
"Ah waktu itukan aku masih kecil!" dalih Jane.
“Masih kecil sebagai dalih?” kata Wim, memandang Jane datar.
Melihat itu, Jane sadar. Secara tidak langsung, Wim tak mengijinkan untuk memberi pistol asli pada Vincent. Sehingga ia pun mengganti opsi permintaannya.
"Jika kau tidak bisa memberi pistol … paling tidak beri dia pengawal,” katanya.
"Pengawal? Memangnya Yesol mengijinkan? Pengawal harus menjaga Vincent dari dekat bukan?" tanya Wim.
Jane terdiam sejenak. Yang dikatakan oleh suaminya memang benar. Yesol tidak mungkin mengijinkan orang selain staf atau orang tua murid untuk masuk ke kawasan gedung sekolah.
Di tengah keheningan itu, ponsel Wim berdering. Dia melihat layar ponselnya lalu segera mengangkat telfon.
"Wim, kau bilang untuk langsung menemuimu setelah aku berburu. Kau ada dimana? Aku sudah menunggumu hampir 30 menit tahu!" ucap suara di seberang telepon.
Wim pun melihat kembali arlojinya, benar saja, jam menunjukan hampir jam setengah 12 malam.
"Ya aku kesana sekarang." ucap Wim dengan santai, lalu mematikan telfon.
"Jane aku harus menemui Justine, urusan Vincent aku akan mengurusnya jadi kau tidak perlu kuatir oke?" Wim mengecup kening Jane, lalu pergi meninggalkan isterinya itu sendirian di ruang kerjanya.
Karena ditinggal sendirian, Jane pun berjalan keluar menuju kamarnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sementara itu di kamar Vincent, dia tidak bisa tidur. Kejadian tadi sore, sang sopir gadungan—Wibroe, serta rencananya untuk mengorek informasi dari Hanna mengenai proyek Lippo yang akan dia rebut dengan perantara Wim.
Meski Hanna tidak begitu diperhatikan oleh ayah atau ibu apalagi kakaknya. Vincent tahu betul jika Jonghan yang merupakan kakek Hanna cukup perhatian padanya.
Tiba\-tiba ditengah pikirannya, dia teringat kembali dengan istri dari orang yang mengadopsi dirinya.
‘Kenapa Jonghan tidak membenci Hanna? Padahal dia\-lah alasan B\*jing\*n itu menikahi J\*l\*ng pembunuh Nyonya!’ ujar Vincent dalam hati kesal.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
\[Davante, 28 tahun yang lalu\]
Feyn Fasterholdt, CEO Lippo Grup, atau biasa dipanggil Fey mempunyai istri bernama Yugwan.
Fey memutuskan untuk mengadopsi Yohan, seorang anak laki\-laki yang mempunyai warna mata berbeda antara kanan dan kiri di Panti Asuhan Gunver, meski usia Yohan saat itu hampir memasuki usia dewasa.
Fey memilih mengadopsi Yohan bukan untuk mengangkatnya sebagai anak, akan tetapi dia melihat Yohan akan mampu menjadi salah satu 'anjing' terbaiknya.
Setelah menyelesaikan dokumen dan resmi mengadopsi Yohan, Fey membawa remaja berusia 15 tahun itu ke kediaman keluarga Fasterholdt. Disana, Yugwan mengganti nama Yohan dengan nama yang menurutnya lebih bagus yakni Antonio Fernandez.
Sejak diadopsi oleh Fey, hidup Antonio tidak lebih baik dari kehidupannya di panti asuhan. Dimana selain menerima pelatihan yang sangat keras bagai di neraka, dirinya juga kerap menerima perlakuan kasar dari Tuannya, Fey.
Namun di saat yang sama, sang Nyonya yang tidak lain adalah Yugwan memperlakukan Antonio sebagaimana mestinya manusia.
Tapi karena hal itu pula, Nicolas—anak pertama Fey—sangat membenci Antonio yang lebih tua 6 tahun darinya.
Dia tidak segan\-segan memfitnah Antonio agar sang Ayah memukulnya. Namun beruntung, Fey jarang mendengarkan ocehan putranya itu karena aduan Nicolas dirasa tidak masuk akal.
Yugwan memiliki fisik yang lemah, sehingga dia kerap jatuh sakit. Antonio merasa kasihan dan tidak tega saat sang Nyonya yang terbaring sakit, sehingga dirinya kerap diam\-diam melihat keadaan Yugwan dan sesekali merawatnya.
Sedangkan Fey, bukannya merawat isterinya, dia malah asik berselingkuh dengan wanita lain, Renata Skidnova.
Perselingkuhan mereka berjalan cukup lama. Antonio yang dibesarkan sebagai 'anjing' perusahaan tidak mempunyai hak untuk bicara. Sehingga dia hanya mampu diam, tanpa dapat mengatakan kebusukan Tuannya di belakang sang Nyonya.
Sampai suatu waktu, Yugwan yang tengah sakit sangat terkejut ketika seorang wanita hamil besar datang dengan percaya diri, meminta untuk dinikahi oleh Fey. Wanita itu tidak lain adalah Renata.
Rasa terkejut dan syok yang dirasakan Yugwan berubah menjadi serangan jantung yang saat itu juga mengantarnya pada ajal.
