
Sinyal GPS Rebeca menyala sesaat, setelahnya kembali mati. Namun hal itu memberi secercah harapan untuk Aksel. Dia mencoba melacak titik itu. Tertera pada peta digital di ponsel miliknya, jalan menuju ke tempat itu satu arah dengan jalan aspal yang sedang ia pijak ini.
Hal itu mengonfirmasi cocoklogi yang ia duga sebelumnya. Iris mata hijau itu melirik ke bawah, goresan ban di bawah sepatunya adalah bekas mobil yang membawa Rebeca.
Tanpa membuang waktu, pemimpin Badan Pengawasan itu berlari ke mobilnya. Mobil Erley GT putih itu melaju dengan kencang, menembus dinginnya angin malam, berjalan diatas aspal jalanan kota Yarden.
Di dalam mobil, napas Aksel naik-turun, tangannya dengan erat mengganggam setiran mobil yang terbuat dari kulit itu. Matanya berulang kali melirik ponsel yang ia letakkan disebelah kiri dari setir. Panah biru pada layar persegi panjang itu terus menunjukan arah mana yang harus dituju olehnya.
Dari kaca depan, dia dapat melihat gapura perbatasan antara distrik Luinol dengan distrik Gangnam. Lokasi GPS Rebeca ternyata sangat jauh dari posisinya semula.
Hal itu menambah pikiran buruk di kepalanya. Siapa yang menculik Rebeca?! Apa motif mereka, serta kemana mereka membawa Rebeca?!
"B*ngs*t! Apakah ini ulah anjing Lippo?!" ujarnya dalam hati, bayangan serta dugaan pada tim itu terlintas di pikirannya.
Karena waktunya sangat bertepatan dengan saat dia gagal menyeret Lippo ke pengadilan. Seketika itu juga, rasa sesak semakin menyeruap didada Aksel. Dirinya sama sekali tidak memprediksi bahwa Lippo akan membalasnya dengan cara seperti ini.
Tring! "Anda telah sampai ditujuan!"
Bunyi notifikasi serta suara Artificial Intelegent mengaburkan bayang-bayang yang berbelit bak benang kusut dipikiran Aksel. Segera diinjaknya pedal rem, Ckit!
Ban mobil Erley GT itu pun seketika berhenti berputar, bergesekan keras dengan tanah, sehingga meninggalkan bekas debu.
Dari balik kaca, Aksel menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada orang sama sekali, mungkin karena hari sudah malam. Lantas ia mematikan mesin mobil, mencabut kuncinya, kemudian keluar.
Sebuah hutan berukuran sangat luas nampak di depan Aksel. Disamping pohon pinus yang tinggi menjulang itu, terdapat papan nama dari hutan tersebut.
'Hutan Yellowgreen'
"Hutan ini 'kan, akh! Aku tidak peduli! Rebeca ada di dalam sana!" ujarnya seraya berlari masuk kedalam hutan.
Dirinya tidak peduli dengan rumor yang ada, dimana hutan Yellowgreen adalah hutan yang biasa digunakan untuk membuang mayat pada jaman perang dingin. Hutan itu juga terkenal sebagai hutan kematian, dimana banyak ditemukan mayat disana tanpa diketahui sebabnya.
Konon katanya, mereka yang masuk tidak akan pernah bisa keluar lagi, karena mereka akan disesatkan oleh hantu penunggu hutan.
"Persetan dengan rumor tidak jelas! Tidak ada hantu di dunia ini!" ujar Aksel menepis pikiran dikepalanya.
Dia terus berlari menyusuri hutan Yellowgreen yang sangat luas itu. Kekalutan dalam diri serta pikiran Aksel memunculkan bayangan wajah wanita yang sangat ia cintai itu, namun dia terus meneror dalam keadaan sudah membiru.
"Tidak! Aku mohon jangan mati!"
...*********...
[Disisi lain, perumahan elit Paradise]
CEO CJ&E Entertainment—Ester merasa tidak tenang di rumahnya yang berlokasi di distrik Luinol. Sudah hampir pukul 10 malam, namun putri semata wayangnya belum juga pulang dari pekerjaannya.
Padahal sepengetahuan Ester, putrinya itu masuk shif pagi, jadi seharusnya dia sudah pulang sejak pukul enam sore tadi.
"Dia kemana? Atau terjebak macet?" pikirnya.
Namun pikirannya itu segera ia tepis sendiri. Tempat kerja putrinya terletak di kawasan Eron, kawasan yang sepi, hingga tidak mungkin jika terjadi kemacetan di area itu.
Dia sudah berulang kali menghubungi putrinya namun hanya bernotifikasi tanda angka 1, menandakan ponsel putrinya itu tidak aktif.
Sebagai seorang ibu tunggal, tanpa seorang suami, Ester sangat was-was pada satu-satunya harta peninggalan mediang suaminya itu.
Tidak sabar menunggu tanda angka 2 muncul disamping pesan yang ia kirimkan, tangan yang tidak lagi muda ini membuka kembali ponsel lipatnya. Dia menekan kontak bertuliskan Rebeca, kemudian mendekatkan layar ke telinga. Dia mencoba menelfon putri semata wayangnya itu.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang diluar jangkauan."
