I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 19



Fey amat sangat geram melihat berita di televisi, bukan berita aktual melainkan berita di acara internaitment bertajuk 'Hot Issue', yang membahas gosip serta teori-teori yang belum tentu kebenarannya.


"CBB sialan!" ujar Fey menggebrak meja, membuat para petinggi Lippo yang berada ruangannya terkejut.


CBB adalah saluran televisi dibawah naungan CJ&E Entertainment.


"Bagaimana ini Pak Fey?" tanya salah satu petinggi.


"Mereka seenaknya memberi berita pada masyarakat." sahut petinggi lain.


"Jika dibiarkan harga saham kita bisa turun." timpal petinggi lain.


Mereka menunggu keputusan Fey selaku CEO Lippo Grup untuk mengatasi masalah saat ini.


Fey pun mengutarakan sesuatu pada keenam petinggi yang datang, "Sekarang saya tanya, jikalau suatu perusahaan menjual saham bayangan pada masyarakat umum, apakah itu di perolehkan?"


"Tentu saja tidak. Itu sama saja dengan penipuan." celetuk salah satu petinggi.


Salah satu petinggi lain nampaknya paham dengan apa yang di bicarakan oleh Fey.


"Anda sedang membahas iklan Xendra di televisi bukan?" tanyanya.


"Anda memang tajam," jawab Fey tersenyum.


"Bukankah itu bisa di laporkan pada kejaksaan? Atas tuduhan penipuan secara tidak langsung?" timpal petinggi lainnya.


Mereka bertujuh pun tersenyum bersama, karena menemukan celah untuk membalas Xendra.


...****************...


“Vincent hari ini makannya lahap sekali!” puji Jane melihat putranya menyantap roti panggang dengan penuh senyuman.


“Soalnya roti buatan Mama enak sekali!” puji balik Vincent.


Wim sendiri hanya diam. Dia sibuk melihat berita di ponselnya. Hal itu membuat Jane kesal, tidak biasanya suaminya itu terus memandangi layar ponsel, apalagi saat makan.


Kemudian secara mendadak, Jane merampas ponsel lipat seharga $2.000 itu. Dia ingin melihat apa yang tengah dilihat oleh suaminya.


"Awas saja, jika melihat sosial media wanita-wanita seksi yang pamer body! Aku juga 'kan tidak kalah seksi dari mereka!" ujar Jane dalam hati.


Iris mata milik ibu Vincent itu bergerak dari atas kebawah, membaca keseluruhan dari artikel yang terpampang di layar ponsel Wim. Setelah membaca hingga akhir halaman, dia menoleh ke suaminya yang tengah memakan sarapannya dengan tenang.


"Apa?" tanya Wim melirik Jane yang terus saja memandang dirinya.


"Mama lihat apa?" timpal Vincent.


"Tidak ada sih," jawab Jane singkat.


"Mama lihat berita? Katanya Perusahaan besar elektronik Buston jatuh karena Lippo." ucap Vincent seraya memakan potongan terakhir roti panggangnya.


Jane terkejut, karena artikel yang dia baca di ponsel Wim adalah berita yang menampilkan hal yang baru saja diucapkan oleh putranya.


Vincent melihat raut wajah keheranan dari Jane sudah dapat menduga bahwa ucapan yang sengaja dia ucapkan adalah kebenaran dari artikel yang dia baca di ponsel Wim.


"Kau tahu itu dari mana Vincent?" tanya Wim mengambil kembali ponselnya dari genggaman jari lentik Jane.


"Sudah banyak diberikan kok, tapi itu sebuah konspirasi saja sih." jawab Vincent turun dari kursi, menggendong tasnya.


"Papa, Mama aku berangkat dulu," Pamit Vincent, kemudian dia berjalan ke arah pintu.


"Vincent tunggu Mama!" teriak Jane, lalu berlari menyusul putranya.


Wim tersenyum melihat tingkah Jane yang lagi-lagi seperti anak kecil. Kemudian setelah pelayan pergi membawa piring kotor dari atas meja makan, dia membuka ponsel lipatnya, menekan nomor Justine.


"Ada apa Wim?" tanya Justine di telepon.


"Hadiahnya sesuai rencana meski ada sedikit yang diluar trek," jawab Wim.


"Tentu saja, Ester memang jagonya. Itu juga karena isterimu," sahut Justine.


"Jane?" tanya Wim dalam hati.


Jane memang memegang perusahaan CJ&E Entertainment, tapi dia memimpin perusahaan itu dari balik bayangan. Karena publik hanya tahu pemimpin atau CEO perusahaan entertainment besar dan terkemuka itu adalah Ester.


"Sejak kapan?" Wim bertanya kembali.


