
Rayya melangkah lurus, masa bodoh dengan sapaan para karyawan ketika berpapasan. Kepalanya dipenuhi berbagai perkiraan kenapa Zahra datang ke kantornya? Kenapa Iman telah berada di kantor sepagi ini? Ia menimbang banyaknya kemungkinan kenapa mereka ada di kantor ini.
Ia mengernyit, memicingkan mata. Apa mungkin mereka memiliki rencana khusus? Seperti melengserkannya? Merebut posisi yang dimiliki Rayya? Apa mungkin mantan suaminya menyetujui rencana mereka?
Apa mungkin… Iman dan istri baru Daus membuat rencana? Mereka diam-diam bermain proyek, mendekati orang tua Daus kemudian membangun bisnis bersama Zahra? Kalau memang benar, lalu bagaimana? Rayya bisa berbuat apa? Mau protes pun, ia menyadari kalau statusnya… bukan siapa-siapa bagi keluarga ini. Rayya ini harus siap dilengserkan kapan saja.
Wanita itu menghela napas lalu melangkah ke ruangan kerja. Ia meletakkan tas, menyalakan layar komputer, membuka tablet. Tangannya memijit kening. Ia perlu mencermati kembali laporan perusahaan, sebelum rapat yang diadakan pagi ini dimulai.
Rayya cuma tahu kalau ia memiliki tugas sebagai direktur strategi, ia bahkan telah kehilangan minat untuk memainkan politik kekuasaan di kantor ini. Rayya cuma ingin bertahan… setidaknya ini pekerjaan yang memberinya uang untuk menjalani kehidupan. Pelan-pelan, mungkin ia perlu mencari pekerjaan lain. Ia memang ingin membalas dendam kepada Daus, namun mengingat posisi strata sosial mantan suaminya, Rayya merasa cukup puas kalau setidaknya, ia bisa bertahan, tetap berdiri tanpa goyah lalu mulai mempertimbangkan fokus menata kehidupannya dengan… mencari pekerjaan lain.
Setidaknya pengalaman yang Rayya miliki mampu memudahkannya mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain. Itu pun kalau… Ibrahim Busro tidak melakukan tekanan kepada perusahaan yang ia lamar. Kalau lelaki tua tersebut ikut campur, maka Rayya bahkan tidak akan diterima bekerja di perusahaan skala mikro sekali pun.
Rayya mengerjap ketika Shanaz masuk.
“Miss udah dengar? Rapat dipindah,” tukasnya.
Rayya mengernyit. “Saya belum tahu. Kenapa?”
“Tadi Pak Han nelpon katanya kita pindah ke ruang atas.”
Rayya mengernyit. Ruang atas itu untuk rapat dewan manajer tingkat atas. Paling pol itu cuma cukup untuk rapat dengan sepuluh orang. Biasanya mereka cuma memakainya sekadar untuk bertemu klien penting, atau rapat urgent antar manager tinggi. Sedangkan pagi ini jadwal Rayya rapat dengan manajer tingkat atas dan menengah. Mengingat mereka perlu membahas proyeksi penjualan untuk bulan depan. “Nggak cukup kalau mau pakai ruangan rapat punya Kakek.”
Shanaz mengedik. “Tadi cuma bilang kalau kita disuruh rapat ke atas, Miss. Kalau untuk cukup atau nggak cukup, saya kurang tahu,” jawabnya.
Ia menghela napas kemudian mengernyit. Apa ini berhubungan sama perempuan itu? Zahra, apa Pak Han berniat mengumumkan proyek baru bersama Zahra?
Rayya menghela napas. Sebenarnya mereka tengah merencanakan apa? Wanita itu bergegas mengambil tablet kemudian mengajak asistennya untuk pergi ke ruang raoat, mencari tahu apa yang terjadi.
Keduanya berhenti sesaat sambil mengamati keadaan melalui pintu kaca. Di dalam telah dipenuhi oleh Pak Han, Daus, beberapa petinggi, dan… Iman. Rayya mendengkus ketika melihatnya. Ternyata memang Iman bermain-main di perusahaan ini.
Rayya membuka pintu kemudian masuk. Asistennya mengikuti langkah Rayya. Keadaan di dalam ruangan mendadak semakin dingin, seakan suhunya turun sekitar beberapa derajat. Ia tahu bahwa sesuatu seperti sedang terjadi.
Wanita itu duduk di depan Pak Han, saling berhadapan di bagian paling pinggir meja, dekat proyektor. Sedangkan lelaki itu, Iman, duduk tepat bersebelahan dengan mantan suaminya, Daus, selang dua kursi berhadapan di depan Rayya.
