I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 11



[Meja makan utama, pukul 07.00]


“Vincent, kemarilah.” panggil Wim melihat putranya sudah berseragam lengkap.


Vincent sedikit heran, karena di meja makan yang cukup besar berbentuk bundar itu hanya ada Wim seorang. Tidak ada Jane yang biasanya duduk di samping Wim.


“Mama mana Pa?” tanya Vincent sembari menarik kursi.


“Mama-mu pergi ke Bandara pagi-pagi sekali tadi,” jawab Wim memberi selai pada sebuah lembaran roti.


“Bandara? Mama pergi ke luar negeri?”


“Iya, dia pergi ke Moscow. Paling pulangnya seminggu lagi, kau kangen ya sama Mama?” ledek Wim seraya menaruh lembaran roti yang telah diolesi selai ke piring Vincent.


“Pantas suasana rumah begitu tenang.” ujar Vincent dalam hati. Ia Sama sekali tidak membalas ledekan Wim.


Dia melirik ke sekeliling, tidak ada pelayan, hanya ada Wim dan dirinya. Dimana hal itu sedikit mengherankan, mengingat pada hari-hari biasa banyak pelayan yang lalu lalang. Meskipun begitu Vincent tidak memusingkan hal yang menurutnya tidak penting itu.


“Coba aku pancing sekali lagi,” ujarnya dalam hati melirik Wim memakan steak-nya.


“Papa,” panggil Vincent.


Tanpa menoleh Wim menyahut, "Ada apa?”


“Aku melihat seorang Ibu guru,”


Wim mengangguk, mengiris daging, “Lalu? Ada apa dengan Ibu gurumu itu?"


“Responsnya menyebalkan.” ujar Vincent dalam hati kesal karena Wim sama sekali tidak memandangnya, seolah ayahnya itu tidak begitu peduli pada apa yang ia bicarakan.


Tidak mendapat jawaban dari putranya, Wim pun berhenti makan dan menoleh ke arah Vincent. Putranya itu hanya hanya memandang kosong ke arah roti selai di atas piringnya yang sama sekali tidak ia sentuh.


Anak pendiam yang selalu ceria itu kelihatan sangat murung. Sebagai ayah, Wim segera memahami sikap putra semata wayangnya itu yang mirip dengan sang isteri, yakni diam berarti dirinya harus melakukan sesuatu.


“Dia lama-kelamaan seperti Jane. Apa anak laki-laki selalu mirip Ibunya? Apakah aku dulu juga begitu?” pikirnya.


“Vincent, makan sarapanmu. Nanti kau bisa terlambat. Selama ini ‘kan kau selalu paling terakhir yang datang ke sekolah.” ucap Wim.


Mendengar hal itu, membuat dugaan Vincent bahwa ayahnya itu memang tidak peduli dengan ceritanya semakin kuat.


“Aku harus membereskan J***** itu sendiri ya.” ujarnya dalam hati.


Mereka berdua sarapan bersama dalam keheningan. Wim selesai sarapan lebih dahulu dari Vincent. Sebagai seorang ayah yang kini harus mengurus Vincent.


Wim beranjak dari kursi, meninggalkan ruang makan. Saat melihat ayahnya pergi, Vincent memanfaatkan kesempatan itu. Dia segera berlari ke arah gudang dekat dengan dapur. Disana, ia melihat 2 botol kecil bertuliskan Arsen dan TTX.


"Aku harus pilih Arsenik atau Tetrodotoxin?" ucapnya seraya memegangi kedua botol itu.


"Aku tidak punya akses ke kantin, dan sepertinya J***** itu membawa bekal. Ini saja deh." Vincent meletakkan kembali botol bertuliskan Arsen.


Dia membuka botol bertuliskan TTX dengan sangat hati-hati menggunakan sarung tangan yang dia temukan di atas nakas. Jangan sampai ia terkena cairan itu meski sedikit.


Setelah menuangkan beberapa tetes ke dalam botol kecil, yang bahkan lebih kecil dari kelingkingnya, ia melepas sarung tangan lalu membuang ya ke tempat sampah, tidak lupa ia mencuci tangannya.


Saat dia sampai di meja makan, ternyata Wim sudah berdiri di samping meja makan, membawa tas sekolahnya.


“Kau dari mana?” tanya Wim.


“Toilet.” jawabnya tersenyum seraya diam-diam memasukkan botol kecil itu ke saku celana bagian belakang.


