
Justine memberi perintah pada tim Bruth A yang sedang bersamanya untuk membawa mayat sopir gadungan itu, sedangkan dirinya akan mengantar Vincent kembali ke kediaman utama keluarga Hermentsmith.
“Vincent, kau baik-baik saja?” tanya Justine dari kursi kemudi.
Sudah berulang kali Justine menanyakan pertanyaan yang sama pada Vincent, membuat telinga Vincent terasa panas.
Bukan tanpa alasan Justine terus bertanya, hal itu dikarenakan baju yang dikenakan oleh putra tunggal Wim itu kotor, penuh tanah belum lagi wajahnya lebam.
"Iya." jawab singkat Vincent tanpa ekspresi, matanya memandang kosong ke keluar jendela mobil.
“Dia trauma? Sudah pasti bukan? Pertama dia masih kecil, kedua dia tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari siapapun, dan ketiga dia hampir saja diculik." ujar Justine dalam hati, menerka-nerka.
Meski pandangan Vincent tertuju pada jalanan dibalik kaca jendela mobil, akan tetapi sebenarnya ia tengah memikirkan siapa sopir gadungan dan apa motif dibalik percobaan penculikan dirinya.
Sebelum tim Bruth A membawa mayat sang sopir, dia sempat melihat sebuah bross kecil berbentuk mawar berwarna emas tersemat disamping dasi berwarna biru dongker yang dikenakan oleh sopir gadungan itu.
“Dia bukan dari Lippo. Aku tidak pernah melihatnya dulu atau mereka merekrut orang baru? Tapi mana mungkin, lambang Lippo itu Adamas, bukan Rose Gold." pikir Vincent.
Dalam pengetahuan serta ingatan Vincent dari kehidupan sebelumnya. Tempatnya bekerja—Lippo Grup—memiliki lambang perusahaan berupa panah dengan ujungnya terbuat dari berlian atau para petinggi menyebutnya Adamas, diambil dari bahasa Yunani yang berarti panah berlian.
Pikiran Vincent langsung tertuju pada Ibu gurunya di sekolah. Sebelumnya dia mengira dialah pelaku yang mematikan GPSnya, akan tetapi dirinya baru menyadari suatu hal saat jam istirahat ketika para murid serta guru pembimbing berada di ruang istirahat untuk makan.
Dia tengah berada di toilet saat jam istirahat, karena toilet anak laki-laki dan perempuan dipisahkan, serta letaknya pun sedikit berjauhan dimana toilet anak laki-laki langsung bersebrangan dengan kelas 1-B.
Disanalah Vincent melihat seorang wanita—dari penampakan sekilas seumuran dengan Ibu guru—keluar dari kelas 1-B. Tapi yang membuat Vincent curiga, cara wanita itu keluar mengendap-ngendap serta clingak-clinguk seolah mengecek jika tidak ada orang yang melihatnya.
"Vin?"
"Astaga!" Vincent terkejut karena Justine memanggil seraya menyentuh pundaknya.
"Kenapa kau terkejut begitu?" tanya Justine melihat reaksi Vincent begitu terkejut.
"Kenapa?! Kaget anjing!" ujar Vincent kesal dalam hati.
"Tidak apa-apa." jawab Vincent seraya turun dari mobil.
"Paman akan langsung pergi, maaf tidak bisa mengantarmu kedalam," Justine membuka pintu depan mobil—bagian kemudi.
"Paman mau kemana?"
"Paman ada sedikit urusan, nanti setelah kau sembuh kita latihan menembak oke?" ucap Justine tersenyum.
Seketika rasa kesal didalam hati Vincent langsung berubah menjadi rasa senang.
"Aku tidak sakit kok! Besok sepulang sekolah kita langsung latihan menembak!" ucap Vincent antusias.
Jika dilihat, sikap antusias Vincent sudah sangat mirip dengan Jane.
Justine menggerakkan telunjuknya ke kanan dan kiri, "Em tidak, lihatlah dirimu sudah mirip seperti gelandang. Bajumu kotor, wajahmu juga lebam begitu."
Setelah berkata demikian, Justine langsung masuk kedalam mobil, dan pergi.
Hanya Justine yang berani bercanda hingga mengatai Vincent seperti gelandangan. Tim Bruth lain tidak ada yang berani. Mereka sangat segan terhadap anggota keluarga Hermentsmith.
Vincent melihat mobil Justine melaju pergi hingga keluar gerbang dimana jarak antara gerbang dengan teras rumah hampir 200 meter.
"Yah, aku obati dulu luka ini." gumam Vincent masuk kedalam rumah.
...----------------...
Didalam mobil, Justine menekan tombol bergambar Bluetooth Phone, menelfon tim Bruth.
“Bagaimana? Apa kalian menemukan informasi dari anjing itu?" tanya Justine setelah mendengar telfonnya sudah tersambung.
Tim Bruth memiliki kode menyebut orang dari pihak lawan yang bekerja dibalik bayangan seperti mereka dengan sebutan anjing.
