
Aksel menoleh ke kanan dan kiri, kebingungan dengan tempatnya berada. Semuanya gelap bagai ruang hampa, lantai tempatnya berupa air yang mengeluarkan cahaya dan dia mendapati dirinya berdiri di atas air.
'Tempat apa ini?' batin Aksel, memindai lantai air dibawah kakinya.
Air itu pun beriak, kemudian sesosok wanita muncul dari kegelapan. Seorang wanita cantik berpakaian merah. Sama sepertinya, dia berjalan di atas air itu.
"Hai Aksel, kau tidak setampan kakakmu ya, sayang sekali," ujar si wanita berhenti berjalan.
"Siapa kau? Kenapa kau tahu kak Nio?" tanya Aksel mengerutkan keningnya, penuh curiga.
“Oh kau memanggilnya Nio? Wah Antonio punya panggilan yang bagus,” jawab wanita itu, tidak menjawab pertanyaan Aksel.
“Aku tanya kau itu siapa? Dan kenapa kau mengenal kakakku?” tanya Aksel lagi, berdiri dengan posisi seakan bertahan.
“Wah-wah, kau waspada sekali. Tenanglah, aku itu wanita. Aku tak akan mampu menang jika menyerang seorang pria,” jawab wanita itu.
‘Wanita ini menyebalkan,’ batin Aksel, karena lagi-lagi wanita itu tidak menjawab pertanyaannya dan malah membicarakan hal lain.
“Hei aku dengar loh, kau menyebutku menyebalkan.” ujar wanita itu menunjukkan wajah cemberut.
Aksel hanya diam, masih memandang penuh curiga pada wanita itu. Siapa yang tidak curiga? Dirinya yang sekarang tidak tahu dimana, lalu tiba-tiba datang seorang wanita asing yang tahu namanya, dan membicarakan sang kakak yang telah meninggal dunia.
Ditambah penampilan wanita itu tidak seperti manusia. Mata merah, serta mempunyai kuku merah yang sangat panjang, hingga dua kali panjang jari itu sendiri.
‘Tidak ada manusia yang seperti itu, dia pasti bukan manusia. Apa dia iblis?’ terka Aksel, mnatap wanita yang berdiri tak jauh darinya itu.
Bibir seksi wanita itu tersenyum miring, kemudian dia cekikikan seperti orang gila. Membuat Aksel semakin yakin bahwa wanita di depannya ini memanglah iblis.
“Apa yang lucu?” tanya Aksel.
“Kau. Aksel, kau sedikit lebih pintar ketimbang Antonio. Kau benar,” jawab wanita itu.
“Berhenti bicara berputar-putar! Kau itu siapa?! Kenapa kau seperti mengenal kak Nio?!” tanya Aksel mulai geram pada wanita di depannya.
“Bukankah aku sudah mengatakannya? Kau benar. Aku iblis, Bell.” jawab wanita itu.
“Apa maumu iblis?” Aksel mengerutkan alisnya, menatap tajam ke arah Bell.
“Menyapamu saja dan memberitahumu sesuatu. Kakakmu, Antonio, dia masih hidup.”
Sontak Aksel mengendurkan alisnya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terucap dari mulut Bell. Namun dia dengan cepat menyadarkan diri, mungkin saja iblis di depannya ini berbohong.
“Kau tak pernah melihat jasad Antonio bukan? Lalu kenapa selama ini kau percaya jika dia sudah mati?” tanya Bell menggoyahkan pendirian Aksel yang tidak percaya padanya.
Aksel terperanjat, yang dikatakan wanita iblis itu memang benar. Dia tidak pernah menemukan jasad sang kakak. Selama ini dia tahu kakaknya sudah meninggal hanya dari pesan yang pernah dia tinggalkan.
...“Jika itu terjadi, sudah dipastikan bahwa aku mati. Tim A sangat berbahaya, aku mati-matian menyembunyikanmu, jadi jangan mendekati kandang anjing gila itu Aksel.”...
Aksel menurunkan pandangannya ke arah lantai air. Dia mulai goyah. Apakah yang dikatakan Bell benar? Kakaknya selama ini belum mati? Apakah dia selama ini dikurung oleh para anjing gila itu?
‘Tapi mana mungkin mereka mengurung ketua mereka sendiri. Tapi … mereka anjing gila, hal itu bisa saja terjadi,’ batin Aksel. Pikirannya jadi berputar-putar.
Bell masih tersenyum melihat manusia di depannya ini meragukan pikirannya sendiri dan mulai terpengaruh dengan perkataannya. Aksel memang sedikit lebih pintar dari Antonio, namun dia tahu, manusia itu tidak seteguh Antonio.
“Berhenti memandangi air begitu,” ujar Bell agar Aksel mengangkat kepalanya.
Sesuai dugaan, adik Antonio itu mengangat kepalanya, memandang Bell. Wanita itu berjalan mendekati Aksel, namun saat Aksel hendak mundur untuk menjauh, tubuhnya tidak bisa dia gerakan.
‘Apa yang terjadi?! Tubuhku tidak bisa bergerak!’ batin Aksel melirik kakinya hanya diam di tempat ketika dia mencoba menggerakkannya.
“Kembalilah, Antonio menunggumu. Aku jamin yang duduk di sebelahmu itu Antonio, meski wujudnya berbeda. Dia juga sekarang lebih muda darimu,”
Begitu mata Aksel melihat ke depan, Bell telah melayang di depannya. Dia tersenyum, namun Aksel tahu, ada maksud lain dibalik senyuman itu.
“Ingatlah itu,” ujar Bell, tangannya mendorong Aksel.
Seketika itu juga Aksel jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tempat yang juga sangat gelap.
...\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~...
Ketika dia perlahan membuka mata, pandangannya sangat silau oleh beberapa lampu yang terpasang di langit-langit. Lalu dia menggerakkan matanya ke samping kiri.
Ada dua orang pria yang duduk di sampingnya. Wajah mereka tidak terlalu jelas, namun dia tahu, mereka tampak panik. Salah satu diantara mereka pergi entah kemana.
Sedangkan yang satunya lagi, dia bicara padanya. Namun ia tidak dapat mendengar apa yang dia bicarakan. Tidak lama beberapa orang berpakaian putih datang, mereka mengecek tubuhnya.
Sama seperti pria di samping dirinya, orang berpakaian putih itu juga bertanya sesuatu padanya. Namun sekali lagi, dia tidak dapat mendengar apa yang dia tanyakan.
“S…”
“S … a… da… ra…”
“A… da… de… sa… ya… As…”
Suara orang itu sangat tidak jelas di telinga Aksel. Apa yang mereka bicarakan? Apa yang berusaha mereka tanyakan padanya?
Lalu pandangan Aksel bertambah buram dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap kembali.