I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 16



Di pagi hari yang cerah dan tenang...


"Kalle Henningson, Anda diduga melakukan penggelapan dana, semua dokumen serta arsip disini akan kami sita!" ujar polisi menunjukkan surat penggeledahan dan penyitaan.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, gedung Buston tiba-tiba didatangi oleh beberapa pihak kepolisian dengan seorang jaksa wanita yang berpakaian serba hitam, seolah ia baru saja menghadiri acara pemakaman, atau akan menghadiri acara itu.


Kalle Henningson—CEO Buston—berusaha menghentikan para polisi yang berusaha menyita semua dokumen untuk mencari barang bukti.


"Tung-tunggu! Kalian tidak bisa melakukan ini! Letakkan dokumen itu!" bentak Kalle pada salah satu petugas polisi yang membawa kotak berisi penuh akan dokumen.


"Pak Kalle! Jika Anda menghalangi penyelidikan kami, berarti laporan itu memang benar adanya!" bentak balik sang jaksa, Ellie.


"Tidak ada! Buston itu bersih! Penggelapan dana apanya?! Kau dapat laporan dari mana? Atas dasar apa?!" tanya Kalle dengan nada tinggi menunjuk-nunjuk wajah Ellie. Sikapnya itu sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang dengan jabatan tinggi seperti CEO.


Ellie hanya menghembuskan napas kasar. Dia tidak mau berdebat dengan pria di depannya ini. Dirinya juga sudah sejak lama mencurigai Buston, tapi karena tidak ada bukti menyulitkannya membongkar kebusukan Buston.


"Kenapa dia berani melaporkan Buston langsung padaku? Dia pasti sudah menyeledikinnya lebih dahulu, dasar." ujar Ellie dalam hati tersenyum miring.


Setelah semua berkas sudah dibawa, beberapa petugas polisi serta Ellie pergi meninggalkan Kelle yang marah-marah sendiri seperti orang gila.


"Sial! Siapa yang melapor?! Siapa?! Jawab! Apa kalian tidak punya mulut?!" tanya Kelle pada karyawannya yang tertunduk.


Para karyawan hanya diam. Mereka juga tidak tahu menau jika akan didatangi oleh pihak berwajib semendadak dan sepagi ini. Jadi mereka tidak punya cukup waktu untuk menyembunyikan berkas-berkas yang besar kemungkinannya akan menjadi barang bukti.


Beberapa waktu kemudian, tanpa perlu waktu yang lama, berita tentang penggeledahan Buston dan kecurigaan mereka melakukan penggelapan mMenyeruap di berbagai media.


Mulai dari koran, papan berita di atas gedung hingga televisi serta internet. Tidak hanya itu, mereka juga diduga melakukan monopoli pada wilayah Gangnam.


Hal itu membuat saham Buston yang tadinya bernilai tinggi langsung anjlok, bagai dari atas awan langsung terjun ke dasar jurang. Banyak para pemegang saham minor yakni masyarakat kecil kehilangan uang mereka dengan kejatuhan harga saham Buston secara drastis.


"Mereka sudah menerima sedikit hadiah Anda Tuan Wim," ucap Endrew pada Wim yang menonton berita di ruangan Creative Crew.


Wim tidak berbicara apa pun. Bibir tipisnya hanya menyunggingkan senyum manis melihat berita yang di matanya sangat membahagiakan itu.


Disisi lain...


Vincent sedang berada di ruang tengah bersama Abraham.


"Entah kenapa aku ingin melihat TV." ujar Vincent dalam hati.


Dia pun mengambil remot TV dan menekan tombol on, semtika menyalakan beda berbentuk persegi panjang selebar 60 inchi itu.


Hal yang pertama dilihat olehnya adalah berita kejauhan saham Buston serta pihak kejaksaan yang menyelidiki mereka atas tuduhan penggelapan dana dan monopoli pasar.


"Wim kau! Sangat berguna! B*jing*n Buston menerima akibatnya!" ujarnya dalam hati, tanpa sadar dia tersenyum ke arah TV.


Abraham melihat cucunya yang masih kecil tersenyum ke arah TV, seolah mengerti bahwa itu merupakan berita bagus untuk Xendra.


