I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 20



Di kejaksaan...


Setelah diperiksa dan dimintai keterangan, Wim di perolehkan untuk pulang. Diluar gedung kejaksaan, dia melihat berita entertainment di sebuah layar gedung Lippo. Meski tidak bisa mendengarnya karena letaknya cukup jauh, tapi dia dapat membaca tulisan yang tertera di program acara itu.


Wim tersenyum miring, lalu menelepon Justine.


"Kau sudah laksanakan hadiahku secara penuh?"


"Ini mau berangkat, kenapa?" tanya Justine di telepon.


"Aku baru diperiksa oleh Ellie, sepertinya Lippo melaporkanku atas iklan palsu. Jadi cepat laksanakan, dengan begitu Lippo akan kena getahnya." perintah Wim.


"Baik!" Setelahnya Justine memutuskan sambungan telepon.


Pada akhirnya, Xendra hanya diberi sanksi untuk menutup semua iklan di televisi. Karena mereka tidak terbukti melakukan penipuan, tapi hanya melanggar aturan IT. Dimana mereka mengiklankan barang atau produk yang belum berwujud.


Xendra meminta maaf pada publik, dan menawarkan untuk pengembalian dana yang sudah dibayarkan oleh masyarakat. Dimana mereka yang terlanjur membeli saham bayangan Xendra, akan dikeembalikan dananya 100%.


Kemarahan masyarakat yang sebelumnya sempat naik pun mereda, karena pada akhirnya uang mereka di kembalikan. Hal itu membuat Lippo geram, karena efek dari balasan mereka hanya terasa sangat kecil. Bahkan langsung hilang ketika Xendra mengembalikan seluruh dana dari para pembeli saham bayangan itu.


"Sial!" gumam Fey.


...****************...


"Hanna, ayo main di luar." ajak Vincent mengulurkan tangan.


"Tapi teman-teman lain 'kan melarangnya, nanti—"


"Tidak usah di pikirkan." potong Vincent.


Dia kemudian menggenggam tangan Hanna dan mengajaknya bermain di perosotan luar sekolah. Tanpa diduga, Renata ternyata ke sekolah Yesol untuk mengantarkan pakaian olahraga Hanna yang tertinggal.


Setelah berbincang dengan penjaga, serta beberapa guru, pada akhirnya Renata sampai di kelas 1-B. Ketika dirinya memasukkan baju olahraga Hanna, dia melihat tulisan di meja yang membuat darahnya mendidih.


...'Kelompok Matahari: Hanna Fasterholdt & Vincent Hermentsmith'...


"Bocah Xendra itu lagi!" sungut Renata dalam hati..


Dia segera keluar dari kelas 1-B yang kosong, karena itu jam istirahat. Renata menuju area kantin sekolah, tapi tidak menemukan Hanna. Lalu pencariannya membawanya pada area bermain.


Dia pun naik pitam ketika melihat Hanna sedang bermain dengan Vincent di sebuah ayunan. Hanna duduk di ayunan sedangkan Vincent yang mendorongnya.


Dimata Renata, Vincent akan mendorong Hanna ketika Hanna tidak sadar. Dia pun langsung menghampiri ayunan berwarna biru muda itu.


Bruk! Vincent tersungkur ke tanah karena Renata mendorongnya secara tiba-tiba dari arah belakang.


"Vincent!" seru Hanna turun dari ayunan.


"Hanna tidak udah ditolong!" bentak Renata seraya memegangi tangan Hanna.


"J*l*ng sialan ini lagi," ujar Vincent dalam hati seraya berdiri.


Kali ini dia terluka karena tersungkur ke pelataran yang sudah di pafing. Lukanya tidak parah, tergores dan sesikit mengeluarkan darah.


"Kau! Sudah kubilang, jauh Hanna!" ujar Renata menunjuk wajah Vincent.


Untuk sesaat Vincent tersulut emosinya, namun dia dengan cepat menyadari posisinya saat ini tidak buruk. Dari arah gedung sekolah dan di area bermain itu ada beberapa murid yang melihat kearah-nya.


"Waktunya untuk seni peran," ujarnya dalam hati..


"Kenapa Tante?" tanya Vincent polos.


"Apa Tante?! Dipanggil Tante olehmu?! Tidak sudi aku! Panggil aku Nyonya! Nyonya Renata!" bentak Renata dengan suara tinggi dan keras.


