I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 38



[Sementara itu, di markas tim A]


Selesai membereskan barang bukti, tim A, dimana tim yang beranggotakan 15 orang itu tengah bersantai. Mereka menikmati daging babi bakar, ditemani minuman yang dikemas dalam botol berwarna hijau.


"Kapan kita dapat makan makanan dari daging sapi. Setiap hari hanya mendapat potongan daging babi beku, sudahlah keras, dingin pula," keluh Vilius memanyunkan bibir, tangannya sibuk membolak-balikkan daging diatas mesin grill.


Mendengar Vilius berbicara, dimana selama ini ia dikenal terus mengunci mulutnya, Henrik pun menyahut, "Tumben kau membuka mulut besimu itu,"


"Sekalinya membuka mulut, keluhan yang keluar darinya," timpal Patrik.


Meja persegi itu, tampak rapuh bahkan hanya untuk menampung 4 orang, dan satu alat grill. Dari keempat orang yang ia sangga, satu diantaranya diam seribu bahasa. Bak memahami kerapuhan yang sedang ia sembunyikan.


Hal itu disadari oleh Vilius, meski mulutnya sekarang berasap karena terus mengeluarkan gerutuan, akan tetapi dirinya diam-diam melirik.


Diperhatikannya pria di depannya ini, dia hanya memandangi daun selada tersaji di piring besi usang. Bak seekor anjing yang setia menunggu jatah daging oleh tuannya.


"Biasanya di cerewet, kenapa sejak tadi dia diam saja?" tanyanya dalam hati.


Sedang mencoba menerka, Plak! Sebuah pukulan dipundak mengejutkannya. Segera Vilius menoleh ke arah tepukan itu berasal.


"Henrik!" bentaknya pada orang yang duduk tepat disebelah dirinya.


Henrik sendiri membalas, "Vilius! Daging kita yang berharga gosong!" tunjuknya ke arah mesin grill.


Segera Vilius mengalihkan pandangannya ke grill, benar saja seruan Henrik. Potongan daging yang ia panggang, sebelumnya berwarna merah muda kini berubah menjadi sehitam arang.


"Waduh!"


Dengan secepat kilat kedua tangan yang terbalut sarung tangan hitam itu mengangkat potongan daging dari atas panggangan grill.


"Ini, letakkan disini," ujar Patrik meletakkan piring usang di dekat mesin grill.


Vilius pun meletakkan potongan daging yang masih bisa diselamatkan dari jilatan api yang mulai menunjukan diri. Kini daging itu, tak ubah layaknya lembaran arang.


"Maaf semuanya, jatah daging kita gosong," ujar Vilius.


"Yah tidak apa-apa Vil," sahut Patrik.


"Yah setidaknya tidak jadi abu. Jika sampai, kubunuh kau Vil," timpal Hanrik, menatap kesal ke arah pria di sampingnya itu.


Dia amat kesal, jatah makan tim A paling enak hanya potongan daging babi beku yang keras ini malah gosong. Karena biasanya tim A hanya diberi makan nasi putih, bercampur kuah dingin dengan sedikit mie putih di dalamnya.


Baginya, bukan! Seluruh tim A malah, tuanya benar-benar menganggap dirinya dan seluruh orang di tim A, tidak lebih dari anjing. Anjing saja jauh lebih baik ketimbang mereka! Bahkan jika sedang marah, tuannya bahkan hanya memberi makan tim A makanan sisa.


"Benar-benar manusia yang sangat menjijikkan!" sungutnya dalam hati.


Namun, seberapa kesalnya dia, dirinya tidak bisa protes. Dia hanyalah seorang anak yatim piatu yang dibuang oleh orang tuanya sendiri di pinggir jalan.


Bisa makan dan mendapatkan tempat tinggal, meski tempat yang saat ini ia dan empat belas orang lainnya tinggal tidak bisa dikatakan layak untuk ditinggali manusia.


"Persetan!" gumamnya.


Ditengah-tengah ia memasukan daging hitam yang sudah ia bungkus dengan daun selada ke dalam mulut, tiba-tiba bayangan ketua tim A sebelumnya terlintas di pikiran.


"Andai saja Antonio masih hidup, tentu dia akan membakarkan daging untuk tim A. Enak dan tidak gosong seperti ini," keluh Henrik.


Vilius sedari tadi rupanya memperhatikan Henrik yang memakan daging dengan terus bergumam. Ketika mendengar ketua sebelumnya terucap dari mulut Henrik, dirinya merasa bersalah telah menggosongkan makanan untuk hari ini.


"Kau marah sekali ya, Maaf Henrik," ujarnya.


