I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 08



Setelah mendengar bisikan Vincent, Wim menurunkan ke atas tempat tidur, lalu menyuruhnya tidur. Sedangkan dirinya pergi meninggalkan isterinya yang masih menemani Vincent.


Di dalam ruang kerja, Wim mengetuk-ngetuk ujung jari telunjuknya diatas meja kerja berlapis kaca.


Dia memikirkan maksud dari bisikan Vincent agar menyuruhnya bertanya pada Justine.


Tidak mau terus-terusan penasaran, Wim pun meraih ponselnya kemudian menelfon nomor Justine.


"Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan, silahkan tinggalkan—” Tut! Wim langsung mematikan telfon.


"Nomornya tidak aktif, dia pergi kemana?" gumamnya.


Wim bangkit dari kursi, berjalan kearah telepon kabel. Dia mengangkat gagang telepon itu, kemudian lalu menekan beberapa nomor.


"Dengan Endrew tim Bruth B disini, ada yang bisa saya bantu Tuan Wim?" ucap suara dari telepon.


"Justine ada dimana?"


"Ketua sedang berburu kelinci Tuan Wim,” jawab Endrew dari telepon.


Berburu kelinci adalah kode yang di gunakan oleh tim Bruth untuk menyebut aktifitas mereka dalam membereskan seseorang atau sekolompok pengganggu Xendra.


"Kenapa dia berburu? Ditambah dia juga tidak melaporkan apa pun padaku." ujar Wim dalam hati.


"Kapan dia kembali?"


"Ketua mengatakan bahwa dia akan kembali dalam waktu 5 jam sejak berangkat, kemungkinan sekitar pukul 11 malam dia akan kembali Tuan Wim."


"Jika dia kembali beriitahu untuk langsung menemuiku," titah Wim pada Endrew.


"Baik dimengerti Tuan Wim."


Setelah mendengar itu, Wim menutup gagang telepon ke tempatnya lalu kembali duduk kursinya.


Dia memutar-mutar pensil, mencoba mengaitkan antara ucapan Vincent dengan informasi dari Endrew bahwa Justine tengah berburu.


"Korelasinya apa?" ujar Wim dalam hati berpikir.


Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengerti maksud Vincent. Seketika dia berhenti memainkan pensil, memangnya dengan erat hingga patah menjadi dua bagian.


"Mereka berani menyentuh putraku?!" ujar Wim dalam hati dengan emosi yang memuncak.


Dia membuang pensil yang telah patah itu ke bak sampah, kemudian memasukkan sebuah kode pada laci dibawah meja, setelahnya menarik laci itu keluar.


Di dalam laci itu terdapat sebuah tumpukan dokumen yang dijadikan satu dengan sebuah buku mirip binder bercover hitam.


Wim mengeluarkan buku itu, lalu membukanya diatas meja. Dia membuka lembar demi lembar hingga berhenti di sebuah lembaran bertuliskan RCC.


RCC adalah sebuah perusahaan konstruksi yang bergerak dibilang pembangunan properti. RCC merupakan kependekan dari Ryung Contruction Company. RRC menjadi salah satu pengganggu Xendra beberapa waktu sebelum Vincent lahir.


Wim mengelus lembaran itu, sorot matanya menyiratkan sebuah kemarahan. Di atas lembaran kertas yang tampak usang itu selain terdapat informasi RCC, juga ada beberapa bekas tetesan darah.


Setelah melihat beberapa saat, dia membalik lembaran kertas dan menampilkan sebuah halaman kosong.


“Ini akan segera terisi.” gumamnya.


...****************...


[6 jam sebelumnya, di dalam ruang Creative Crew]


"Para anggota tim Bruth B sekalian, siapkan diri serta senjata untuk pergi ke Hotel Mariyuana!" seru Endrew melihat layar monitor.


"Endrew, namanya Hotel Mariana bukan Mariyuana!" sahut Houtman.


"Ya pokoknya itulah,"


Endrew menulis sebuah alamat di secarik kertas, setelahnya mengangkat kertas tersebut seraya berucap, “Ini tujuan berburu kalian!"


Putney meraih kertas itu lalu membacanya, “Bukankah kau bisa mengirim ini ke device masing-masing ya?"


Endrew memutar kursi menghadap Putney, "Benar juga ya,"


“Tapi lebih baik memakai cara kuno seperti itu. Ditambah bukankah hanya tim Creative Crew yang tahu maksudnya ya? Aku bisa saja sih mengelabuhi pihak operator komunikasi, tapi malas lah." ujar Endrew kembali memutar kursi, melihat kembali layar monitor.


“Tumben dia banyak bicara.” ujar Putney dalam hati.


Dia melirik layar monitor yang terus dilihat oleh Endrew, layar monitor bagian tengah.


Dari ketiga layar monitor Endrew, ketiganya menampilkan hal yang berbeda.


Layar monitor kiri menampilkan bahasa pemrograman yang begitu rumit. Lalu layar monitor tengah menampilkan peta pelacakan titik merah yang terus berjalan.


