
Rayya ingin bersumpah serapah lalu mengeluarkan segala kata makian yang ia punya. Nyaris setahun penuh Rayya memikirkan apa saja alasan masuk akal, paling masuk akal-- paling logis terlogis yang ia bisa temukan. Ia pikir banyak kesalahan atau kekurangan yang ia miliki sampai ia diceraikan, tapi... lelaki ini mengatakan omong kosong mengenai kesempurnaan, memujanya yang bahkan, Aprodhite bisa iri mendengarnya, lantas mengatakan kalau Rayya... diceraikan karena kelewat sempurna.
What the....
Ketika Tuhan begitu nyata disembah karena memegang kesempurnaan tertinggi dan Rayya, dicampakkan ketika ia menjadi simbol wanita sempurna.
"Kamu sint*ng, Mas!" desisnya murka. Wanita itu menangkup kedua pipi mantan suaminya, memaksanya untuk bertatapan, tanpa bisa memalingkan pandangan. "Kamu... sempurna s*nt*ngnya!"
"Kamu... nggak ngerti perasaan saya!" pekik Daus marah, cepat ia tepis jemari wanita itu.
Percuma... ia mencengkeram pipi lelaki itu kelewat kencang. Tangannya cepat-cepat bergerak mengusap kasar kepala bahkan anak-anak rambut Daus ikut tertarik. Kuku-kuku Rayya menancap... nampak membuat bekas jejak dalam hingga nyaris tergores-- melukai wajah lelaki itu. "Then explain it!" geramnya. "Kamu, Mas... u told me i can't understand? Belasan tahun, Mas... saya berusaha mati-matian memahami kamu belasan tahun... memaafkan segala kesalahan kamu, memperbaiki masalah-masalah kamu, menjadi tameng tiap kamu kena marah Kakek, terus kamu bilang... saya nggak ngerti perasaan kamu?" pekiknya kencang, histeris.
Astaga!
Rinai menahan kaki dan seluruh tubuh agar tidak berlari mendatangi suaminya yang tengah diamuk Rayya. Daus tetap bersimpuh, membiarkan tubuhnya menjadi sasaran pukulan Rayya... seakan membuktikan betapa ia merasa bersalah bercampur putus asa. Darah membasahi pipinya ketika Rayya menorehkan luka, goresan lumayan panjang. "Then u tell me! U... tell me! Pengertian macam bagaimana lagi sih yang kamu mau, Mas?!"
Daus mengelap bekas goresan kemudian menemukan jejak darah di tangan. Wajahnya mungkin tergores beberapa kali karena kuku-kuku Rayya. Perih mulai terasa pada beberapa bagian. "Saya... dibesarkan sebagai pangeran kecil di keluarga Busro," ujarnya datar.
"Ketika kecil, saya selalu mendapatkan apa pun keinginan saya," lanjutnya. "Saya tumbuh menjadi anak keras kepala. Kamu... tahu itu." Daus menatap tajam tepat ke mata Rayya. Ia kemudian tersenyum miring, mencemooh.
"Saya... selalu mendapatkan tiap keinginan saya. Saya menjadi cucu kesayangan Kakek. Satu-satunya cucu kesayangan sampai kemudian... kamu datang lalu... menghancurkan kehidupan beserta masa depan saya!"
"Tapi Mas tahu betul kalau saya...."
"Kamu... mulai merebut tiap kebahagiaan saya. Satu per satu...," tukasnya cepat, tidak memberi kesempatan pada Rayya. "Kakek terang-terangan berpihak kepada kamu. Tadinya, tidak masalah waktu saya cuma menjadi sepuluh besar di sekolah. Tapi... kamu... malah selalu menjadi juara pertama. Di setiap perlombaan, apa pun... kamu menjadi pemenang. Kamu selalu mengalahkan saya!"
"Tapi Mas... ini nggak adil... saya memang harus menjadi pemenang karena tugas...."
"Kamu... merubah kedamaian hidup saya. Kakek... mulai menuntut saya ini itu, membandingkan kita begini lah atau begitu lah... kamu... membuat saya terlihat bagai pecundang di setiap waktu. Kamu merusak kehidupan saya!"
"Saya memang harus selalu melakukan yang terbaik karena itu tuntutan Kakek! Apa Mas pikir saya mudah menjalani kehidupan saya? Tiap menit tiap waktu saya merasa seperti dikejar-kejar berbagai tumpukan tugas karena saya... selalu diminta untuk menjadi pemenang, terbaik dari yang terbaik di antara siswa lain. Mas pikir itu mudah?!" protesnya. Wanita itu berdiri, kemudian mengambil jarak lalu menghirup napas panjang, menatap langit-langit kamar. Ia seakan mencari jawaban, jalan keluar untuk segenap kekesalannya, kemarahannya.
