhah kita? Memangnya kita melakukan kesalahan apa, sampai Tuan Vincent mengatai kita bodoh?” timpal Martin dari kursi sebelah Houtman.
Suasana mobil hening, tidak ada yang bicara, sampai beberapa menit kemudian Vincent kembali ke dalam mobil dengan terengah-engah, seolah baru saja berlari.
“Paman Endrew mana? Tidak ikut?” tanyanya melihat mobil itu hanya ada dirinya, Justine, Houtman, dan Martin.
“Tidak, sejak kapan juga Endrew turun ke lapangan?" Justine balik bertanya.
Mendengar itu, seketika Vincent baru sadar. Peretas tim Bruth itu memanglah tidak pernah turun ke lapangan, melainkan bergerak dari markas.
“Hal dadakan semacam ini membuat kepalaku kacau!" gerutunya dalam hati.
Sementara itu, Justine yang duduk disebelah Vincent diam-diam memperhatikan Tuannya ini. Dia tidak seperti biasanya, dan juga terlihat sedikit aneh.
“Vin, apakah misi ini perlu? Kelinci siapa yang kau maksud? Tidak biasanya kau gegabah seperti ini,”
“Ah kau benar Paman..” sahut Vincent memegangi kursi di depannya.
Dia mencoba untuk tenang. Setelah beberapa saat ia menoleh ke arah Justine, “Rebeca telah diculik, dan Ester meminta bantuanku untuk menemukannya,”
Mendengar nama dua orang yang familier di telinga Justine, dia cukup terkejut, “Rebeca di culik?!”
“Paman kenal dengannya?”
“Dia anak Ester Tuan, mana mungkin tim Bruth tidak tahu,” sahut Houtman.
“Tapi aku tidak tahu tuh, sebelum Mama memintaku tadi,”
“Sudah, intinya ini misi Rebeca bukan? Vincent, kau ada sedikit petunjuk untuk melacaknya?” tanya Justine.
Kemudian Vincent menunjukan sinyal GPS Rebeca yang beberapa waktu lalu menyala di ponsel Ester, “Hanya ini, makanya aku bertanya Paman Endrew tidak ikut, aku ingin dia melacak lebih rinci."
Tak menghiraukan ucapan Vincent, Justine meraih ponsel Ester dari tangan Vincent. Kemudian mengotak-atik peta online di layar persegi panjang itu.
Sementara itu di waktu yang bersamaan, Hermit dan anggota tim Bruth B lain yang menunggu di dalam mobil SUV hitam lain, dimana mobil terparkir didepan mobil Vincent, mereka tampak bosan.
“Kenapa lama sekali? Kita tidak diberi instruksi?” tanya Putney dari kursi penumpang tengah.
“Mana aku tahu,” sahut Terry disebelah Putney.
Andreas hanya diam, sedangkan Hermit yang duduk di kursi kemudi terus mengetuk-ngetukan jarinya pada setir mobil. Dirinya juga menunggu instruksi dari Ketua atau pun Tuannya itu. Namun entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang dengan misi kali ini.
“Kok perasaanku tidak enak ya,” ujarnya dalam hati.
“Ada apa sih? Kau sampai berpikir seperti itu? Bukankah Ketua hanya mengatakan misi mencari kelinci ya?” tanya Matt.
“Aku tidak tahu, han—”
“Tim Hermit, kau dengar?” suara walkie talkie yang ada di atas dashbord mobil memotong ucapan Hermit.
“Siap, dengar Ketua!” sahutnya kemudian.
“Bagus, jalankan mobilmu ke distrik Bee. Sedangkan aku akan ke distrik Yellowgreen. Kelinci kita kali ini adalah Rebeca. Prioritaskan dia hidup!”
Mendengar perintah Ketuanya, seketika kelima anggota tim Bruth B itu pun saling memandang satu sama lain beberapa detik. Rebeca adalah putri Ester, CEO CJ&E Entertainment yang banyak membantu tim Bruth dan Xendra beberapa waktu lalu.
Hermit pun menjawab, “Siap Ketua!”
Kemudian dia menekan pedal gas. Mobil SUV hitam itu pun melaju pergi dengan cepat. Sedangkan mobil SUV hitam lainnya juga pergi meinggalkan pelataran depan teras rumah keluarga Hermentsmith.
Di dalam mobil, Vincent menghubungi Endrew untuk meretas CCTV jalan menuju kedua distrik itu. Karena jika hanya mengandalkan GPS yang menyala beberapa jam di ponsel Ester ini, dapat dipastikan sangat kurang.
“Apa kau bisa Paman Endrew?” tanya Vincent di telepon.
“Saya usahakan Tuan Vincent. Mohon jangan memutuskan sambungan panggilan ini,”
“Baiklah,”
Dari telepon yang sebelumnya telah diubah oleh Vincent ke mode speaker itu, dirinya dapat mendengar suara keyboard yang ditekan dengan keras dan cepat.
Sementara menunggu informasi dari Endrew, Vincent memeriksa pistol serta pelurunya. Di saat memeriksa itu, dirinya tiba-tiba teringat sesuatu 12 tahun yang lalu. Dimana iblis berbentuk wanita yang tidak lain adalah Bell mengatakan, bahwa dirinya dan Carlos akan bertemu di hutan dibawah kepemilikan Xendra atau pun keluarga Hermentsmith.
“ Apakah itu hari ini?” ujarnya dalam hati.
Dia pun menoleh ke arah Justine, “Paman Justine, Hutan Yellowgreen itu hutan dibawah naungan siapa?”
“Pemerintah,”
"Bukan Xendra atau Hermentsmith?"
"Bukan, dulu sempat ingin dibeli oleh Mendiang Tuan Abraham, namun tidak jadi."
Sontak jawaban dari ketua tim Bruth itu membuat Vincent cukup terkejut. Baru kali ini prediksi dari Bell meleset, meski tidak sepenuhnya.
Ditengah itu, suara Endrew terdengar dari telepon, “Tuan Vincent, ada anjing lain.”
“Anjing? Anjing siapa?”
“Aku tidak tahu persisnya, tapi rekaman CCTV di sepanjang jalan menuju distrik Yellowgreen telah di sabotase. Saat aku mencoba meretas, mereka menanamkan virus, namun bisa aku tangani. Akan tetapi file rekaman CCTV-nya rusak total. Tidak dapat dipulihkan.”
“B*ngs*t,” desis Vincent.
Hal yang disampaikan oleh Endrew itu secara tidak langsung mengonfirmasi, bahwa dirinya akan berhadapan dengan mantan timnya dulu. Anjing yang dikatakan oleh Endrew, yang ampu merusak serta menyempatkan virus pada file rekaman CCTV, tidak lain dan tidak bukan pastilah dia.
“Vilius,” ujar Vincent dalam hati.
“Paman Endrew, aku tutup teleponnya untuk menghubungi Paman Hermit,” ujarnya kemudian.
“Baik Tuan Vincent,”
Setelahnya, Vincent mematikan sambungan telepon, lalu menghubungi nomor Hermit.
“Dengan Hermit disini, ada apa Tuan? Saya baru turun dari mobil hendak—”
“Kembali! Putar balik ke hutan Yellowgreen, sekarang!" titahnya dengan nada tegas.