I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 50



"B*jing*n mereka!" umpat Putney.


Pria itu menjambak rambutnya sendiri, kemudian bersandar pada dinding di salah satu sisi kabin. Pertanyaan terus berputar dalam kepalanya. Kenapa semuanya malah jadi seperti ini? Kenapa? Kenapa?


Dia melepaskan cengkeraman pada rambutnya, kemudian mata yang dipenuhi sorot kebencian dan kesedihan itu melirik ke sisi kiri. Mulut dengan bibir tipis itu sedikit menganga, tak bisa berkata-kata lagi.


"Hermit," gumam Putney, melihat rekan satu timnya tergeletak tidak bernyawa dengan tubuh berlumuran darah.


Tidak hanya jasad Hermit, tidak jauh dari Putney berdiri tergeletak jasad lain. Salah satu rekan Putney, Matt, berjalan mendekati jasad itu kemudian berjongkok.


Mata datarnya memandangi tubuh tanpa nyawa itu sejenak. Kemudian dia menggendong dan meletakkan jasad itu di samping jasad Hermit. "Semoga kau tenang Martin,"


Mendengar itu, Putney menarik pundak Matt yang tidak jauh darinya, "Tenang kau bilang?!" ujarnya dengan api kemarahan, "Martin tidak akan tenang sebelum anjing busuk itu juga mati!"


Putney sangat tidak terima, anggota yang sudah seperti keluarganya mati ketika berhadapan lagi dengan tim A. Padahal di misi dahulu, meski menerima beberapa luka, mereka semua masih hidup.


'Kenapa kali ini?! Kenapa?!' pertanyaan terus berkecamuk dipikiran Putney.


Matt, yang masih diam memandang Putney pun menurunkqn paksa cengkeraman rekannya itu dari kerah bajunya. Meski terlihat tenang, ia tidak menyangka kenapa misi yang awalnya hanya misi menyelamatkan Rebeca, malah berakhir seperti ini.


'Oh Rebeca!' Mata Matt membesar, teringat akan wanita itu. Dia langsung berlari ke arah pintu masuk kabin. Bagaimana nasib anak Ester itu?


Ketika sampai di pintu, tidak sengaja Matt bertabrakan keras dengan seseorang hingga keduanya hampir terjatuh.


Matt segera memalingkan wajah ke kanan. Ternyata orang yang bertabrakan dengannya adalah anggota tim Bruth B lain yang berada di sisi lain kabin.


"Terry? Kau sendirian? Jangan bilang Andreas ..." tanya Matt menggantung.


"Andreas masih hidup, tapi tidak dengan Houtman," jawab Terry.


"Jadi Houtman juga ..." lagi-lagi Matt menggantungkan ucapannya.


"Matt bukankah ini mencurigakan?" tanya Terry yang secara tidak langsung mengalihkan pembicaraan.


"Di dalam kabin terlalu sepi!" Setelah mengatakan itu Terry berlari masuk ke dalam kabin.


'Benar!' pikiran Matt setuju dengan ucapan Terry.


Dia pun berlari menyusul Terry. Sesampainya di lorong, Matt melihat rekan timnya itu berdiri di depan sebuah pintu. Dia hanya berdiri mematung, matanya melebar. Sesuatu yang sangat mengejutkan sepertinya telah terjadi di ruangan itu.


'Ada apa? Jangan-jangan....' pikir Matt.


Dia segera berlari menghampiri Terry dan ketika kepalanya menghadap ke arah ruangan, ekspresi wajahnya sama seperti Terry. Di depannya tersaji pemandangan yang mencengangkan.


Tergeletak tiga jasad, dua pria dan satu wanita. Dua diantaranya, Matt mengenal mereka.


"Ketua! Ketua!" Panggil Terry, dia berlari masuk setelah beberapa saat tubuhnya membeku.


Terry mengguncangkan tubuh pria yang bersimbah darah itu, namun tubuh yang tidak lagi terasa hangat itu hanya bergeming.


Sementara Matt yang masih berdiri di depan pintu, mencoba berjalan. Namun kakinya amat berat, hingga dia terjatuh. Matt pun merangkak ke tempat jasad ketuanya terbaring.


'Ketua Justine sudah benar-benar ... mati.' batin Matt melihat mata ketuanya tertutup rapat.


Kemudian dia menoleh ke arah seorang pria yang terus memandangi seorang jasad pria lain dengan posisi telungkup itu.


"Tuan? Tuan Vincent?" panggil Matt, perawakan pria itu persis dengan tuannya.


"Dari suaranya, kau Matt bukan? Kau bawalah Aksel ke rumah sakit Charlote," ujar Vincent tanpa menoleh.


Matt tidak tahu siapa itu Aksel, namun pria yang ada di dekat tuannya itu adalah Pemimpin Badan Pengawasan.


'Apakah Aksel itu namanya? Kenapa dia ada disini? Dan kenapa dia tergeletak disana?' pikiran Matt di penuhi dengan pertanyaan kenapa seseorang yang tidak ada hubungannya dengan Rebeca malah terlibat.


"Matt cepat!" bentak Vincent lagi, karena bawahannya itu tidak langsung bergerak sesuai perintahnya.


Suara bentakan yang tidak pernah Matt dengar dari Tuannya sejak kecil itu, terdengar benar-benar mengerikan.


"Baik!" sahut Matt cepat.


"Ayo Terry!" ajak Matt, kemudian dia berlari ke arah Vincent.


Terry pun segera menyusul Matt, meskipun dia masih tidak menyangka atas kematian sang ketua, namun perintah tuannya adalah mutlak, tidak boleh ditunda apalagi dilanggar.