Mendengar itu, dadanya mulai sesak, jantungnya berdegub tak menentu. Firasat apa ini?
"Rebeca, kau dimana? Kenapa ponselmu mati?" ujar Ester.
Seolah mendapat bisikan jika sesuatu buruk terjadi pada putrinya, dia lantas mematikan telfon, kemudian menghubungi nomor polisi.
"Baik dengan 119 disini,"
Namun bukannya mendapatkan jawaban yang sekira Ester dapat membantu, malah jawaban operator membuat dirinya kesal.
"Layanan 119 hanya untuk keadaan darurat, pelaporan orang hilang hanya dapat dilakukan dikantor kepolisian terdekat dengan lokasi Anda,"
Mendengar itu, Ester langsung mematikan panggilan. Rasa amarah menyeruap didadanya. Dia pun memilih menghubungi pemilik perusahaan intertainment yang lumayan besar di kota Yarden, tempatnya bekerja.
"Hallo Ester? Ada apa menghubungiku malam-malam begini?" terdengar suara dari ponsel Ester.
"Maaf Nyonya Jane, saya ingin meminta bantuan Anda. Karena polisi mungkin akan bertindak lambat,"
"Tunggu, apa maksudmu? Polisi? Ada apa? Perusahaan tersangkut masalah?" dari suaranya yang sedikit manja, terungkap atasan Ester adalah Jane, istri CEO Xendra Grup.
"Bukan, tapi putri saya, Rebeca. Dia tidak dapat dihubungi, ponselnya mati. Jika saya melaporkan langsung ke kantor polisi, mereka tidak akan langsung bertindak. Harus menunggu dua kali dua puluh empat jam, itu terlalu lama, saya merasakan firasat buruk pada Rebeca. Dengan ini saya sangat meminta bantuan dari Nyonya, tolong bantu saya mencari putri saya."
------
[Disaat bersamaan, dari sisi Jane]
Mendengar permintaan bawahan yang telah setia memimpin perusahaan milik ibunya, bersedia menggantikan wajahnya dengan wajah dirinya agar ialah yang dikenal khalayak publik, membuat Jane iba. Apalagi dia dan Ester juga hanya punya satu anak tunggal.
Tanpa pokir panjang, sikap Jane yang memang kurang memikirkan ekor dari keputusannya itu, langsung mengiyakan permintaan bawahannya.
"Baiklah Ester, aku akan meminta bantuan putraku. Kemarilah, atau putraku yang kesana?"
"Biar saya yang ke kediaman Nyonya. Terima kasih banyak Nyonya!" jawab Ester di telepon, terdengar isak dari ujung telepon sebelum akhirnya sambungan telepon itu terputus.
Wim yang sedang membaca laporan di sebelah Jane juga ikut mendengarkan apa yang dibicarakan oleh isterinya.
Dia membalikan halaman dokumen ditangannya seraya bertanya, "Ada apa dengan Ester? Kenapa meminta bantuan Vincent?"
"Rebeca hilang!"
"Lalu?" tanya datar Wim, masih menatap lembaran dokumen di pangkuannya.
"La-lu?! Kita harus membantunya Wim!"
"Bukankah ada polisi? Suruh dia hubungi polisi saja,"
Respon datar dari Wim yang seolah tidak peduli dengan bawahannya membuat Jane jengkel. Bisa-bisanya reaksinya datar begitu?!
"Kenapa responmu begitu? Jika polisi dapat membantu, tidak mungkin dia meminta bantuan kepadaku bukan? Jika kau punya Justine yang sangat kau percayai, bayangkan jika anak Justine yang hilang!"
"Tapi Justine tidak menikah, juga tidak punya anak."
Mendengar ujaran yang keluar dari mulut sang suami sangat menusuk relung hatinya, Jane dengan perasaan kesal didada turun dari tempat tidur.
"Terserah kau saja! Aku yakin Vincent akan mau membantu!" ujarnya dengan nada merajuk bak bocah. Kemudian pergi meninggalkan Wim sendirian di kamar.
Wim sendiri masih ditempatnya, tidak bergeming sama sekali. Dia berkomentar demikian, karena dirinya tidak lagi memegang kendali atas tim Bruth. Jadi dirinya tidak peduli dengan orang yang baginya tidak memberikan keuntungan untuk Xendra.
Sementara itu, Jane berjalan ke depan kamar Vincent yang terletak tepat bersebelahan dengan kamarnya. Diketuknya pelan pintu dari kayu itu, seraya memanggil nama putra kesayangannya.
"Vincent,"
Tidak butuh waktu lama, terdengar mekanisme kunci terbuka dari dalam, kemudian pintu pun terbuka sedikit.
"Ada apa Ma?" tanya Vincent yang hanya terlihat satu matanya saja.
"Kenapa tidak dibuka semua?" tanya Jane melihat dibalik pintu kamar Vincent, terpasang rantai penahan bak pintu di apartemen.
"Tidak ada apa-apa sih, ada apa Mama kesini?"
Jane lantas menempelkan kedua tangannya dipintu seolah ingin mendorong pintu itu agar terbuka. Dia menatap wajah putranya dengan tatapan penuh penuh harap.
"Vincent, bantulah Mama."