
Vincent berjalan-jalan di taman belakang karena bosan melihat adegan romantis kedua orang tuanya yang menurutnya membuatnya mual.
"Pingin muntah rasanya." gumamnya sendiri didepan kolam ikan emas.
"Kenapa pingin muntah?"
Mendengar sahutan itu, Vincent langsung menoleh. Ternyata Wim mengikutinya hingga ke taman belakang.
"Tidak ada sih," ucapnya lirih.
Wim berjalan mendekati Vincent lalu berjongkok di sampingnya, "Kenapa wajahmu murung begitu?"
"Tidak kenapa-kenapa kok,"
"Papa melihatmu masuk ruangan kerja Papa, Kau yang menulis ini 'kan?" Wim menunjukan layar ponselnya yang menampilkan foto kertas berisi tulisan tangan Vincent.
Vincent sendiri hanya diam menatap ayahnya penuh arti. Melihat respon putranya, Wim terkekeh lalu kembali memasukkan ponsel ke saku bajunya.
"Vincent, sepertinya kau sudah paham urusan perusahaan ya." ucapnya memegang kedua pundak Vincent.
Wim kemudian menggendong putranya itu, "Papa tidak tahu kau mendapatkan informasi itu darimana, tapi besok Papa akan rapat pada pemegang saham—"
"Untuk merebut proyek Lippo 'kan?" potong Vincent.
"Bukan merebut, lebih tepatnya," Wim mendekatkan mulutnya ke telinga Vincent.
"Merampas." bisiknya.
"Tapi Papa punya uang? Fey menyiapkan $68.000.000 loh," sahut Vincent yang tanpa sadar menyebut nama CEO Lippo Grup tersebut.
"Fey? Darimana kau tahu nama itu?" tanya Wim keheranan.
Bagaimana bisa putranya tahu nama itu, padahal dia ataupun tim Bruth tidak pernah menyebut nama itu didepan Vincent.
"Aduh mati aku! Kelepasan!" ujar Vincent dalam hati panik.
Namun dirinya segera ingat bahwa ia pernah melihat nama Fey ada di buku agenda Wim yang tergeletak di ruang kerja, saat dirinya diam-diam pergi ke ruangan kerja Wim setelah mengintip kedua orang tuanya sedang sibuk melakukan 'itu'.
"Kan ada di buku Papa, buku hitam kecil itu." jawab Vincent polos.
"Buku hitam? Maksudnya agenda yang tidak sengaja aku tinggalkan?!" ujar Wim dalam hati terkejut. Bukan tanpa alasan ia begitu terkejut dengan jawaban polos Vincent.
Malam itu...
Wim menghela napas, memandang buku kecil yang ia fungsikan sebagai agenda. Dia menulis hasil investigasi tim Bruth terhadap Lippo.
Saingan Xendra itu tengah mempersiapkan sebuah proyek di distrik Gangnam.
Dia memutar kursinya memandang bulan di langit malam yang hanya terlihat separuh. Tok! Tok! Terdengar ketukan pintu. Lalu karena pintu ruangan kerjanya tidak ia kunci, orang yang sebelumnya mengetuk pintu itu memutar handle dan masuk.
Ketika Wim memutar kursinya, dia melihat Jane sedang memakai baju tidur terusan berbahan satin yang mengkilat berwarna peach.
"Kenapa dia memandangku seperti itu?" tanya Wim dalam hati karena isterinya itu cemberut saat menatapnya.
Jane berjalan, lalu duduk atas paha Wim. Membelai wajah suaminya dengan lembut dan manja, lalu menarik kerah Wim kearah wajahnya tanpa mengatakan apa pun.
"Apa? Kau mau apa?" tanya Wim bingung.
Jane pun bangun dengan wajah yang tambah cemberut lalu pergi ke ruangan samping, kamar tidur mereka berdua.
Kamar tidur Wim dan Jane sedikit berbeda dengan kamar tidur umumnya. Didalam kamar itu ada 2 kamar lagi. Seperti kardus didalam kardus. 2 kamar itu berdampingan, satu kamar tidur dan satunya adalah ruang kerja Wim.
Wim pun meletakkan buku yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja kerja, lalu menyusul isterinya yang sudah memberi kode untuknya jika dia ingin nafkah batin.
...----------------...
Wajah Wim merah padam, seperti udang rebus. Dia langsung menutup wajahnya karena sangat malu, meski belum tentu Vincent melihatnya tapi, kemungkinan terbesar, hampir 100% putra kecilnya itu melihatnya.
"Kenapa wajahnya merah begitu? Dan kenapa dia menutupi wajahnya?" tanya Vincent dalam hati kebingungan dengan sikap Wim yang tiba-tiba menjadi aneh.
"Vi-Vin-Vincent," panggil Wim terbata-bata.
"Iya? Kenapa Papa menutup wajah Papa sih?" tanya Vincent berjongkok untuk melihat wajah ayahnya.
Wim langsung mengalihkan wajahnya kesamping karena merasa sangat malu terhadap putranya.
