
Rayya mengangkat tangan, meraih ponsel yang tergeletak di samping ranjang. Ia berusaha untuk meyakini diri bahwa jam digital pada layar ponselnya sudah benar. Ia terkesiap waktu mendapati kalau ini nyaris tengah hari.
Jam tidur biologisnya sedang kacau. Ia tidak baik-baik saja. Efek dari keributan kemarin membuatnya sulit untuk mengantuk, bahkan ia tetap terbangun sampai waktu shubuh tadi. Ia masih berdebat dengan diri sendiri beserta rencana-rencana masa depannya.
Ia menghela napas, kemudian menurunkan kaki. Perlahan ia lakukan peregangan. Otot tubuh bagian atas… bawah… oke, nyaris setiap bagian kaku. Begadang, sejak dari zaman dulu kala memang terkenal kurang berfaedah bahkan bisa menimbulkan penyakit pada tubuh. Setidaknya dalam kasus Rayya, ia merasa pegal-pegal… nyaris seluruh tubuh.
Rayya melangkah ke arah kamar mandi, membersihkan diri. Kemudian, ia mengeringkan tubuh dan setelahnya mengarah ke pintu lalu membukanya perlahan. Ia tidak menemukan siapa-siapa. Bibi sudah pasti libur. Namun Shanaz, yang seharusnya hobi mengudap di dapur pun tidak kelihatan. Apa mungkin ia sedang sibuk menonton drama di dalam kamar?
Ia kemudian melangkah keluar. Kalau dipikir-pikir, sendirian di tempat sepi begini membuatnya merasa sendu. Bukan mau mengeluh, namun nyatanya ia mengakui kalau Shanaz dan kebiasan berisiknya itu membuatnya merasa bahwa ia masih memiliki seseorang yang memedulikannya. Rayya membayangkan bagaimana kalau ia musti hidup sendiri di apartemen ini. Mengingat satu lantai itu merupakan properti milik perusahaan Ibrahim, demi keamanannya, Ibrahim Busro bertitah untuk mensterilkan lantai tersebut dari penghuni umum.
Ia mengambil mug kemudian membawanya ke mesin pembuat kopi. Tangannya meraih kitchen kabinet, membukanya secara cepat, kemudian menemukan berbagai macam kapsul berisi beragam serbuk minuman. Sepertinya, pagi menjelang tengah hari ini, ia tergoda untuk membuat lemon tea… latte. Iya, Rayya baru-baru ini menggandrungi krimer. Ia terpesona waktu melihat buih putih yang dikeluarkan oleh mesin kopi saat menggunakan kapsul krimer.
Ia kemudian menarik kursi, duduk di mini bar, kemudian melirik ke arah luar. Sepertinya Shanaz tadi sempat membuka tirai pintu balkon sebelum ia menghilang entah ke mana. Matanya menyipit ketika silau karena sinar matahari.
Rayya menatap ke arah pintu kaca. Pandangannya lalu beralih menatap kain tirai yang belipit-lipit di pinggir pintu. Ia ingat kalau… meski terlihat biasa, namun biaya untuk membuat gorden yang katanya dijalin dari kain organik, ramah lingkungan, ramah pada bumi, nyatannya memiliki harga yang sangat tidak ramah di dompet.
“Itu… sama dengan gaji saya setengah tahun,” gerutu Shanaz ketika ia mengkonfirmasi pembayarannya. Wanita tersebut bertanggung jawab penuh ketika apartemen ini direnovasi, sebelum bosnya itu melangsungkan pernikahan tahun lalu.
Rayya mengusap pelipis. Kalau dipikir-pikir, ia berhutang banyak kepada keluarga ini. Ia pernah menebak-nebak, kalau dulu Ibrahim tidak memungutnya, kira-kira saat ini Rayya sedang apa? Ia bekerja di mana? Apa ia berkehidupan serba cukup atau kekurangan? Atau sesekali ia mengandai-andai… apa kalau ia tidak diangkat menjadi cucu Ibrahim, tidak menikahi mantan suaminya, mungkin kan kalau sekarang… Rayya malah… memiliki keluarga yang bahagia?!