"Vincent tidak membunuhnya, Burton Grup ya.. Untuk apa Burton ingin menculik Vincent?" tanya Justine seraya membelokan mobilnya ke arah jalan Blok C—area dibelakang Block D.
"Soal itu menurut Endrew—anggota tim Bruth B bagian peretasan—dia ingin menurunkan harga saham Xendra jika pewaris mereka mati."
"Oh, selain itu apa kau menemukan hal lain darinya?"
"Sebuah alat seperti walkie talkie tapi sedikit lebih canggih tersemat di telinganya. Lebih bodohnya anjing ini, kodenya ditulis diatas kertas. Endrew sudah mengurus itu. Lalu GPS ditangan kiri anjing ini, tadi oleh Jyul ibu jari kirinya sudah di potong agar anjing lain tidak curiga."
"Oh iya, aku juga melihat saat Jyul memotong ibu jari anjing itu. Tim Bruth B sudah berangkat berburu ide—mengerjakan pekerjaan kotor—ke daerah wisata?" Justine menghentikan mobilnya didepan bangunan hotel yang dari luar tampak terbengkalai.
"Kau akan melihatnya sendiri," setelahnya Cleric mematikan telfon.
"Baiklah," Justine keluar dari mobil, berjalan kedalam lobby hotel.
"Hai Ketua," sapa Hermit yang sudah berdiri disisi lain lobby.
"Satu, dua, empat orang?" tanya Justine karena hanya melihat Hermit, Terry, Putney, dan Matt.
"Kata siapa empat orang?" sahut seseorang dari balik kegelapan.
Justine terkekeh melihat tim Bruth B yang lain berjumlah 6 orang keluar dari kegelapan dengan bersenjata lengkap.
"Baiklah, para serigala saatnya berburu kelinci."
...****************...
"Ya ampun Vincent! Kenapa kau kotor sekali? Dan lihat wajah tampan anak Mama ini! Siapa berani malakukan ini padamu?!" Jane naik pitam melihat putranya pulang sekolah dengan keadaan wajah lebam dan baju kotor.
Vincent hanya diam, tidak menjawab apa-apa. Dia melakukan hal itu karena menurutnya Jane tidak perlu tahu percobaan penculikan dirinya.
"Vincent?" panggil Jane sedih, sembari membersihkan badan Vincent dengan air hangat.
Di pikiran Jane, Vincent pasti sudah dikeroyok oleh murid lain yang mengejeknya karena dia tertinggal satu tahun karena dirinya. Dia sedikit merasa menyesal kenapa dulu menahan Vincent untuk bersekolah saat usianya 7 tahun.
Setelah membersihkan badan Vincent, pelayan memberinya baju ganti. Awalnya Jane ingin menggantikan baju Vincent, tapi dia menolak dan akhirnya berganti baju ditoilet.
"Kenapa masih terasa sakit? Dulu aku juga sering dipukuli saat berusia 8 tahun tapi tidak sesakit ini," ujar Vincent sendiri, melihat wajahnya di depan cermin kamar mandi.
Antonio atau saat dipanti bernama Yohan sering dipukuli oleh anak panti lain, hanya karena matanya berwarna berbeda antara kanan dan kiri atau sebutan lainnya adalah Heterocromia. Di mata kanan berwarna cokelat terang, sedangkan dimata kiri biru laut. Tidak hanya anak panti, saat akhirnya diadopsi pun Antonio juga kerap dipukuli oleh 'Tuannya'.
Vincent mengancingkan baju tidur berbahan sutra seraya bergumam, "Apa karena tubuhku sekarang tidak pernah kena pukul, makanya terasa sangat sakit?"
Ceklek! Vincent membuka pintu kamar mandi, dan cukup heran melihat Wim sudah berdiri disamping Jane.
"Dia sudah pulang?" tanya Vincent dalam hati.
Ternyata Jane langsung menelfon Wim saat Vincent berjalan kedalam toilet, dan Wim sendiri langsung pulang setelah mendapat telfon dari istrinya yang mengatakan putra mereka telah dipukuli oleh anak-anak sekolah Yesol.
Wim menggendong Vincent, “Vin, siapa yang mengeroyokimu?!"
"Mengeroyok? Siapa?" Vincent balik bertanya, dia bingung Wim menanyakan sesuatu yang tidak dia mengerti.
"Mamamu bilang kau dikeroyok karena tertinggal satu tahun," jawab Wim.
"Iyakan Vincent? Pasti kau sudah dikeroyok oleh anak-anak berandalan 'kan?" timpal Jane.
"Dasar ibu-ibu, main mengatakan hal seenaknya saja!" ujar Vincent dalam hati tidak habis pikir dengan ibunya itu.
"Bukan." tepis Vincent.
Lalu dia memeluk manja Wim seraya berbisik ditelinganya, "Papa tanyakan pada Paman Justine, Mama tidak perlu tahu."
Mendengar bisikan putranya, membuat Wim bertanya-tanya kenapa Jane sampai tidak boleh tahu.