
Setelah luka di tangan Vincent diobati, Bu Roman selaku wali kelas 1-B ingin menelfon orang tua Vincent.
“Bu jangan telfon Papa," ujar Vincent menarik baju Bu Roman.
“Loh kenapa? Apa mau Mama saja yang datang ke sekolah?” tanya Bu Roman.
“Jangan Jane! Aku tidak bisa membayangkan jika dia heboh di sekolah!” ujar Vincent dalam hati memejamkan mata.
“Aku mau telfon supir saja, soalnya Papa sama Mama sibuk. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka,” jawabnya tersenyum polos.
Melihat wajah anak kecil tersenyum polos, serta matanya yang berbinar membuat hati Bu Roman tersentuh. Dia tidak menyangka ada anak yang bersikap dewasa begitu, meskipun sebelumnya dia menangis memanggil-manggil ibunya.
“Vincent tahu nomor Pak sopir?” tanya Bu Roman berjongkok, hingga sejajar dengan Vincent yang duduk di kursi.
"Iya,” jawab Vincent.
Bu Roman pun memberi handphone padanya. Lalu dengan segera dia mengetik dan menelfon nomor Pak Setyo.
Di kehidupan sebelumnya, Antonio memang mudah menghafal nomor, karena jika menyimpan kontak sangat berbahaya ketika dia masih berada di tim A.
“Pak jemput aku di sekolah,”
“Baik Tuan Muda.” ucap Pak Setyo dari telepon.
Setelahnya Vincent mematikan telepon, dan langsung menghapus riwayat panggilan dari handphone Bu Roman.
Tok! Tok! Pintu ruang UKS diketuk. Bu Roman berjalan ke arah pintu, begitu membukanya yang mengetuk pintu adalah Bu Linda membawa tas Vincent.
“Guru itu meminta guru lain membawakan tasku rupanya.” ujar Vincent dalam hati.
Setelah menyerahkan tas Vincent pada Bu Roman, Bu Linda hanya melirik sekilas pada Vincent yang duduk di kursi, kemudian pergi tanpa bertanya apa pun padanya.
“Lirikannya menyebalkan, atau aku singkirkan dia saja seperti J*l*ng Dita itu?” ujar Vincent dalam hati.
“Tidak usah deh, toh dia tidak ada hubungannya denganku,” lanjutnya membatin.
“Vincent, mau menunggu supir di tempat tunggu?” tanya Bu Roman menoleh kebelakang.
“Iya.” jawab Vincent turun dari kursi.
Mereka berdua berjalan ke area depan sekolah, tempat biasa anak-anak menunggu jemputan. Tidak disangka ternyata mobil Toyota Alpard hitam telah menunggu tepat di depan.
“Oh itu sudah datang!” seru Vincent.
“Wah cepat sekali.” pikir Bu Roman tercengang.
“Ibu guru mana tasku?” tanya Vincent.
“Oh, ini.” Bu Roman memberikan tas berwarna hitam bergaris biru pada Vincent.
Setelah menerima tasnya dan berpamitan, Vincent naik kedalam mobil, lalu mobil itu pergi meninggalkan halaman sekolah. Terlihat jauh di salah satu sudut jendela kelas yang sekitaran bingkainya di cat biru, seorang gadis kecil dengan mata sembab mengintip.
“Vincent, maafkan aku, tapi jika kau pulang aku tidak punya teman dikelas.” ujarnya dalam hati.
“Hanna!” bentak Renata.
Hanna yang sedang mengintip jendela pun perlahan dengan takut menoleh, ia dengan jelas melihat kemarahan dari sang ibu.
“Ya Mama?” tanyanya lirih.
“Mulai sekarang kau tidak akan satu kelompok dengan Vincent! Kau akan dipindah kelompok! Mengerti?!” tanya Renata menentang kedua tangan di pinggang.
“Ya.” jawab Hanna menundukkan kepala.
“Apa mereka mau menerimaku? Temanku satu-satunya 'kan hanya Vincent.” ujar Hanna dalam hati melirik kursi teman-temannya yang secara kebetulan juga melirik ke arah dirinya.
“Sepertinya aku akan sendiri lagi.” lanjutnya membatin, mengalihkan pandangan ke sepatu pantofel hitamnya.
Di dalam mobil, Pak Setyo bertanya apakah mereka akan langsung ke kediaman utama atau ke tempat lain. Tempat lain yang dimaksud olehnya adalah gedung utama Xendra Grup, karena sebelumnya Wim memberi mandat padanya jika Vincent ingin pergi ke tempat lain, maka dia harus mengantarnya ke gedung utama Xendra Grup.
