
Bukannya menjawab pertanyaan Vincent, Bell justru kembali tertawa terbahak-bahak. Kali ini tertawanya lebih nyaring dari sebelumnya.
“Dia itu Iblis apa orang gila sih?” pikir Vincent.
“Hei! Aku itu betul Iblis tahu! Bukan orang gila!” seru Bell dengan nada bicara tidak terima.
“Oh,” respon Vincent datar.
“Kau sebelumnya bertanya bukan, bagaimana aku bisa tahu ucapanmu yang bahkan tidak kau ucapkan?” tanya Bell.
Vincent hanya menjawab dengan menganggukan kepala dua kali.
“Karena jiwamu sudah menjadi milikku,” ujar Bell tersenyum licik.
“Oh, jadi aku tidak perlu berbicara dengan mulut 'kan padamu? Aku hanya perlu membatin, yah lumayan menghemat tenaga.” ucap Vincent datar.
“Tapi aku lebih suka bicara lewat mulut sih, untuk apa punya jika tidak digunakan.” lanjutnya.
“Setelah terlahir kau banyak bicara ya Antonio,” ujar Bell tersenyum miring.
“Yah bisa dikatakan begitu, jadi kenapa kau datang menemuiku?” tanya Vincent langsung ke inti.
Bell melayang kembali, lalu duduk di meja menembak, menopang wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan kedua sikunya tertumpu di paha, melihat Vincent dari atas sampai bawah.
“Pertunjukanmu terlalu membosankan,” ujarnya datar.
“Pertunjukan? Jadi kau melihatnya selama ini?!” tanya Vincent dalam hati.
“Tentu saja, kau kira tidak?” Bell balik bertanya.
Vincent memejamkan mata berbicara dalam hati, “Yah mau bagaimana lagi, aku kan hanya anak kecil sekarang ini.”
Bell melepaskan tangan dari wajahnya, kemudian melayang dan turun tepat di depan Vincent.
“Aku ada satu saran untukmu,”
Vincent membuka mata, “Saran apa?”
“Dua sih bukan satu, satunya spoiler tentang dunia. Dan satu lagi sedikit bocoran untukmu.” ujar Bell mengedipkan satu matanya.
“Bukankah bocoran dan spoiler itu sama saja?” pikir Vincent.
“Oh iyakah? Aku pikir kedua kata itu berbeda.” sahut Bell.
Vincent menghela napas mendengar itu, kemudian bertanya, “Apa itu? Spoiler dan bocoran itu?”
Bell merendah lalu berbisik di telinga Vincent, ketika mendengarnya mata Vincent melebar dan senyum terukir di bibirnya.
“Benarkah? Jangan-jangan kau menipuku. Kau'kan iblis,” cibir Vincent.
“Meski aku iblis, aku tidak seperti manusia yang pembohong, serakah dan saling menghianati.”
Mendengar itu dari mulut seorang iblis, menurut Vincent hal itu memang benar. Manusia bahkan lebih iblis daripada iblis itu sendiri.
...****************...
Daniel yang tengah mengawasi server Zona K, melihat satu chip di dekat White Krisan. Sebuah chip yang tidak asing.
“Ini HR-010079VH, Tuan Muda Vincent?” pikirnya menatap lekat layar monitor.
Justine tengah mengisi peluru di pistolnya tidak sengaja melihat kearah Daniel yang serius memperhatikan layar monitor server.
“Tumben dia serius sekali melihat monitornya, apa ada penyusup di Zona K?!” terka Justine dalam hati.
Dia segera mengisi penuh pistolnya, lalu menghampiri Daniel.
“Apa ada Daniel?” tanyanya sembari menepuk pundak anggotanya itu.
Daniel terkejut, langsung menoleh ke belakang, “Ketua! Bikin kaget saja.”
“Ini Tuan Muda Vincent ada di Zona K, tapi sendirian. Bukankah hari ini bukan jadwal para anggota lain untuk berlatih bela diri denganya ya?” lanjut Daniel bertanya.
“Dia itu tidak sabaran, mungkin dia berlatih sendiri. Apalagi dia penggila pistol,” jawab Justine melihat layar monitor Daniel.
“Apakah Anda ingin menemui Tuan Muda? Soalnya beberapa hari lalu dia menanyakan anda Ketua,” ujar Daniel.
“Aku? Untuk apa dia mencariku?” tanya Justine heran.
“Vincent kan tidak pernah kesini, kau dapat info darimana jika dia menanyakanku?” tanya Justine mendetail.
