I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 23



“Vincent?” panggil Justine.


“Ya Paman?”


“Itu tadi cahaya apa? Terang sekali?” tanya Justine menoleh ke sekeliling mencari benda yang kemungkinan menjadi sumber cahaya terang yang bersinar sebelumnya.


“Kau tidak akan menemukannya Justine,” ujar Vincent dalam hati melirik Justine.


“Sudahlah Paman, tidak penting juga. Ayo lanjutkan kembali.”


Mendengar itu, Justine berhenti mencari. Karena tidak menemukan hal yang mencurigakan, dia pun kembali latihan menembak bersama Vincent. Waktu berlalu hingga langit berwarna oranye.


“Vincent sudah sore, waktunya untukmu pulang.” ujar Justine.


Sembari memasukkan pistol kedalam tas, Vincent menyahut, “Iya Paman.”


Vincent mengeluarkan ponsel dari tas dan menelfon Pak Setyo untuk menjemputnya. Setelahnya mereka berdua berjalan bersama menuju gerbang.


“Tanganmu kenapa?” tanya Justine melihat telapak tangan Vincent banyak tertempel plester luka.


“Jatuh tadi di sekolah, tapi tidak apa-apa kok!” jawab Vincent meringis.


“Lalu kenapa kau ada di hutan Klausal bukan di sekolah?”


Vincent menunduk, “Ah itu...”


“Kau membolos?” tanya Justine tanpa basa-basi.


“Tidak! Eh apa iya ya? Tidak kok! Bu guru yang menyuruhku pulang. Paman pasti bertanya kenapa tidak langsung pulang, iya kan? Aku jelaskan ya, aku tidak mau membuat Mama salah sangka lagi seperti waktu itu. Jadi aku bisa mengatakan jika aku tidak sengaja jatuh waktu latihan menembak. Toh aku memang terjatuh tadi kok, lihat bajuku.” jelas Vincent panjang lebar tanpa diminta oleh Justine.


Justine melirik baju Vincent yang sedikit kotor, maka ia pun mempercayai cerita bocah itu. Padahal baju sekolah Vincent kotor karena sebelumnya, dia membaringkan badannya ke tanah saat mengetahui pintu White Krisan terkunci.


Setelah mencapai gerbang, sesuai dugaan mobil Toyota Alpard hitam yang dikendarai oleh Pak Setyo telah menunggu. Vincent berpamitan pada Justine lalu naik kedalam mobil.


Beberapa saat kemudian, mobil itu masuk ke kawasan lahan seluar 500 meter berpagar tinggi, tidak lain kediaman keluarga Hermentsmith.


Begitu Vincent turun dari mobil, dia segera disambut oleh Jane dengan heboh seperti biasanya. Namun kali ini lebih heboh karena melihat baju putranya kotor serta telapak tangannya berbalut plester.


“Kau diganggu lagi Vincent?!” tanya Jane panik, khawatir, bercampur marah.


Vincent mengibas-ibaskan tangan, “Bukan! Aku jatuh sendiri Mama,”


“Jangan bohong!”


“Tidak, untuk apa aku berbohong?” Vincent balik bertanya.


“Yah aku memang berbohong sih, aku ada alasan untuk itu Jane. Maaf ya,” ujarnya dalam hati.


Jane segera menggandeng putranya itu kedalam rumah. Setelah mandi dan mengganti plester lukanya, dia dan Jane makan malam di ruang makan. Tidak seperti biasanya, kali itu ada Abraham di meja makan. Biasanya dia makan terpisah di dalam kamarnya, sepeninggal istrinya.


“Grandpa? Tumben makan bersama disini?” tanya Vincent menarik kursi.


“Ya aku tiba-tiba ingin makan bersama cucuku yang tampan ini,” jawab Abraham tersenyum.


Mendengar jawaban dari mulut Abraham sesuai dengan apa yang disampaikan Bell, membuat Vincent merasa sedih. Meski tidak benar-benar menganggap dia sebagai kakeknya, tapi Abraham cukup menghibur dirinya dengan bermain catur bersama dan membantunya ketika Jane mulai drama.


“Dia akan mati ya, meninggalkanku seperti Nyonya,” ujarnya dalam hati teringat kembali dengan Yugwan.


“Tidak, nanti selesai makan main catur ya Grandpa!” ajak Vincent tersenyum.


Abraham hanya tersenyum, “Baiklah, tumben kau tidak menanyakan ayahmu?”


“Papa pasti sedang sibuk bekerja, dia sudah pernah mengatakan jika dia akan sibuk akhir-akhir ini.” ujar Vincent polos.


