His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
sore tapi tidak sendiri



Langit masih cerah dan sore masih panjang ketika Rayya keluar dari walk-in closet. Ia memakai celana tiga per empat dan atasan kaus berlengan panjang, itu artinya ia berencana memasak. Rayya tidak mau kalau nanti tangannya terciprat apa pun terutama minyak atau cairan panas ketika masak. Eyang putri mewanti-wanti bahwa wanita itu harus bisa merawat tubuh. Menjaga keamanan ketika masak merupakan salah satu cara merawat tubuh.


Rayya melangkah ke dapur menghampiri kompor yang tadi ia nyalakan. Ramuan tersebut hampir mendidih. Tepat ketika ia melihat letupan pertama pada permukaan air, tangannya mematikan kompor karena menurut resep yang ia dapatkan, ramuan itu tidak boleh terlalu lama mendidih. Ia mengambil mug lalu menuang minuman itu ke dalamnya, menambahkan madu lalu membawa ke depan televisi.


Ia meraih sebuah remote di atas meja kemudian menyalakannya. Setelah beberapa kali mengganti saluran acara, ia meletakkan kembali ke atas meja dan mengambil mugnya. Perlahan ia membaui minuman itu sebelum pelan-pelan menyesapnya.


Rayya bukannya tidak menyukai kopi, ia cuma lebih memilih teh dan ramuan rempah-rempah seperti ini. Selain karena ia bisa melakukan banyak eksperimen-- membuat proses meraciknya lebih seru, ia bisa merasakan ragam manfaat dari sekadar menahan kantuk ketika meminum kopi. Kalau ditanya, Rayya mungkin ingin menjadi seorang artisan-- peracik minuman rempah dan berbagai teh daripada menjadi barista apalagi bartender. Dosanya sudah kebanyakan maka Rayya merasa tidak perlu menambahnya dengan meneguk alkohol.


Resep ramuannya beragam. Terkadang itu cukup sederhana, cuma menggabungkan kunyit serta asam jawa. Kadang ketika merasa kurang fit atau pegal-pegal, ia meningkatkan kombinasinya lebih menjadi lebih rumit seperti kunyit, daun salam, kayu manis, dan serai.


Asistennya pernah bergidik ketika disuruh mencicipi. Ia mengangguk, menggeleng, menggerak-gerakkan badan cuma demi menyelamatkan diri dari ramuan itu.


“Saya udah sering konsumsi  rempah-rempah dalam bentuk rendang, Miss,” tolaknya kemarin.


Rayya tidak percaya kalau pola pikir asistennya benar-benar ajaib. Ia menghela napas lalu kembali meminum ramuan di dalam mug. Apa sih yang membuat Shanaz takut? Rayya bahkan bisa meminum satu mug penuh, bukan cangkir, ini mug yang biasanya dipakai untuk meminum coklat panas. Kalau Rayya bisa meminum sebanyak ini, bagaimana bisa Shanaz melarikan diri ketika disuruh ikut minum? Lebih tidak masuk akal ketika asistennya itu membandingkan ramuan rempah dengan rendang!


Rayya mengamati pintu ketika seseorang menekan bel. Tidak lama terdengar seseorang menekan pin. Itu pasti asistennya. Wajar ia pulang tepat waktu karena memang bosnya ini bahkan pulang sejak makan siang tadi.


Ia tadi pulang lebih dulu karena merasa lelah. Memang pekerjaan yang menunggunya tidak terlalu banyak. Ia cukup menandatangi beberapa laporan mengingat pelimpahan jabatan sejak senin kemarin, namun batinnya luar biasa kelelahan karena adegan menye-menye yang disaksikannya tadi.


Shanaz menyapa manis sebelum melangkah ke kamar tamu. Rayya mengamatinya. Ia memang meminta Shanaz untuk sementara pindah ke sini. Sejak pernikahan mantan suaminya, Rayya beberapa kali merasa diserang kesepian. Ia berpikir betapa suram kehidupan masa depannya.


