
Waktu untuk makan siang namun Rayya masih terlihat menyibukkan mata dengan tumpukan laporan dalam komputer. Tidak terlalu merepotkan karena saat posisinya masih menjadi Manajer Keuangan dulu, ia terbiasa mengerjakan pekerjaan Daus. Mereka biasa bertukar tugas, maka pekerjaan Manajer Strategi dan Operasional sebenarnya sudah biasa ia kerjakan. Namun tetap, pelimpahan jabatan itu memberi banyak pekerjaan tambahan karena ada beberapa laporan yang perlu diubah, disesuaikan mengingat ketika mereka belum bertukar jabatan kemarin, keputusan final merupakan kewenangan Daus, meskipun Rayya memberi saran… namun lelaki itu yang memilih. Sedangkan saat ini keputusan ada pada Rayya. Makanya, ia bebas menentukan apa pun pilihannya.
Keningnya berlipat tepat ketika ada yang masuk ke dalam ruangan. Wanita itu mengernyit mendapati perempuan tak diundang sedang menatapnya lurus tanpa takut.
“Mba, kita perlu bicara,” pintanya memaksa.
“Shanaz!” pekik Rayya. “Shanaz!” ulangnya ketika wanita itu mungkin sibuk entah ke mana, belum menjawab.
“Mba, kita perlu bicara,” tuntut wanita itu lagi kemudian melangkah mendekat.
Rayya menyambar ponsel kemudian menekan sebuah nomor. Ia berteriak kesal, “Kamu di mana?” beberapa detik mereka berbicara kemudian asistennya setengah berlari masuk ke dalam.
“Astaghfirullaah!” pekik wanita itu ketika memasuki ruangan. “Maaf Miss, tadi saya baru dari mushollah,” jawab Shanaz pelan.
“Naz, kayaknya ini bukan hari ulang tahun saya. Kenapa kamu kirim badut ulang tahun?”
Shanaz mendelik belum memercayai perkataan atasannya. Tadi Rayya ngomong apa? Ia memilih melangkah ke luar, mundur alon-alon-- memberi kesempatan kedua orang itu agar mulai berbicara. Ia tidak mau nanti direpotkan atau malah ikut terseret masalah antara mereka.
“Mba!” pekik tamu itu marah.
Rayya menghela napas mengecek setiap jengkal penampilan wanita yang masih berani menatap tajam di hadapannya. Ia benar-benar tidak mengerti, selera wanita ini bagaimana?! Tubuhnya mungil tapi ia memakai pakaian overdosis seperti ini. Ia mengenakan tank top dengan warna pink gonjreng. Luarannya ia pakaikan cardigan dengan pilihan warna fuschia. Jangan lupakan rok mengembang-- sepertinya ini pilihan kesukaannya, yang berwarna merah merona.
Astaga!
Bagaimana bisa mantan suaminya memilih perempuan ini untuk menyingkirkan Rayya? Wanita itu tahu kalau pakaian istri baru Daud ini memiliki bahan yang-- sekilas bisa ia nilai kalau baju itu dibeli di salah satu butik ternama. Rayya pernah melihatnya ketika melakan window shopping di salah satu situs belanja. Tapi… Demi Tuhaan!
Rayya bukan ingin sok menilai atau mau menjadi fashion police namun, orang lain pun mengerti kebingungan Rayya. Wanita ini memakai… serba bunga. Atasannya baik luar maupun dalaman bermotif bunga. Rok mengembangnya itu pun punya motif bunga-bunga yang besar. Tasnya punya hiasan bunga. Kemudian… lihat! Sepatunya pun memiliki aksen pernik bunga mutiara.
Untungnya, wanita itu memiliki rambut polos… maksudnya tidak menggunakan aksesoris apa pun yang berbentuk bunga. Mungkin… nanti dia takut ada orang yang mengira dia itu pot bunga berjalan!
Dia ini gagap fashion atau gimana? Kenapa kelakuannya terlihat asal pakai seperti ini? Meskipun ia memakai pakaian serba mahal, namun pilihannya terkesan asal tempel.
Dan mantan suaminya, terkesan asal nikah jika pilihannya seperti begini!
“Hm!” Wanita itu berdeham, membersihkan tenggorokannya yang terasa sesak karena menahan gumpalan emosi.
Rayya menatap tajam lalu mulai berhati-hati ketika perempuan itu melangkah mendekat, menarik kursi tepat di depan meja kerja.
