
Vincent membuka pintu tempat duduk disebelah kemudi seraya mengulurkan tangan, “Ayo Hanna,”
Dengan wajah yang nampak tertekan, Hanna turun dari mobil. Dirinya sadar tidak akan punya cukup uang untuk membayar harga sewa unit di apartemen itu.
Sedangkan Vincent, dengan senyum di wajahnya dia menggandeng Hanna untuk masuk.
Begitu memasuki gedung, Mereka berdua disambut oleh seorang resepsionis yang berpakaian rapih dan cantik.
“Selamat Datang Tuan Vincent, ada yang bisa saya bantu?
“Unitku,” sahut Vincent.
Sang resepsionis sudah mengerti apa maksud Vincent, dia segera memberikan sebuah kartu berwarna hitam padanya. Lalu Hanna tanpa basa-basi langsung bertanya pada resepsionis.
“Anu, maaf harga sewa unit disini berapa ya?”
Karena pakaian Hanna apa adanya, ada sedikit perasaan takut jika resepsionis itu akan memandang rendah dirinya. Tapi jika di rendahkan pun, ia juga tidak masalah, toh dia memang tidak punya uang. Yang lebih ditakutkan olehnya adalah harga sewa.
Diluar dugaan Hanna, sang resepsionis itu menanggapi dengan nada yang sopan dan ramah, bahkan memanggilnya dengan sebutan Nyonya.
“Baik, harga unit untuk lantai berapa Nyonya?”
“Nyo-nyonya?” ujar Hanna dalam hati.
Kemudian ia melirik Vincent, “Semakin tinggi lantainya, semakin murah bukan?” bisiknya
Vincent hanya menjawab dengan menganggukan kepala.
“Lantai atas,” jawab Hanna.
Resepsionis itu melihat layar monitor untuk sesaat, lalu kembali memandang Hanna.
“Untuk unit kosong ada di lantai 17, yakni unit nomor 17ABC dan penthouse. 17ABC untuk sewa perbulan, $2,800 dan Penthouse $100,000 per malam.”
Jeder! Bagai sambaran petir untuk Hanna. Itu jauh lebih mahal dari perkiraannya. Dia kira $2,500 namun ternyata $2,800!
Vincent menggandeng Hanna menuju lift, “Ayo.”
Di dalam lift, Hanna hanya diam hingga sampai lift terbuka. Tanpa bicara apa pun, Vincent menggandeng Hanna keluar.
Betapa terkejutnya dia ketika bukannya melihat koridor yang biasanya ada di apartemen, namun ruangan yang sangat luas. Seluas gedung apartement itu!
“I-ini penthouse?!”
“Iya, kau akan tinggal disini 'kan?” tanya Vincent tersenyum.
“Vin, aku kira kau membawaku ke lantai 17! Ini terlalu mahal. Meski aku kerja peruh waktu pun, aku tidak akan mampu membayarnya,”
Di pikiran Hanna, harga sewa penthouse saja berbeda dengan unit, yakni permalam seperti hotel. Dan yang paling tidak mungkin untuknya membayar adalah harganya $100,000 per malam!
“Jika satu bulan $300,000! Uang darimana aku?!” ujarnya dalam hati.
Vincent memegang pipi Hanna, “Kau bisa meringankan biayanya dengan membuat kesepakatan denganku,”
“Kesepakatan?”
“Kau hanya perlu membayar 10% dari $2,800 dan kesepakatannya kau hanya perlu mendukungku. Sudah itu saja,”
Hanna melepas pelukan Vincent, “Mendukung?”
“Iya, hanya itu saja. Kau—”
“Aku terima.” potong Hanna.
“Aku belum selesai bicara loh,”
“Vincent, Aku tahu kemana arah bicaramu, aku bukan anak kecil. Mendukungmu berarti melawan Lippo bukan?” ujar Hanna dengan wajah tergambar jelas sebuah kebencian pada keluarganya sendiri.
“Jawabannya sedikit keluar dari pertanyaan, tapi aku suka ekspresinya itu,” ujar Vincent dalam hati.
Hanna tidak menjawab, hanya memandang laki-laki yang lebih tinggi darinya itu dengan mata berkaca-kaca, sedetik kemudian tangisnya pecah.
Tanpa dijelaskan pun Vincent tahu jika Hanna sangat sakit hati dan membenci keluarganya atas semua perlakuan mereka.
