I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 44



Hallo Readers! Kangennya author 11 hari tidak update\~ (lebay -_-)


Karena dunia telah sedikit bersinar, saya memutuskan untuk kembali lebih cepat :D hahaha


Dahlah, daripada Author kebanyakan cingcong, silahkan nikmati kelanjutan cerita Vincent!


...****************...


"Membantu Mama?"


"Iya, tolong biarkan aku masuk Vin, aku akan jelaskan di dalam." pinta Jane.


Vincent diam sejenak, lalu pandangannya mengarah ke arah kiri. Memikirkan apakan ibunya boleh masuk atau tidak. Sebenarnya di dalam kamarnya tidak ada apa pun, hanya saja ada beberapa coretan dari rencananya.


Mata elang Vincent kembali melihat ke arah Jane dari sela pinggir pintu. Mungkin tidak akan menjadi masalah jika dia masuk sebentar?


"Palingan juga minta dibantu hal sepele," pikirnya.


Dia lantas menutup pintu, kemudian melepaskan pengait pada pintunya. Membuat pintu kayu itu dapat dibuka dengan lebar.


"Sudah, masuklah Ma." ujar Vincent mempersilahkan ibunya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Wah anak Mama memang pengertian," puji Jane, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar putranya.


Mereka berdua duduk di sofa yang terdapat di ruang tidur Vincent. Disaat itu, tanpa berbasa-basi Jane langsung mengutarakan maksud dari permintaan tolongnya.


"Bantulah Mama untuk melacak Rebeca,"


Mendengar nama yang sangat asing di telinganya, Membuat Vincent seketika mengerutkan kedua alis.


"Siapa dia? Dan ada hubungan apa Mama dengannya?"


"Dia itu putri tunggal Ester,"


Ester, nama itu tidak asing di telinga Vincent. Dia adalah orang kepercayaan ibunya, untuk memimpin perusahaan entertainment milik neneknya. Sedangkan sang ibu sendiri, mengendalikan dari balik bayangan.


"Memangnya apa yang terjadi padanya?"


"Itu—" Tririring! Ucapan Jane terpotong tatkala ponselnya berdering keras.


Ketika ponsel lipat itu dibuka, nama Ester muncul sebagai penelepon. Segera Jane mengangkatnya, "Bagaimana Ester?"


"Nyonya saya sudah di depan gerbang, saya tidak bisa masuk. Jadi saya menunggu saja di luar." ujar Ester dari telepon.


"Tidak, kau masuk saja. Sebentar aku bukakan pintu gerbang. Setelah gerbang bisa di buka, kau pergilah ke taman belakang."


"Baik Nyonya." Setelah mendengar jawaban itu, Jane lantas menutup ponsel lipatnya, seketika memutuskan sambungan telepon.


Kemudian dia melirik Vincent, memberi kode bahwa dirinya perlu perangkat yang dipegang oleh putranya itu, agar dapat membuka kunci pintu gerbang.


Melihat ibunya terus melirik ke arahnya, Vincent pun paham. Dia bangkit dari sofa, berjalan menuju laci meja. Lalu dari dalamnya, ia mengeluarkan alat berbentuk seperti ponsel, namun itu bukanlah ponsel.


Setelah mendapatkan alat itu, dirinya bergegas kembali ke sofa, dan memberikannya pada sang ibu.


"Terima kasih Sayang," ujar Jane seraya menerima alat itu.


Kemudian dia menyalakan layar dari alat itu, memunculkan kode acak. Seolah sudah hapal diluar kepala, Jane dengan gampang memecahkan kode itu. Setelah kode terpecahkan, muncul pemindaian iris mata.


Dia memindai mata Jane beberapa detik, kemudian logo gembok terbuka muncul. Segera jari telunjuk lentik miliknya menyentuh gambar gerbang yang terlihat dari CCTV.


"Tring! Terbuka!" bunyi suara Artificial Intelegent pada alat itu.


Teknologi Biox hanya digunakan untuk mengunci dan membuka gerbang atau pintu masuk rumah ini. Serta mengawasi seluruh orang yang ada di rumah besar nan mewah itu. Drone yang terbang di atas rumah dengan lebar tanah satu hektare ini lebih kecil dibandingkan dengan drone yang terbang di atas hutan Klausal.