“Nggak tau, Miss. Saya sendiri belum berani mikirin soal nikah. Lah… teman-teman saya malah pada sedih, curhat melulu kalau suami mereka… bla… bla… bla…!”
Rayya tidak mau mengingat-ingatnya. Bukan kenapa-kenapa, cerita Shanaz itu terdengar antara nyata atau cuma dongeng yang… dilebih-lebihkan. Masa iya banyak teman grup posebook- nya yang memiliki masalah rumah tangga sebanyak itu, bersamaan?
Rayya… mencoba mengingat-- terpaksa mengingatnya. Kata wanita itu, sebagian temannya mengalami KDRT. Oke… ini masih masuk logika. Bahkan wanita cantik yang memiliki karir cemerlang, seperti beberapa selebriti pun… mengalami pengalaman mengenai kekerasan karena pasangannya.
Berikutnya, masalah finansial. Ini pun terkenal wajar mengingat tidak semua orang beruntung secara ekonomi. Namun… masa iya beberapa orang memiliki pasangan yang terbukti lebih mementingkan rokok dibanding kebutuhan anak mereka. Itu seperti… almost impossible. Bagaimana manusia berpikir seegois itu? Ini masalah anak loh… titipan Tuhan… masa iya bertindak seenaknya? Apa mereka-- para lelaki berotak dangkal itu tidak berpikir kalau suatu saat, mereka akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan?
Belum lagi, keadaan finansial yang pas-pasan pun tidak menghalangi para lelaki melakukan poligami. Memang benar bahwa agama dan keyakinannya melegalkan poligami, namun… untuk menafkahi istri satu orang saja, mereka sulit. Nyatanya, itu bahkan bukan menjadi penghalang mereka untuk kembali membebani diri, alias… menambah istri.
“Percaya deh, saya nggak bohongin atau cuma nakut-nakutin Miss Rayya!” tukas asistennya waktu itu, sungguh-sunguh.
Rayya menghela napas. Belum lagi masalah mertua, ipar, tetangga… dan nyatanya banyak sekali problematika di luar yang… Rayya tidak mengira kalau, itu semua bukan cuma cerita dalam sinetron.
Astaga!
Ia bergidik, membayangkan kalau… semisalnya Ibrahim tidak mengangkatnya sebagai cucu, ia mungkin menjadi salah satunya-- korban suami yang pelit, wanita merana yang dipoligami suami meski kehidupan pas-pasan atau malah… ia babak belur karena KDRT!
Rayya melongo ketika menyadari pikirannya sendiri. Wanita itu kemudian menghela napas. Tangannya mengambil minuman, kemudian menyesapnya. Ia menepuk kening ketika menyadari kehilangan sesuatu. Dalam mug itu belum ada buih putih.
Ia bergerak ke arah lemari, mengambil sebuah kapsul lagi. Buru-buru ia membuka mesin pembuat kopi, kemudian memasukkan kapsul, lalu kembali menunggu beberapa lama sebelum bisa menikmati minuman yang ia inginkan.
Tatapannya menatap lurus ke arah mesin kopi. Ia ingat-ingat berapa harga mesin itu. Wanita tersebut langsung menyadari kalau misal… Ibrahim Busro waktu itu memilih untuk membiarkannya di panti asuhan, Rayya belum tentu memiliki kehidupan semewah ini.
Ia bukan wanita yang sok idealis. Meski memang ia ingin melarikan diri, namun… ia belum tentu memiliki keberanian dan keyakinan setinggi itu untuk melepaskan kenyamanan ini. Ia dulu… pernah mengambil bagian sebagai masyarakat strata… paling bawah. Ia merasakan masa kecilnya, berebutan makanan, ditagih biaya iuran sekolah hampir tiap bulan, menahan rasa sakit kelewat sangat karena… jangankan untuk biaya ke dokter, ibu pantinya terkadang bingung memenuhi kebutuhan anak-anak karena uang sumbangan dari donatur sering diambil oleh si suami untuk berjudi.
Astaga!
Rayya bergidik. Setidaknya meski mantan suaminya memilih pisah namun… ia tidak mengalami kekerasan apa pun, ia tidak kekurangan materi apa pun, ia tidak perlu menderita karena… Ibrahim selalu menjaganya. Rayya… mungkin baru menyadarai kalau… ia selama ini… kurang bersyukur.
