
Setelah meletakkan dokumen lalu mengirim fotonya ke Badan Pengawasan, Vincent mematikan beberapa kamera tersembunyi di dekat pintu masuk. Lalu dengan mudahnya, tangannya yang berbalut sarung tangan menekan beberapa angka kode di pintu rumah Aksel, seolah dia sudah biasa ke rumah dengan gaya victoria klasik itu.
“Kodenya masih sama, dasar bocah itu,” ujar Vincent dalam hati.
Tririring! Bunyi password benar di pintu berbunyi, segera Vincent menarik handle pintu lalu masuk kedalam rumah.
Di dalam rumah yang cukup luas itu, perabotan, perkakas, panjangan, semuanya tersusun sangat rapi. Karena Aksel sendiri seorang perfeksionis, segala sesuatu harus tertata sesuai urutan serta bersih.
Vincent berjalan melewati ruang tengah lalu lurus hingga menemukan sebuah kamar. Dibukanya handle pintu kamar itu dengan hati-hati.
Terdapat sebuah foto yang disulam dengan benang, menampilkan seorang pria dengan bocah laki-laki disampingnya. Mereka berdua tersenyum bahagia, sang laki-laki memiliki warna mata yang berbeda antara bagian kanan dengan bagian kiri. Lalu untuk bocah laki-laki itu, ia memiliki mata berwarna hijau, dengan rambut pirang kemerahan.
“Kau sudah besar Aksel Fernandez,” gumam Vincent.
Rupanya Aksel adalah adik Antonio, bukan adik kandung melainkan adik di panti asuhan. Antonio diam-diam membesarkan Aksel tanpa sepengetahuan keluarga Fasterholdt. Dia bahkan memberikan nama belakang yang ia terima dari Yugwan sebagai nama belakang Aksel. Secara hukum, Aksel memang tercatat yatim piatu dan hidup mandiri setelah mencapai usia dewasa di panti asuhan.
Namun yang sebenarnya adalah, semenjak Antonio diadopsi, dia diam-diam bertemu dengan Aksel, bahkan sering memberinya uang agar tidak lagi merasa kekurangan karena jatahnya daei suster panti kecil. Antonio jugalah yang mensponsori biaya pendidikan Aksel, bahkan rumah yang Aksel tempati saat ini.
Dikamar yang terdapat tempat tidur serta lukisan rajut itu, Vincent juga melihat sebuah papan putih yang biasanya digunakan di kepolisian atau para detective. Disana beberapa benang merah saling terkait satu sama lain, antara satu foto ke foto yang lain, dan satu note ke note yang lain.
“Bocah ini menyelidiki kematianku selama ini?” tanya Vincent dalam hati.
Dia berjalan mendekati papan, matanya melihat mengikuti arah benang merah dan cukup terkejut karena yang menghianatinya bukan hanya Fey, melainkan Kim, dan dua anggota tim A.
“Wahh, wahhh!!” Plok! Plok! Vincent bertepuk tangan lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
“Jika Kim aku sudah menduganya, tapi Soren dan Krok juga ikut menghianatiku rupanya!” ujarnya dalam hati.
Tangan Vincent mengepal dengan erat hingga uratnya terlihat, lalu mengacungkan jari telunjuknya menunjuk ke foto Soren dan Krok, serta wajahnya memerah hingga urat lehernya juga terlihat, sangat jelas menggambarkan amarah dan kebencian yang sangat dalam pada 2 orang itu.
“Kalian berdua! Padahal aku mempercayai kalian! Dasar b*jing*n s*mpah!” cecar Vincent.
Kemudian dia meletakkan secarik kertas berwarna merah di papan itu, kemudian menghapus rekaman CCTV sebelum pergi, tidak lupa mematikannya untuk beberapa menit kedepan. Selesai Vincent segera keluar dari rumah Aksel, tepat sebelum mobil Aksel memasuki garasi rumah.
Melihat Aksel berhenti didepan pintu, Vincent tersenyum untuk sesaat. Dia sudah cukup lama tidak melihat adiknya itu, sekarang ia sudah besar bahkan lebih tua dari dirinya yang sekarang. Namun sepertinya Aksel sadar jika seseorang tengah memperhatikan dirinya, tepat sebelum ia melihat ke arah Vincent, Vincent segera menunduk lalu diam-diam pergi.
