His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
too many things fishy



Rayya mengernyit. Ini sudah lepas Maghrib, medekati Isya. Memang seberapa banyak Iman membuat masalah sampai Shanaz lembur selama ini? Biasanya kalau tidak ada masalah penting, Shanaz tidak mau lembur berlama-lama di kantor. Dia itu begitu-begitu merupakan karyawan yang ogah rugi. Kalau waktunya pulang, dia akan bergegas pulang.


Seingat Rayya, tadi belum nampak penambahan pekerjaan. Selain dari perubahan jadwal, itu pun dikarenakan permintaan si Iman Iman itu. Sedangkan rapat yang seharusnya rutin dilakukan setiap senin diundur besok pagi. Itu berarti weekly report sekaligus proyeksi kegiatan pekan depan baru akan dibahas besok pagi. Shanaz semestinya tidak memiliki pekerjaan sebanyak itu dan kenapa mendadak itu orang belum pulang sampai saat ini?


Tangannya menyambar ponsel kemudian menekan sebuah nomor. “Di mana?” tanya Rayya cepat.


Lawan bicaranya belum membuka suara.


“Naz! Ini udah malam! Kamu di mana?” tanyanya lagi. Terdengar suara bising melalui ponsel. “Kamu ke mana?” ulangnya. Bagaimana pun, Shanaz itu tanggung jawab Rayya. Dia memang bukan lah anak kecil namun ketika Rayya memintanya pindah ke sini, itu berarti ia ada di dalam tanggung jawab Rayya. Kalau tiba-tiba terjadi hal-hal kurang menyenangkan apalagi musibah… astaga! Rayya mengusap dahi kemudian merutuk.


“Kamu di mana sih, Shanaz? Kalau kamu kenapa-kenapa, nanti saya bilang apa ke orang tuamu?” tanyanya tidak sabar. Selain merasa bertanggng jawab kepada orang tua Shanaz, Rayya pun memikirkan kalau-kalau ada sesuatu menyangkut masalah perusahaannya. Atau… siapa tahu seperti asisten kenalannya. Diperalat rekan bisnis lalu asisten itu difitnah, dipidana dengan tuduhan macam-macam. Usust punya usut, ternyata asisten tersebut tidak mau membantu rekan bisnis atasannya untuk kerja sama memainkan proyek. Mengingat integritasnya, Rayya takut kalau suatu saat asistennya mengalami masalah sama. Astaga! Tidak boleh! Rayya tidak bisa membiarkan orang dalam circlenya mendapat masalah seperti itu.


“Saya… saya keluar, lagi diajak dinner nemanin Miss Dhita, Miss,” jawabnya terbata.


“Dhita? Kamu sama Dhita?” tanya Rayya bingung.


“Iya, tadi Miss Dhita main ke kantor. Terus… sa… saya di… suruh nemenin… makan malan, Miss,” jawabnya terlihat sangat jelas kalau Shanaz memainkan peran. Cara bicaranya terlalu berhati-hati.


“Halo Mba… Shanaz lagi sama aku,” tukas seseorang. Mungkin ia merebut ponsel milik asistennya.


“Kalian makan malam? Kenapa kalian berdua, nggak ngajak Mba sih? Biasanya kamu kalo lagi ke sini ngajak Mba makan?” tanya Rayya curiga.


“Iya, Mba… tadi pas ke kantor, Mba udah balik. Adanya cuma Kitty. Terus pas mau ke apartemen Mba, ada klien nelpon. Dia minta ketemuan,” jawab Dhita yang lagi… Rayya tahu kalau mereka memainkan sandiwara. Dhita itu kan mirip sama Shanaz, mereka sama saja, sama-sama susah bohong. Meski ucapannya lebih lancar dari asistennya, namun kalau Dhita berbohong, nada bicaranya terdengar too sweet, smilling voice… itu terkesan menutupi sesuatu. Seperti ibaratnya… orang kalau berbohong itu mendadak manis banget atau kelewat ceria. Padahal itu cuma sepele dan bukan yang menyenangkan. Bertemu klien malam-malam, tapi si Dhita mendadak ceria seperti begini?