“Mba pikir… apa saya takut sama mbak?”
Perempuan itu meremas jemarinya kemudian mendengkus geram. “Saya rasa, kita nggak perlu lah, basa-basi begini.”
“Saya rasa, kita bahkan nggak perlu ngobrol seperti ini. Kamu bukan fans saya, kan? Saya nggak lagi ngadain acara temu kangen,” cibirnya cepat, seakan mengusir tamunya terang-terangan.
“Mba, kita perlu bicara,” sergah wanita itu.
Rayya menatap tajam. “Apa ada hal yang perlu kita bahas?”
“Ada!” jawab wanita itu cepat. “Ini tentang… pertukaran posisi Mba sama Mas Daus,” tambahnya.
Rayya tertawa mencemooh. Ia menatap lurus. “Kamu… siapa? Kenapa kamu bisa seberani ini ngomongin masalah jabatan di perusahaan? Asal kamu tahu… bahkan para tetua Busro masih cukup tahu diri dan nggak berani ikut campur dengan keputusan Kakek,” desisnya kasar.
“Apa Mbak nggak ngerasa kalau ini aneh?” sindirnya. “Cucu kandung kakek kan Mas Daus, suami saya, Mba,” tambahnya, terang-terangan menegaskan hubungannya dengan Daus. “Masa Mba nggak ngerasa gimana gitu… ngerebut posisi Mas….”
“Kamu ngomong gimana? Ngerebut kamu bilang?” sergahnya cepat.
“Logikanya itu, Mba… Kakek nggak akan ngasih gitu aja kalo Mba nggak nge--”
“Logikanya itu, ya… kamu nggak akan mau seberani ini kalau kamu tahu sesayang apa Kakek ke saya. Lagian… setahu saya, kamu kan udah dilarang manggil Kakek ke Tuan Ibrahim,” sindirnya. “Kamu itu nyadar nggak kamu siapa? Posisi kamu bagaimana? Kamu berani nuduh saya?”
Tangannya meremas jemari kemudian menatap nyalang. “Orang bodoh pun ngerti, Mba. Kalau Mba nggak ngegoda Kakek, pasti Kakek nggak sesayang ini sama Mba,” balasnya kasar.
Rayya terkekeh sinis kemudian menatap tanpa kedip. “Orang bodoh pun paham kalau saya mengincar Tuan Ibrahim, untuk apa harus repot-repot nikah sama Mas Daus? Saya bisa menikahi Kakek dan memiliki anak lalu menyingkirkan Mas Daus yang sekadar cucu. Mengerti?” desisnya lagi.
Wanita itu tahu kalau ia kalah, telak. Tangannya telah mengepal kemudian emosinya nyaris meledak. Ia menarik napas lalu mengendalikan kemarahannya. “Mba itu wanita pintar, Mba bisa mendapat posisi meskipun nggak saingan sama Mas Daus. Untuk apa?” tanyanya kemudian. “Apa nggak takut kena karma?”
What the….
Rayya berusaha untuk tidak menyiramnya dengan segelas air di mejanya. Wanita itu berani berbicara soal omong kosong apa? Kenapa? Karma? Karma apa?
Rayya bahkan tidak pernah menyakiti Daus dengan sengaja, apalagi berusaha untuk merebut kasih sayang Ibrahim. Malah selama ini Daus itu yang lebih sering menyakiti Rayya, melakukan banyak pem-bully-an serta cemoohan kepadanya. Belum lagi masa kecilnya penuh perundungan oleh para keluarga dan tetua Busro. Lalu… kalau kehidupannya begitu kelam, karma macam apa lagi sih yang harus Rayya terima nanti?
Kalau tidak memikirkan kebaikan Kakeknya, ia tidak akan mau menjadi bagian keluarga Busro. Lebih baik ia hidup bebas tanpa beban. Bahkan ketika melihat mantan suaminya menikah lagi, Rayya bersiap-siap untuk pergi. Namun Kakek Busro memintanya agar tetap bertahan di sini. Bukan Rayya yang tidak mau pergi, ia dilarang untuk pergi.
Rayya menatap lurus kemudian terkekeh, mencemooh tamunya. “Kamu… nggak usah lah ngomong masalah karma kalau kamu nggak tahu apa-apa,” bisiknya mengejek. “Takutnya malah nanti… kamu dan Daus yang justru terkena karma.”