I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 30



“Ini saran dariku, sebagaian besar masyarakat membeli ponsel Lippo karena sudah tertaut dengan pembayaran digital LP Pay, dengan kata lain sudah ada dompet digital. Sedangkan Ponsel Xendra tidak memiliki pembayaran bawaan bukan? Jadi harus menginstal dan daftar mandiri. Masyarakat suka dengan kemudahan serta kepraktisan Vincent, kau bisa menangkap kearah mana aku bicara?”


Vincent terdiam untuk sejenak. Jika dipikir hal itu memang benar, dan dia baru menyadari kenapa Xendra tidak membuat pembayaran sendiri seperti LP Pay? Kenapa masih memakai pihak ketiga P Pay? Mereka saja bisa membuat bioteknologi semutakhir Biox, kenapa membuat aplikasi serta sistem pembayaran tidak bisa?


“Vincent?" panggil Hanna.


“Eh iya?”


“Kenapa jadi melamun? Kau mendengarkanku tidak sih?”


Vincent mengangguk, “Iya aku dengar kok. Kau memberi saran untuk membuat sistem pembayaran milik Xendra sendiri bukan? Lalu bekerja sama dengan berbagi bidang? Seperti halnya LP Pay milik Lippo?”


Ctik! Hanna menjentikkan jari, “Benar! Sudah kuduga kau itu cepat tanggap!”


“Terima kasih sarannya Hanna,” Vincent bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu.


“Mau kemana?” tanya Hanna sembari berdiri, lalu berlari menyusul Vincent.


Pluk! Hanna memeluk Vincent dari belakang, “Temani aku dulu, beberapa hari ini kau tidak pernah kesini. Kau tahu bukan jika aku hanya mempunyaimu seorang?” ujarnya lirih.


Semenjak diusir, Hanna memang tidak memiliki siapa pun selain Vincent. Hal itu juga menjadikan dirinya sedikit banyak bergantung pada Vincent, namun satu hal yang tidak disadari oleh Hanna sendiri tapi disadari oleh Vincent bahwa dia telah jatuh cinta dengan temannya itu sejak dari sekolah dasar.


“Aku tidak punya waktu untuk beromantisan seperti ini, lagian sebentar lagi kau juga tidak berguna,” ujar Vincent dalam hati melirik Hanna di belakangnya.


Dia melepas kedua tangan Hanna yang memeluknya dari belakang, lalu berbalik badan.


“Tunggu sebentar ya, aku sedang sibuk. Setelah semua urusanku beres, aku janji akan berada di sisimu. Kau kesepian ya selama ini? Maafkan aku,” ujar Vincent sembari memegangi pipi Hanna.


Hanna hanya diam menatap Vincent, matanya mulai berkaca-kaca.


“Aku mohon jangan nangis! Aku tidak akan bisa pergi jika kau malah menangis!” ujar Vincent dalam hati sedikit panik.


Hanna mengangguk, “Iya aku mengerti,”


Dengan wajah tersenyum hangat Vincent berterima kasih, lalu mengecup kening Hanna kemudian pergi.


Hanna cukup terkejut Vincent mengecup keningnya, karena selama ini dia hanya memegang pipi dan memeluknya, sikap 'lumrah' untuk seorang sahabat dari kecil. Dengan wajah yang memerah, dia memegangi kening, lalu tersenyum.


[Di dalam lift]


“Apa dia akan semakin jatuh cinta padaku? Aku sudah menyiapkan rencana sejak kecil sih, bukankah segala tindakanku sudah sangat jelas membuatnya jatuh cinta padaku?” pikir Vincent.


Dia lantas menggelengkan kepala, “Sudahlah Antonio! Kenapa pikiranmu malah kemana-mana! Fokuslah! Sebentar lagi Lippo akan dilirik oleh Aksel!" imbuhnya membatin.


Tririring! Ponsel Vincent berdering, ketika dia melihat layar nama Jackop muncul.


“Ya Paman?” ujar Vincent menerima telepon sembari keluar lift menuju mobilnya.


“Target A membuka dokumen, tapi dikamar ia terus berdiri memandangi papan. Tidak bergerak selama 15 menit,” lapor Jackob dari telepon.


“Dia melihat pesanku rupanya. Apa anak itu mampu mengenali tulisan tanganku? Mustahil dia percaya, dia tahu jika aku sudah mati,” pikir Vincent.


“Terima kasih Paman,” setelahnya Vincent memustuskan sambungan telepon tepat disamping pintu mobilnya. Dia masuk, lalu mobil Pajero putih itu melaju meninggalkan pelataran gedung apartemen Paradise.


...**********...