"Pastikan dia harus hidup!" titah Vincent.


"Baik!" sahut Terry dan Matt bersamaan, kemudian mereka berjalan ke luar memapah jasad pria dari Badan Pengawasan itu secepat mungkin.


Setelah dua bawahannya pergi, Vincent berjalan menghampiri jasad Rebecca, memandangnya datar tanpa ekspresi.


"Jadi kau Rebeca?" kata Vincent berbicara pada seseorang yang telah mati itu.


Seketika itu juga cahaya merah bersinar terang, lalu muncul sesosok siluet wanita berbaju merah di belakang Vincent.Wanita itu memegang wajah Vincent.


Kuku-kuku merahnya yang panjang hampir mencengkeram wajah pria itu. Namun di sela-sela jarinya, dia menyisakan bagian mata Vincent agar dapat melihat dua jasad dibawahnya.


"Antonio, kau sudah sebesar ini, tapi kau lambat sekali." bisik wanita itu di telinga Vincent.


Vincent tidak merespon. Wajah pria itu tanpa ekspresi, pandangannya kosong ke bawah.


"Sekarang, kau masih mempertahankan sisi manusiamu?" bisik wanita itu kembali.


"Coba pikir lagi, kau bahkan belum menyentuh musuhmu sama sekali. Apa yang kau lakukan selama ini?"


Bisikan itu menyadarkan Vincent. Memang benar, dirinya selama ini bergerak lambat dalam menjangkau Lippo.


"Bell ..." panggil Vincent sambil menoleh ke belakang. Wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah wanita yang melayang itu.


"Musnahkan Lippo Antonio. Kau punya Hanna di tanganmu bukan? Kau punya LY bukan?" tanya Bell memegang wajah Vincent dengan kedua tangan.


"LYmu bisa menghancurkan sebagian besar Lippo, dan Hanna—"


"Tuan!" seruan anggota tim Bruth B lain membuat Bell langsung menghilang.


Vincent yang masih menghadap ke atas pun melirik ke arah dua pria yang berdiri di depan pintu itu.


"Hanya kalian? Yang lain?" tanyanya datar,


"Hermit, Martin sudah ..." Putney tidak mampu meneruskan ucapannya.


"Houtman telah tewas," ucap Andreas jelas, meski dari raut wajahnya tergambar dia juga merasa sangat kehilangan.


Vincent tidak terkejut karena ia sudah menduga, tidak mungkin mereka yang diluar semuanya akan selamat. Tim Hermit memang datang membantu, namun itu saja belum cukup untuk melawan tim A.


"Bawa jasad Justine, dan Rebecca ke Wood House, jangan beri tahu Wim. Biar aku sendiri yang bicara padanya," ujar Vincent sambil menurunkan kepalanya agar tidak terus menghadap ke atas.


"Baik Tuan," sahut Putney dan Andreas bersamaan, kemudian melaksanakan perintah Vincent.


Putney telah membawa jasad Justine keluar, namun sebelum ikut keluar, Andreas yang membawa jasad Rebeca berhenti di ambang pintu, berbalik badan.


"Tuan, untuk Martin dan—"


"Bawa mereka juga ke Wood House," potong Vincent.


"Baik," Setelahnya Andreas pergi keluar.


Vincent berjalan mendekati tembok kayu yang berhasil dijebol oleh Carlos. Dia meraba lapisan yang rusak itu. Sepertinya Carlos mendobraknya dengan keras.


'Benar, hancurkan semuanya. Lippo, tim A, Hanna, Feyn, Renata, semuanya.' pikiran itu terus berputar dalam kepala Vincent.


Dia berjalan melewati lubang itu dan turun ke bawah. Sesaat setelah turun, terdengar suara Putney dari arah belakang. Vincent menoleh dan mendapati bawahannya itu dengan napas ngos-ngosan seperti baru saja berlari.


"Tu ... an!" seru Putney dengan napas terengah-engah.


"Apa? Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa Justine keluar dari hutan ini?" tanya Vincent dengan nada yang datar, seolah dia kehilangan emosinya.


"I ... iya Tuan, tapi ... tapi bagaimana dengan Anda? Anda tidak ikut pulang bersama kami?"


"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Cepat pergi."


Putney melihat sorot mata tuannya sangatlah berbeda dengan tuannya beberapa jam lalu. Tuan yang berdiri di bawah itu seperti bukan tuannya. Tatapannya datar, namun terasa seperti setan yang bisa mengoyak siapa pun yang ada di hadapannya.


Dia juga tidak memanggilnya dan yang lain dengan paman seperti biasanya, namun hanya nama. Bahkan pada ayahnya sendiri.


"Kau tidak dengar?" tanya Vincent lagi, melihat Putney masih berdiri di tempatnya.


"Saya dengar Tuan! Permisi!" Putney pun berbalik badan dan pergi.


Diatas kabin duduk Bell menyilangkan kaki sambil mengayun-ayunkannya, seolah melihat pemandangan yang menarik. Di kelima jari kanannya yang lentik itu, bagian ujungnya terdapat benang tipis berwarna merah.


Beberapa jarinya bergerak, sehingga benang merah tipis itu juga bergerak. Vincent pun berjalan ke arah sebuah pohon.


Disana dia menemukan 2 jasad pria. Wajah mereka ditutup masker kain yang menyatu dengan baju dalam mereka, ciri khas tim A.


"Bukalah, Antonio." ujar Bell tersenyum nakal.


Suara Bell yang terdengar di kepala Vincent seperti perintah yang tidak dapat ia tolak. Tangannya bergerak merobek masker kedua jasad itu.


Mata datar itu melihat wajah yang lama tidak dia lihat. "Mereka...."