“Bukankah sebelumnya aku dilarang mampir-mampir ya?” pikir Vincent heran.
“Jangan ke rumah Pak, ke Hutan Klausal.” jawabnya datar memandang ke arah Pak Setyo lewat kaca spion tengah.
“Baik Tuan Muda.” sahut Pak Setyo.
Dia sebenarnya ingin menanyakan alasan Vincent pulang cepat dan kenapa dia ingin ke wilayah itu, tapi dia tahu posisinya yang hanya seorang supir, dirinya tidak ada hak untuk bertanya.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di depan gerbang.
“Pak nanti datang setelah aku telfon ya,” pesan Vincent turun dari mobil.
“Baik Tuan Muda.” ujar Pak Setyo, kemudian melajukan mobil meninggalkan Vincent.
Alasan dia tidak pulang ke rumah adalah:
-Pertama, untuk melampiaskan emosinya dengan latihan menembak.
-Kedua, ada Jane di rumah, jika dia pulang awal dan Ibunya melihat tangannya terluka, dia pasti akan heboh dan asal memberi tahu pada Wim.
-Ketiga, mengetahui pelakunya adalah Renata, besar kemungkinan Wim akan melakukan hal yang sama pada Lippo seperti halnya Buston, itu tidak boleh terjadi.
-Keempat, meski sama-sama konglomerat, dia tahu betul seperti apa itu Lippo. Jadi dia ingin hanya dia yang menghancurkan Lippo. Wim dan yang lainnya, dia melihat mereka semua hanya sebagai Pion.
Sesampainya di area menembak, ketika Vincent hendak mengambil peralatan menembak dia baru sadar bahwa White Krisan dalam keadaan terkunci.
“Aku lupa, kuncinya 'kan dibawa Justine!” teriaknya memegangi kepala dengan kedua tangan.
Dia pun menjatuhkan diri ke tanah, memandang langit biru kota Yarden. Meski tidak dapat masuk, dia membawa pistol Five-seveN Mk3 MRD Black yang diberikan oleh Wim di dalam tasnya.
Vincent bangkit, lalu mengambil pistol itu. Setelah dicek pelurunya masih dalam keadaan penuh.
“Tidak bisa masuk pun masih ada 20 peluru.” monolognya memandang pistol itu.
Dia berdiri dan berjalan ke target tembakan, begitu dia berdiri, bersiap akan menarik pelatuk, cahaya merah tiba-tiba bersinar terang menyilaukan mata.
“Apa ini silau sekali,” ujar Vincent dalam hati menutup kedua mata, refleks menurunkan pistol miliknya.
Setelah dirasa cahaya merah terang itu menghilang, perlahan dia membuka mata. Begitu kedua matanya terbuka, ada sesosok wanita yang tidak asing tengah melayang tepat di depannya. Jaraknya sangat dekat, bahkan terlalu dekat yakni matanya langsung menatap mata merah wanita itu.
“Bell?”
Wanita itu lantas cekikikan seperti hantu, lalu menarik wajahnya menjauhi Vincent. Setelahnya tertawa terbahak-bahak dan nyaring, sehingga yang mendengarnya bisa merinding.
“Kau bisa mengingat'ku Antonio?” tanya Bell tertawa sembari menurunkan ujung kakinya ke tanah.
Vincent mengernyitkan kedua alis, “Tentu saja, kau bisa datang kedunia rupanya. Aku pikir kau hanya menjerat jiwa orang mati seperti'ku untuk kau permainankan,”
Bell terkekeh, berjalan mendekati Vincent. Lalu ia mendongakkan wajah kecil bocah laki-laki yang lebih pendek darinya itu ke atas.
“Jahatnya mulutmu itu. Kau tidak bertanya kenapa aku datang menemuimu?” tanya Bell cemberut.
Melihat ekspresi wajah Bell yang cemberut, seketika mengingatkan dia pada Jane. Dari pandangan mata hingga gerakan bibir yang di manyunkan kedepan, semuanya sama persis.
“Jangan-jangan Jane itu Bell?!” terka Vincent dalam hati.
Bell tertawa terbahak-bahak lalu melepaskan dagu Vincent, “Bukan! Aku bukan ibumu!”
Mendengar itu, Vincent terheran. Kenapa Bell bisa mengetahuinya? Dirinya bahkan tidak membuka mulutnya sama sekali.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya refleks.