Dia memeluk Hanna, “Maaf Hanna, aku tidak pernah tahu jika sesakit hati itu kau pada keluargamu, maafkan aku.”
Hanna menangis di pelukan Vincent, mengeluarkan semua emosi yang dia pendam bertahun-tahun pada keluarganya.
Dalam memeluk Hanna, Vincent tersenyum puas. Akting dan rencana yang dia susun berjalan mulus.
“Vincent, aku juga tidak akan mewarisi aset Lippo sedikit pun. Kakakku lah yang akan menerima semuanya, karena aku bukan anak sah Ayah,”
Vincent melepas pelukannya lalu mendudukan Hanna di sofa, “Apa maksudmu?”
“Kau, bukan hanya kau. Semua orang juga tidak tahu. Aku dan kakak beda ibu, dan anak sah ayah adalah kakakku.”
“Bagaimana kau bisa tahu itu? Keluargamu yang memberi tahumu?” tanya Vincent penasaran.
Sebenarnya Vincent sudah mengetahui hal itu, tetapi dia penasaran bagaimana Hanna bisa mengetahui kenyataan bahwa dia anak haram.
“Saat aku ke ruangan ayah, tidak sengaja aku menemukan berkas bahwa ayahku menikahi ibu karena ibu sudah mengandung 6 bulan, dan bayi itu siapa lagi jika bukan aku.” jawab Hanna lirih.
“Makanya, tanpa kau minta pun. Aku akan menghancurkan Lippo Vincent. Aku membenci mereka semua.” lanjutnya menatap Vincent dengan lekat.
“Aku tidak bilang menghancurkan loh,”
Hanna merengut, “Mendukungmu sama saja dengan menghancurkan Lippo!”
Vincent terkekeh, “Nanti aku jadi tokoh antagonis loh dimata keluargamu,”
“Aku tidak peduli,”
Mendengarnya Vincent tersenyum, kemudian melihat arlojinya, “Sudah hampir jam 12, kau ada kelas besok?”
“Besok kelas sore,”
“Jika begitu beristirahatlah, aku ada kelas pagi besok.” Vincent memberi kartu penthouse ke tangan Hanna lalu berjalan pergi.
Vincent keluar dari apartemen menuju mobilnya. Dia melajukan mobil menuju rumahnya, dengan tersenyum lebar. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak di dalam mobil, dia sudah tertular gilanya Bell.
“Benar kata Bell, di kehidupanku ini, mereka menaruh kepercayaan padaku. Jadi aku bisa memanfaatkan mereka!” monolognya seraya masih tertawa.
Hingga sampai di garasi rumah, dia keluar dari mobil dengan senyum terukir di wajahnya. Dia tidak masuk ke dalam rumah, melainkan menuju taman belakang.
Vincent duduk di pinggir kolam, melihat ikan emas yang berenang-renang dengan tenang. Di tengah dia melihat ikan, Justine menelepon.
“Aku sudah dapat berkasnya,”
“Wah, Paman memang hebat! Terima kasih,”
“Dari kecil kau tidak terduga ya Vin, bagaimana kau bisa tahu tentang semua itu?”
“Aku hanya memprediksi bukan tahu, memangnya aku cenayang apa. Aku tutup ya Paman,”
“Baiklah,” Setelah mendengar itu, Vincent langsung menutup sambungan telepon. Dia bangkit lalu berjalan masuk ke dalam rumah sembari bersiul.
Kini tim Bruth tidak lagi dipegang oleh Wim, melainkan langsung oleh Vincent. Tidak hanya itu, CEO resmi Xendra saat ini masih dijabat oleh Wim, maka Vincent bisa dibilang wakilnya.
Dia kerap mengikuti rapat dan urusan perusahaan. Para pemegang saham dan petinggi Xendra pun sudah cukup mengenal Vincent, apalagi semua usul serta solusi yang ia tawarkan selalu berhasil membawa Xendra ke tingkat lebih sukses.
Hal itu membuat ia mendapat kepercayaan dari para petinggi dan pemegang saham itu. Citra Vincent sebagai anak emas Xendra tidak hanya isapan jempol belaka.
Di lingkungan perkuliahannya pun, dia juga dikenal sebagai anak konglomerat yang sangat ramah, bergaul dengan semua orang, serta tidak pilih-pilih.
“Saran Bell 14 tahun lalu benar-benar bagus,” ujar Vincent dalam hati.