
Di ruangan CEO...
Wim sedang membaca sebuah dokumen, begitu ia membalik halaman, secarik kertas terjatuh dari dalamnya. Dia memungut kertas itu, dan melihat sebuah tulisan tangan yang tidak asing baginya.
...'Papa! Aku dengar setelah persengketaan dengan Buston dimenangkan oleh Lippo, mereka berencana membuat proyek gedung mall dengan dana $ 68.000.000! Papa tidak tertarik membangun proyek disana? Apa Xendra akan diam saja? Padahal menurutku Area F di Jalan Mawar itu menguntungkan'...
"Sejak kapan Vincent menulis ini? dia bisa tahu proyek itu dari mana?" tanya Wim dalam hati.
Dirinya memang sedang menyelidiki diam-diam rencana Lippo, tidak disangka putranya bisa mengetahui hal itu lebih dulu.
"Dia pintar, $68.000.000 cukup besar tapi Jane sedang mempersiapkannya." ujar Wim dalam hati tersenyum.
Tok! Tok! Terdengar pintu ruangan di ketuk dari luar.
"Masuklah," ucap Wim.
Seorang sekretaris membawa dokumen yang diminta oleh Wim. Setelah meletakkan dokumen itu diatas mejanya, ia berpamitan. Tepat sebelum sekertarisnya sampai di pintu, Wim memberi perintah untuk memanggil pimpinan tim Creative Crew.
"Baik Pak Wim, saya akan memanggil Pak Justine segera." ucap Sekretaris sebelum akhirnya keluar dari ruangan Wim.
Tidak berselang lama, Justine menghadap CEO Xendra Grup tersebut, "Ada perlu apa Pak Wim memanggil saya?"
Meski Justine dan Wim adalah teman, tapi jika didalam perusahaan, dia harus bersikap formal selayaknya seorang karyawan pada atasannya.
Wim berdiri dari kursi, lalu meletakkan kertas yang ditulis oleh Vincent diatas meja, lalu mengetuk-ngetuk kertas itu, menyiratkan Justine harus membacanya.
Ketika membaca isi kertas itu, Justine sedikit terkejut karena Vincent mengetahui lebih dahulu apa yang dia dan tim Bruth tengah selidiki.
Selatan membaca, pandangannya beralih ke Wim, tapi ia tidak bicara apapun.
"Bagaimana Justine?" tanya Wim.
"Pedang bermata dua," ujar Justine dalam hati.
"Bagaimana jika memberi sedikit hadiah pada Buston? Lalu di saat bersamaan Xendra ikut masuk dalam permainan," ucap Justine memberi saran.
"Kemudian?"
"Kemudian saat kekalahan Buston dalam perbuatan Area F, kita akan memberi hadiah penuh." lanjut Justine.
Wim tersenyum, "Baiklah, kau boleh pergi."
Justine membungkuk, lalu berjalan keluar ruangan. Wim memandang pintu untuk sesaat, kemudian ia berjalan ke arah dinding kaca ruangananya, melihat pemandangan Kota Yarden.
...****************...
Vincent berlatih menembak dengan perasaan sangat gembira. Dia tidak sadar sudah memaksa anggota tim Bruth yang bersamanya, berlatih selama lebih dari 4 jam. Langit yang sebelumnya terang pun sudah berganti menjadi gelap.
"Tuan Muda, sepertinya kita harus menghentikan latihan hari ini," ucap Brick.
"Sebentar lagi Paman."
"Tidak kusangka tugas yang diberikan akan seberat ini. Pantas saja saat Ketua mengatakan jika tugasnya bertambah yaitu mengasah pisau, dia menghela napas." keluh lesu Brick dalam hati.
"Tuan Muda, hari sudah gelap. Bukankah Tuan harus berangkat sekolah esok hari?" tanya Houtman mengingatkan Vincent.
Keenam anggota tim Bruth yang mendengarnya, menatap harap pada Houtman. Seolah mereka berbicara, 'Bagus Houtman! Tolong buatlah Tuan Vincent mau berhenti!'
Dirasa perkataan Houtman ada benarnya, Vincent pun menjawab dengan menganggukkan kepala, lalu melepas seluruh perlengkapan menembak yang terpasang di kepalanya.
Hal itu membuat ketujuh anggota tim Bruth sangat gembira, dengan segera mereka membereskan peralatan menembak mereka dan juga milik Vincent.
Sedangkan Vincent sendiri menelepon seseorang, "Pak Setyo, jemput ya di Hutan Klausal."
"Baik Tuan Muda Vincent." jawab Pak Setyo dari telepon.