Dan terakhir layar monitor kanan, menampilkan informasi yang benar-benar acak hingga tidak dapat dibaca.


"Ti-dak," sahut Endrew seraya menggelengkan kepala, lalu tiba-tiba berseru, “Sekarang! Tim Bruth B berangkat ke Hotel Mariyuana!”


Houtman berdecak lidah mendengar Endrew kembali menyebut Hotel Mariana yang merupakan tempat pertemuan Tim Bruth sebelum berburu iru dengan sebutan Mariyuana.


*Mariyuana merupakan salah satu nama tanaman narkotika.


Tim Bruth B berjumlah 10 orang dengan senjata lengkap bergegas menuju 2 mobil SUV hitam yang sudah dimodifikasi, sebelum berangkat mereka tidak lupa memakai plat palsu.


15 menit kemudian, mereka sampai di depan Hotel Mariana tapi tidak ada siapapun.


"Kenapa tidak ada siapa pun, apakah Endrew tidak salah kalkulasi?” tanya Martin.


"Kau meragukan Endrew?” Hermit balik bertanya.


"Aku tidak meragukannya, hanya bertanya apakah dia tidak salah kalkulasi." jawab Martin dengan nada bicara sedikit kesal.


"Calm Down Martin, walau tampangnya seperti pemalas dan tidak niat kerja, perhitungan Endrew itu tidak pernah meleset.” ucap Andreas menenangkan Martin.


Dua dari tim Bruth B lain memarkirkan dua mobil SUV hitam itu ke belakang Hotel Mariana, sedangkan anggota lain masuk ke dalam lobby hotel, memeriksa kembali peralatan dan senjata mereka.


Tidak lama kemudian, terlihat sorot lampu mobil menyoroti halaman hotel. Mobil itu berhenti tepat di depan halaman Hotel Mariana yang penuh dengan semak-semak liar.


Sepasang kaki melangkah perlahan masuk kedalam hotel. Seseorang yang datang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Justine, ketua tim Bruth.


Putney menyerahkan secarik kertas yang sebelumnya diberikan oleh Endrew kepada Justine.


Justine membuka kertas itu, lalu tersenyum.


"Endrew, kau cekatan.” ujarnya dalam hati.


...****************...


[Sementara itu di tempat lain]


"Hei kenapa Wibroe tidak datang-datang?" tanya Bram pada kelompoknya.


"Wah iya loh, padahal dia cuma disuruh membawa anak kelas satu SD leletnya,” sahut Madsen.


“Namanya anak baru, GPS-nya sedang bergerak kemari jadi kita tunggu saja." timpal Stig.


Beberapa saat kemudian, GPS Wibroe terdeksi telah sampai di lokasi mereka. Stig mencoba menghubungi Wibroe tapi tidak tersambung.


“Dia disini tapi kenapa tidak menjawab panggilan?” ujar Stig dalam hati mulai curiga.


"Stig, kau dengar sesuatu?" tanya Carl.


"Raih senjata kalian!" seru Jeppe tiba-tiba.


DOR! DOR! Beberapa tembakan menghujani merkas Stig. Beruntung mereka dapat menghindar.


"Sial mereka darimana?! Kenapa tiba-tiba menyerang?!" bisik Bram.


"Jangan-jangan mereka dari Xen—"


Brak! Suara keras pintu di dobrak paksa membuat ucapan Madsen terpotong.


Beberapa orang dengan pakaian serba hitam lengkap dengan pistolnya masuk kedalam markas mereka.


Carl mencoba meminta bantuan lewat alat yang tersemat ditelinganya, namun alat itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


"Kenapa tidak bisa terhubung?!" ujar Carl dalam hati mulai panik.


"Kita sudah diretas! Bukankah ini sangat berbahaya kita berlima berkumpul disatu tempat!" seru Jeppe dengan berbisik.


Madsen tidak menghiraukan bisikan Jeppe, dia mengarahkan ujung pistol kearah salah satu orang-orang itu.


DOR! DOR! Dua tembakan melesat dari pistol Madsen, tapi sayang, incarannya dapat menghindari kedua tembakan itu.


Lalu kemudian, DOR! DOR! Dua tembakan beruntun dari berbagai arah menghujani tempat persembunyian Madsen dan yang lain.


Reflek Jeppe langsung menarik Madsen kebelakang, menyelamatkan kepala Madsen dari peluru yang nyaris menembus kepalanya.


“Sial! Mereka menembak lewat mana?!” ujar Stig melirik sekitar.


Rupanya dinding markas yang terbuat dari kayu itu telah berlubang, ternyata pihak musuh menembak dari arah luar bangunan.


"Mereka ada berapa orang?!" ujar Stig dalam hati hendak berbalik.


Tapi begitu dia menoleh, dirinya di sambut oleh todongan pistol tepat didepan matanya. Keempat rekan yang lain pun sudah di sorot oleh titik merah tepat di dahi mereka.


“Menyerah atau mati?” tanya orang yang menodongkan pistol yang tidak lain adalah Justine.