I Am The Villain In This Life!

I Am The Villain In This Life!
Chapter 39



[Keesokan harinya]


Kuning kehitaman dengan ornament bercak hitam bak membentuk danau, air hujan yang merembes pun menetes dari dalamnya. Begitulah penampakan langit-langit dari bangunan yang digunakan tim A sebagai markas.


Bangunan yang tidak layak jika disebut markas. Sejauh mata memandang, dinding lembab bangunan lima kali enam meter persegi ini dihiasi oleh lukisan abstrak. Sayangnya itu tidak dilukis oleh pelukis, melainkan jamur.


Vilius, sang peretas tim A tengah duduk di kursi putar yang sudah tidak dapat berputar lagi. Bantalan tulang ekornya terasa amat sakit, karena busa di kursinya sudah kempes.


"B*ngs*t! Sakit sekali p*nt*tku!" gerutunya dalam hati.


Dengan menahan rasa sakit, dirinya tetap menjalankan tugas. Dia berusaha membobol sistem keamanan Badan Pengawasan. Tidak hanya itu, dirinya juga harus membobol data server telekomunikasi.


"Kenapa sih tugas berat ini hanya dipikul olehku saja?!" keluhnya dalam hati.


Sementara Vilius menjalankan tugas, Carlos memerintahkan anggota tim A lain untuk memeriksa mobil beserta senjata mereka.


"Baik!" seru serentak tim A.


Sementara yang lain melaksanakan perintah darinya, dia melihat punggung dua orang pria tetap di tempat, sama sekali tidak beranjak dari kursi. Mereka masih asyik memainkan permainan pacinko. Apakah mereka berdua tidak mendengar perintahnya karena larut dalam permainan?


Carlos menghampiri kedua orang itu, kemudian berseru, "Bersiaplah! Kita ada misi!"


Dua orang pria ini kemudian menoleh ke arahnya secara bersamaan. Begitu melihat tatapan mereka yang datar, dirinya langsung tau siapa kedua orang ini.


"Soren, Krok, bersiaplah! Kita ada misi!"


"Ya," balas malas Soren dan Krok. Keduanya lantas beranjak dari kursi, menuju lemari penyimpanan senjata.


Carlos menghela napas. Meski respon mereka sangat menguji kesabaran, dia sedikit merasa lega.


Mereka berdua melaksanakan apa yang ia perintahkan tanpa memantik api perselisihan, seperti kejadian di gedung Lippo dua hari lalu.


"Untunglah, tidak perlu ada perdebatan tidak berguna." ujarnya dalam hati.


Sementara itu di tempat Vilius. Alisnya bertautan hingga menjadi satu, bulir keringat dingin menetes di dahi. Dirinya berusaha memenangkan pertarungan sengit di hadapannya ini.


Kedua tangannya dengan cepat mengetik keyboard, mengimbangi kecepatan transmisi bahasa pemrogaman yang tertampil di layar monitor.


Setelah pertarungan yang sengit itu, Tak! Jari telunjuk Vilius menekan keras tombol enter.


"Akhirnya!" serunya penuh kemenangan dalam hati.


Di bukanya beberapa file kuning yang muncul di layar. Klik! Klik!


Alis Vilius yang sebelumnya bekerut hingga bertaut menjadi satu itu, kini terangkat bersamaan. Dirinya menemukan informasi cukup mengejutkan.


Dalam sistem kepegawaian Badan Pengawasan, ia melihat data pemimpin lembaga itu bernama Aksel. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan nama belakang sang pemimpin Badan Pengawasan.


...'Aksel Fernandez'...


"Apakah dia ada hubungannya dengan Antonio? Jangan-jangan dia anak Antonio?" terkanya dalam hati.


Namun sejauh yang ia tahu, Antonio tidak menikah, apalagi sampai mempunyai anak.


"Atau.. dia adik Antonio?" lanjutnya membatin.


Carlos melihat Vilius tertegun melihat layar monitor, membuatnya heran. Informasi seperti apa yang ia temukan hingga mampu membuatnya tertegun seperti itu?


"Vilius?"


"Astaga!" seru Vilius hingga melompat dari kursi. Dirinya amat terkejut karena Carlos memanggil seraya menepuk pundaknya.


"Kau kenapa? Sampai terkejut begitu?" tanya Carlos heran.


