I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 47



Karena tarikan Justine, langkah Vincent pun seketika terhenti. Hal itu membuat amarahnya terpicu. Dia lantas menoleh ke belakang, menatap tajam serta dengan nada tertahan, "Lepaskan aku,"


“Hei, jangan gegabah! Dengan kau mengikuti suar—”


“Aku bilang, lepaskan aku, Justine Plaregue!” ujar Vincent melepas paksa tangan Justine dari baju yang dia kenakan, dengan api kemarahan tergambar jelas di matanya.


Melihat Vincent yang sangat marah, membuat Justine tertegun untuk sesaat. Dirinya tidak pernah melihat Vincent semarah itu sebelumnya. Namun rasa tertegun itu segera berubah menjadi kesal, tatkala anak itu langsung pergi begitu saja.


Dia lantas menengadah ke atas, memejamkan mata seraya menghela napas. Mencoba agar tak terpancing emosi dengan tindakan Vincent yang kali ini benar-benar gegabah.


"Ketua, ada apa dengan Tuan?" tanya Hermit Melihat Tuannya marah pada sang Ketua.


Justine hanya bergeming, kemudian menoleh ke arah anggota timnya, termasuk Hermit.


"Tidak ada. Kau dan 4 orang carilah Rebeca ke arah sana, sedangkan sisanya ikut denganku." ujarnya memberi perintah, mengalihkan perhatian.


“Baik!” sahut Hermit dan 4 orang anggota tim Bruth B, kemudian mereka pergi ke arah yang ditunjuk oleh Ketuanya itu.


Sedangkan Justine dan 2 anggota tim Bruth B lainnya pergi menyusul Vincent yang sudah hilang di tengah kegelapan. Di tengah mengejar Tuannya, Justine mencoba menghubungi tim Bruth A, namun di hutan itu sama sekali tidak ada sinyal.


“Si*l*n,” desisnya.


Dia melirik tajam ke arah kosong di depannya. Dengan tidakbisaan meminta bantuan tim Bruth A, dia dan tim Bruth B harus bersiap berhadapan dengan anjing gila Lippo yang ia tahu berjumlah 15 orang itu.


Dirinya tidak terlalu memusingkan tim Bruth B, meski saat ini timnya kalah jumlah. Namun lain halnya dengan Vincent, karena selama dirinya hidup, anak itu belum pernah berhadapan dengan anjing gila Lippo.


Pedang dua arah!, batin Justine.


Kemudian, sebuah suara tembakan keras seketika membuyarkan pikirannya. Dia seketika berhenti, dan menoleh ke sumber suara keras itu berasal.


Vincent!, batinnya terperanjat.


...*****...


Tim Bruth B yang sebelumnya berpencar ke arah yang berbeda, semakin mereka menyusuri hutan gelap itu, mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun mengenai Rebeca.


“Kita tidak menemukan apa pun!” seru Andreas.


"Iya, padahal sudah berpencar dan menggunakan perangkat nightvission, tapi tidak ada hasil yang berarti," sahut Terry.


Sementara itu, Putney tengah berusaha menghubungi Endrew melalui perangkat yang tersemat di telinganya pun mendengus, "Endrew tidak bisa hubungi!"


"Benar kata Hermit, Gunung Mela merupakan gunung yang lavanya mengandung besi sangat tinggi di bawah tanah Hutan Yellowgreen. Jadi sinyal, GPS, ponsel, serta kompas tidak akan berfungsi," timpal Matt.


“Jadi kita benar-benar hanya mengandalkan mata, senjata dan ini Hermit?" ujar Putney mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke perangkat nightvission yang ia kenakan.


Hermit hanya mengangguk, kemudian melirik sekitar. Karena tidak menemukan apa pun, ia lantas mengajak timnya untuk menyusul tim Justine.


"Tidak ada apa pun disini, kita kembali pada Ketua."


Kelima anggota tim Bruth B itu pun berputar haluan, kembali ke jalan sebelumnya yang mereka lalui. Namun di tengah mereka berlari, suara keras dua tembakan beruntun terdengar.


Mendengar suara keras senjata api itu, seolah memiliki satu pemikiran telah terjadi pertarungan, kelima orang tim Bruth B itu pun semakin mempercepat laju berlari.


...*****...


Disisi lain, Selain diburu oleh waktu, Aksel juga diburu oleh babi hutan yang lagi-lagi menyerang dirinya. Naik pitam, dirinya lantas menembaki kepala mereka, mengakibatkan pelurunya terbuang sia-sia.


Sialan, peluruku menipis!, batinnya melotot ke pistol tua pemberian mendiang sang kakak.


Tidak sengaja, saat mengangkat pistol, jam pintar yang melingkar di tangannya itu menyala, menunjukkan pukul 03.00 pagi.


Tidak! Rebeca!, batinnya panik. Batas waktu yang ia miliki hanya tinggal 2 jam.


Sesaat sebelum ia melangkah, siluet kabin mulai terlihat tidak jauh dari tempatnya berpijak. Rupanya, meski membuat Aksel membuang peluru serta waktu cukup banyak, para babi hutan itu seolah menggiringnya menuju tempat Rebeca.


Bak pengembara menemukan oasis di tengah padang pasir, hati Aksel seketika membuncah. Dia pun segera berlari ke kabin itu.


Dari dekat, nampak seperti kabin pada umumnya yang terbuat dari kayu. Ketika kaki Aksel menginjak alas bagian pertama kabin, suara deritnya memberikan jawaban tanpa pertanyaan, bahwa kayu yang tersusun itu, usang nan rapuh karena dimakan usia.


Seolah kabin itu menunggu kedatangannya, pintu kayu di depan Aksel ketika dia buka, sama sekali tidak terkunci. Tanpa pikir panjang, dia berjalan masuk membawa pistol di tangannya.


Di dalam kabin berukuran besar itu, terdapat lorong panjang dengan beberapa kamar. Dia lantas membuka pintu seraya menodongkan senjata, namun tidak ada apapun.


Satu, dua, tiga, hingga enam pintu hasilnya nihil. Sampailah ia di pintu ke tujuh, yang keadaan pintunya telah terbuka, bak disiapkan untuk dirinya.


Matanya melebar, melihat sang pujaan hati yang tangannya diikat, serta mulut terlakban sedang berdiri diatas kursi, berusaha agar lehernya tidak tergantung tali yang terus-menerus mengencang. Aksel pun segera berlari masuk ke dalam ruangan itu.


Tanpa dia sadari, pintu di ruangan delapan. Ruangan tepat berada di depan ruangan tujuh, terbuka. Dari dalamnya, menyembul ujung pistol.