
Dia segera bersembunyi dengan sedikit tiarap. Karena lukanya terus mengeluarkan darah, Justine merobek bagian bawah baju yang dia kenakan, kemudian melilit bahunya yang terluka. Meski darahnya masih keluar dan merembes, paling tidak ikatan kain itu sedikit memperlambat agar ia tidak kehilangan banyak darah.
Sementara itu, karena tembakan Justine sebelumnya, Vincent pun punya celah untuk masuk ke ruangan sebelahnya. Ruangan yang semakin dekat dengan ruangan ujung, dan dia pun bersembunyi dibalik tong yang ada didalam sana.
Suara tembakan terus terdengar dari arah luar, baik sisi kanan atau pun kiri kabin. Kini dia berharap tim Hermit datang dan membantu mereka yang ada di luar. Dirinya yang ada didalam kabin juga harus bisa mencapai pintu kedelapan.
Ketika dia mencoba mengintip lewat pintu, ia melihat seorang berpakaian hitam bermasker tengah berdiri di depan kamar yang dekat dengan tempat Justine berada. Entah sejak kapan orang itu sampai di sana.
Instingnya mengatakan jika Justine dalam bahaya, sehingga ia mengarahkan ujung pistol miliknya ke arah orang itu, kemudian segera menarik pelatuk. Peluru keluar dari mulut senjata api dan tepat mengenai target di bagian belakang lututnya.
Pria itu berteriak kesakitan, dan karena suara itu Justine yang ada di ruangan pun bergegas keluar. Sial, dia malah langsung berhadapan dengan pria dari pihak musuh.
"Kau!" Tepat ketika musuh menodongkan pistol di depan Justine, Vincent yang berada tidak jauh dari pria itu lantas menembak kepala si pria.
Dua tembakan Vincent yang mengenai belakang kepala pria itu membuatnya tumbang seketika. Belum juga lega musuh di depannya mati, Justine yang secara tidak sadar telah berdiri cukup lama terkena tembakan dari arah luar kabin. Kali ini tidak lagi menyerempet bahu namun mengenainya.
Dia jatuh tersungkur di atas lutut, memegangi pundak belakangnya yang mengeluarkan darah. Melihat itu Vincent hendak menolong Justine, namun dirinya yang berada di lorong tiba-tiba ditarik ke belakang dan di tendang oleh seseorang ke dalam kamar seberang hingga terpentok ke dinding kabin.
Dia segera melihat ke arah pintu. Matanya seketika membesar ketika melihat sosok pria berjalan ke arahnya.
Carlos! batin Vincent.
Mereka pun terlibat perkelahian dengan tangan kosong alias tanpa senjata.
Perkelahian itu sangat sengit. Carlos cukup heran, pria yang dia lawan bisa menangkis seluruh gerakannya seolah dia dapat membacanya. Namun dia tidak terlalu memikirkan itu, dan terus melayangkan pukulan.
Perkelahian mereka yang awalnya di dalam ruangan kini secara tidak langsung berpindah ke arah pintu. Dan di saat itulah, satu pukulan keras Carlos berhasil dia daratkan di wajah Vincent hingga ia terpental kembali ke dinding kabin.
Tepat ketika dirinya akan menghampiri Vincent, dia melihat Justine menodongkan pistol ke arahnya. Sontak secara reflek Carlos mundur untuk menghindari peluru yang ditembakan itu, dan masuk ke ruangan ujung.
Vincent berusaha berdiri dan berlari keluar mengikuti Carlos, begitu juga dengan Justine meski keadaan lukanya cukup parah. Ketika mereka sampai di depan ambang pintu kamar paling ujung itu, mereka berdua terkejut melihat seorang wanita tergeletak di pangkuan seorang pria dan Carlos menjadikannya sebagai sandera.
Melihat reaksi kedua pria di ambang pintu itu, Carlos mengasumsikan bahwa pemimpin Badan Pengawasan yang ia tahan ini adalah sekutu mereka, atau merekalah sekutu pria ini.
Vincent yang melihat sang adik menjadi sanderapun menjadi sangat geram. Sorot matanya jelas menggambarkan api amarah yang begitu besar.
Sementara di luar, suara tembakan terdengar kian gaduh. Carlos yang mendengar merasa jika musuhnya memanggil bantuan. Kesal, dia pun semakin mengeratkan todongannya di bawah dagu Aksel.
Karena todongan itu, Aksel yang sebelumnya menunduk kini secara tidak langsung menghadap ke arah depan. Dia mengenali pria yang tengah melotot itu. Dia adalah pria misterius yang terekam kamera pengawas saat menaruh dokumen, dan masuk ke dalam rumahnya.