Rayya mengernyit tidak percaya menatap lelaki itu. Kalau berdasar ingatannya ketika pertama bertemu, Iman memang memakai jas, atau… beskap. Antara itu lah. Namun waktu itu Rayya tidak begitu memerhatikan. Saat ini, ia bisa melihat jelas… pakaian lelaki itu… mencetak tubuhnya begitu jelas. Kalau tadi bertemu ketika mmasuk ke lobi, Rayya belum terlalumemerhatikan. Kali ini, penampilan lelaki itu terlihat dekat, sangat nyata.
Bukan kekecilan, namun memang benda itu, setelan tersebut, seperti dibikin khusus. Itu bukan cuma barang dari sebuah departemen store, bukan barang yang bisa dibeli asal. Rayya berdecih. Baru kemarin ia melihat lelaki itu memakai polo shirt sejuta umat, meski dengan harga kelas menengah, namun masih… biasa. Bisa-bisanya saat ini ia memakai pakaian rancangan kelas atas. Cuma perlu waktu beberapa hari, lelaki itu bahkan mulai merasa menjadi bagian kaum kaya raya! Bagi Rayya, kelakuan lelaki itu tidak ada bedanya dengan adiknya yang sok pamer karena mendadak menjadi orang kaya.
“Hm….”
Rayya kembali memusatkan pikiran ketika mendengar seseorang membuka suara.
“Saya rasa bisa kita mulai rapat pagi ini.”
Rayya menatap lurus. Lelaki tua yang duduk di depannya membuka sebuah berkas.
“Tuan Ibrahim telah mengambil keputusan kalau akan ada perombakan kepemimpinan.”
Rayya mencelos. Ia pikir Ibrahim menginginkannya agar kelak memimpin perusahaan. Nyatanya, lelaki itu ingin melakukan pergantian kepemimpinan. Itu kan maksudnya? Perombakan kepemimpinan… melengserkan Rayya dari posisinya? Lalu mau bagaimana? Rayya kan tidak bisa protes. Bagaimanapun ia tidak memiliki hak untuk protes.
Ia sudah menduga. Ketika tadi ia tidak melihat Zahra ikut dalam rapat, berarti ini bukan tentang proyek baru. Ia merasa tidak tanggap. Ia cuma tahu kalau akan ada sesuatu mengingat… Iman ikut di dalam rapat, artinya memang mungkin akan ada sesuatu. Rayya tadi tidak memperhitungkan kalau sesuatu itu seperti perombakan kepemimpinan. Ia tidak menyangkan kalau mungkin… ia dilengserkan begitu cepat.
“Tuan Ibrahim mengatakan, mulai beberapa hari ke depan kita memiliki perubahan susunan kepemimpinan baru. Beberapa posisi di perusahaan akan ada pergantian.”
Rayya merasa tiba-tiba seisi ruangan menatap ke arahnya. Ia menghela napas. Mungkin Iman yang akan menggantikannya mengingat lelaki itu tiba-tiba mengikuti rapat ini. Kalau memang ia akan diganti oleh Iman, seharusnya Rayya bahagia. Bukankah selama ini ia memiliki keinginan untuk pergi lalu memulai masa depan yang baru? Kalau Ibrahim Busro melepasnya, maka itu berarti Rayya diizinkan pindah ke perusahaan lain, kan?
Shanaz duduk bersama seorang sekretaris Daus di pinggir ruangan. Biasanya memang cuma Pak Han, Daus, dan Rayya yang memiliki fasilitas mengajak sekretaris mereka ketika ada rapat di ruangan terbatas seperti ini. Asisten lain cuma bisa menunggu di selasar, atau satu lantai di bawah. Kalau tidak begitu penting, mereka bahkan tidak perlu ikut.
Wanita itu mengamati Rayya. Ia tahu bahwa sesuatu memang tidak beres. Kalau misalnya benar Rayya akan diganti, lantas bagaimana nasibnya? Apa ia bisa ikut dipecat setelah Rayya digantikan oleh orang lain?
Mereka berdua menghela napas. Rayya melipat tangan, bersedekap lalu melirik ke arah asistennya. Ia tahu bahwa nasib mereka sedang tidak baik-baik saja.
Rayya menghela napas. Ia bertaruh, mungkin memang ini keputusan paling benar. Ia memang perlu melepaskan posisi tersebut.
“Tuan Daus dengan Tuan Iman.”
Wait a min….
“Maksudnya, Pak?”
Rayya menatap ke arah samping. Lelaki tua ini, seorang manajer HRD, baru saja mewakili kebingungan Rayya.
