
[2,5 jam sebelumnya, kediaman Hermentsmith. Pukul 7 malam di meja makan]
"Mereka kenapa sih?" tanya Jane dalam hati melirik suami dan putranya.
Dia memperhatikan, sudah beberapa hari ini, Wim dan Vincent sama sekali tidak bicara satu sama lain. Mereka saling diam, bak orang yang tidak mampu berbicara.
Bahkan saat ini, suasana meja makan yang selama ini hangat oleh bercandaan keluarganya, kini tampak mencekam seperti di pemakaman. Tidak tahan dengan kesuraman ini, akhirnya Jane pun buka suara.
"Kalian ini kenapa sih?" tanyanya seraya memotong daging di piringnya dengan cukup keras, menimbulkan suara yang cukup mengganggu telinga.
"Mama, pelan-pelan. Suara pisaumu itu," tegur Vincent seraya menyipitkan satu mata, menahan suara goresan ujung benda besi itu bersinggungan dengan piring kaca, bak ikut menggores telinga.
Jane sama sekali tidak mwnggubris teguran putranya. Dia masih memotong daging dengan keras dan terkesan asal-asalan. Sikapnya yang tidak biasa ini pun, meski membuat dua pelayan yang sedang melayani keluarganya makan juga merasa tidak nyaman, namun dirinya berhasil mendapatkan perhatian Vincent dan Wim.
Suaminya itu terlihat berhenti memotong daging di piringnya. Pasti setelah ini, dia akan mengatakan sesuatu padanya.
"Jane, hentikan." ujar Wim seraya menatap Jane yang duduk disisi kiri dari meja makan.
Benar bukan dugaanya, Wim langsung mengeluarkan kata larangan padanya. Jane pun langsung menghentikan perbuatan yang menimbulkan suara goretan yang sangat tidak ramah di gendang telinga itu.
"Pelayan, kalian pergilah." titah Jane pada kedua pelayannya.
Mendengar perintah itu, kedua pelayanan yang sedang berdiri pun menjawab, "Baik Nyonya." Sebelum akhirnya membungkuk, lalu meninggalkan meja makan.
Kini, meja bundar berlapis kaca tempat tersajinya makan malam keluarga Hermentsmith, bak ikut merasakan dinginnya suasana makan ketiga anggota keluarga konglomerat ini.
"Aduh, ini meja makan loh, bukan kuburan. Kenapa sepi sekali?" monolog Jane dengan mulut cemberut, memperhatikan daging di piring kaca, tepat di depannya.
"Kau itu kenapa Jane?" tanya Wim. Dia heran kenapa istrinya tiba-tiba bertingkah tidak mengenakan seperti ini.
"Seharusnya aku yang bertanya, kalian itu kenapa? Aku perhatikan orang yang biasanya selalu berbincang kini tiba-tiba diam seribu bahasa," ungkap Jane.
Iris mata hitam, berhias lentiknya bulu mata itu melihat lekat ke arah Wim dan Vincent. Dia menunggu salah satu diantara mereka membuka mulut.
"Itu..."
"Itu apa?"
"Yah, aku marah dengan Papa yang mengataiku bodoh," tukas Vincent tanpa basa-basi, seraya memasukan potongan daging yang ia tusuk menggunakan garpu, ke dalam mulutnya.
Mendengar itu Wim melirik ke arah Vincent sesaat, kemudian dia dikejutkan dengan tatapan selidik dari Jane. Meski tidak bicara apa pun, istrinya ini dengan jelas menanyakan alasan dirinya mengatai Vincent bodoh.
"Kalau sudah begini, Jane pasti akan mengibarkan bendera perang," keluhnya dalam hati.
"Begini Jane, mumpung ada kau disini. Aku minta pendapatmu."
"Pendapat?"
Wim menganggukan kepala, lalu menoleh ke arah Vincent yang masih sibuk dengan dagingnya, " Vincent, aku minta waktumu."
Mendengar itu, dengan menghela napas, Vincent pun berhenti makan, menoleh ke arah orang yang meminta waktunya ini.
