I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 32



Mobil SUV hitam yang di tumpangi Dino beserta keempat rekannya tiba di pelataran kantor Badan Pengawasan.


Bawahan Aksel itu bergegas melepas sabuk pengaman, memberi perintah pada keempat rekannya, "Kalian kembalilah,"


"Baik!"


[Sementara itu, di ruangan Aksel]


Aksel tengah memeriksa dokumen di atas mejanya. Di ruangan yang hanya ada ia seorang itu, Brak! Pintu ruangan dibuka dengan sangat keras. Saking kerasnya membuat Aksel terkejut hingga terjatuh dari kursi, Gedubrak!


"Pak Aksel!" seru Dino berlari.


Dia segera membantu atasannya itu berdiri, sembari meminta maaf, "Maafkan saya Pak Aksel!"


Dengan memegangi lengan kanan yang terasa sakit, karena sewaktu jatuh tertimpa kursi, Aksel menyahut dengan kesal, "Kau itu kebiasaan!"


"Maaf Pak," sahut Dino sembari memeriksa keadaan Aksel dari atas sampai bawah, membuat Aksel yang sebelumnya kesal menjadi tidak nyaman.


"Sudah! Berhenti memeriksa badanku!"


Mendengarnya, Dino pun berhenti. Dia melepaskan lengan kanan atasannya, kemudian menundukan kepala. Seperti reaksi anak kecil sehabis di marahi oleh ayahnya.


"Kau seperti anak kecil saja," ujar Aksel.


Setelah mengatakan itu, dirinya baru sadar akan sesuatu. Dino tidak membawa apa pun ketika masuk, bahkan saat membantunya berdiri.


“Dino, mana barang buktinya?" tanyanya, ia tidak lagi kesal akibat ulah Dino yang membuka pintu sangat keras beberapa saat lalu.


Mendengar itu, Dino menoleh ke arah Aksel, menjawab lirih, "Maaf Pak, tidak ada bukti yang dapat ditemukan,”


Seketika rasa sesak dan amarah yang sebelumnya Aksel rasakan ketika sedang menginterogasi Fey pun memuncak kembali.


Rupanya sikap Fey yang begitu santai dan merendahkan dirinya sewaktu diinterogasi, karena dia sudah membereskan barang bukti lebih dahulu.


“Dasar B*jing*n Lippo brengsek!" cecarnya dalam hati, menggenggam erat kertas dokumen hingga kertas itu menjadi kusut.


Dino sedikit melirik, kemudian berbicara kembali dengan lirih, "Pak Aksel, maafkan aku. Aku tidak cukup cepat sampai kesana."


"Dino, itu bukan salahmu," sahut Aksel.


"Tapi salahku juga." lanjutnya sembari membereskan dokumen yang berserakan diatas meja.


Meski atasannya berkata demikian, Dino tahu betul Aksel amat kesal, terbukti dari cara Aksel membereskan dokumen dengan cukup kasar.


Entah Dino memahami situasi atau tidak, dia lantas menceritakan tentang tim bayangan yang ia dengar dari salah dua rekannya.


"Pak Aksel, aku mendengar dari Laurent dan Haka, jika perusahaan besar terlebih perusahaan milik konglomerat mungkin seperti Lippo, mempunyai semacam tim bayangan.”


Mendengarnya, Aksel yang sibuk memasukan dokumen dari meja ke lemari berkas yang terletak di belakang meja kerjanya pun seketika berhenti.


Tim bayangan yang dimaksud oleh Dino, tidak lain dan tidak bukan pastilah tim yang pernah di pimpin oleh kakaknya.


Dia kemudian menoleh, berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Dino, “Apa maksudnya dengan tim bayangan?”


“Haka menjelaskan jika itu tim yang melakukan pekerjaan kotor untuk menyingkirkan penganggu perusahaan Pak,”


Aksel cukup terkejut mendengarnya. Bukankah tim bayangan semacam tim A sangat amat tersembunyi? Lantas, bagaimana rekan Dino bisa mengetahui hal itu?


“Dino, kau jangan bicara yang tidak-tidak. Tim bayangan? Seperti di film-film saja." ujar Aksel pura-pura tidak percaya ucapan bawahannya itu.