Daud berdecih. "Kalau gitu, kenapa kamu nggak kasih saya kesempatan? Coba kamu... sekali aja... sekali deh kamu kasih saya kesempatan menjadi pemenang, melampaui kemenangan-kemenangan kamu, menjadi pahlawan untuk kehidupan kamu. Sekali... aja, coba tolong beri kesempatan supaya saya menjadi pahlawan," tuntutnya. "Tolong berhenti menjadikan saya pecundang!"
Rayya mengerjap begitu mendengar luapan kemarahan Daud. Ia tidak pernah merasa kalau ia... menjadikan lelaki itu pecundang. Rayya pikir ia beserta kemenangannya akan membuat Daud bangga... kemudian bisa mulai menyukainya, membuka sedikit hati untuk menerima perjodohan mereka karena Rayya membuktikan kalau ia... memang pantas menjadi pendampingnya.
"Coba kamu bayangin perasaan saya. Kakek datang membawa anak perempuan... entah kamu itu baru kakek pungut dari mana, kemudian tiba-tiba merubah kebiasaan-kebiasaan, merebut kekuasaan-kekuasaan, lalu... kamu... bahkan merampas kasih sayang Kakek!" pekiknya kesal. "Kamu itu melengserkan kekuasaan saya!"
Astaga!
Rayya bergidik. Seberapa spesial kah kehidupan mantan suaminya ketika kecil, sebelum mereka bertemu, kalau lantas lelaki itu bisa sebesar ini terluka cuma karena... merasa dikalahkan?! Mungkin memang ia-- bisa dibilang merupakan 'raja' kecil bagi keluarga Busro. Seorang pewaris yang dari awal, diperlakukan begitu baik. Tiap ucapannya bagai titah dan ia tak terbantahkan. Lalu... semuanya berubah ketika... Rayya tiba.
Pandangan mata wanita itu kemudian berubah, lembut. "Kenapa Mas nggak memanfaatkan saya? Kenapa Mas nggak mengandalkan saya seperti sebelumnya? Bukannya Mas merasa senang memiliki saya sebagai pendamping?"
"Senang? Kamu bilang... senang?" Daus menggeram tertahan. "Lelaki mana yang senang disebut pecundang, Rayya?" tanyanya sinis.
Daus berdiri, menyejajari tubuh wanita itu, kemudian mendekatinya, memojokannya ke dinding. "Saya... sudah pernah memanfaatkan kamu, Rayya," desisnya. Ia menatap tajam kemudian menempelkan kedua kening mereka.
"Setelah banyaknya hal buruk di masa lalu, kejahatan saya yang saya lakukan ke kamu, saya pernah... memanfaatkan kamu... kamu tahu itu. Saya bangga, pernah bangga memiliki kamu, wanita sempurna paling sempurna sebagai pasangan saya."
Rayya merasakan beberapa kali napas mereka beradu. Ia memeluk Daus, kemudian mengusap lembut punggungnya. Rinai menatap tiap adegan itu di samping pintu. Bagaimanapun ia merasa sakit, mendapati pengakuan cinta suaminya kepada wanita lain. Namun ia tahu kalau lelaki itu memiliki lukanya sendiri. Ia tahu bahwa seperti dirinya, Daus pun butuh untuk... disembuhkan.
"Tuhan telah menghukum saya, Rayya. Setelah semua kejahatan saya, saya berani-beraninya cinta sama kamu. Kamu pun tahu saya pernah nyaris membunuh kamu... beberapa kali. Saya pernah ingin melenyapkan kamu... mengembalikan lagi kehidupan saya seperti sebelumnya, sebelum kamu ada. Tapi saya... setelah semua kekalahan, kejahatan saya... saya berani cinta sama kamu!" pilu, lelaki itu meraung putus asa. "Tuhan... menghukum saya, Tuhan... menghukum saya," ulangnya.
"Saya... nggak keberatan, Mas... saya nggak masalah Mas mau memanfaatkan say..."
"Nggak! Nggak! Nggak bisa...." teriaknya cepat. Daus melepaskan pelukan mereka lalu menjauhinya. "Kamu... nggak akan bisa ngomong seperti itu kalau kamu tahu kenyataannya. Saya ini cuma... cum...."
Astaga!
"Tuhan... menghukum saya. Kamu... nggak akan bisa ngomong seperti itu kalau kamu tahu kenyataannya. Saya ini cuma...." Daus kembali menghentikan kalimatnya. Ia memberi tatapan nanar.
Rayya gemas. Ia berusaha fokus, menajamkan kedua telinga, memusatkan konsentrasi namun Daus... selalu berhenti pada kata 'cuma'...! Ia bertanya-tanya... apa maksud cuma? Kenapa dengan cuma? Cuma apa maksudnya? Cuma seorang Kapiten? Cuma avatar terpilih... sang pengendali udara?