Ada banyak alasan kenapa Rayya memercayai Shanaz sejauh ini. Ia teringat kejadian saat itu, ketika pekan pertama asistennya diminta untuk menjadi sekretarisnya.


Hari itu menjelang makan siang, Rayya berbelok ke toilet. Bukannya tidak tersedia toilet di ruangannya, namun ia menyengaja menggunakan toilet karyawan sekalian untuk mengecek kebersihannya. Tepat ketika tangannya menyentuh kenop pintu, ia mendengar segerombolan pegawai yang masuk. Waktu mendengar namanya mulai disebut, ia memilih untuk diam lalu mencuri dengar obrolan mereka.


“Naz, gimana pengalaman jadi asisten Miss Queen?” tanya seorang wanita. Dari suaranya, Rayya menebak-nebak itu siapa. Ia ingat kalau beberapa hari ini Shanaz semangat makan siang karena setahunya, dari curhatannya, makan siang bersama para sekretaris adalah impiannya.


Shanaz itu pikirannya sederhana, waktu ditanya kenapa senang makan siang bersama geng cewek-cewek itu, dia bilang kalau jabatan sekretaris itu biasanya diberikan kepada para wanita cantik atau pria menarik. Maka, ia merasa termasuk kategori cantik ketika diberikan posisi menjadi seorang sekretaris. Berteman dengan wanita-wanita cantik juga sesuatu yang sayang untuk dilewatkan karena, prestisenya cukup menggiurkan.


Bayangkan kalau waktu sekolah dulu, bisa ikut gabung dengan geng penguasa sekolah, nah… seperti itu bayangan Shanaz mengenai geng para sekretaris di kantor ini.


“Udah dimarahin berapa kali sama Miss Queen?”


Rayya menahan kemarahan lalu menarik napas perlahan. Miss Queen itu cemoohan dari para tetua Busro. Mereka mengatainya karena Miss Queen itu memiliki dua arti. Pertama, bisa diartikan kalau Rayya itu adalah ratu, ratu kecil bagi keluarga Busro mengigat bagaimana Ibrahim Busro memperlakukannya sebaik mungkin bahkan melebihi kasih sayangnya kepada Daus.


Kedua, Miss Queen itu merupakan sindiran yang berarti miskin. Iya, kalau diartikan bersamaan, Miss Queen berarti Rayya itu ratu di keluarga Busro tapi dia (sebenarnya) miskin, rakyat biasa-- jelata, masyarakat kelas bawah yang cukup beruntung diadopsi Ibrahim Busro.


“Miss Rayya baik,” jawab Shanaz membuat Rayya mengernyit.


“Ih… kamu kok malah sok iye gitu?” cemooh salah seorang wanita.


Rayya tetap tenang mendengarkan percakapan tersebut.


“Apa kamu baru dikasih bonus gede makanya ngebelain Miss Queen?” selidik wanita yang tadi bertanya paling pertama.


“Nggak, bonus saya malah kena potong. Lha kemarin itu saya kan salah ngatur jadwal tapi, saya cuma kena marah nggak dipecat. Kan… itu artinya bos saya baik,” jawab asistennya lancar jujur dan berintegritas.


Hah!


“Kamu… takut ngatain bos kamu? Udah ngomong aja apa adanya, kayak kita-kita. Selama ini kan kita ngomong jujur soal atasan-atasan kita. Kamu nggak usah takut,” rayu salah seorang wanita di luar sana.


“Saya… nggak pura-pura, ini benar-benar pendapat saya. Miss Rayya benar-benar baik. Saya ini kerjanya lamban, tapi Miss Rayya masih mau pakai tenaga saya. Padahal kemarin waktu magang di departemen lain, saya udah kayak anak tiri, kayak upik abu-- kena marah, dikasih pekerjaan ini-itu. Begitu kerjaan banyak yang salah, saya kayak… nggak dianggap, kaya angin yang cuma dilewatin begitu, pokoknya diajak ngobrol pun nggak.”