“Tuan Ibrahim berniat mengganti posisi Tuan Daus dengan Tuan Iman.”
Rayya berpaling ke arah mantan suaminya. Lelaki itu terdiam kemudian mengetatkan rahang seakan menggeram pelan. Kedua tangan mengepal, seakan ia ingin mematahkan pena yang ia mainkan di dalam pegangan tangan.
“Untuk sementara, Tuan Ibrahim berniat mengirim Tuan Daus untuk mengawasi proyek di Jogja. Mengingat… proyek tersebut menemui… beberapa kendala, maka Tuan Ibrahim akan mengirim Tuan Daus ke sana. Untuk mengisi kekosongan, Tuan Iman bersedia menjadi direktur keuangan untuk….”
Daus bergerak kasar. Ia mendorong kursi kemudian melangkah keluar. Para perserta yang mengikuti rapat mendadak berbisisk-bisik. Rayya refleks mengikuti mantan suaminya, mengabaikan segala macam keributan.
“Mas! Mas Daus!” pekiknya sambil berlari mengejar.
Lelaki itu buru-buru menekan sebuah tombol lift, berkali-kali. Ia berniat menghindari Rayya. Namun lift tertutup.
“Mas! Kamu… semua ini… ada apa? Kenapa tiba-tiba Iman….”
Daus mengangkat tangan, kemudian meremas bahu Rayya.
“Istri kamu itu merencanakan apa? Kenapa Iman bisa mengambil posisimu?”
Daus menarik napas, memejamkan mata berusaha meredakan kekesalannya. “Jangan bawa-bawa istri saya. Dia tidak tahu apa-apa.”
“Gimana bisa? Saya malah curiga sama istri kamu. Kenapa bisa-bisanya Iman ngerebut posisi kamu coba? Dia itu mau nguasai perusahaan….”
“Stop! Stop, Rayya!” pekiknya tidak terima.
“Mas!”
“Saya cuma minta kamu stop, berhenti menyalahkan yang lain. Kamu bahkan belum tahu apa yang terjadi, kan? Kamu… belum tahu mengenai kebenarannya,” tukasnya setengah meratap. “Jangan terus-terusan menyalahkan orang lain.”
Rayya mengerjap. Ia ingin berdebat. Kalau ia tidak bisa menuduh istri baru Daus, lalu memang yang salah siapa? Kenyataannya sejak Daus kembali menikah, nasibnya seakan makin sengsara. Mulai dari terpaksa… dia dipaksa untuk menukar jabatan dengan Rayya, kemudian dipidahkan cuma agar Daus mempertanggungjawabkan proyeknya yang bermasalah.
“Mau Mas bagaimana? Lagi pula dari pertama kan udah saya nasihatin. Mas maksa harus ngambil proyek itu. Benar kan, itu proyek bermasalah. Belum lagi kakek kecewa sama pilihan Mas, nikah sama cewek sembarangan kayak gitu. Sekarang… Mas sendiri kan kena masalah.”
Stop!” pekiknya tidak terima. Daus meremas tangan, menahan teriakan dan umpatan di dalam mulut. Ia menunjuk-nunjuk ke arah mantan istrinya kemudian menghirup napas dalam.
“Rinai nggak tahu apa-apa.”
“Terus siapa yang tahu? Kalau bukan dia sama Iman, ini semua yang salah siapa? Saya? Apa kali ini Mas mau salahin saya?!” protesnya.
Daus mengangkat tangan, memegang kedua bahu Rayya. “Kamu… nggak tahu yang sebenarnya. Kamu… nggak tahu yang sebenarnya, Rayya.”
Wanita itu menghela napas. “Kalau gitu, kasih tahu, Mas… kasih tahu ini semua salah siapa? Nah… apa ini gara-gara saya? Benar kalau ini juga salah saya? Bukannya Mas bilang kalau sejak saya masuk ke keluarga ini, Mas diperlakukan nggak adil sama Kakek. Benar ini memang salah saya?” tanya Rayya kesal.
“Kali ini apa salah saya, Mas? Coba bilang, Mas… bagiian mana yang salah saya?!” pekiknya kencang.
“Dengar saya,” tukasnya menatap lurus mata Rayya. “Kamu perlu tahu, kamu musti ingat… kedepannya nanti, apa pun yang terjadi, kamu ingat-ingat kalau saya… semua keputusan yang saya pilih, cuma untuk menyelamatkan kehidupan saya dan… harga diri saya, Rayya.”
Daus melangkah, menaiki lift, membiarkan Rayya terdiam sendiri. Lelaki itu kemudian memilih menjauh.