Ada dua kemungkinan. Pertama, kliennya itu gebetan baru si Dhita. Makanya dia mau-maunya ketemu meski malam-malam seperti ini. Penganut konsep: semua pekerjaan dilakukan di saat jam kerja… which is her office hours itu maksimal cuma sampai sore dan sisanya cuma hura-hura, agak… almost im… possible kalo misalny… dia meet up klien merelakan waktu bebasnya. Dan kedua, ini baru pekan pertama dia kembali ke negara ini. Biasanya Dhita cuma mau menikmati kasur, selonjoran dan bermalas-malasan. Kalau kata Uti, mungkin Dhita lagi mengukur kasur. Siapa tahu tiba-tiba kasurnya nambah lebar kalau dia gelindingan sepagian di tempat tidur.


Kemungkinan berikutnya, kalau Dhita tidak bertemu klien yang sekali lagi, kurang masuk di akal, maka Dhita sedang merencanakan… ntah sesuatu itu apa Rayya belum tahu. Ia lalu mengernyit ketika percakapan mereka berhenti. Sepertinya Dhita sengaja mematikan panggilan Rayya.


Wanita itu mengernyit. Ternyata memang benar, Dhita terburu-buru memutus obrolan. Ada sesuatu yang mereka sedang rencanakan. Tapi apa sih? Kenapa Rayya tidak boleh mengetahui masalah mereka?


Pikirannya terganggu tepat ketika ia mendengar suara bell apartemennya. Sepertinya seseorang ingin bertamu lalu menekan bell. Rayya mengernyit. Siapa? Mulutnya mengomel lirih. Jangan bilang kalau… Iman berniat bertamu!


Rayya mendiamkannya lalu kembali menggulir layar ponsel. Ia berniat membaca pesan pada media sosial. Grup wa benar-benar heboh membicarakan masalah Daus. Ia lalu berdecak. Apa mereka lupa kalau Rayya masih menjadi anggotanya? Kenapa mereka berdebat membicarakan Daus, mengomentari macam-macam bahkan ketika ia masih menjadi membernya? Apa karena terlalu lama Rayya tidak aktif di grup. Memang sejak pertama, Rayya belum pernah mengirim pesan apalagi membalas percakapan mereka. Ia cuma menjadi silent reader, namun… membaca percakapan diam-diam, mengamati orang yang tanpa sadar membicarakan-- menggosip mengenainya dan mantan suaminya, tanpa menyadari keberadaannya malah memberi sensasi menyenangkan.


Bayangkan seseorang berbicara buruk, mengghibah dan dikiranya ia aman karena orang yang digosipkan tidak tahu apa-apa malah… menguping secara terang-terangan. Tahu begini, Rayya seharusnya lebih rajin memerhatikan sosial medianya.


Matanya mendelik ketika membaca seseorang mulai menghubungkan kalau ketidakberuntungan mantan suaminya, dikarenakan ia… dikutuk? Tiba-tiba seseorang berpendapat kalau mungkin… Rayya masih dendam kemudian menyumpah serapah, mengadu kepada Tuhan, and… boom! Daus terkena imbas… dia dituntut menebus kesalahan… dan dosa-dosanya!


Rayya mulai geram. Lagi-lagi, dia disalahkan untuk sesuatu masalah yang… jangankan mendoakan Daus… mendoakan dirinya pun Rayya malas. Kalau misalnya ia sebegitu santai menjalani kehidupan, ia memilih untuk berdoa dan meminta masa depan cerah, untuk dirinya. Buat apa begitu rajin mendoakan orang lain, apalagi doa buruk? Sudah lah mencaci orang mendapat dosa, kalau Rayya masih mau mengutuk orang… bagaimana kalau bukan cuma dosa namun ia ikut kena sengsara? Kena tulah?


Ia menimbang bagaimana kalau mendadak mengiirm komentar. Apa kira-kira yang terjadi dalam grup tersebut? Wanita itu baru akan mengetik sesuatu namun sebuah pesan masuk ke dalam grup.


Guys!


Rayya mengerjap.


Ya Allaah… pak Profesor… sekalinya datang bisa pas… lagi pada ghibah, Pak Profesor datang. Mau ikutan, pak?


Pak Prof, sekalinya balik ke sini, ngikut ghibah? Pak Prof udah seneng ngeghibah sekarang? Kita lagi ngomongin si Daus loh, Pak….


Rayya menatap sebuah kiriman. Emoticon tertawa beberapa kali dikirim oleh si lelaki tersebut.


Dunia masih aman kan, Pak Prof? Tumben Pak Prof… keluar goa? Nggak bakal terjadi gonjang-ganjing, kan?