“Wah aku lupa jika bicara denganmu harus detail, Anda memang top!” Daniel mengacungkan kedua jempol.
“Houtman dan yang lain bercerita jika sewaktu pulang, Tuan Muda menanyakan ketidakhadiranmu dalam pelatihannya.” lanjutnya.
“Oh, terimakasih informasinya Daniel. Selagi ada waktu sebentar, aku akan menemuinya.” ujar Justine pergi meninggalkan meja Daniel.
“Dia lebih tenang daripada biasanya, apa Ketua sedang mempersiapkan hal besar ya?” terka Danie dalam hati, lalu menoleh kembali ke layar monitornya.
Beberapa saat Justine mengendarai mobil, sampailah dia di Zona K. Dia segera memverifikasi diri di gerbang dengan pemindaian iris mata dan masuk. Namun begitu dia sampai di area menembak, dia keheranan karena melihat Vincent tengah berbicara sendiri.
“Dia bicara dengan angin?” ujar Justine dalam hati.
Disisi lain...
“Apa kau yakin, itu akan berhasil Bell?” tanya Vincent ragu.
“Hei kau meragukan strategi iblis? Iblis selalu bisa menjatuhkan manusia tahu!”
“Bukankah tadi kau hanya memberiku saran spoiler, kenapa sekarang juga memberikanku strategi?” tanya Vincent kembali dengan tatapan curiga.
“Kau tidak bertanya padaku?! Teganya! Aku 'kan sudah baik padamu tahu! Dasar manusia!” ujar Bell dengan wajah merah padam.
“Apa iblis juga PMS sih? Kenapa dia sensitif sekali?” pikir Vincent.
“Aku tidak PMS bodoh!” sahut Bell.
“Ya, ya, ya, aku minta maaf.” ujar Vincent.
“Vin?”
Sebuah suara dan sentuhan di pundak Vincent mengejutkannya, sehingga dia refleks berbalik dan menodongkan pistol miliknya.
“Woy, Woy, tenanglah Vincent!” ujar Justine mengangkat kedua tangannya.
“Paman Justine?” Vincent menurunkan pistol.
“Kau bicara dengan siapa? Memangnya angin bisa kau ajak bicara?” tanya Justine mengernyitkan dahi.
“Hah? Angin?” tanya Vincent dalam hati heran.
Dia kemudian menoleh ke belakang. Dirinya masih melihat Bell. Iblis wanita itu berdiri, melihat ke arah Justine.
“Justine tidak bisa melihat Bell?” tanyanya dalam hati.
“Iya, dia tidak bisa melihatku Antonio. Hanya orang yang sudah pernah mati yang bisa melihat dan berbicara denganku.” sahut Bell melirik padanya.
“Vincent!” panggil Justine.
Vincent terkejut, “Hah? Eh iya, kenapa?”
“Kau aneh sekali sih, aku tanya kenapa kau berbicara sendiri? Haruskah Wim membawamu ke Psikiater anak?” tanya Justine dengan wajah heran bercampur iba.
“Kenapa Paman melihatku seperti itu? Aku tidak berbicara sendiri kok. Aku bicara pada diriku sendiri di masa depan. Aku membayangkan jika diriku yang tinggi ada di belakangku, memangnya itu aneh?”
Justine diam sejenak. Mungkin yang dikatakan Vincent adalah teman imajinasi, suatu hal lumrah yang dialami oleh anak kecil. Biasanya akan hilang saat ia tumbuh dewasa.
“Oh begitu, tidak aneh kok.” ujar Justine, kemudian ia melirik pistol Vincent.
“Mau latihan menembak?”
Vincent menjawabnya dengan penuh keantusiasan, “Tentu saja mau!”
Ditengah-tengah mereka latihan menembak, Bell memperhatikan keduanya. Karena dirasa ia sudah cukup lama berada di dunia manusia, apalagi perlu tenaga sangat besar untuk datang, dia memutuskan untuk kembali ke dunianya.
“Aku harap kau memberiku pertunjukan yang lebih menarik Antonio.” ujarnya dalam hati.
Sring! Muncul cahaya merah yang sangat terang, hingga membuat mata Vincent dan Justine sangat silau.
Keduanya pun refleks menghentikan aktivitas, menutup mata.
Setelah beberapa waktu, cahaya merah itu pun menghilang. Vincent membuka mata, melihat jika Bell sudah tidak ada di belakang dirinya.
“Dia pergi?” ujarnya dalam hati.