Dari matanya, dia seolah sangat tidak ingin dirinya mati. Kenapa pria itu ingin dia tidak di tembak? Lagian juga untuk apa ia hidup, kini kedua orang yang disayanginya, kakak dan sang kekasih, semuanya telah mati. Dia hanya sendirian di dunia ini.
Sementara itu, Justine dalam keadaan darah terus keluar dari lukanya, berusaha mengangkat pistol yang dia genggam ke arah Carlos, seolah sedang balik mengancam.
“Kau berani menembakku lagi?” Carlos semakin menekan ujung pistolnya ke leher Aksel.
“Kenapa tidak?” ujar Justine enteng, tangannya bersiap menarik pelatuk. Dan benar saja, dia melepaskan tembakan.
Hal itu memberi celah bagi Carlos dan ia berhasil menghindari peluru, kemudian dia pun hendak menarik pelatuknya.
Namun tanpa dia duga, sanderanya tiba-tiba melawan. Akses melawan karena dia ingat, penyebab semua yang disayanginya mati adalah Lippo. Maka dari itu, dirinya tidak boleh mati, dia harus menyeret perusahaan busuk itu ke penjara.
Perlawanan itu mengakibatkan peluru yang di tembakan Carlos meleset, mengenai atap kabin. Merasa terpojok jika harus melawan tiga orang, Carlos memutuskan menjebol dinding kayu di belakangnya dan melepaskan 2 tembakan ke arah Aksel sebelum akhirnya kabur.
Peluru yang sangat tiba-tiba itu tidak mengenai kepala Aksel, namun satu menyerempetnya, mengakibatkan ia jatuh tersungkur.
Mengetahui peluru terus melaju ke arah Vincent, secara cepat Justine memeluknya, menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai hidup. Vincent selamat, namun kedua peluru itu mengenai punggung Justine sebelah kiri, menembus hingga ke dadanya.
Saking cepatnya aksi Justine membuat Vincent hanya mampu mematung. Apa yang baru saja dilakukan oleh Justine?
"Kau.... tidak apa-apa....Vin?" tanya Justine terbata, mulutnya mengeluarkan darah, namun dia berusaha tersenyum.
"Ju—Justine? Kenapa?" Mata Vincent melebar dan mulai berkaca-kaca melihat wajah Justine semakin pucat dengan mulut berdarah.
Justine hanya tersenyum, kedua kakinya lemas, tidak mampu lagi berdiri. Dia ambruk, dan ditahan oleh Vincent.
“Justine, tidak.... aku mohon!” Mata Vincent mulai berkaca-kaca.
“Lihat, kau.... kurang ajar.... padaku.... lagi,” Napas Justine semakin pendek, namun lagi-lagi dia berusaha tersenyum.
“Jangan! Aku mohon jangan mati!” Isak Vincent mulai terdengar. Dia menyadari jika waktu Justine tinggal sebentar lagi.
“Ma... af,” Napas Justine seakan tercekat di tenggorokan. Pandangannya mulai memburam.
“Tidak! Jangan minta maaf! Aku mohon jangan tinggalkan aku Justine!” Air mata yang berusaha ia bendung kini tidak dapat ia tahan lagi.
Perlahan kedua mata Justine yang sayu karena sebelumnya kehilangan banyak darah karena lukanya pun menutup.
Melihat itu, mata Vincent membulat. Bulir air mata hangat tergelincir deras tanpa permisi di kedua pipinya.
Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuh Justine masih hangat, dia pasti hanya pingsan bukan? Dia tidak mati bukan?
Dia mengguncang-guncang tubuh Justine, namun pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu tetap bergeming, tidak membuka matanya. Memberi makna bahwa Justine telah meninggal dunia.
“Justine—” Seketika Vincent teringat dengan Aksel.
Dia menoleh ke arah sang adik. Aksel tergeletak dengan posisi tengkurap, dan terlihat darah terus mengalir dari kepalanya. Dengan perasaan sangat kehilangan, pilu, serta air mata yang terus jatuh, Vincent perlahan meletakkan jasad Justine dari pangkuannya.
Ia pun berlari menghampiri Aksel. Dia Membalikkan badan sang adik, mencoba memeriksa napas dan detak jantungnya dengan panik. Perasaan terus berkecamuk di hati, ia telah kehilangan Justine, dirinya tidak mau jika kehilangan adiknya juga.
Pemeriksaan itu membuat kedua mata Vincent membulat, ia terperanjat untuk kedua kalinya, “Aksel....”