
Saat Aksel sedang melihat rekaman yang berhasil dipulihkan, ponselnya berdering. Dia melihat layar ponsel, ternyata Dino-lah yang meneleponnya.
“Apa No?” tanya Aksel sesaat setelah mengangkat telepon.
“Anda dimana Pak? Tumben belum berangkat? Biasanya Anda jam 6 sudah dikantor?”
Mendengar pertanyaan Dino, Aksel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menunjukan pukul 07.30.
“Hah?! Sudah jam segini?!” ujarnya terkejut dalam hati.
“Aku siap-siap dulu Dino!” setelahnya ia menutup telepon.
Setelah bersiap-siap dengan waktu secepat mungkin, Aksel berangkat bekerja dan tiba di kantor pukul 07.58 pagi. Terlambat dua menit saja saat absen, sudah dipastikan ia pasti diejek oleh bawahannya, karena selama ini ia tidak pernah sekalipun terlambat.
“Bapak sudah tiba?” tanya Dino sembari tersenyum masuk ke ruangan Aksel.
“Ya, ada perkembangan?”
Dino mengeluarkan kertas dokumen, meletakkannya diatas meja Aksel, “Sepertinya dengan ini kita bisa menggeledah serta memriksa Lippo Pak.”
Membaca kertas di depannya, Aksel pun tersenyum, “Wah Dino, kau pintar ya. Keluarkan surat penggeledahan untuk Lippo.”
Pagi itu, Badan Pengawasan datang ke gedung Lippo dengan membawa surat penggeledahan.
Kabar itu sampai di telinga Vincent yang tengah berada di ruangan Creative Crew.
“Rencana Anda berhasil Tuan,” ujar Daniel.
“Tapi aku tidak yakin Paman,”
“Tidak yakin bagaimana?” sahut Justine dari belakang.
“Ya tidak yakin saja,” ujar Vincent, kemudian dia duduk disamping Daniel.
Dia ikut melihat layar monitor server Daniel, “Apakah hanya Hutan Klausal, hutan dengan kepemilikan pribadi Hermentsmith Paman?”
“Kenapa tiba-tiba bertanya itu?” tanya Daniel heran.
“Vin, Kau itu hobi sekali mengalihkan topik pembicaraan ya," sahut Justine.
“Bukan mengalihkan, aku hanya tanya kok, tidak boleh?”
“Jika hanya hutan Klausal yang ada dibawah kepemilikan Xendra, lalu hutan mana yang disebut Bell dulu?” ujar Vincent dalam hati.
Dia mengingat perkataan Bell, jika dirinya akan bertemu tim A di hutan atas kepemilikan Hermentsmith.
“Tuan Vincent juga hobi melamun Ketua,” timpal Daniel.
Vincent terkekeh, “Aku tidak melamun Paman Daniel, hanya sedang berpikir saja.”
“Hei semua lihat kemari!” seru Hermit.
Kerena seruan Hermit, sontak seluruh anggota tim Bruth menoleh ke arahnya. Kemudian mengganti siaran televisi yang sebelumnya menyiarkan acara tidak jelas ke channel berita.
Didalam berita itu, menyiarkan Lippo yang diperiksa oleh Badan Pengawasan karena diduga melakukan kecurangan dalam pembelian saham minor lewat aplikasi online.
Semua orang di ruangan itu tertawa, Vincent pun hanya tersenyum. Meski usahanya berhasil membuat Lippo dilirik oleh Badan Pengawasan, namun didalam hatinya ia meragukan kemampuan Aksel.
“Diperiksa saja tidak akan mampu membuat Lippo tunduk padamu Aksel, apa kau bisa membuktikan surat yang ku kirimkan padamu serta dokumen pendukung itu?” tanya Vincent dalam hati.
...******...
[Ruang Interogasi Badan Pengawasan]
Aksel sebagai pimpinan Badan Pengawasan duduk berhadapan dengan Fey sebagai pemegang saham terbesar sekaligus CEO Lippo.
Aksel membuka pertanyaan, “Anda tahu kenapa Anda sekarang duduk disini?”
“Aku baru tahu, Badan Pengawasan memiliki ruangan seperti kepolisian saja. Ruang interogasi ya?” ujar Fey sendiri, tidak menjawab pertanyaan Aksel.
“Saudara Feyn Fasterholdt!” panggil Aksel dengan nada sedikit tinggi, dia kesal CEO Lippo itu mengabaikan pertanyaannya.