Sebenarnya Vincent ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Renata yang menurutnya tidak tahu diri. Sudah baik dia memanggilnya dengan sebutan tante, padahal jika mau dia ingin sekali memanggilnya dengan sebutan J*l*ng.


"Tapi aku harus berakting dramatis sih untuk mendapat simpati Hanna dan yang lainnya," ujarnya dalam hati.


"Ta-um Nyonya Renata, kenapa aku tidak boleh bermain dengan Hanna?" tanya Vincent dengan mata berkaca-kaca, hendak menangis.


Renata melangkah mendekati Vincent, "Karena kau pasti di suruh oleh ayahmu yang licik itu! Iya 'kan ngaku!"


"Tidak, Ayah bahkan tidak mengatakan apa pun. Malah dia berkata untuk tidak pilih-pilih teman." ucap Vincent mulai sesegukan.


"Heleh! Kau kecil-kecil sudah pintar bicara! Sudah besar mau jadi apa kamu?!" tanya Renata mendorong kepala Vincent dengan ujung jarinya dengan keras.


Bruk! Vincent tersentak ke belakang dan terjatuh.


"Perasaan aku tidak sekeras itu mendorongnya," ujar Renata heran karena Vincent langsung terjatuh.


"Vincent! Mama lepasin!" berontak Hanna.


Renata semakin menguatkan pegangannya, tidak membiarkan tangan Hanna lepas.


"Oh mulai berani kamu sama Mama?! Mau jadi anak durhaka?!" bentak Renata.


"Sepertinya ini saat yang pas." ujar Vincent dalam hati.


Dia bangun dengan telapak tangan yang tergores pafing sehingga menguarkan sedikit darah.


Hueee!! Vincent menangis sembari melihat kedua tangannya. Mendengar tangisan Vincent, Renata refleks menoleh begitu juga dengan Hanna.


"Kamu bisa menangis? Atau hanya akting hah?!" bentak Renata kembali.


"J*l*ng sialan ini memang minta ditembak mulutnya." ujar Vincent dalam hati kesal.


Segera dia menoleh ke arah Renata sembari terus menangis, lalu memandang Hanna dengan tatapan seolah dia sakit hati dengan perlakuan ibunya.


"Mama! Mama!!" ujar Vincent menangis memanggil-manggil ibunya.


"Anak kecil jika menangis memanggil ibunya 'kan? Duh aku sedikit bingung karena tidak pernah menangis!" ujar Vincent dalam hati.


Tidak lama, Bu Roma datang menghampiri Vincent yang tengah menangis memandang telapak tangannya. Dia juga melihat seorang wanita yang sudah sangat mungkin sebagai pelaku yang membuat Vincent menangis.


"Nyonya Renata lagi, aduh kalau sampai keluarga Hermentsmith mengajukan keluhan, aku bisa kena getahnya ini." keluh Bu Roma dalam hati.


"Vincent, kenapa menangis?" tanya Bu Roma.


Vincent menunjukan kedua telapak tangannya yang berdarah, membuat Bu Roma terkejut. Baru kali ini ada kasus Renata melakukan sesuatu pada anak yang dekat dengan Hanna hingga terluka.


"Mama, Mama," Vincent terus memanggil ibunya


"Heh! Mama tidak ada disini!" celetuk Renata dengan nada yang membuat siapapun ingin menampar mulut pedasnya.


Mendengarnya membuat Vincent tambah menangis. Bu Roma mencoba menenangkan.


"Cup cup Vincent, ayo Ibu obati dulu lukanya. Setelan di obati Vincent pulang ya? Nanti dirumah, Vincent bisa bertemu sama Mama."


Vincent menjawab dengan menganggukan kepala. Lalu Bu Roma mengajak Vincent kembali ke gedung sekolah. Sebenarnya dia ingin membela Vincent karena anak itu tidak salah, Renatalah yang keterlaluan.


Tapi dia tidak akan bisa menang beradu argumen dengannya, apalagi statusnya sebagai istri dari seorang konglomerat.


Sementara Hanna sedang dimarahi habis-habisan oleh ibunya, dan reaksinya juga sama seperti Vincent. Dia akhirnya menangis mendengar kata-kata pedas dari ibu kandungnya itu.


"Mama, kau jahat sekali! Aku tidak mau punya Mama sepertimu!" ujar Hanna dalam hati seraya terus menangis.