
[Kantor Badan Pengawasan]
“Pak Aksel?” panggil Dino.
Pimpinan Badan Pengawasan—Aksel yang tengah membaca dokumen menyahut tanpa menoleh, “Apa?”
“Aku menemukan ini di kotak saran, tapi sepertinya bukan dari karyawan, ataupun warga seperti dulu.” ujar Dino meletakkan sebuah kertas yang dilipat rapih keatas meja Aksel.
Aksel berhenti membaca dokumennya, lalu melirik kertas itu beberapa saat kemudian melirik kembali Dino yang masih berdiri di depannya.
“Kau yakin?”
Dino menganggukan kepala, “Kali ini asli, karena maaf, aku sudah mengintip tadi.”
Bukan tanpa alasan Aksel bertanya seperti itu pada Dino, karena kantor Badan Pengawasan berulang kali-bukan, tapi berkali-kali menerima surat dari berbagai pihak berisi sumpah serapah, serta makian karena tidak menjalankan tugas mereka sebagai badan pengawasan atas kasus Buston. Karena menurut mereka seharusnya Badai Pengawasan bekerja dahulu, baru ditindak lanjuti oleh pihak berwajib dan kejaksaan.
“Mengingat hal itu membuatku muak, seharusnya Lippo yang musnah,” ujar Aksel dalam hati.
“Terima kasih, kau kenapa disini terus? Kembalilah ke mejamu,” ucap Aksel melihat Dino masih berdiri didepan mejanya.
Dino cengar-cengir, “Pak Aksel, ayolah dibuka isi surat itu. Aku juga ingin melihatnya,”
“Bukankah kau sudah melihatnya tadi?” tanya Aksel membuka surat.
Dino tidak menjawab, dan langsung mendekat ke samping Aksel untuk melihat apa isi surat itu.
Dan ternyata isinya berupa laporan dari seorang yang mengatasnamakan ‘Anonim’. Dia menulis tentang kecurigaan penyelewengan serta kecurangan perusahaan Lippo dalam memanipulasi pasar saham.
Membaca itu, Udara yang sebelumnya terasa baik-baik saja kini terasa menyesakkan bagi Aksel. Rahangnya mengeras, lalu ia menggertakkan gigi. Meski matanya tampak tenang, namun sorot matanya mengisyaratkan dendam yang amat dalam ketika membaca nama perusahaan besar di kota Yarden itu.
Aksel meletakkan surat itu diatas meja, berbicara tanpa melihat Dino, “Selidiki masalah ini. Jangan bilang pada siapapun karena isi surat ini juga tidak bisa dipercaya seratus persen,”
“Baik Pak!” sahut Dino. Dia pun keluar dari ruangan Aksel.
Sementara pimpinan Badan Pengawasan itu mencari beberapa berkas dari tumpukan berkas usang di lemari penyimpanan berkas.
...**********...
Setelah menyelesaikan kelas Vincent langsung menuju gedung utama Xendra untuk menemui tim Bruth.
Sesampainya dipintu dengan tulisan Creative Crew, Vincent membuka pintu depan pelan-pelan. Disana dia melihat tim Bruth sedang bekerja, jika dilihat memang seperti tim kreatif pada umumnya.
“Akting kalian bagus sekali,” ujar Vincent dalam hati.
“Hallo Paman sekalian,” sapanya.
Tim Bruth langsung menoleh ke sumber suara, mendapati atasan mereka datang tiba-tiba, mereka pun segera memberi salam.
“Selamat datang Tuan Vincent!” ucap serentak tim Bruth seraya membungkuk.
Vincent menyuruh orang-orang dihadapannya untuk mengangkat kepala mereka, “Paman sekalian tidak perlu membungkuk begitu, bangunlah.”
Mendengar perintah atasan mereka, tim Bruth pun mengangkat kepala. Vincent tidak seperti Wim, meskipun keduanya sama-sama pintar namun bisa dibilang Vincent lebih merangkul tim Bruth.
Dari semua anggota, hanya Justine yang tetap berada di tempatnya, tidak ikut membungkuk seperti anggota tim Bruth yang lain.
“Ada apa Vin?” tanyanya santai.
Vincent berjalan mendekati meja Justine, “Paman, dokumen yang aku minta tempo hari sudah disiapkan Paman?”
Justine pun membuka laci dibawah mejanya, mengeluarkan setumpuk dokumen, lalu diletakkan tepat didepan Vincent.
“Kau meminta dokumen ini, apa kau berniat langsung menyerahkan ke pihak Badan Pengawasan?”
Vincent menjawab dengan menganggukan kepala sembari melihat dokumen yang paling atas.
“Kau yakin? Itu sama saja membuka identitasmu loh. Kau akan berhadapan langsung dengan Lippo, bukankah itu akan sangat berbahaya? Berhadapan dengan mereka sama saja berhadapan dengan anjing mereka, tim A!” ujar Justine memperingati.
“Iya Paman,” sahut Vincent dengan santai sembari mengambil dokumen.