Sontak hal itu membuat Vincent tambah kebingungan, tidak biasanya Wim bersikap aneh seperti ini.
"Papa kenapa? Papa marah padaku sampai wajah Papa merah karena menahan amarah? Papa marah karena aku diam-diam masuk ruang kerja Papa ya? Hiks! Maafkan aku Papa!" Vincent mulai menangis.
"Eh? Bukan Vincent, Papa tidak marah kok!" Wim mencoba menenangkan Vincent dengan mengusap air matanya.
Dia merasa bersalah membuat Vincent salah mengira bahwa ia marah, sampai bocah yang tidak pernah menangis bahkan sejak lahir itu, kini menangis dengan keras.
"Papa tidak marah, jangan menangis Vincent, cup, cup," ujar Wim memeluk putranya, menepuk-nepuk pelan punggung Vincent.
Setelah Vincent sedikit tenang, ia menggendong putranya untuk masuk kedalam rumah.
"Jangan menangis ya, besok Papa berikan hadiah untuk Vincent."
"Hadiah apa?" tanya Vincent masih sesegukan.
"Area F, Distrik Gangnam, Proyek A&E Mall."
Mendengar jawaban Wim membuat Vincent sangat senang. Ia tidak menyangka usahanya selama ini akan membuang hasil meski perlu banyak drama.
"Fey! Tunggulah! Ini awal balas dendamku!" ujarnya dalam hati dengan penuh kemenangan.
Dia begitu gembira karena proyek besar seperti A&E Mall pasti memiliki dana dari investor dan juga dari para pemegang saham Lippo. Sehingga jika proyek itu jatuh ke tangan Xendra, sudah dipastikan Lippo merugi cukup besar.
Jika itu benar terjadi, satu langkah Antonio dalam membalas dendam pada Lippo yang selama hidup ia percaya, malah membunuh dirinya tanpa alasan yang jelas.
Dirinya tidak akan mengira bahwa bukan hanya Area F yang akan diberikan oleh CEO Xendra Grup itu, melainkan ada hal yang tidak kalah besar tengah disiapkan oleh Tim Bruth dalam bayangan.
...****************...
Keesokan harinya, rapat pemegang saham diadakan untuk mendiskusikan apakah Area F menguntungkan atau tidak untuk di beli.
"Apa keuntungan yang kau tawarkan Tuan Wim?" tanya salah satu pemegang saham.
Wim yang terkenal pendiam oleh para pemegang saham ataupun karyawannya, kini tersenyum lalu menjelaskan berbagai keuntungan yang Xendra dapatkan bila berhasil membeli Area F.
Pertama, itu wilayah strategis. Terletak disebelah Distrik Luinol yang merupakan jantung dari berbagai perusahaan.
2.Kedua Area itu juga terletak di Jalan Mawar, tepat berapa di tengah-tengah Distrik Gangnam. Dimana seluruh aktifitas konsumtif berpusat.
Jika dibangun pusat perbelanjaan modern dengan barang dari kelas atas hingga menengah ke bawah, akan memaksimalkan keuntungan, karena keseluruhannya ada di Area F.
"Bukankah area itu lebih cocok untuk masyarakat kelas atas? Mengingat letaknya di jantung Distrik Gangnam?" tanya pemegang saham yang lain.
Belum sempat menjawab, pemegang saham lain bertanya kembali, "Bukankah membangun keseluruhan tingkatan kebutuhan masyarakat dari kelas atas sampai bawah memerlukan modal yang sangat besar?"
"Bukankah kita bisa mengambil hati khalayak umum?" Wim balik bertanya.
Para pemegang saham diam, dan saling memandang antara satu dengan yang lain. Mereka tidak mengerti dengan pertanyaan Wim.
"Bukankah waktunya pas? Buston sedang jatuh dan kehilangan kepercayaan sejak kasus penggelapan serta monopolinya." jelas Wim.
"Lalu oesaing kita? Lippo?" tanya pemegang saham lain.
"Anda tahu dana berapa yang mereka siapkan?" Wim balik bertanya.
Para pemegang saham saling memandang, lalu menggelengkan kepala mereka.
"$68.000.000,-" jawab Wim.
"Bagaimana dengan Xendra? Berapa dana berapa dana yang kita miliki?" tanya pemegang saham lain.
"$100.000.000 dan jika masyarakat mau ikut andil maka paling banyak kita maka sekitar $100.000.000,-" jawab Wim dengan percaya diri mengingat masyarakat percaya pada perusahaan sebesar Xendra Grup tidak akan mungkin menghianati mereka.
Setelah CEO Xendra itu menjelaskan panjang lebar serta mencoba mendapat kepercayaan mereka, akhirnya para pemegang saham pun setuju untuk membeli atau lebih tepatnya merampas Area F dari tangan Lippo.
Selain itu, Xendra juga akan memasang iklan diatas gedung mereka. Menangajak masyarakat ikut andil dalam rencana pembangunan itu, dengan embel-embel 'investasi masa depan'.