[Sementara itu dari sisi Aksel]
Dia merasa ada seseorang yang terus mengawasinya, dengan bersiaga dengan pisau lipat pemberian kakaknya ia berjalan kearah tembok gerbang, dekat dengan pohon Pinus. Segera dia menghujam pisau kebelakang tembok, namun tidak ada seseorang pun di sana.
“Apa perasaanku saja ya,” pikir Aksel.
Kemudian dia melipat pisau, memasukkannya ke dalam mantel, lalu berjalan kembali. Dokumen yang sebelumnya berupa foto yang dikirimkan ke ponsel miliknya oleh nomor tidak dikenal benar-benar nyata tergeletak didepan pintu rumah. Tanpa basa-basi, Aksel membawanya masuk kedalam rumah.
...**********...
Dari kejauhan, di dalam mobil Vincent melihat Aksel membawa dokumen yang dia letakkan didepan pintu ke dalam rumah, hal itu membuatnya tersenyum. Kemudian dia berniat kembali kerumahnya sendiri namun sesaat setelah menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering dan nama Hanna muncul di layar.
Segera Vincent mengangkat panggilan masuk, itu, “Ya Hanna?”
Dia pun melajukan mobil, menyusuri jalanan kota Yarden. Rupanya saat di telepon, Hanna meminta Vincent untuk ke penthouse karena ia ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Apa dia akan mengatakan sesuatu yang berguna?” pikir Vincent.
Setelah beberapa saat, mobil Pajero putih itu pun sampai di pelataran luas Paradise Apartement Building. Dia memarkirkan mobil lalu berlari masuk, dan lalu menuju lift. Tidak lama menunggu, pintu lift terbuka. Didalam lift, seorang pria memakai kemeja biru langit mendekati Vincent.
“Tuan Vincent, saya sudah mengawasi target, tidak ada tanda dia berusaha mengorek informasi atau sesuatu lain yang mencurigakan,” bisik pria itu.
Vincent balik berbisik, “Baiklah, terima kasih Paman Cleric.”
Ternyata pria itu adalah Cleric anggota tim Bruth A. Rupanya Vincent tidak serta merta membiarkan Hanna menempati penthouse miliknya, melainkan meminta tim Bruth A untuk mengawasi gerak-gerik Hanna.
Beberapa saat kemudian, Ting! Pintu lift terbuka, Vincent pun berjalan ke luar. Setelah menekan tombol, pintu lift tertutup. Didalam lift yang bergerak turun itu Cleric menelepon anggota tim Bruth A lain.
“Jyul, kau sudah di titik A?”
“Sudahlah kenapa?" Jyul balik bertanya di telepon.
“Tidak hanya memastikan,” ujar Cleric, lalu dia mematikan telepon.
...**********...
Didalam penthouse Hanna telah menunggu di depan laptopnya dengan masih memakai seragam pegawai di restoran cepat saji.
“Dia kerja paruh waktu?” ujar Vincent dalam hati.
“Hanna? Ada apa kau memintaku kemari?”
Mendengar suara Vincent, Hanna langsung menoleh ke belakang. Dengan terburu-buru dia bangkit dari sofa, mengambil laptopnya lalu berlari kearah Vincent. Naas, kakinya tersandung kaki meja, hingga membuatnya terjatuh. Dengan cepat Vincent menangkapnya, menyelamatkan Hanna beserta laptopnya dari pertemuan dengan lantai.
“Kau tidak apa-apa? Tidak usah berlari, bukankah aku juga sedang berjalan ke arahmu?”
“Hehehe maaf Vin, aku terlalu girang kau sudah sampai.”
Keduanya pun duduk di sofa, lalu Hanna memperlihatkan nilai penjualan elektronik Lippo di pasaran. Ponsel dengan merk Lippo terjual dengan presentasi hampir mencapai angka 50%, sedangkan merk Xendra baru 48%.
“Untuk apa dia memperlihatkan grafik ini padaku?” tanya Vincent dalam hati melirik Hanna.
“Vincent, kau tahu kenapa ponsel Lippo hampir menguasai pasar? Karena mereka menautkan pembayaran online ke hampir seluruh metode pembayaran!” ujat Hanna berapi-api.
“Lalu?”
Mendengar respon Vincent yang datar, Hanna memukul pundaknya dengan keras, Plak!
“Lalu?! Aku sedang memberimu saran tahu!” ujar Hanna kesal.
“Aduh, saran apa? Katakan dengan jelas, jangan tiba-tiba memukulku Hanna,” ujar Vincent mengusap-usap pundaknya yang terasa panas karea pukulan Hanna.