Vilius sendiri tidak menjawab. Dia memegangi dada kirinya, memastikan organ vital yang saat ini berdetak dengan kencang ini tidak tiba-tiba berhenti.


Melihat Vilius sangat terkejut, Carlos memberikan waktu agar dia sedikit tenang.


Setelah memastikan jantungnya tidak berhenti berdetak, Vilius menunjuk layar monitor dengan lirikannya.


"Kerja bagus Vilius." puji Carlos.


Mendengar respon Carlos yang biasa saja, membuat Vilius keheranan. Kenapa respon ketuanya hanya seperti itu?


"Responmu hanya begitu?" tanyanya mengangkat satu alis.


Mendengar pertanyaan Vilius, Carlos heran. Memangnya apa yang salah dengan responnya? Apakah Vilius ingin dipuji lebih lagi?


"Memangnya kenapa?" Carlos balik bertanya.


Vilius menghela napas. Dia melepas mouse yang ia pegang, mengarahkan ujung jarinya ke sebuah nama.


"Bukankah nama ini tidak asing?"


Carlos melirik layar monitor Vilius, "Fernandez? Memangnya kenapa?"


"Kenapa? Bukankah itu nama belakang Antonio?"


"Lalu?"


Mendengarnya, Vilius memejamkan mata seraya menarik napas dalam. Rasa sesak mulai terasa mengganjal di dada. Bagaimana bisa Carlos tidak mengerti ke arah mana pembicaraanya?!


"Carlos? Kau sedang mengujiku?"


Carlos sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Vilius. Dia pun balik bertanya, "Menguji bagaimana?"


Kembali mendengar jawaban yang malah balik bertanya, kesabaran Vilius yang sejatinya hanya selebar tisu pun langsung robek.


Dia menarik pistol yang ada di saku celananya, mengarahkan ujung dari senjata api itu tepat di depan dahi Carlos.


"Kau sedang mengujiku ya?" tanya Vilius dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.


Napas Carlos seketika tercekat di tenggorokan tatkala rasa dingin dari mulut pistol Vilius, terasa di permukaan dahinya.


Dengan berusaha bernapas dengan tenang, ia mencoba memilah-milah kembali. Mungkin salah satu ucapannya membuat Vilius kesal.


"Ah Fernandez ya," ujarnya dalam hati.


Mungkin Vilius mencoba menanyakan, apakah pemimpin Badan Pengawasan itu ada hubungannya dengan Antonio. Karena melihat nama belakang mereka sama. Padahal setahu dirinya, di negeri ini banyak orang yang memiliki nama serupa.


"Kau berpikir dia ada hubungan darah dengan Antonio? Vilius, Fernandez itu nama pasaran, dan Antonio sendiri anak dari panti asuhan. Dia tidak punya saudara, kecuali diatas kertas yaitu Tuan Nicolas." jawabnya dengan sejelas mungkin.


Meski mendengar hal itu dari mulut ketuanya, tidak serta merta meredakan pertanyaan di benak Vilius. Dia tetap percaya Aksel dan Antonio mempunyai keterkaitan.


Dirinya pun menurunkan pistol, memasukkan kembali ke saku celana. Kemudian ia mengklik sebuah file.


Muncul foto wanita cantik berambut pirang panjang, dengan kedua mata biru, bak permata yang bersinar menghiasi matanya yang ikut tersenyum kearah kamera.


"Siapa dia?" tanya Carlos seraya menunjuk foto wanita di layar monitor Vilius itu.


"Rebecca Sen,"


Tangan Vilius mengarahkan kursor ke sebuah file. Klik! Seketika muncul data dari operator setempat yang berhasil ia bobol.


"Mereka beberapa kali berhubungan melalui pesan singkat dan telepon, aku menduga mereka sepasang kekasih."


Carlos tersenyum, kemudian menepuk pundak Vilius, "Kau sudah dapat lokasi Rebecca?"


Kusor pun beralih ke file lain, Klik! Muncul peta dengan titik biru menyala.


"Target ada disini," ujarnya menunjuk titik biru itu.


Carlos tersenyum, kemudian berbalik badan, lalu bertepuk tangan.


Tim A yang mendengar tepuk tangan ketuanya pun reflek menoleh ke sumber suara.


"Tim A, mari berburu mangsa segar!" seru Carlos.