
“Tuan Muda, apakah Anda ingin bermain catur? Biasanya Anda kerap memainkannya bersama Tuan Besar Abraham," tanya salah satu pelayan.
Vincent hanya menjawab dengan menggelengkan kepala pelan.
2 orang pelayan yang menemani Vincent pun bingung, karena Tuan Muda mereka sejak kemarin hingga hari ini selalu murung, bahkan tidak bicara sama sekali. Dia seharian hanya melihat ikan emas yang berenang-renang di kolam dengan tatapan kosong.
Para pelayan yang tidak ikut di liburkan oleh Wim beranggapan Tuan Muda yang biasanya ceria meski pendiam itu tengah merindukan sang ibu.
Itulah anggapan para pelayan, padahal sejatinya, Vincent sedang berpikir alasan Bu Dita menyadari racun yang ia tuangkan tempo hari.
"Apakah Tetrodotoxin-ku kebanyakan sampai menimbulkan bau?" pikirnya.
Selain itu, dia juga tengah menyusun rencana lain. Jika racun tidak bisa membunuh Bu Dita, maka wanita itu harus mati di tangannya sendiri, alias Vincent akan membuatnya bunuh diri.
“Tapi bagaimana caranya? Tubuhku kecil, dan lagi aku tidak punya tim seperti Tim A.” ujar Vincent dalam hati melihat kosong ke arah kolam berisi ikan emas.
Tim A adalah tim sejenis dengan Tim Bruth yang berada di bawah kendali Lippo Grup. Dimana Antonio-lah sang pemimpin anjing bayangan Lippo tersebut.
Wim berdiri di depan pintu belakang, memperhatikan putranya dari kejauhan yang murung meski di temani oleh 2 pelayan di sisinya.
“Dia masih murung? Dia murung karena kelinci betina itu atau kangen sama Jane?” tanya Wim dalam hati.
Ponselnya berdering, nama Justine muncul. Segera Wim pun mengangkatnya.
“Kelinci betina sudah di tangkap. Aku dan Tim Bruth A tengah berada di Zona K area Wood House."
Wim terkekeh," Kau cepat seperti biasanya."
Setelahnya ia mematikan telfon, lalu berjalan menghampiri putranya yang masih memandangi kolam berisi ikan emas.
“Kalian boleh pergi.” perintah Wim pada 2 pelayan yang menemani Vincent.
Mendengar perintah majikannya, kedua pelayan itu pun pergi, meninggalkan Wim dan Vincent berdua di taman itu.
Wim berjongkok, “Kau kangen Mama ya?”
“Sebentar lagi Mama pulang, jadi jangan murung terus dong.” lanjutnya mengelus kepala Vincent.
“Untuk apa aku merindukannya? Justru rumah terasa tenang dan normal, tidak banyak drama.” sahut Vincent dalam hati.
“Ayo jalan-jalan bareng Papa,” ajak Wim.
Vincent menoleh, "Kemana?”
“Kau pasti akan senang, yuk!” Wim mengulurkan tangan.
Tanpa berbicara, Vincent menyambut uluran tangan Wim. Mereka berdua pergi menggunakan mobil. Di sepanjang jalan, Vincent menyadari jika jalan yang dilalui adalah rute menuju Hutan Klausal.
"Oh aku mau diajak latihan menembak." pikirnya.
Setelah sampai di Hutan Klausal, Vincent heran karena tidak ada siapa pun di area latihan menembak, bahkan peralatan yang biasanya sudah disiapkan oleh Justine pun tidak ada.
"Paman Justine mana?"
"Dia bukan menunggumu disini, tapi disana." Wim menunjuk sebuah rumah yang terbuat dari kayu, letaknya lumayan jauh dari area latihan.
Di depan rumah kayu itu, ada beberapa orang yang sedikit asing bagi Vincent, karena dia tidak begitu hapal dengan seluruh anggota tim Bruth, baik A maupun B. Karena di kehidupan sebelumnya, dia hanya mewaspadai sang pemimpin tim—Justine, dan sang peretas—Endrew, yang sangat merepotkan tim A.
"Selamat datang Tuan Wim, Tuan Muda Vincent." Cleric memberi hormat, diikuti oleh Terry dan Putney.
Wim dan Vincent pun dipersiapkan masuk ke dalam rumah kayu itu. Di dalamnya, mereka disambut oleh suara rintihan tangis wanita. Penampilan wanita itu begitu kacau, dan ketika ia melihat Vincent berjalan kearah dirinya, mata wanita itu membesar.
"Aku tidak pernah menyebut nama J***** ini, bagaimana kau bisa tahu bahwa dialah yang aku maksud?" tanya Vincent dalam hati, menatap Wim.