Wim hanya mengangguk, lalu memberikan tas Vincent. kemudian keduanya pergi ke sekolah.


“J***** itu!” ujar Vincent dalam hati melihat ke arah guru wanita dari balik jendela mobil yang tertutup.


Wim mengikuti arah pandangan putranya yang begitu tajam. Begitu melihatnya, sudut ujung bibir sebelah kanan Wim sedikit terangkat.


Vincent turun dari mobil, melambaikan tangan pada sang ayah. Wim membalas lambaian tangan Vincent seraya tersenyum dari dalam mobil. Setelahnya Toyota Alpard hitam itu melaju pergi.


“Selamat pagi Vincent,” sapa sang Ibu guru.


Vincent melirik name tag yang tersemat di baju guru itu, kemudian membalas sapaan sang ibu guru dengan penuh ceria, "Selamat Pagi Bu Dita Tri!"


"Nama J***** ini sangat asing, dia orang mana?” ujarnya dalam hati.


“Ah itu juga tak penting.” lanjutnya membatin.


Pelajaran di kelas berjalan seperti biasa, di tengah-tengah jam pelajaran Vincent meminta ijin untuk ke kamar mandi. Di koridor, dia memperhatikan tata letak CCTV dan menemukan titik buta CCTV yang mendukung rencananya.


Di dalam bilik kamar mandi, Vincent merancang ‘kunci’ dari penjepit kertas berdasarkan ingatannya di kehidupan sebelumnya. Dia pun keluar dari kamar mandi, berjalan dekat dengan dinding untuk menghindari jangkauan CCTV.


Karena loker guru memiliki nama dari pemiliknya, dengan mudah Vincent menemukan loker Bu Dita. Dengan cepat dia membuka pintu loker yang terletak dibagian paling bawah itu menggunakan kunci buatannya. Lalu ia menuangkan isi dari botol kecil yang dia bawa kedalam minuman Bu Dita.


Beruntung saat Vincent beraksi, di area itu sangat sepi. Tidak mau membuang-buang waktu, dia segera berjalan kembali. Seolah Dewi Fortuna berpihak padanya, tepat ketika Vincent masuk ke kelas bel istirahat berbunyi.


“Bagus timingnya pas!” ujarnya dalam hati.


Para murid dan tentu saja Bu Dita pun keluar kelas menuju ruang istirahat, begitu juga dengan Vincent. Dia duduk disamping Hanna, sembari menganggapi bocah itu yang terus mengajaknya bicara, Vincent mengawasi meja Bu Dita.


Ketika bekal sudah habis, Bu Dita membuka tutup air minumnya untuk minum. Tapi begitu akan meminum air di tumblernya, guru berusia 24 tahun itu mencium suatu bau yang sangat samar pada air minumnya.


"Baunya agak sedikit aneh," ujarnya dalam hati.


Merasa ada yang tidak beres dengan air minumnya, Bu Dita pun bangkit dari kursi lalu berjalan menuju keluar ruangan.


“Sialan! J***** itu sadar?! ” ujar Vincent dalam hati sangat kesal melihat Bu Dita menuangkan seluruh air minumnya ke dalam selokan.


...****************...


Wim yang biasanya menyuruh sekertaris untuk memanggil Pimpinan Creative Crew, hari ini memilih langsung mendatanginya.


Para pekerja di bidang Creative Crew yang tidak lain adalah Tim Bruth langsung memberi hormat pada Wim ketika dia membuka pintu, tapi tidak dengan orang yang hendak ia temui.


“Justine,” panggil Wim.


“Apa?” tanya Justine tanpa menoleh.


Dia masih memperhatikan ketiga monitor Endrew yang dititipkan sementara padanya, karena sang peretas tengah pergi ke toilet.


“Pergilah berburu kelinci betina di wilayah Yesol,” bisik Wim di telinga ketua Tim Bruth itu.


Mendengar itu, Justine pun melirik, “Baiklah, tapi hadiahnya bagaimana?”


“Tetap akan aku berikan dan lagi kelinci betina itu ada hubungannya dengan hadiahnya." ucap Wim menatap lurus ke layar monitor Endrew.


"Baik." Justine berdiri.


Kemudian dia bertepuk tangan agar para anggotanya memperhatikan dirinya, "Tim Creative Crew A siapkan diri kalian! Kita akan keluar untuk mencari ide!"


Tim Bruth A kompak menyahut, "Siap Ketua!"