Demi Tuhan!
Cuma apa?!
"Saya cuma... lelaki tidak berguna," sahutnya lirih kemudian menatap Rayya sedih, seakan berusaha untuk menjawab pertanyaan di kepala Rayya. "Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau saya... cuma punya kemungkinan kecil... untuk memiliki keturunan. Kamu nggak bisa punya anak kalau sama saya, Rayya!"
Astaga!
"Mas!" teriaknya kesal. "Jadi... ini semua cuma karena... anak?" protesnya.
"Kamu bilang cuma? Kamu itu wanita, Rayya! Kamu bahkan memiliki rencana-rencana mengenai anak, kan? Apa kamu nggak mau punya keturunan?"
Rayya tertawa mencemooh. "Kenapa sih Mas menceraikan saya karena alasan menggelikan? Setahunan ini tuh saya mikir... hampir tiap waktu saya kepikiran apa salah saya. Kenapa Mas ceraikan saya? Saya pikir ini karena salah saya tapi nyatanya... Mas terlalu pengecut mengakui kekurangan Mas!"
"Ya... betul... saya pengecut. Saya pengecut! Saya pengecut, Rayya! Puas kamu?!"
Rayya menghirup napas panjang kemudian menatap lembut. "Kenapa Mas menyerah? Kenapa segampang itu menyerah sama saya? Apa Mas pikir saya akan membiarkan Mas melepaskan saya kalau alasannya...."
"Karena itu, Rayya... karena itu Mas nggak ngomong ke kamu!"
"Mas!" tukasnya cepat. "Kenapa sih Mas nggak nanya ke saya?" tuntutnya. "Kita bisa usaha, Mas... ada banyak proses pengobatan kan?! Kenapa Mas malah milih...."
"Rayya... Rayya... kamu dengar, kamu itu terlalu sempurna hanya untuk menjadi istri Mas!"
Rayya menepis tangan mantan suaminya ketika lelaki itu mulai berusaha memeluk dan mengusap punggungnya lembut. "Kalau Mas bisa menganggap saya sepenting itu, seberharga itu, kenapa Mas ceraikan saya. Kenapa saya malah Mas singkirkan?" desisnya marah.
Bahkan mungkin itu.. Andra and the Backbone malu karena mendengar alasannya... Rayya diceraikan karena... sempurna?
"Mas itu Busro, Daus Busro yang... pengobatan macam bagaimana yang Kakek nggak bisa kasih? Kenapa Mas malah memilih... menikahi wanita lain?" tuntutnya.
"Saya... bisa menikahi permpuan lain, siapa saja tapi... bukan kamu, Rayya."
What the....
"Kamu tahu betapa banyak kesalahan saya ke kamu, kan? Saya... pernah berpikir... sering berpikir," ralatnya, "kalau misalnya... saya dulu nggak jahatin kamu, kalau saya yah... misalnya dulu bisa sedikit saja baik sama kamu, saya mungkin nggak merasa... sebersalah ini.
"Saya udah maafin, Mas... saya maafin kamu," sahut wanita itu lirih, merintih perih perasaannya.
Daus mendekati wanita itu, kemudian mendekap lekat. Wanita itu tidak tahu sebesar apa rahasia yang digenggam mantan suaminya, sebesar apa perasaan sedihnya, seberapa berat timbangan kesalahan dan dosanya pada Rayya, sepelik apa masalahnya, Rayya tidak tahu. Ia cuma tahu kalau lelaki itu menceraikannya karena ia terlalu penakut... terlalu pengecut.
"Mas buktinya bisa nikahin orang lain?!"
Daus menghela napas, kembali mengusap lembut punggung Rayya. "Saya... bisa nikahin wanita lain, siapa saja... tapi bukan kamu... asal bukan kamu."
Rinai menyandarkan punggung ke tembok kemudian meluruh, memilih untuk bersimpuh. Nyatanya... ia cuma wanita 'siapa saja asal bukan Rayya'. Ia dinikahi karena... ia cuma wanita 'siapa saja' siapa pun tapi bukan Rayya.
"Kamu pernah berpikir nggak kalau kamu... dibebaskan. Mas... membebaskan kamu, Rayya. Kamu bebas menjalani kehidupan... apa pun yang kamu mau," ucapnya lembut.
Rayya melepas pelukannya, kemudian memberi tatapan lurus, nyaris tanpa berkedip. Ia menggenggam bahu lelaki itu kemudian meremasnya kencang, menumpahkan rasa kekecewaannya. "Apa Mas pernah nanya ke saya apa sebenarnya mau saya? Bagaimana kalau saya sebenarnya... memilih untuk bertahan dan nggak pernah mau dibebaskan? Karena nyatanya, saya rela bertukar kehidupan dengan istri baru Mas supaya saya bisa terus mendampingi Mas."