Rayya mengingat waktu pertama kali asistennya di bawa ke ruangannya. Manajer personalia mengatakan kalau sekretarisnya mengundurkan diri, lagi! Ini adalah ketiga kalinya dalam bulan ini sekretaris Rayya mengundurkan diri. Ia lalu mengatakan kalau seperti itu terus, maka ia lebih baik tidak memakai sekretaris. Lagi pula selama ini Rayya pun bisa mengatur jadwalnya sendiri. Walau kadang ia dibantu Pak Handoko ketika memang benar-benar memerlukan pertolongan.


Ketika posisi itu kosong, Rayya melakukan banyak pekerjaan sendiri. Lebih lelah kalau Rayya harus berkali-kali mewawancara orang baru, mengajarkan ini lah itu lah, harus begini lah begitu lah, kemudian di ujung pekan, orang itu kewalahan, kelelahan dengan tumpukan kerja dan standar nilai dari Rayya. Maka, ketika Manajer Personalia mengantar Shanaz, Rayya tidak terlalu menganggapnya. Apalagi terdengar kabar kalau perempuan itu merupakan yang terburuk di angkatan kerja mereka.


Raya langsung paham, mereka menyengaja memberi Rayya asisten dengan kapabilitas rendah agar Rayya memecat perempuan itu. Kemudian, sesuai ucapannya, Rayya tidak akan memiliki sekretaris lagi dan perusahaan pun bisa akan bebas dari karyawan tidak kompeten. Kalau pun perlu membayar pesangon, maka kesalahan itu akibat Rayya, kan Rayya yang memecatnya.


Tapi, alih-alih didiamkan- berdiam diri, Shanaz tetap belajar. Meski tidak ada pekerjaan dari Rayya, perempuan itu tetap gigih mencari tahu. Shanaz mengaku kalau ia bukan dari lulusan sekolah sekretaris, ia bahkan belum mahir menggunakan aplikasi-aplikasi kesekretariatan, tapi dia mau belajar. Rayya diam-diam melihatnya belajar. Ketika di hari-hari kemudian ia pun masih melakukan kesalahan, dimarah-marahi tanpa ampun pun, Shanaz tidak bergeming. Ia tidak merengek, mengadu ke bagian personalia. Shanaz tetap bekerja sebaik mungkin. Tanpa drama, tanpa merengek-rengek.


Beberapa waktu lalu ketika Rayya bertengkar dengan Daus di ruangannya, Shanaz pun masih sibuk mengerjakan tumpukan pekerjaan. Rayya mendapatinya malah menggunakan earphone.


“Kamu mendengarkan lagu sambil kerja?” tanya Rayya waktu itu.


Asistennya menggeleng. “Saya cuma pakai earphone supaya saya nggak mendengar percakapan Miss sama Tuan Daus. Saya rasa Miss memerlukan privasi. Karena itu meski tidak mendengarkan lagu, karena saya masih harus mendengarkan kalau-kalau ada telepon masuk, namun saya nggak mendengar obrolan Miss dengan Tuan Daus,” jawabnya.


Rayya langsung mengerti pola pikir wanita itu. Meski pada dasarnya manusia memang punya rasa ingin tahu. Namun Ia bukan wanita yang kepo apalagi sok ingin tahu. setidaknya, wanita muda itu paham mana yang boleh ia dengar, mana bagian yang ia perlu jauhi. Setidaknya meski kinerjanya kurang mulus, namun dia itu karyawan yang tidak melulu kepingin tahu mengenai apa yang tidak seharusnya ia tahu. Lantas percakapan hari ini membuat Rayya semakin memiliki alasan untuk mempertahankan perempuan muda itu.


Ia bukan hanya tahu diri namun Shanaz juga tahu cara berterima kasih dan bisa dipercaya. Maka di hari-hari berikutnya Shanaz bukan hanya menjadi sekretaris namun juga asisten yang mengurusi segala keperluan Rayya baik di kantor maupun di luar kantor seperti saat ini.