Belum kering kuburan Yugwan, dengan santai seolah tidak pernah terjadi apa pun, Fey menikahi Renata. Hal itu membuat Antonio geram, tapi segeram apa pun dia, dirinya tidak dapat melakukan apa pun.
Jonghan yang merupakan ayah Fey menolak dan tidak mengakui pernikahan mereka, karena hal itu membuat nama keluarga konglomerat Fasterholdt tercoreng di mata pemegang saham serta investor Lippo Grup, meskipun tidak sampai diketahui oleh publik.
Melihat bayi perempuan haram yang tidak mengerti kesalahan ibu dan ayahnya, apalagi dia tidak mendapat cukup perhatian dari kedua orangtuanya membuat Jonghan sedikit iba. Karena itu dia mulai sedikit demi sedikit menerima sang cucu bungsu.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
\[Masa sekarang\]
"Sebaiknya aku jalan\-jalan untuk menyegarkan pikiranku." gumam Vincent seraya turun dari ranjang.
Dengan hati\-hati dia membuka pintu. Setelah melihat situasi sepi, Vincent keluar pelan\-pelan berjalan menuju taman belakang.
Dia memilih taman belakang karena tempat itu tenang, dan terdapat kolam ikan mas yang merupakan hewan kesukaannya.
Ditengah perjalanan ke taman belakang, dirinya tidak sengaja melihat Wim dan Justine tengah berbincang di dekat kolam ikan.
Segera Vincent pun bersembunyi dibalik pot tanaman yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.
‘Apa yang mereka lakukan disana?’ batin Vincent.
Pelan\-pelan dia mengintip, berusaha menguping pembicaraan mereka berdua. Akan tetapi karena lokasinya cukup jauh, suara pembicaraan mereka tidak terdengar.
‘Sialan! Tidak kedengaran!’ batinnya kesa.
Vincent tidak sadar jika ada seekor ular di belakangnya yang tengah melata kearah dirinya.
Karena tidak berhasil mendengar pembicaraan Justine dan Wim, Vincent pun berbalik kembali. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat seekor ular cobra sudah mengangkat kepalanya membentuk seperti sendok.
Dia tahu bahwa dalam situasi berbahaya ini, dirinya tidak boleh bergerak sembarangan atau tiba\-tiba, agar sang ular tidak terkejut lalu mematuk.
Secara diam\-diam dan tenang, Vincent meraba\-raba sesuatu di belakangnya untuk dijadikan senjata.
Dia berhasil meraih sebuah kayu, dengan pelan dan hati\-hati ia menariknya. Beruntung kayu itu bercabang di bagian ujung.
Dengan penuh kehati\-hatian, pandangan yang tidak lepas dari ular itu, Vincent mengarahkan ujung kayu ke arah leher sang ular dan berhasil menjepit kepala ular ke tanah tepat sebelum dia mematuk.
‘Hampir saja aku mati lagi!’ batin Vincent, bernapas lega.
Dia melihat sang ular menggeliat berusaha melepaskan kepalanya dari jepitan kayu.
Menurutnya hewan ular apalagi cobra memiliki insting untuk membalas dendam jika mereka disakiti, jadi Vincent berpikir harus membunuhnya. Segera dia meraih batu, lalu memukulkannya ke kepala sang ular.
Setelah kepala ular itu hancur, Vincent mencoba mengintip kembali. Ternyata Justine dan Wim tidak terlihat kembali, mereka berdua sudah pergi.
Vincent pun keluar dari persembunyiannya, berjalan menuju kolam ikan yang terletak di tengah\-tengah taman.
Saat melihat ikan emas yang berenang\-renang, membuat ia teringat pada sang Nyonya yang juga menyukai ikan mas.
Ada perasaan rindu di hati Vincent. Meski dia memanggilnya Nyonya tapi karena perlakuan Yugwan padanya tidak seperti Fey, membuat Antonio memandang Yugwan sebagai seorang Ibu.
Kemudian dia berbaring di kursi taman, melihat bulan purnama yang bersinar terang di langit malam.
Vincent memikirkan cara menyingkirkan kaki tangan sang supir gadungan. Tapi dia tidak tahu, apakah wanita yang dilihatnya itu seorang guru atau hanya menyamar sebagai guru.
‘Aku bilang saja dulu pada Wim kali ya? Siapa tahu dia akan membantuku,’ batin Vincent seraya bangun dari posisi berbaring.
Begitu bangkit, Vincent terkejut melihat Wim tengah berdiri tidak jauh darinya, memandang dengan tatapan datar.
‘Sejak kapan Wim berdiri di sana?!’ batinnya terkejut.
"Pa\-Papa? Apa yang Papa lakukan disini?" tanya Vincent seraya turun dari kursi taman.
"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan disini tengah malam? Ini sudah jam setengah satu Vincent, kau harusnya tidur di dalam," jawab Wim berjalan mendekati Vincent.
Kemudian menggendong putranya itu, kembali masuk kedalam rumah. Vincent agak kesal, Karena tujuannya keluar untuk menyegarkan pikiran karena tidak bisa tidur. Namun meskipun begitu, dia tidak bisa menolak.
‘Hah, menyebalkan,’ keluh Vincent dalam hati.