“Loh Pak Aksel, ini betulan. Saya mendengar ini dari Laurent dan Haka. Tidak mungkin jika mereka berbicara omong kosong bukan?"


Dia sengaja memberikan pertanyaan yang secara tidak langsung menggiring Dino untuk mencari tahu.


Mendengar pertanyaan Aksel, Dino terdiam. Dia baru menyadari hal itu. Kenapa kedua rekannya bisa mengetahui hal semacam itu? Terlebih Laurent yang langsung mengatakan tugas tim bayangan itu membunuh para pengganggu perusahaan.


“Dino?” panggil Aksel.


“Eh iya Pak?” sahut Dino terkejut, kemudian menoleh ke arah Aksel.


“Kenapa kau jadi melamun?”


“Ah tidak Pak."


"Oh ya ngomong-ngomong CEO Lippo yang ada di ruangan interogasi itu bagaimana? Tidak ada bukti, maka Badan Pengawasan tidak bisa menahannya bukan?" tanya Dino mengalihkan pembicaraan ke topik lain.


“Iya, tapi surat penahanannya berlaku satu hari. Artinya dia bisa di tahan sampai besok."


Mendengarnya Dino mengangguk, lalu berpamitan, “Jika begitu saya pamit ke ruangan saya Pak,”


Dia membungkuk, kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan Aksel.


Di koridor pikirannya tertuju pada Laurent, dia ingin sekali bertanya padanya mengenai tim bayangan. Siapa tahu dengan informasi itu, ia bisa sedikit membantu Aksel dalam membekuk Lippo.


Dia tahu betul atasannya itu sangat membenci Lippo Grup, meski ia tidak tahu alasan dibaliknya. Namun dengan kasus ini, Dino menduga Aksel sangat benci pada Lippo karena mereka menghancurkan bukti dengan sangat pintar.


"Perusahaan licik," ujar Dino dalam hati.


Sesampainya di ruangan yang berada di ujung koridor, ia langsung menghampiri meja Laurent. Terlihat gadis berambut merah serta mempunyai iris mata berwarna hijau itu tengah membaca berkas yang menumpuk di atas mejanya.


Dino mendekati Laurent, berpura-pura mengecek dokumen yang tengah dibaca oleh rekannya itu.


“Laurent,”


Laurent menyahut, “Iya Pak Dino?”


“Kau tahu informasi tim bayangan Lippo darimana?”


Mendengarnya Laurent heran, kenapa atasannya itu menanyakan hal itu padanya? Bukankah sewaktu di dalam mobil, ia hanya menjelaskan tim bayangan? Bukan berarti tim bayangan yang dia maksud adalah tim bayangan Lippo.


“Soal itu saya juga tidak tahu Pak.” jawabnya singkat.


Mendengar itu Dino menjadi heran, “Maksudmu apa? Bukankah kau yang mengatakan Lippo memiliki tim bayangan?”


“Pak Dino, saya tidak pernah mengatakan jika Lippo memiliki tim bayangan. Saya hanya mengatakan dugaan saya jika mereka memiliki tim bayangan yang tugasnya menghancurkan bukti.” jelas Laurent.


“Lagian saya mendengar tim bayangan itu ada, semua itu dari Haka Pak," imbuhnya.


Mendengar itu Dino jadi bingung. Ternyata yang mengetahui informasi mengenai tim bayangan bukan Laurent, melainkan Haka?


"Lalu tim Perencanaan di Buston Grup itu? Kau tahu itu juga dari Haka?" tanya Dino kembali memastikan.


Laurent menjawab dengan menganggukan kepala, lalu bertanya, "Kenapa Pak?"


"Tidak ada, lanjutkan pekerjaanmu." jawab Dino, kemudian ia pergi meninggalkan meja Laurent.


Tanpa kecurigaan apa pun Laurent kembali meneruskan pekerjaannya. Sementara Dino, ia pergi ke ruangan interogasi.


Sesampainya di depan ruangan yang nampak seperti ruangan penerimaan tamu biasa itu, dari jendela, Dino dapat melihat Fey yang menutupi wajahnya dengan kedua lengan diatas meja.


"Jika kata Haka di mobil benar, berarti dia sangat berbahaya," ujar Dino dalam hati.