Tanpa bicara apa pun, Wim mengeluarkan pistol dari balik mantel yang dia kenakan, lalu memberikannya pada Vincent.
Setelah diperiksa olehnya, ternyata isi dari pistol itu dalam keadaan penuh. Dia kembali menatap Wim, seolah bertanya apa yang harus dia lakukan dengan pistol itu.
Dia tidak merasa kasihan pada sang wanita, tapi pada Vincent. Bisa saja Vincent yang masih kecil dan tidak pernah mengarahkan pistol pada orang hidup, akan merasa syok.
"Wim, kau—"
"Justine." potong Wim.
"Pilihan ada di tanganmu Vincent." ucapnya menatap Vincent yang masih menatap dirinya.
Ketiga anggota tim Bruth yang juga melihat Wim berbicara seperti itu, meski mereka sudah terbiasa menjalankan pekerjaan kotor, tapi jika anak sekecil Vincent sudah diajarkan untuk membunuh, itu terlalu gila.
"Tuan Wim serius?" tanya Putney dalam hati.
"Wah Tuan Wim sudah gila!" ujar Cleric dalam hati.
"Bukankah itu terlalu kejam untuk anak kecil?" tanya Terry dalam hati.
Vincent mengalihkan pandangannya ke kembali pistol yang dia pegang, lalu berjalan menghampiri Bu Dita. Bu Dita mencoba bicara tapi tidak jelas karena lakban yang menutup mulutnya.
"Sebelum mati, kau harus berguna dulu." ujar Vincent dalam hati melepas lakban di mulut Bu Dita.
"Vincent! Maafkan aku, maafkan aku! Aku hanya di suruh oleh Wibroe! Tolong lepaskan aku," pinta Bu Dita berlinang air mata.
"Wibroe itu siapa?" tanya Vincent polos.
"Wibroe, dia pacar Ibu. Vincent, Ibu mohon lepaskan Ibu." pinta Bu Dita kembali.
"Oh supir gadungan itu bernama Wibroe. Aku harus lebih dramatis agar J***** mengungkapkan semua informasi yang ia tahu." ujar Vincent dalam hati.
Dia memegang kedua pipi Bu Dita, lalu menangis, "Kenapa? Kenapa Ibu dan Wibroe ingin menculikku? Kenapa Bu? Salahku apa?"
Melihat anak kecil menatapnya dengan penuh air mata membuat Bu Dita merasa bersalah telah menuruti ucapan kekasihnya itu, meskipun upaya sang kekasih gagal.
"Itu, aku tidak tahu. Wibroe hanya berkata itu suruhan anak atasannya. Dia memintaku untuk mematikan GPS-mu karena kebetulan aku mengajar kelasmu." jawab Bu Dita menangis.
Mendengar hal itu, sontak Justine menoleh ke arah Wim.
"Apakah Wim sudah tahu hal ini sebelumnya?" tanya Justine dalam hati.
Sedangkan Wim melihat ke arah putranya dengan wajah yang begitu tenang, seolah menunggu tindakan Vincent selanjutnya.
"Putra atasan, berarti anak Kalle Henningson? Tapi yang mana? Dia 'kan punya 2 anak." pikir Vincent.
Dia kemudian melepaskan pipi Bu Dita, "Siapa anak atasan yang Ibu maksud?"
Bu Dita menggeleng, "Aku tidak tahu, Wibroe hanya bilang anak atasannya saja,"
Kemudian ia kembali memohon pada Vincent, "Ibu sudah mengatakan hal yang Ibu tahu, jadi lepaskan Ibu ya Vincent, Ibu mohon."
Vincent menghela napas, mengusap air matanya, kemudian mengangguk.
DOR! Dia tiba-tiba menembak tepat di dahi Bu Dita, membuatnya guru muda itu tewas seketika.
"Iya Bu Dita, aku akan melepaskanmu ke neraka." ucapnya tanpa ekspresi, kemudian ia berbalik, berjalan ke arah Wim.
"Kerja bagus Vincent," ucap Wim tersenyum, hendak meraih kembali pistol yang dipegang oleh putranya.
Vincent langsung menarik pistol, "Tidak! Ini punyaku!"
Wim terkekeh melihat ekspresi putranya yang menatap tajam kearah dirinya. Sorot mata yang bagai elang itu mengingatkan dia pada dirinya dahulu ketika seumuran dengan Vincent.
"Baiklah, sekarang itu milikmu." ucapnya mengelus kepala Vincent.
Wim menggandeng tangan Vincent keluar dari Wood House. Setelah mereka berdua pergi, Tim Bruth A membereskan kelinci yang telah ditembak oleh Vincent.
"Benar dugaanku, dia akan lebih kejam dari ayahnya." ujar Justine dalam hati.