Fey dengan santai menyahut, “Ya?”
“B*jing*n ini kurang ajar sekali!” ujar Aksel didalam hati kesal setengah mati dengan sikap Fey.
Dia pun menarik napas, lalu menghembuskannya, mencoba mengatur kesabarannya yang mulai habis.
“Saudara Fey, Anda tahu kenapa Anda sekarang disini?” tanya Aksel mengulangi pertanyaannya diawal.
“Ya, kalian Badan Pengawasan mencurigaiku bukan? Manipulasi, kecurangan atau semacamnya, terserahlah. Lakukan sesuka kalian agar tidak makan gaji buta,” jawab Fey menatap Aksel dengan tatapan merendahkan.
Menerima tatapan itu, Aksel yang sedari tadi mencoba bersabar menghadapi pemimpin Lippo itu pun tersulut emosinya.
Berani-beraninya pria itu merendahkan dirinya yang seorang pemimpin Badan Pengawasan. Padahal jika terbukti, Lippo bisa di bubarkan oleh Badan Pengawasan. Meski perlu persetujuan dari Anggota Dewan, karena Badai Pengawasan berada dibawah naungan Dewan Rakyat.
Sorot mata merendahkan dari iris berwarna biru itu mengingatkan Aksel akan kakaknya, Antonio.
“Kakak apa kau selama hidup, selalu dipandang rendah oleh B*jing*n ini?! Kenapa saat hidup, kau masih saja tunduk padanya?!” ujar Aksel dalam hati, tangannya yang memegangi dokumen mulai menekuk kuat.
Melihat gesture tangan Aksel yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan amarah, Fey tersenyum.
“Kenapa Anda marah, wahai pemimpin Badan Pengawasan yang terhormat?” tanyanya dengan nada mengejek.
Aksel tidak menggubris ejekan Fey, dia bertanya kembali seraya menatap tajam pada CEO Lippo itu.
"Anda sedari tadi sangat santai, apakah Anda telah menyiapkan pembelaan?”
Hal itu membuat Aksel mulai kehabisan kesabaran. Dia kembali menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
“Saudara Fey, jangan terus bertele-tele! Jangan dengan serius!"
Fey yang sebelumnya duduk dengan meletakkan kedua tangannya dimeja, kini menyadarkan punggungnya ke senderan kursi, kemudian menghadap ke langit-langit ruangan.
“Sekarang begini saja, kenapa Anda tidak tanya ke pegawai saya? Jika perlu gledah semua yang ada di gedung Lippo untuk membuktikan tuduhan Anda pada saya, bagaimana? Bukankah ini yang kalian inginkan?"
Aksel menyahut, “Pihak kami sedang menggledah ke kantor Anda,”
"Baguslah,” ujar Fey, kemudian mengalihkan pandangannya ke Aksel, “Selamat bekerja."
“Selama masa penyelidikan, Anda dilarang meninggalkan ruangan ini.” ucap Aksel beranjak dari kursi, meletakkan surat penahanan Fey selama 1 hari.
Fey langsung menyambar kertas itu, membacanya, kemudian memandang Aksel. Sebaris senyum lebar terbentuk di wajah Fey, sangat jelas itu adalah senyum ejekan untuk Aksel.
“Baiklah,” ujarnya singkat.
Aksel berjalan meninggalkan Fey di ruang interogasi. Dia berjalan dengan kesal, tangannya terus mengepal sepanjang perjalanan. Saat sampai, di ruangannya, ia langsung memeriksa berkas yang dikirimkan anonim.
“Ini hanya pendukung, harus ada rekam jejak untuk menguatkannya. Dino aku harap kau menemukannya disana.” ujar Aksel didalam hati menaruh harapan pada bawahannya.
[Disaat yang sama, di Gedung Lippo]
Tim yang dipimpin oleh Dino sedang melakukan penggeledahan serta pencarian barang bukti di gedung utama Lippo.
“Bagaimana? Apa kau temukan sesuatu yang mencurigakan?” tanya Dino berbisik pada salah satu rekan timnya, Haka.
“Tidak Pak Dino, dokumen mereka selaras dengan rekam jejak,” jawab Haka dengan juga berbisik.
Rekan tim Dino yang lain masuk kedalam ruangan tempat Dino dan Hakka berada.