Ketujuh anggota tim Bruth serta Vincent berjalan kaki menuju gerbang, dan dalam perjalanan itu Vincent terus tersenyum.
Di dalam benaknya, ternyata latihan di kehidupan keduanya kali ini tidak sekeras dan tidak semengerikan yang ia bayangkan.
Sesampainya di gerbang, mobil Toyota Alpard hitam telah menunggu. Setelah berpamitan dengan ketujuh anggota tim Bruth, Vincent naik kedalam mobil.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Vincent memikirkan tentang pesan yang dia tulis untuk Wim.
"Apa dia membawa dokumen itu? Semoga saja, sudah susah payah aku menyusup." ujarnya dalam hati.
"Tapi apa pasangan muda jaman sekarang tidak tahu malu ya? Bisa-bisanya mereka melakukannya dengan panas padahal pintu kamar mereka terbuka, sedikit sih, tapi aku kan jadinya lihat!" lanjutnya membatin.
Kruyuk! Perut Vincent berbunyi, rasa lapar mulai dia rasakan. Dia baru sadar belum apa pun dari siang, sehingga ia meminta Pak Setyo untuk mampir ke restoran yang biasa di sambangi keluarga Hermentsmith untuk makan.
Namun diluar dugaan, Pak Setyo tidak mengabulkan permintaannya. Hal itu karena perintah Wim untuk melarang Vincent mampir-mampir setelah insiden percobaan penculikan dirinya beberapa waktu lalu.
"Tapi pak Setyo, sebentar saja," pinta Vincent.
"Maaf Tuan Muda, tidak bisa." jawab Pak Setyo.
Vincent pun mengeluarkan pistol dari dalam tasnya. Diam-diam Pak Setyo memperhatikan Tuan Mudanya itu dari kaca spion tengah. Melihat Vincent memeriksa isi perlu, Pak Setyo menelan ludah.
"Apa dia akan menembakku karena tidak memberi apa yang dia inginkan?" tanya Pak Setyo dalam hati.
Namun dia lega, karena Tuan Mudanya itu hanya memeriksa, setelahnya kembali memasukan pistol itu ke dalam tas.
Sampainya di rumah, Beruntung para pelayan telah menyiapkan makan malam. Sehingga Vincent dapat langsung mengisi perutnya sakit yang sudah keroncongan.
"Papa mana?" tanyanya pada salah satu pelayan karena tidak melihat Wim sama sekali. Bisanya dia seperti Jane, berisik ketika Vincent sampai di rumah.
"Tuan Wim belum pulang Tuan." jawab pelayan sembari ijin untuk pergi ke dapur.
"Dia belum pulang? Yah aku juga tidak peduli." ujar Vincent dalam hati seraya menghabiskan makanannya.
Setelah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, tapi dia sama sekali tidak bisa tidur.
"Menyebalkan sekali," gumamnya seraya bangkit.
Ia turun dari tempat tidurnya, lalu membuka laci deket ranjang, mengeluarkan sebuah papan catur.
"Abraham sudah tidur belum ya? Aku ajak main catur ah," ujarnya dalam hati seraya keluar kamar.
Vincent keluar ke taman belakang, melihat sang Kakek tengah duduk di kursi taman memandang kolam berisi ikan emas.
"Grandpa! Ayo main catur!" ucap Vincent meletakkan papan catur di atas meja, lalu duduk di depan Abraham.
"Baiklah, sudah lama kita tidak main bersama." ucap Abraham.
Kakek dan cucu itu pun bermain catur cukup lama, dan Vincentlah yang selalu memenangkan tiap sesi.
"Grandpa kalah telak, Vincent memang hebat ya." puji Abraham.
"Mamamu belum pulang dari Moscow?" lanjutnya bertanya.
"Belum," jawab Vincent membereskan bidak catur.
"Kau tahu kenapa Mamamu pergi ke Moscow?" Abraham kembali bertanya.
"Shopping." jawab Vincent polos.
Abraham pun terkekeh, membuat Vincent curiga. Jangan-jangan Wim tidak mengatakan hal yang sesungguhnya alasan ibunya pergi ke Moscow.
"Wim berhati-hati dalam berbicara, apa aku kurang mendapat kepercayaannya?"pikir Vincent.
"Kenapa Grandpa tertawa?" tanya Vincent penasaran.
Abraham hanya tersenyum, lalu mengajak cucunya itu kembali masuk kedalam rumah.
"Sialan, dia pun tidak mau bicara. Aku kira Jane hanya wanita biasa yang selalu drama, tapi sepertinya seluruh orang di keluarga ini ikut andil dalam urusan Xendra." ujar Vincent dalam hati.