"Ha? Salah paham bagaimana? Jelas-jelas Papa mengataiku bodoh dengan penemuan LY-ku bukan?" tanya Vincent yang dadanya mulai terasa panas, mengingat kembali saat dirinya dikatai bodoh itu.
"Bukan LY-mu, tapi kau. Kau menggunakan komponen Biox sih tak apa, toh itu memang milik Xendra, tapi tidak dengan ByxBe."
Mendengar komponen milik Buston terucap dimulut suaminya, Jane mengerti ke arah mana pembicaraan ini.
"Maaf jika aku menyela, tapi Mama kira, Papamu berusaha mengatakan jika kau menggunakan komponen Buston itu tanpa membelinya terlebih dahulu, kau akan terkena sanski pelanggaran hak cipta. Meski bangkrut hak cipta ByxBe masih milik Buston."
Wim pun melebarkan matanya, begitu menoleh ke arah Jane. Tak disangka isterinya ini langsung paham apa yang ia maksudkan bodoh pada Vincent.
"Tumben dia pintar," pujinya dalam hati.
Mendengar tutur kata lembut Jane itu, seketika meruntuhkan dinding yang mengganjal hati Vincent. Kenapa dirinya tidak mengingat akan hal kepemilikan seperti itu.
"Wah aku salah ternyata, Wim benar aku yang bodoh." ujarnya dalam hati, kini membenarkan perkataan Wim beberapa hari lalu.
"Jadi aku harus membelinya lebih dahulu sebelum meluncurkan LY Pay ya?" tanyanya pada Wim.
Ctik! Suara jentikan jari Wim mengonfirmasi jawaban, bahwa yang dikatakan Vincent itu benar.
"LY Pay itu apa?" tanya Jane, dia sama sekali tidak tahu menahu tentang kata asing yang kembali terucap dari mulut putranya itu.
Dengan bangga Vincent menjelaskan, "Gerbang pembayaran milik Xendra. Aku akan membuat pembayaran mandiri, dan sebelum ditanya nasib P Pay, mereka masih dipakai sih, karena tidak mungkin jika harus memutuskan kerja sama yang terjalin cukup lama itu."
"Wah, bagus dong Vincent." puji Jane, kemudian dia menoleh ke arah Wim, "Bagaimana dengan pemegang saham? mereka setuju atau tidak?"
"Setuju saja sih, karena Vincent sudah mengambil hati mereka jauh sebelum aku mengatakan permintaannya itu."
Kini suasana yang sebelumnya mencekam berubah menjadi hangat kembali, kesalahpahaman antara ayah dan anak pun terluruskan. Mereka pun meneruskan makan malam dengan hangat.
...**********...
[Masa sekarang, halte Eron]
Aksel telah menyusuri jalanan tempat terakhir kali GPS Rebecca menyala. Namun area itu sangat sepi, tidak ada orang yang bisa ia tanyai. Dia pun melihat jam pintarnya, jam menunjuk pukul sembilan malam. Dirinya seakan terus dikejar waktu, nyawa kekasihnya itu tengah menjadi taruhan.
Dia hendak menelepon pihak kepolisian, namun ia mengingat jika polisi meminta waktu 2x 24 jam agar dapat dinyatakan hilang. Yang ada Rebeca sudah menjadi mayat! Kalau pun ia menunjukkan pesan ini, mereka akan menganggap itu iseng belaka.
Tangan Aksel menggenggam erat ponsel yang ada digenggamannya saat ini, saking eratnya, ponsel itu sampai bergetar.
Saat itu, iris mata hijaunya tidak sengaja menangkap sesuatu jalan aspal yang tersorot lampu jalan. Dia berjalan mendekat, lalu berjongkok untuk mengamati lebih dekat.
Diperhatikannya goresan ban nampak diatas aspal di bawahnya ini. Terkesan rem pada mobil itu diinjak secara mendadak. Seketika muncul dipikiran Aksel, bahwa Rebeca kemungkinan besar dibawa menggunakan mobil.
Disaat cocoklogi itu, ponsel yang tengah diganggam Aksel bergetar. Segera dia melihat layar ponsel, hal mengejutkan terpampang dilayar selebar enam koma sembilan inchi itu.
"Inikan?!"