“Komputer di ruangan keuangan pegawai semuanya baru Pak, sama sekali belum pernah digunakan,” lapor Rudi berbisik pada Dino.
“Benarkah? Kenapa bisa seluruhnya baru?”
“Mereka mengatakan jika terkena malware dan virus yang merusak semua dokumen, lalu dengan sangat terpaksa mengganti seluruh komputer Pak,”
Mendengar itu Dino menutup mata untuk sesaat, ia berpikir itu terlalu kebetulan. Kebetulan yang sangat pas.
“Mereka cepat sekali bertindak untuk menghilangkan barang bukti,” ujarnya dalam hati.
“Kau periksa disini, aku akan ke ruangan keuangan pegawai,” ujar Dino pada Rudi.
Rudi mengangguk lalu bergabung dengan Laurent, Pan, dan Lewi. Sedangkan Dino pergi menemui pemimpin keuangan pegawai.
Keuangan pegawai tidak hanya mengatur tentang keuangan Lippo; namun juga segala saham yang dijual oleh mereka di pasar saham.
“Anda dapat memberi bukti jejak virus? Data yang rusak akibat virus, meski rusak ada jejaknya,” tanya Dino selidik pada Kristine.
“Maaf kami tidak bisa memberi bukti karena semua komputer telah dihancurkan, karena takut menyebar ke komponen lain dan merusak dokuman lain." jawab Kristine tenang.
Mendengarnya Dino semakin curiga. Namun, meski ia curiga, dengan tidak adanya bukti, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu Dino pun berjalan kembali menuju ruangan tempat timnya berada.
Ketika ia masuk, dirinya melihat keempat rekannya tengah berbincang dengan serius satu sama lain.
“Jangan katakan, jika mereka juga tidak menemukan apa pun,” ujar Dino didalam hati berjalan menghampiri rekan timnya.
“Bagaimana?”
Mendengarnya, Laurent dan ketiga rekannya menoleh, lalu menggeleng bersamaan. Menunjukkan bahwa tidak ada barang bukti sama sekali.
"Usaha kita sia-sia Pak, kita tidak bisa menjerat Lippo ke pengadilan." ujar Dino dalam hati, menghela napas panjang.
Kemudian dia mengajak keempat rekannya kembali, "Ayo ke kantor Badan Pengawasan."
Keempat rekan Dino menggangguk. Mereka berlima pergi meninggalkan kantor Lippo dengan tangan kosong.
Sepanjang jalan, mobil yang di tumpangi mereka berlima sangat sunyi. Tidak ada yang berbicara, sampai akhirnya Lewi membuka pembicaraan.
“Pak Dino, bukankah ini terlalu kebetulan? Semua berkas hilang, terlalu mencurigakan.”
“Memang, mereka licik sekali. Selain itu juga sangat cepat, gila!” timpal Pan.
Laurent yang duduk ditengah pun menimpali, "Namanya perusahaan konglomerat, mereka pasti punya tim pembersih seperti tim Perencanaan Masa Depan milik Buston Grup,”
"Apa hubungannya ini dengan tim itu?" tanya Dino.
"Begini Pak Dino, itu hanya kamuflase belaka. Mereka tidak bekerja murni di perusahaan, tapi bekerja dibalik bayangan. Dengan kata lain mereka menjalankan pekerjaan kotor.” jawab Haka tanpa menoleh, pandangannya tertuju pada jalanan depan, fokus menyetir.
Dino cukup terkejut mendengar itu, dirinya baru tahu jika sebuah perusahaan mempunyai sejenis tim yang bertugas melakukan pekerjaan kotor.
“Apakah pekerjaan kotor itu termasuk menyingkirkan? Seseorang atau kelompok? Menyingkirkan disini maksudnya—”
“Membunuh, benar bukan Pak Dino?” tanya Laurent memotong ucapan Dino.
Dino tidak menjawab. Pandangan matanya yang tidak berkedip pada Laurent, membenarkan hal yang baru saja diucapkan oleh Laurent.
“Mereka akan membunuh segala yang menghalangi, mengganggu atau berpotensi mengancam perusahaan tuannya,” lanjut Laurent.
Dino tidak berbicara kembali. Dia mengalihkan pandangan ke jalanan depan. Saat ini yang muncul dipikirannya adalah sang atasan, yakni Aksel.
“Jika begitu, bukankah Pak Aksel dalam bahaya?!” ujarnya dalam hati.