Sepasang iris mata berwarna hazel milik Patrik, dalam diam memperhatikan Vilius dan Henrik. Tidak mau keduanya terlibat masalah yang hanya sepele ini, ia pun menengahi.


"Sudah-sudah, mari di makan saja. Masih bisa dimakan bukan? Anggap saja seperti makan dicampur dengan minuman, sama-sama pahit bukan?"


Di sisi lain, pria yang sebelumnya terus mengunci mulut, kini mengangkat pandangan ke arah pria yang satu meja dengannya. Mereka tengah menikmati daging mereka masing-masing.


"Henrik, sebelumnya kau menyebut Antonio. Apa dia memang mati bunuh diri?" tanyanya.


Mendengar itu, Henrik melirik pria yang mengajaknya bicara, sembari kedua tangan mendorong daging yang ia bungkus dengan selada ke dalam mulut. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan soal kematian ketua sebelumnya?


"Tidak tau juga sih," jawabnya seraya menggelengkan kepala.


Patrik yang ikut mendengarkan pun menimpali dengan bertanya, "Memangnya kenapa Carlos?"


Rupanya pria yang sedari tadi terus diam, yang duduk disamping Patrik merupakan Carlos, pemimpin tim A sekarang.


"Tidak apa-apa, hanya tanya saja." jawab Carlos singkat.


Dia kemudian mengambil potongan daging yang sebelumnya diletakkan oleh Vilius ke piring, kemudian membungkus daging itu dengan daun selada.


Tepat sebelum Carlos memasukan makanan yang sudah ia siapkan, Henrik berbicara hal yang membuat Carlos tidak jadi memakan makanannya.


"Tidak mungkin orang seperti Antonio mati bunuh diri."


Mendengarnya, Carlos menjadi kepikiran akan sesuatu hal yang pernah dibisikkan oleh Robin ketika didalam mobil.


"Carlos, menurutku dari semua orang di tim A, bukankah pria sebaik Antonio yang paling tidak mungkin bunuh diri?"


Dirinya sendiri juga tidak mempercayai laporan dari Kim, serta penguat atas laporan itu, yakni saksi dari Soren dan Krok. Ketiganya mengatakan, melihat Antonio menjatuhkan diri di jurang sembari menoleh kearah mereka dengan tersenyum.


"Tidak masuk diakal, cerita itu seperti script dalam film drama." ujarnya dalam hati.


Sementara Carlos sibuk dengan pikirannya, diam-diam Vilius memperhatikan sikap ketuanya itu. Tanpa sepengetahuan yang lainnya, jauh didalam hati kecil Vilius, dirinya juga meragukan kabar kematian Antonio yang terasa sangat janggal.


"Apa Carlos sedang memikirkan Antonio? Apa dia juga menaruh curiga dengan Soren dan Krok, sama sepertiku?" tanyanya dalam hati.


Di halaman yang berada di tengah-tengah sebuah bangunan tembok yang cukup usang itu, dibawah langit malam, hanya ditemani oleh angin malam yang berhembus dengan dinginnya, tim A menikmati makan malam mereka.


Tidak lama kemudian, datang mobil BMW hitam. Dari dalam mobil itu, turunlah tuan dari tim A, Fey.


Dari mobil yang sama, turun juga seorang pria yang tampak sedikit lebih tua dari Fey, pria yang menjadi tangan kanannya, Kim.


Melihat tuannya datang, tim A pun segera meninggalkan makanan mereka, lalu berdiri menyambut.


"Selamat malam Tuan!" seru serentak tim A seraya membungkuk.


"Ya, habiskan makanan kalian. Setelah itu, pergilah. Aku ada misi untuk kalian." titah Fey.


Mendengarnya, anggota tim A menyahut, "Siap Tuan!"


"Angkat kepala kalian,"


Para anggota tim A pun mengangkat kepala, memperhatikan kedua pria yang ada dihadapan mereka.


Kim yang berdiri disamping Fey, memberi tahu misi tim A kali ini.


"Beri pelajaran padanya yang telah berani mengusik Lippo."


Setelah mengatakan hal itu, Fey dan Kim kembali ke dalam mobil. Mobil BMW hitam itu melaju pergi meninggalkan halaman markas tim A.


Carlos yang berdiri di barisan paling belakang mengerutkan kedua alis, berpikir siapa 'nya' yang dibicarakan oleh Kim. Dia hanya mengatakan berani mengusik Lippo. Sedangkan yang mengusik Lippo saat ini bukan hanya Badan Pengawasan, namun juga Xendra.


Seketika kedua alis Carlos terangkat, "Nya itu, dia?"