I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 26



Tidak lama, mengikut arah dari share lokasi yang Hanna kirimkan, mobil Pajero putih yang dikendarai oleh Vincent sampai di sebuah taman.


Dia memberhentikan mobil di dekat bangku taman, lalu turun. Vincent mencoba menoleh kesegala arah namun tidak melihat tanda-tanda keberadaan Hanna.


Karena tidak kunjung menemukan Hanna, Vincent pun menelepon gadis itu.


“Hanna, kau dimana?”


“Di tempat biasanya,”


Mendengar itu, Vincent langsung berbalik arah. Tempat biasa yang di maksud Hanna adalah tempat biasa mereka bermain dari kecil hingga ketika dewasa. Meskipun Hanna tidak bisa masuk ke Yarden Internasional Univesity, namun bukan berarti mereka tidak pernah bertemu.


Vincent langsung mematikan sambungan telepon. Karena jam hampir menunjukan pukul 11 malam, taman itu lumayan sepi.


Pemuda itu berjalan ke tempat yang Hanna katakan, tidak lupa bersiaga dengan pistol yang tersemat di balik mantel yang dia kenakan.


Di dekat sebuah taman, tepat dibelakang olang besar bertuliskan Yarden's Park, dia melihat seorang gadis bersambut hitam panjang, memakai sweater berwarna cokelat muda, dengan bawahan jeans loose pants berwarna biru serta sniker putih tengah duduk di lantai, bersender pada bangku taman.


Di tengah menunggu Vincent, Hanna memainkan ranting pohon dengan menggambar tidak jelas diatas tanaah. Lalu tiba-tiba sesuatu menutup kedua matanya, membuat pandanganannya menjadi gelap.


“Siapa?!”


Karena terkejut, Hanna cukup panik, berusaha melepaskan sesuatu yang ternyata sepasang tangan. Karena tangan itu begitu kuat, dia memutuskan untuk mencengkeram tangan itu dengan kukunya. Usahanya membuahkan hasil, tangan itu melepaskannya. .


Hanna langsung berbalik, betapa terkejutnya dia ketika melihat Vincent berdiri di belakangnya. Pandangan Hanna langsung tertuju pada tangan Vincent yang sedikit mengeluarkan darah.


“Vin! Ma-maaf! Aku tidak tahu!”


“Tidak apa-apa,”


“Kau benar tidak apa-apa? Itu pasti sakit,”


“Iya benar, aku tidak apa-apa.”


Vincent mengajak Hanna duduk di kursi taman dan mulai menjalankan rencananya.


“Kau benar diusir?”


Hanna menunduk, wajahnya tampak murung, matanya yang sebelumnya menangis masih terlihat sembab.


Vincent ikut menunduk, “Itu pasti gara-gara aku, Keluargamu tahu jika kau masih berhubungan denganku, jadi mereka mengusirmu,”


“Tidak Vin, bukan salahmu. Justru aku yang minta maaf karena menghubungimu malam-malam begini, itu karena aku tidak punya teman,”


Vincent memegang pipi Hanna, memandangnya dengan hangat.


“Hanna kau punya teman, yaitu aku.”


Menerima tatapan Vincent yang sama seperti Jonghan, rasa sedih bercampur haru mulai menyeruap di dada Hanna karena teringat dengan mendiang kakeknya itu yang meninggal beberapa tahun yang lalu, membuat matanya berkaca-kaca.


“Tapi aku tidak punya uang, bagaimana caraku membayarnya?” tanyanya lirih, memandang ke tanah. Dia sadar bahwa dirinya tidak membawa cukup uang saat diusir.


Vincent tersenyum miring untuk sesaat. Dia tahu betul, perempuan di hadapannya ini tidak akan mau jika di suruh tinggal percuma atau gratis. Hanna akan menolak, jadi cara agar Hanna terikat dengannya dengan membiarkan ia 'menghutang'.


“Kau tidak perlu membayarnya,”


Hanna langsung memandang Vincent dengan tatapan tidak terima, “Tidak! Kau membeli properti itu pasti mahal, dan aku cuma di suruh nempatin gratis?! Tidak! Aku akan membayarnya!”


“Tapi, tadi kau bilang kau tidak punya uang?”


Hanna terkejut, dia tidak sadar jika sebelumnya mengatakan hal itu.


“Benar juga, aku pengangguran, jadi tidak punya uang,” ujarnya dalam hati.


“Begini saja, kau pakai saja dulu. Kau bisa membayarnya nanti.”


“Harganya?”


Sudah hal yang biasa bukan jika ia langsung bertanya harga sewa? Karena tidak mungkin laki-laki sekelas putra tunggal Xendra Grup mempunyai apartemen kecil. Paling tidak apartemennya kelas VIP.


“Pasti mahal,” terkanya dalam hati.


“Kau bisa menanyakan sendiri pada resepsionis. Sekarang ayo pergi!” Vincent menggandeng Hanna menuju mobilnya.


Didalam mobil, Hanna bercerita mengungkap isi hatinya.


“Vin apa kau tahu, di keluarga aku seperti tidak diharapkan lahir. Tapi meski begitu, mereka selalu melarangku ini dan itu bahkan selalu menentang jika aku berteman baik denganmu. Padahal kau saja tidak melakukan apa pun,”


“Mungkin karena orang tuamu sangat menyayangimu? Bukankah ada orang tua yang bahasa sayangnya itu sikap yang posesif?”


Mendengar itu, Hanna tertawa kecut, “Sayang? Memangnya ada rasa sayang orang tua dengan melarang semua orang berteman dengan anaknya serta menampar anaknya setiap hari?”


Vincent hanya diam, tidak menjawab. Jika Hanna menyebut orang tua, maka dapat diartikan baik Renata atau Fey. Dia tahu Fey itu sangat ringan tangan, tapi ternyata Renata juga sama.


“Maaf Hanna, aku tidak tahu,” ujarnya lirih.


“Tidak, tidak, kau tidak perlu meminta maaf.”


Tidak berselang lama, Vincent menghentikan mobilnya di pelataran luas sebuah gedung apartemen mewah.


‘Paradise Apartement Building’


Gedung apartemen yang terkenal sebagai apartemen mewah yang mempunyai harga sewa selangit.


“Harga sewanya pasti mencapai $2,500!” ujar Hanna dalam hati.