“Apa-apaan ini?” gumam Aksel membaca kertas note warna merah.


Didepannya tertempel note yang tidak pernah ia tempelkan, dan lagi terdapat tulisan tangan yang sangat dia hapal itu tulisan tangan milik siapa.


...‘Diriku yang dahulu memang mati, tapi aku belum benar-benar mati. Aku terlahir dengan tubuh baru. Aksel, terimakasih telah menyelidiki kematianku,'...


Tidak berhenti sampai disitu, terdapat wangi Mint Woods, ciri khas wangi kakaknya.


“Tunggu, hantu itu tidak ada, jadi ini pasti ulah penyusup yang mengaku-ngaku kakak,” pikir Aksel.


Sekali lagi, semua ada. Bahkan jam tangan Rolex, serta gelang Cartier pemberian kakaknya dulu pun masih ada diatas meja.


“Tidak ada yang hilang.. Coba CCTV!” ujarnya dalam hati berlari ke ruangan sebelah kamarnya tempat monitor dan kontrol CCTV rumah berada.


Sesampainya disana, semua rekaman hari itu hilang. Hanya ada saat dia berangkat kerja dan malam saat ia pulang.


“Kep*r*t, dia tahu ruang kontrol CCTV bahkan menghapusnya.” monolog Aksel di depan monitor.


Dia kemudian duduk dikursi, memegangi kepalanya yang mulai pening. Di dalam kepalanya memikirkan berbagai kemungkinan di antaranya:




Mungkin sang pelapor anonim yang mengirim surat itu yang menulis dan menempelkan note merah itu di papannya.




Isi note merah itu tidak masuk akal, bukankah reinkarnasi itu hanya bualan semata? Reinkarnasi itu hanyalah dongeng dari nenek moyang.




Semakin Aksel memikirkannya, semakin bertambah pening. Akhirnya dia memutuskan untuk membawa penyimpanan CCTV ke tukang reparasi data untuk memulihkan data yang dihapus pelaku penempel note merah itu.


Tanpa berganti baju, Aksel keluar dari rumah lalu masuk kedalam mobil Brio miliknya, kemudian meninggalkan rumah.


Beberapa saat kemudian, dia sampai di tempat reparasi atau pemulihan data yang masih buka.


Setelah berbincang bahkan melakukan penawaran yang cukup alot dan ia membayar lumayan mahal, akhirnya sang tukang yang diketahui bernama Lee mengiyakan untuk memulihkan data CCTV sesegera mungkin.


“Tenang saja Tuan, orang lain butuh satu minggu, tapi $300 anda hanya butuh 4 jam.” ujar Lee tersenyum melihat monitor.


“Dasar kep*r*t! Aku tak sudi membayar semahal itu untuk pemulihan jika tidak sedang buru-buru! 10x lipat lebih mahal!” ujar Aksel dalam hati kesal melirik Lee.


Kemudian pria itu menutup tempatnya, memberi segelas soju untuk Aksel.


“Minumlah ini selagi menungguku Tuan,” ujarnya.


“Terima kasih.”


Malam itu, Aksel menunggu selama 4 jam lamanya. Namun ternyata Lee butuh waktu 1,5 jam lagi. Pada akhirnya dia menunggu selama 5,5 jam tanpa tidur.


“Sudah jam 5, aku harus bekerja jam 8. Katanya 1,5 jam lagi ini sudah hampir 2,5 jam!” ujar Aksel dalam hati benar-benar kesal.


Dia berdiri, tepat sebelum ia marah Lee menyodorkan flashdisk berwarna hitam beserta kotak penyimpanan CCTV miliknya.


“Sudah Tuan, terima kasih telah menunggu dengan sabar.” ucapnya tersenyum.


Melihat pekerjaan Lee sudah selesai, Aksel tidak jadi marah. Dia menerima flashdisk dan kotak penyimpanan CCTVnya dengan senyuman.


“Iya, saya juga mengucapkan terima kasih untuk Pak Lee,”


Setelahnya dia pulang kerumah. Di rumah bergaya ala victoria itu, Aksel menonton ulang rekaman yang sudah dipulihkan. Seorang pria dengan tubuh tinggi membuka pintu depan mudahnya, seolah-olah dia memang terbiasa masuk.


Tidak hanya itu, selain ia orang yang meletakkan dokumen didepan pintu rumahnya, dia juga yang menempelkan note merah itu. Aksel melihat si pria misterius sempat berdiri melihat didepan papan yang ada dikamarnya lalu menunjuk salah satu foto.


“Bukankah foto yang dia tunjuk adalah Soren dan Krok? Rekan yang menghianati kakak? Siapa pria ini?” tanya Aksel dalam hati.