Justine pun menjelaskan dari telepon bahwa Jane sempat datang ke ruangan Creative Crew. Dia menginginkan agar CJ&E membantu, dan dia minta agar tim Bruth tidak memberi tahukan hal itu pada Wim. Dengan begitu, itu akan menjadi kejutan saat hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke 7 tahun.


"Sepertinya sekarang bukan lagi kejutan, aku sudah memberitahukan semuanya padamu," ujar Justine di telepon.


Wim langsung mematikan sambungan telepon, tertawa terbahak-bahak hingga menitikan air mata. Suara tawanya bahkan terdengar hingga ke arah dapur, tempat pelayanan sedang mencuci piring.


Mereka yang mendengar suara tawa yang tidak pernah dia dengar menjadi merinding. Apalagi mengetahui pemilik suara itu adalah Tuan mereka yang beberapa tahun lalu dengan mudahnya membunuh seorang wanita tanpa rasa penyesalan ataupun rasa bersalah.


"Suara tawanya seperti malaikat maut tidak sih?" bisik salah satu pelayan, Bunny.


"Sstt! Diam kamu! Jika Tuan mendengarnya, kau bisa mati detik ini juga!" bisik Yangwe.


"Ah maaf," ucap Bunny.


"Tapi bukankah Tuan Vincent tidak menyeramkan? Meski jarang bicara hal yang tidak perlu, dia begitu cerah dan comel, " puji Reizel tersenyum.


Ketiga pelayan itu tidak menyadari jika Tuan mereka sedang berdiri di ambang pintu dapur, melihat mereka mencuci piring dengan saling berdempetan satu sama lain.


"Tadinya aku mau ambil jus, tapi melihat mereka bekerja seperti itu membuat sakit mata saja." gumam Wim menatap datar ketiga pelayannya.


Wim memang tidak suka melihat pelayan bekerja dengan menggerombol, apalagi diselingi pembicaraan yang tidak perlu. Ditambah mereka adalah orang asing di rumah itu. Orang asing adalah hal yang paling tidak disukai oleh pemimpin Xendra Grup tersebut.


Diapun pergi meninggalkam dapur, lalu masuk kearea gudang. Setelah meletakkan sidik jarinya, pintu pun terbuka.


Dia menghampiri dua botol bertuliskan Arsen dan TTX, dua botol sama yang sebelumnya juga dihampiri oleh Vincent beberapa waktu lalu.


Ketika Wim melintasi tempat sampah, dia melihat sepasang sarung tangan tergeletak di dalamnya. Seketika dia berhenti, dan mengamati kedua sarung tangan itu.


Dipikirannya, tidak mungkin pelayan mampu masuk ke dalam gudang itu. Karena hanya ada tiga orang yang bisa mengakses gudang yang mempunyai mekanisme kunci sidik jari dari keluarga utama Hermentsmith itu.


"Ayah, Jane atau..."


Seketika bayangan raut wajah Vincent ketika menembak kepala Bu Dita muncul di kepala Wim.


Dirinya langsung teringat, ketika dia mengambilkan tas Vincent. Ia melihat putra tunggalnya itu baru datang dari arah belakang.


Wim terkekeh, "Toilet darimananya, dasar bocah itu."


Kemudian dia menelepon Justine, "Laksanakan hadiah penuh untuk Buston serta keluarga Henningson!"


"Baik!" sahut Justine di telfon.


Setelahnya dia memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja yang dia kenakan, lalu memakai sarung tangan dan memasukkan kedua botol racun mematikan itu kedalam sebuah wadah.


Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi kembali. Dengan buru-buru Wim menjawab telepon lalu menyalakan spiker tanpa membaca nama penelfon. Dia mengira Justine-lah yang menelepon kembali.


"Wim? Wim Hermentsmith?" suara dari telepon adalah suara wanita.


"Loh, Ellie?" gumam Wim.


Suara itu adalah suara milik temannya semasa kuliah yang sekarang menjadi jaksa di kejaksaan.


"Ada apa Ellie? Maksudku Jaksa Ellie?"


"Kau harus ke kejaksaan hari ini. Ada laporan perusahaan Xendra melakukan penipuan 'saham bayangan' yang diiklankan di televisi. Aku akan meminta keteranganmu." ujar Ellie di telfon.


"Baiklah, aku segera kesana."


Setelah mendengar ucapan Wim, Ellie langsung memutuskan sambungan telepon.


Wim sendiri memandang nanar ke arah ponsel miliknya. Dia segera menutup wadah, lalu melepaskan sarung tangganya.


"Ini pasti ulah Lippo,” gumamnya memasukkan ponsel ke saku dan pergi ke luar membawa wadah berisi kedua botol beracun di dalamnya.