Ia tahu ini memang saatnya untuk melupakan masa lalu. Ia cuma harus menahan kekecewaan karena perceraian dengan suaminya. Setidaknya, Tuhan cuma ingin bersikap adil karena… bahkan di luar sana, masih banyak yang memiliki nasib lebih sial darinya. Kenapa ia tidak bisa mensyukuri kehidupannya ini?
Kalau pun ia memilih menghilang dan bersembunyi, mau ke mana? Ia tahu bahwa setiap inci tanah negara ini, bisa terlacak Ibrahim Busro. Bahkan semisalnya ia kabur ke hutan Amazone, menduplikasi kehidupan Tarzan-- menjadi bagian kawanan mamalia, membuat sebuah ikatan perjanjian dengan ikan piranha, ia tidak bisa benar-benar lepas dari Ibrahim karena ketika lelaki itu membutuhkannya, ia pasti mencarinya dan kemudian kembali membawa Rayya dalam kehidupan serba ruwet ini.
Rayya pernah berencana untuk kembali jatuh cinta. Membuka perasaan kepada laki-laki lain. Namun siapa? Semua orang-orang yang dikenalnya memahami dengan jelas kalau Rayya, memiliki kontrak hidup demi mengabdikan diri kepada keluarga Busro. Kalau ia nekat menikahi sembarang pria, bisa-bisa kekasihnya itu terancam oleh Ibrahim. Benar kalau Ibrahim Busro semengerikan itu, dan benar kalau… tidak-- belum ada laki-laki pemberani, yang begitu berani dan nekat mengajaknya berpacaran.
Satu-satunya kesempatan yang ia miliki adalah kelak, saat Ibrahim telah… tiada. Ia bisa maju, kembali mengupayakan untuk menjalani kehidupannya lebih normal, lebih memasyarakat. Meskipun ia tidak benar-benar mau hidup susah, namun kelak ia punya dana yang cukup untuk bertahan setidaknya untuk puluhan tahun.
Ia paham kalau nanti, ketika Ibrahim Busro tidak ada lagi, para tetua pasti menyuruhnya mundur. Ia tahu bahwa ia mungkin dilengserkan. Namun, saat itu ia akan merasa bebas. Kalau saat ini ia kabur, ia yakin, Ibrahim Busro pasti memburunya.
Astaga!
Rayya tersadar ketika minumannya sudah siap. Bergegas ia menyesapnya kemudian menghirup napas panjang. Baru saja… ia memikirkan tentang apa? Ya Tuhan!
Astaghfirullaah!
Apa ia baru saja mengharapkan Ibrahim Busro celaka?
Bagaimana bisa ia membayangkan, berharap agar Ibrahim Busro celaka. Bagaimana bisa ia begitu amat tidak tahu malu? Bahkan peliharaan pun, jika waras tidak mau mencelakai pemiliknya. Namun Rayya….
“Miss!” hanaz berlari tepat ketika mendengar seseorang memekik di dapur.
Rayya menatap ke arah Shanaz, kemudian mengerjap. Napasnya tersengal kewalahan. Ia manusia, ia tahu itu. Namun bagaimana bisa ia malah lebih kejam dari peliharaan? Seharusnya ia bahkan lebih berempati kepada laki-laki yang menyelamatkannya, memberinya kehidupan terbaik yang mampu ia dapat. Rayya berani menjamin, banyak perempuan yang ingin memakinya jika mereka mengetahui kekurangajaran pikiran Rayya. Mereka bahkan bersuka cita bahagia untuk bertukar nasib.
“Miss!” Shanaz menyentuh pundak Rayya. Atasannya tersebut bernapas panjang dan berkali-kali mengusap dada.
“Naz!” pekiknya nyaris histeris lalu tiba-tiba menatap tajam. “Sepertinya, ada sesuatu yang salah di kepala saya!”
Wanita itu menatap Shanaz kemudian menggumam perlahan. “Bagaimana bisa, saya mengharapkan Ibrahim cela…”
Rayya menutup mulut, tidak mampu meneruskannya.
Astaga!
“Miss… bilang… apa?”
“Ada sesuatu yang salah dalam pikiran saya,” ulangnya berkali-kali.