"Dia seperti Wim saja," gumamnya tersenyum.


"Vincent, ayo main catur," ajak Abraham pada cucunya.


Vincent menoleh, lalu sedikit meledek Abraham, "Nanti Grandpa kalah lagi,"


Mendengar ledekan itu, Abraham hanya terkekeh. Kemudian dia mengeluarkan papan catur dari dalam laci meja didepannya.


Melihat Abraham tetap ingin bermain catur, Vincent pun meladeninya. Kakek dan cucu itu pun bermain catur, ditengah permainan terdengar suara gaduh di area depan, dan suara itu sangat familier.


"Viiiinnnceeeeeennnt!" panggil suara wanita dari arah pintu depan.


Sesosok wanita mengenakan mantel cokelat bermerk sangat terlihat bahwa ia dari kelas berlari kearah Vincent.


Wanita itu tidak lain adalah Jane. Dia memeluk putra kesayangannya itu dengan erat, karena baginya satu minggu tidak bertemu dengannya terasa seperti satu tahun.


"Mama kangen banget!" ucap Jane mencium wajah Vincent.


"Astaga." ujar Vincent dalam hati pasrah.


"Sudahlah Jane. Sudah cukup, kasian anakmu, lihatlah." ucap Abraham tertawa melihat wajah Vincent penuh dengan bekas lipstik merah ibunya.


"Ini saja tidak cukup! Malam ini Vincent tidur sama Mama ya?" tanya Jane melepas pelukannya.


"Tidak mau," tolak Vincent.


"Jahatnya, Mama 'kan kangen!" rengek Jane.


"Kan mulai lagi dramanya!" ujar Vincent dalam hati kesal.


"Mama ada oleh-oleh untuk Vincent! Mama mampir dulu ke Paris untuk membeli ini!" Jane menunjukan setelan baju Gucci.


Kemudian dia mengeluarkan map cokelat dari tas Channel miliknya lalu memberikannya pada Abraham. Dengan senyum di wajah Abraham, ia menerima map itu.


"Itu apa?" tanya Vincent dalam hati melihat map cokelat itu begitu mencurigakan.


Belum sempat ia menanyakan apa isi map cokelat itu, Jane sudah menggendongnua masuk ke dalam kamar. Sesaat dia melihat Abraham mengeluarkan sedikit dokumen dari map itu, terlihat di ujung bagian atas seperti sebuah logo bank.


"Apa itu cek? Tapi cek tidak sebesar itu." duga Vincent dalam hati sebelum akhirnya tidak melihat Abraham lagi karena tertutup tembok.


"Mama itu apa?" tanya Vincent.


"Ini baju untukmu," jawab Jane mengeluarkan baju dari dalam tas berlogo Gucci itu.


"Bukan itu, tapi yang Mama berikan pada Grandpa,"


Jane tidak menggubris pertanyaan putranya. Ia terlalu bersemangat memakaikan baju baru untuk Vincent.


"Kau masih kecil Vin, mana mungkin kau paham dana taktis yang aku cairkan di Moscow sebesar $150.000.000 itu." ujar Jane dalam hati.


Karena Jane sama sekali tidak mendengarkan omongannya, Vincent berniat mencari jawaban dengan caranya sendiri dengan bertanya langsung pada Abraham atau pun Wim.


"Jika mereka tidak mau memberitahuku, aku akan mencurinya!" ujarnya dalam hati.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Wim mengetuk kamar Vincent yang terbuka sedikit itu. Dengan pakaian yang belum dipakai dengan benar, Vincent berlari menghampiri ayahnya.


"Papa!" panggilnya seraya merentangkan tangan.


Wim menerima pelukan Vincent, "Eh tumben meluk Papa? Kangen ya?"


Vincent tidak menjawab, hanya tersenyum. Sesekali matanya melirik map cokelat ditangan Wim. Jane pun menghampiri Wim, lalu melepas dasi suaminya itu.


"Apa kau kesusahan disana?" tanya Wim.


"Tidak, mereka hanya bertanya apakah kau dan aku sudah punya anak." jawab Jane tersenyum.


"Pemandangan macam apa ini," ujar Vincent dalam hati melihat kedua orang tuanya itu berciuman melepaskan rindu masing-masing.