"Ayo Vincent!" ajak Jane sembari meletakkan alat itu ke atas meja kaca yang berada di depannya, kemudian berdiri.


Vincent tahu kemana ibunya akan mengajaknya. Dia pun menganggukan kepala, kemudian ikut berdiri. Ibu dan anak itu pun berjalan bersama menuju taman belakang.


Beberapa saat, ketika sampai di taman dengan kolam ikan emas besar itu, nampak Ester telah menunggu. Segera Jane menarik tangan Vincent untuk segera menemui bawahannya itu.


"Ester!"


"Nyonya Jane, Tuan Vincent, selamat malam. Maaf saya mengganggu waktu Anda."


"Iya tidak apa-apa,"


Sembari duduk berhadapan, Ester menjelaskan permintaannya untuk membantu mencari putrinya. Dia pun menunjukan pesan percakapan dengan Rebeca, dan sinyal GPS dari ponselnya yang sempat menyala beberapa saat lalu.


Sebenarnya Vincent ingin menanyakan, kenapa Ester tidak menghubungi polisi? Dan malah menghubungi ibunya?


Namun dirinya berpikir lagi, semua orang yang terlibat dengan Xendra memang anti dengan yang namanya polisi. Mungkin itu jugalah yang membuat Ester lebih percaya pada majikannya ketimbang polisi.


"Bagaimana Vin? Apa kau bisa membantu?"


"Ya ak—"


"Terima kasih Tuan!" ujaran terima kasih dari Ester memotong ucapan Vincent.


Hal itu sedikit membuat Vincent tersinggung, dirinya tidak suka jika ucapannya di potong. Meski oleh orang tuanya sekali pun. Apalagi sekarang, orang yang memotong ucapannya statusnya do bawah dirinya.


"Dasar wanita tua bangka,"ujarnya menahan kesal dalam hati.


Dia lantas mengeluarkan ponsel, lalu menelepon Justine. Setelah beberapa saat, telepon pun terhubung.


"Ada apa malam begini menelepon Vin?" tanya Justine dari telepon.


"Ada misi,"


"Misi?"


"Iya, misi mencari kelinci,"


"Baik," Setelahnya Justine langsung mematikan sambungan telepon.


Vincent pun meminjam sebentar ponsel milik Ester untuk melihat kembali posisi GPS Rebeca ketika menyala. Setelah di telusuri, hingga di perbesar, GPS itu berada diantara dua distrik, Bee dan Yellowgreen.


"Yang mana? Bee atau Yellowgreen ini?"ujar Vincent dalam hati.


Namun, seketika sesuatu terlihat di pikiran Vincent ketika berujar nama dari distrik Yellowgreen. Dia merasa pernah mendengar nam itu, namun seperti sudah lama sekali. Ingatannya pun samar-samar.


"Tunggu, Yellowgreen.. Aku pernah mendengar nama itu, tapi dari siapa?" pikir Vincent, dirinya berusaha keras mengingat-ingat.


Sudah dicoba sekeras yang ia bisa, namun tetap tidak dapat mengingatnya, membuat Vincent mengabaikan perasaannya itu. Dia segera mengembalikan ponsel Ester, lalu disaat bersamaan, terdengar pesan masuk dari ponselnya. Tring!


Ketika ia buka, ternyata Justine dan kesepuluh anggota tim Bruth B telah sampai di depan teras depan. Tim Bruth dapat masuk ke kediaman keluarga Hermentsmith sebagai pengecualian karena mereka adalah serigala dari keluarga konglomerat itu.


"Aku pergi Ma," pamit Vincent.


"Hati-hati Sayang, jangan terluka!" ujar Jane setengah berteriak karena putranya itu berlalu pergi dengan sangat cepat.


Vincent hanya menjawab dengan melambaikan tangan ke atas, kode bahwa ibunya tidak perlu khawatir. Anak Jane itu belum menyadari, bahwa ia akan berhadapan dengan siapa.