
Mendengarnya, gumaman Hanna seketika terhenti. Merasa ada orang lain, tanpa pikir panjang dirinya langsung menoleh. Matanya terbelalak tatkala bertemu sepasang mata lain, tengah menatap balik ke arahnya.
"Kyaa!" jeritnya spontan.
Suara lembut bak nyanyian siren, mampu menyihir siapa yang mendengarnya. Kini berganti menjadi nada melengking tinggi, hingga orang yang sebelumnya terjebak dalam pusaran magnet hipnotis, seketika terbebas.
"Eh?"
Namun belum sempat diberi waktu memahami situasi, Bug! kepala Vincent tiba-tiba bersilaturahmi dengan sebuah gayung berwarna merah.
"Aduh!"
Tidak memberinya kesempatan barang sedetik pun, berbagai peralatan mandi kembali melayang kearah dirinya. Bug!
Vincent pun menangkupkan jaket yang ia pakai ke kepalanya. Berusaha melindungi satu-satunya bagian tubuh yang digunakan untuk berpikir itu.
"Vincent mesum! Keluar!" jerit Hanna seraya melempari apa saja yang ada di dekatnya ke arah Vincent.
"Aw! Aw! Aku tidak mesum!" balas Vincent dari balik jaket.
Merasa hujan barang dari lemparan Hanna tidak ada habisnya, ia pun berbalik badan, segera berlari keluar kamar mandi.
Begitu keluar, Brak! Pintu kamar mandi dibelakangnya terbanting sangat keras. Hingga membuat gantungan kupu-kupu yang tertempel didepan pintu itu lepas, jatuh ke lantai.
"Vincent mesum!" teriak Hanna dari balik pintu.
Merasa dirinya tidak seperti yang dituduhkan, Vincent pun membela diri, "Tidak! Mana aku tahu jika kau sedang mandi! Makanya ditutup pintunya!"
Setelahnya ia berjalan pergi, menuju ruang tengah. Ketika sampai, di jatuhkannya tubuh itu ke sofa. Sepasang iris mata berwarna hitam itu memandang langit-langit berhias lampu mewah.
...**********...
[Sementara itu, didalam kamar mandi]
Hanna tidak habis pikir, kenapa Vincent bisa masuk ke dalam penthouse. Bukankah kartu akses untuk masuk kedalam hanya dipegang olehnya seorang?
"Jangan-jangan dia memiliki kartu cadangan?"
Menerka sendiri, Hanna seketika terperanjat. Jika begitu, betapa bodohnya dia! Dirinya berpikir tidak akan ada orang yand datang, dan malah lupa menutup pintu!
"Aku tidak tahu jika dia akan kemari!" jeritnya memukul-mukul air.
Semakin dipikirkan, semakin kesal dan malu yang dirasakan olehnya. Di satu sisi memang dialah yang salah tidak menutup pintu, namun disisi lain Vincent juga salah! Kenapa tidak berbalik badan, dan malah terpaku melihatnya seolah dia ini pemandangan saja!
"Tapi namanya laki-laki, mana mungkin akan menyia-nyiakan kesempatan! Dasar!" jeritnya kembali, memukul-mukul air dengan keras hingga meluber.
Kesal pun tidak ada gunanya, Hanna kembali menenggelamkan diri. Setelah dipikir lagi, 90% dari dirinya tertutup oleh buih sabun, hingga aset berharganya tidak serta merta terekspos. Dia pun segera menuntaskan urusannya di kamar mandi itu.
Ketika selesai, dirinya membuka pintu sepelan mungkin. Kepalanya keluar lebih dahulu, memastikan keadaan aman.
"Ok!" Hanna memberanikan diri untuk mengendap-endap keluar kamar mandi.
Begitu melewati ruang tengah, langkahnya terhenti tatkala melihat pria berpakaian sweater berwarna cream, dengan matel lengan panjang berwarna cokelat muda tengah berbaring di atas sofa. Kedua tangan pria itu terlipat, serta ia menutupi wajahnya dengan buku majalah.
Ada perasaan bersalah di benak Hanna ketika melihat pria itu, karena dirinya telah melempari barang-barang, bahkan mengenai kepalanya.
"Tapi itu juga karena ulah Vincent sendiri!" tepisnya sendiri.
Hanna pun melangkahkan kakinya kembali. Namun begitu mulai melangkah, Gedubrak Dirinya jatuh terpeleset karena kakinya membawa air dari kamar mandi, sehingga membuat lantai yang dia pijak basah.
Suara keras seketika membuat Vincent membuka mata. Dirinya ternyata ketiduran. Lantas ia bangkit, menjatuhkan majalah yang sebelumnya ia tutupkan ke wajah.
Begitu majalah yang menutupi wajahnya jatuh, dia melihat Hanna tentang berusaha berdiri dari posisinya yang telungkup. Tanpa pikir panjang, dia segera berlari dan membantu Hanna untuk berdiri.