Mereka bertiga makan malam bersama. Ketika selesai, Abraham dan Vincent pun bermain catur. Kali ini karena ia tahu ini adalah saat terakhir dia bermain catur dengan kakeknya, dirinya sengaja kalah.


“Wah Grandpa menang loh!” seru Abraham menang, setelah selalu kalah dari Vincent.


Prok! Prok! Vincent bertepuk tangan, “Aku kalah,”


Abraham tersenyum, menggeser papan catur, lalu memangku Vincent, “Vincent, cucuku tersayang.”


“Iya Grandpa?”


“Entah berapa waktu yang Grandpa miliki, tapi bisa melihatmu tumbuh sudah sangat membahagiakan untukku. Grandpa rasa, kau tumbuh lebih dewasa daripada ayahmu dulu.” ujar Abraham lirih.


“Pesan Grandpa, jangan mudah menyerah ya, jangan percaya pada siapapun kecuali pada dirimu sendiri. Jika kau memutuskan untuk percaya pada orang lain, kau harus menaruh kecurigaan padanya. Karena bisa saja dia menghianatimu di masa depan. Lalu bantulah ayahmu dalam memegang Xendra, Grandpa yakin kau mampu dan bahkan bisa melampaui Wim.


Kau boleh kesal pada sifat ibumu yang kekanak-kanakan, tapi jangan menyakiti hatinya ya, karena dia begitu mendambakanmu ketika sedang mengandungmu, Grandpa tahu sikapnya yang seperti itu karena sangat menyangimu.” lanjut Abraham memberi nasihat panjang lebar.


Vincent hanya mampu memandang Abraham tanpa berkedip, lalu menganggukan kepala tanda ia mengerti dengan pesan yang disampaikan oleh kakeknya itu.


Setelah itu Abraham menyuruh Vincent untuk tidur. Diapun menurutinya, tapi didalam kamar dirinya tidak bisa tidur. Ingatannya di kehidupan sebelumnya mengenai ditinggal pergi oleh Yugwan, mengahantuinya. Sehingga dia tidak tidur sama sekali hingga, dini hari.


Saat itulah, dia mendengar suara Wim di luar kamarnya. Entah apa yang dia bicarakan, tapi dia juga mendengar suara Jane. Tapi sekali lagi, hal yang dia bicarakan tidak terdengar jelas.


Hingga beberapa jam kemudian, di hari minggu Jane membuka pintu kamar Vincent. Dia cukup terkejut melihat putranya tengah berdiri di belakang pintu dengan mata sembab seperti menangis semalaman.


“Vincent!” Jane langsung memeluk putranya itu dengan erat.


“Mama?” tanya Vincent lirih.


“Ada apa?” lanjutnya.


“Grandpa, Grandpa meninggal!” jawab Jane menangis.


“Yah aku sudah tahu sebelumnya, tapi kenapa rasanya tetap sakit ya?” ujar Vincent dalam hati.


Hari itu, Xendra Grup dilanda berita duka atas meninggalnya mantan CEO perusahaan besar itu. Banyak pejabat, dan orang yang berkedudukan tinggi datang melayat di rumah duka, bukan di kediaman utama. Meski Abraham meninggal, rumah itu tetap memegang prinsip untuk menjaga kerahasiaan serta tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang, meski pejabat sekali pun.


Meski ditinggal oleh sosok yang pernah memimpin Xendra, kegiatan perusahaan hanya diliburkan untuk 2 hari. Keadaan Xendra pun baik-baik saja, karena peran Wim sebagai CEO Xendra sangat kuat, bisa dibilang lebih kuat ketimbang saat Abraham menjadi CEO.


Di ruangan CEO Xendra Grup...


“Sudah dua hari lewat waktu berkabung, kau akan menuntaskan semauanya?” tanya Justine.


“Tentu saja, kau pikir aku akan menangis karena ditinggal oleh ayahku, lalu melupakan Buston dan Lippo? Tidak.” jawab Wim datar.


Di hari kematian serta penguburan Abraham, Wim hanya menangis saat disorot oleh kamera wartawan. Selebihnya dia sama sekali tidak menangis ataupun menunjukkan rasa sedih sama sekali.


“Wim, apa kau benar anaknya Abraham? Kenapa reaksimu begitu?” ujar Justine dalam hati melirik Wim yang tengah membaca dokumen penyusunan hadiah totalitas untuk Buston dengan wajah tenang seolah tidak pernah terjadi apa pun.