I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 48



Mendengar suara tembakan ketiga, membuat langkah Vincent seketika berhenti. Dia terperanjat, setelah sebelumnya mendengar dua tembakan beruntun.


Aksel!, batinnya seraya kembali berlari, lebih cepat dari sebelumnya.


Pikirannya penuh dengan keadaan adik di kehidupan sebelumnya itu. Karena dia sangat menyayangi Aksel lebih dari apa pun, bahkan nyawanya sendiri.


Pelarian Vincent mengantarnya pada sebuah bangunan dari kayu. Dirinya tidak menyangka ada kabin ditengah-tengah hutan berjuluk hutan kematian ini.


Ketika dia akan melangkah maju, sebuah tepukan di pundak mengejutkan dirinya. Reflek dia berbalik ke belakang seraya menodongkan pistol.


Mata Vincent yang semula tajam seketika melebar, melihat Justine-lah yang berdiri, tanpa rasa takut sama sekali di hadapannya.


“Paman....”


“Reflek yang bagus,”


Justine pun mendahului Vincent berjalan ke arah kabin, berjalan siaga. Kriet! Lantai kayu lapuk yang dipijak olehnya diikuti Vincent, Martin dan Houtman berderit.


Ketika dia sampai di pintu, terlihat pintu itu sudah terbuka, menandakan ada seseorang yang datang sebelum mereka.


Mungkinkah tim Hermit? tapi lebih mungkin, mereka anjing Lippo, pikir Justine seraya membuka pintu.


Begitu pintu terbuka, Dor! Suara tembakan terdengar dari dalam kabin, membuat Justine dan kedua orang di belakangnya terkejut, termasuk Vincent.


Celaka, Aksel berhadapan dengan tim A!, pikir Vincent. Dia lantas menerobos masuk, mendahului Justine.


Sontak Justine berusaha menghentikan tindakan gegabah Vincent, “Vin! Tung—”


Dor! Suara tembakan kembali terdengar. Kali ini kepulan asapnya terlihat jelas dimata Justine yang tengah memakai perangkat nightvission.


Anjing Lippo!, batinnya.


Dia segera menyuruh Martin dan Houtman keluar dari kabin, untuk membantu menyerang dari luar. Karena tim A tidak mungkin jika hanya ada didalam kabin.


Kedua bawahan Justine itu mengangguk, kemudian berpencar keluar kabin.


Justine segera masuk menyusul Vincent, karena hanya dia yang tidak memakai perangkat nightvission. Padahal ketika di dalam mobil, dirinya sudah memaksa Vincent untuk memakai perangkat itu, guna melihat di dalam gelap, namun anak itu tetap bersikukuh tidak mau.


Ck, dasar!, batin ketua tim Bruth itu


Dia melihat Vincent sedang bersender pada tembok kayu di seberang, terpisah oleh sebuah lorong.


Begitu Justine hendak melewati lorong itu, sebuah peluru melesat. Jaraknya sangat tipis, kurang dari 5 centimeter di depan matanya. Jika kepalanya condong ke depan sedikit saja, peluru itu pasti menembus pelipis kepala.


Dengan secepat kilat, Justine menarik dirinya mundur, seraya bersembunyi di belakang tembok kayu.


Nyaris saja aku mati!, batinnya seraya mengalihkan pandangan ke seberang.


Vincent terlihat menatap dirinya dengan lekat, seolah dia dapat melihat di tempat gelap, yang bahkan sinar rembulan tak mampu sampai ke dalamnya.


Jangan bilang, dia memang bisa melihat tanpa nightvission sekali pun?, batin Justine


Tanpa membuang waktu, segera dia mengendap-endap masuk ke lorong, berhasil masuk ke dalam kamar sebelah kiri, tepat sebelum peluru yang ditembakan kembali oleh musuh mengenai dirinya.


Dor! Dor! Suara tembakan terdengar di area luar kabin. Vincent pun segera mengintip melalui lubang angin berukuran 30x30 centimeter, karena di ruangan itu tidak ada jendela.


Terlihat Houtman tengah bersembunyi tepat di bawahnya. Lalu ketika dia mengalihkan pandangannya ke arah jarum jam 2, nampak siluet seseorang yang bersembunyi dari balik pohon.


Hal itu menimbulkan keheranan di benaknya. Kenapa jika bersembunyi sejak awal, mereka tidak menembak ketika dia dan timnya sampai di depan kabin?


Pertanyaan Vincent itu segera dia tinggalkan tatkala melihat siluet orang itu bersiap menembak Houtman. Tidak mau anggotanya mati, dia mengarahkan ujung pintolnya ke arah luar.


Kedua mata yang terbuka itu fokus membidik, kemudian jari telunjuknya menarik pelatuk, dan peluru pun melesat keluar dari mulut senjata api itu.


Dia melihat sang siluet tersentak ke belakang, mengartikan tembakannya berhasil mengenai lawan.


Houtman sendiri memanfaatkan batuan itu dengan segera menembak ke arah jarum jam 9, tempat siluet lain terlihat di perangkat nightvissionnya, namun pelurunya dapat dihindari oleh lawan.


Sialan!, batinnya.


Di dalam kabin, Vincent yang mengetahui jumlah tim A merasa hal itu merugikan untuknya saat ini. Timnya hanya empat orang, mengingat ke ingatan di kehidupan sebelumnya, musuh pasti menyerang dengan jumlah penuh.


Empat lawan lima belas, hal itu jelas kalah telak. Ditambah, timnya tidak dapat menghubungi tim Hermit untuk meminta mereka kembali dan membantu.


Ditengah-tengah berkecimuknya suasana pelik dipikiran Vincent, terdengar teriakan kesakitan, suara yang sangat familier di telinganya.


Aksel!


Baru dia akan membalikan badan, Dor! Peluru melesat dari arah luar kabin. Lalu terdengar kembali suara tembakan di luar, sepertinya Houtman membalas tembakan itu.


“Terimakasih Paman Houtman! Aku mohon menanglah!” gumam Vincent, kemudian dia mengendap-endap ke arah luar kamar.


Baru dia akan membuka pintu, terlihat dua peluru beruntun melesat, mengenai tembok kayu di ujung lorong.


Dari dua tembakan itu, Vincent tahu itu dari pistol yang dibawa oleh Justine. Kemudian terdengar suara tembakan dari arah luar kabin sebelah kanan.


Disaat bersamaan, dari sisi Justine.


“B*ngs*t!” desisnya kesal, seraya tiarap mempersiapkan senjatanya.


Dia lalu merangkak mendekati jendela kayu kecil, yang mirip fentilasi itu, kemudian melepaskan peluru ganda dari senjata miliknya


Tembakan itu tepat mengenai dua orang siluet manusia yang bersembunyi dibalik pepohonan, sedikit jauh dari kabin. Hal itu menunjukkan hasil tembakan dari senapan laras ganda atau double barrel yang dia pegang.


Dari perangkat nightvissionnya, Justine melihat siluet seseorang lain, tengah diam-diam berusaha mengintip ke arah kabin.


Disaat dia akan kembali membidik, peluru dari luar melesat ke dalam kabin dan berhasil menyerempet bahunya. Rasa sakit diiringi cairan merah keluar dari luka itu.


B*ngs*t! batinnya seraya menahan bahu kiri dengan telapak tangan kanannya, namun darah yang keluar terus mengucur deras.