"Hanna, kau tidak apa-apa?"
"Ah, iya."
Vincent mendudukan Hanna di sofa. Di lihatnya wajah wanita di depannya ini. Bagian dagu memar. Lalu ketika dia hendak menyentuh dagunya,
Dilihatnya kaki itu, ternyata lutut Hanna terluka terkena ubin, serta mengeluarkan sedikit darah.
"Aku ambil obat merah, diam disini!" perintahnya.
Hanna hanya diam, mengangguk seperti anak kecil. Vincent pun berjalan kearah kotak P3K, mengambil sebotol obat merah, dan 2 buah plester luka.
Setelahnya ia berjalan kembali ke sofa. Di rawatnya luka Hanna dengan hati-hati.
Melihat Vincent mengobati lukanya, hati Hanna berdesir, bak diterpa ombak samudra. Bukankah sebelumnya dia sudah menyakiti pria dihadapannya ini?
Tapi dia masih sudi merawat lukanya. Rasa bersalah yang sebelumnya dia tepis karena kelancangan Vincent, kini kembali menyeruap di relung hati, dan tidak dapat ia tepis kembali.
"Sudah," ujar Vincent selesai merawat luka Hanna.
"Terima kasih," balas Hanna melihat lukanya sudah tertutup rapi oleh plester.
Vincent mengalihkan pandangannya ke wajah Hanna. Dagu memar itu, terlihat sedikit membiru, meski tidak terlihat terluka di bagian kulit, namun ia percaya itu pasti sakit.
"Dagumu, bagaimana?"
"Tidak apa-apa,"
Vincent pun duduk di samping Hanna. Untuk beberapa saat dia dan Hanna tidak berbicara sama sekali. Dirinya heran, kenapa Hanna hanya duduk, bukannya ke kamar untuk berganti baju?
"Ngomong-ngomong, kau tidak ingin pakai baju?" bisiknya.
Hanna menoleh,"Pakai-lah!" jawabnya dengan nada melengking.
Setelahnya dengan sedikit menahan sakit, Hanna berjalan ke kamar.
Vincent sendiri mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya. Di layar benda pipih itu, dirinya melihat Aksel didalam kamarnya, duduk didepan papan putih. Rupanya CCTV di rumah Aksel sudah diretas olehnya, atas bantuan peretas handal dari tim Bruth, Endrew.
Tidak lama kemudian, matanya menangkap Aksel mencorat-coret papan itu. Terlihat juga, Aksel bermonolog sendiri didepan papan. Dirinya ingin sekali mendengar apa yang tengah dimonologkan oleh adiknya, namun dirinya lupa membawa alat penyadap ketika ke rumah bergaya victoria itu.
Ketika ia sedang sibuk memperhatikan serta mengawasi Aksel, terdengar suara Hanna disampingnya.
"Sedang menonton video p*rn* ya?"
Mendengarnya, Vincent langsung mematikan layar ponsel, memasukkannya kembali ke dalam saku mantelnya. Dia kemudian menarik napas panjang, sebelum akhirnya menghembuskannya dengan kasar.
Kenapa wanita selalu menuduh seenaknya sendiri? Mau yang gadis atau pun sudah menjadi ibu rumah tangga sekali pun, sama seperti ibunya.
Vincent menoleh, "Dasar wanita,"
Hanna yang duduk di sebelah kanan Vincent pun membalas, "Dasar pria!"
Kini sepasang muda mudi tanpa setatus ini saling memandang tajam, seolah petir terpancar dan saling menyambar dari mata mereka. Beberapa saat saling menatap, Vincent merasa tidak ada gunanya jika terus-terusan seperti ini.
"Ah sudahlah, Aku minta maaf Hanna." ujarnya seraya menyenderkan punggungnya pada sofa. Pandangannya mengarah ke langit-langit.
Mendengar pria di sampingnya ini meminta maaf tanpa diminta, membuat kekesalan yang mengganjal hatinya pun seketika sirna.
"Iya, aku juga minta maaf telah melemparimu tadi," ujarnya yang juga merasa bersalah
"Ya, tidak apa-apa." sahut Vincent menoleh ke arah Hanna seraya tersenyum.
Perseteruan antara Hanna dan Vincent pun berakhir dengan damai. Kemudian Hanna menanyakan maksud dari kedatangan Vincent yang tiba-tiba, tanpa memberikan kabar lebih dahulu lewat pesan padanya.
"Ngomong-ngomong, ada urusan apa kau kemari Vin?"
"Aku mau suprise tadinya. Tapi malah gagal. Beberapa minggu lalu aku janji akan menemani bukan? Kini aku menepati janjiku,"
Mendengarnya, hati Hanna merasa langsung tumbuh bunga dan bermekaran saat itu juga. Begitu senangnya dia, sampai wajahnya yang sudah kembali normal kini memerah kembali.
"Vincent!"