Benar, setelah sekian purnama, mendadak Arsa bergabung, mengirim pesan ke grup chat tersebut. Cuma waktu-waktu tertentu, seperti misalnya berita mengenai Rayya dan Daus atau keluarga mereka, Arsa baru bergabung. Rayya mengamati chat yang masuk beberapa kali. Topik pembicaran berubah menjadi soal Arsa yang mendadak kembali. Padahal konon ia baru melakukan proyek kerja sama masalah kesehatan dengan negara tetangga, mengembangkan serum imunitas. Berjaga-jaga kalau di waktu mendatang mendadak bermunculan virus baru.


Bahasan grup tersebut berubah secara tiba-tiba membuat Rayya menghela napas. Mau beralasan bagaimana pun pokoknya Rayya berterima kasih kepada Arsa. Karena keisengan… kesenggangannya, lelaki itu bersedia masuk dan bergabung ke dalam obrolan. Mereka lalu melupakan permasalahan Rayya juga mantan suaminya.


Rayya mengambil cangkir berniat membuat green tea latte. Kegiatannya terpaksa diinterupsi suara seseorang menekan bel. Wanita itu mengernyit. Ia teringat tetangga barunya. Rayya lalu bergerak malas, memilih mengabaikannya. Ia mengambil capsul teh kemudian memasangnya di mesin. Air mulai keluar, memenuhi cangkirnya. Tangannya terpercik buih air panas yang keluar dari dalam cangkir ketika pikirannya kembali diganggu.


Astaga!


Ia mendengkus kemudian memilih melangkah lebar ke arah pintu. Siapa sih yang bernai menekan bel berkali-kali? Kalau benar itu Iman, Rayya tidak segan-segan mengamuk! Wanita tersebut melangkah lebar, merangsek ke pintu. Dengan kesal ia membukanya.


“Kamu mau ngapain sih, Iman?”


“Iman?” tanya seseorang kaget.


Rayya mengerjap. Ia merutuk kesalahannya sendiri. Mengapa bisa ia ceroboh? Seharusnya sebelum membuka pintu, ia mengintip tamunya.


“Kamu… lagi nunggu Iman?” tanyanya kemudian.


Rayya mencebik. Ia menatap tamunya. Lelaki itu memakai kemeja. Kali ini berlengan panjang kemudian memilih celana bahan sebagai bawahannya. Terlihat kalau ia baru pulang dari kantor. “Saya nunggu Iman? Kalau bisa, saya malah berharap kami nggak perlu ketemu lagi,” tukasnya sambil menatap lurus ke arah pintu apartemen seberang.


“Dia… tinggal di situ?”


Rayya menghela napas. “Kakek menyuruhnya tinggal di situ, Mas.”


Lelaki itu terdiam sejenak kemudian menatap Rayya. “Kamu mau kita ngobrol…”


“Oh… maaf, Mas,” tukas Rayya menyadari ketidaksopanannya. Ia berniat mempersilakan masuk kemudian mendadak mengernyit. Ia sekarang cuma sendirian dan artinya kalau membiarkan seorang  lelaki masuk ke apartemen, mereka tentu cuma berduaan. Rayya, berpikir cepat.


“Saya bukan lelaki jahat loh, Rayya. Ada banyak waktu serta kesempatan yang bisa saya pakai kalau mau berbuat jahat atau sekadar ngerjain kamu, kan?! tapi buktinya kita…. saya dan kamu, selalu ada di batas aman kan?”


Rayya tersenyum datar, kembali merutuki kebodohannya. Bagaimana ia bisa berpikir kalau lelaki tersebut, orang paling baik yang ia kenal, meskipun misalnya dunia beserta seisinya membenci Rayya maka dia akan berada di barisan paing depan menolongnya… Rayya malah meragukan kebaikan niatnya.


“Saya cuma mau ngajak makan malam, ini saya bawain. Kesukaan kamu, kan?!”


Rayya mengerjap menatap senyum milik Arsa, tangannya mengangkat bungkusan plastik. Aroma nasi hangat, rempah gulai, rendang, sambalado, serta timun… menguar.


“Kalau kamu tetap nggak mau nggak apa-apa, kita bisa turun, makan di tempat lain.”


Rayya menggeleng. “nggak, Mas, saya cuma kaget. Mas datang nggak ngasih kabar. Kenapa tiba-tiba? Biasanya Mas ngasih kabar kalau mau main. Kenapa… tiba-tiba?” tanyanya kemudian menyingkir, memberi ruang untuk Arsa masuk ke apartemennya.