“Aku paham tim A itu seperti apa,” imbuhnya.
“Hei Justine, pemimpin tim A ada di hadapanmu saat ini! Aku ada di depanmu! Aku tahu timku dulu seperti apa,” ujar Vincent dalam hati.
Justine melihat Vincent hanya diam menatap dirinya, seolah mengisyaratkan bahwa tim A bukan masalah untuknya. Karena hal itu Justine sedikit kesal sekaligus khawatir. Ia mengingat bagaimana anjing Lippo itu hampir membunuhnya dulu, beserta pemimpin mereka.
“Vin, apa kau mendengarkanku?” tanyanya menghela napas.
Vincent terkekeh, “Iya Paman, kenapa kau menghela napas begitu? Kau kesal denganku ya?”
“Siapa yang tidak kesal?! Aku memperingati juga demi dirimu, agar kau tidak digigit para anjing itu. Meski si anjing rabies sudah mati, tapi penggantinya juga cukup gila.”
“Penggantiku, kemungkinan yang Justine maksud itu dia.” ujar Vincent dalam hati.
Justine menghela napas kembali, “Lagi-lagi diam. Kau hobi sekali membuatku terlihat sangat cerewet.”
“Hahaha dari dulu kau memang cerewet Paman,” ledek Vincent. Kemudia dia keluar dari ruangan Creative Crew membawa setumpuk dokumen itu.
Di dalam mobil, Vincent membuka aplikasi peta online di ponselnya kemudian mengetikan sebuah alamat.
Sebenarnya dia tidak ada niatan untuk mengungkap identitasnya sebagai anonim yang mengirim surat ke Badan Pengawasan. Dirinya hanya akan mengirim dokumen pendukung.
“Justine, entah kau terlalu kuatir atau percaya padaku. Padahal aku tidak pernah mengatakan akan mengungkap identitas, tapi kau menganggapnya seperti itu,” monolog Vincent.
Mobil Pajero putih itu pun melaju meninggalkan pelataran gedung Xendra Grup.
...*******...
Aksel tengah sibuk membolak-balikkan dokumen diatas meja. Mata hijau serta telunjuknya dengan teliti mengikuti tiap kalimat demi kalimat yang tertera di atas kertas dokumen.
Brak! Pintu ruangan Aksel terbuka dengan sangat keras, membuat Aksel hampir melompat karena terkejut.
“Dino!”
“Maaf Pak!” ujar bawahan Aksel seraya berlari ke meja sang atasan.
Dengan napas terengah-engah seolah Dino baru saja berlari maraton, ia meletakkan selembar kertas keatas meja Aksel.
“Ini apa?”
“Sa-ya ber-na-pas du-lu,” ucap Dino terengah-engah.
Setelah dapat bernapas dengan baik, bawahan Aksel itu pun menjelaskan bahwa selembar kertas yang ia letakkan adalah laporan kecurigaan Lippo Grup melakukan manipulasi pasar saham online.
Diduga tujuannya menipu secara halus masyarakat yang awam terhadap saham. Apalagi sekarang ini, marak aplikasi online yang diklaim mampu membeli saham perusahaan hanya dengan modal awal kurang dari $1.
Aksel mendengarkan penjelasan Dino sembari membaca isi dari laporan di dalam selembar kertas itu.
Tring! Bunyi pesan masuk di ponsel milik Aksel. Dia segera membuka isi pesan itu, tetapi nomor pengirimnya di sembunyikan. Berfikir itu hanya orang iseng karena isi pesannya kosong, ia segera menghapusnya.
Tring! Bunyi pesan kedua muncul. Aksel ingin menghapusnya kembali namun memberhentikan ibu jarinya tepat diatas layar bergambar bak sampah setelah membaca preview pesan tersebut.
...‘Dokumen pendukung ada didepan rumah anda, dari Anonim.’...
Aksel cukup heran, si pengirim mengaku Anonim dan mengirimkan dokumen pendukung. Hal itu secara tidak langsung mengkonfirmasi bahwa ia adalah orang yang sama dengan orang yang mengirimkan surat di kotak saran.
“Siapa orang ini?” tanya Aksel dalam hati.
“Pak? Pak Aksel?” panggil Dino.
Aksel melirik Dino sembari memasukkan ponsel ke saku celana, “Apa?”
“Habisnya Pak Aksel melihat ponsel dan diam saja. Bagaimana Pak? Apa kita langsung gledah Lippo untuk mencari bukti? Atau bagaimana Pak?”
“Nanti dulu, jangan terburu-buru. Ada satu hal lagi yang harus aku pastikan sebelum menggeledah Lippo,”
“Carilah dokumen pendukung lain Dino.” imbuh Aksel.
“Baik Pak!” Dino membungkuk, lalu berjalan keluar ruangan.
“Anonim, kau itu siapa? Apa kau juga punya dendam terhadap Lippo, sama sepertiku?” ujar Aksel dalam hati melihat keluar jendela.