
Tsurayya Busro mengernyit ketika menemukan dua orang laki-laki duduk di meja sekretariat, depan ruangan mantan suaminya. Ia lalu berpikir sendiri, menebak kejadian yang melatarbelakangi perubahan ini. Apa kedua lelaki itu sekretaris baru Daus?
Mantan suaminya kembali pada kebiasaan lamanya. Dulu sebelum menikah dengan Rayya, lelaki itu memang memilih laki-laki sebagai sekretarisnya. Mereka lebih tahan banting dan lebih bisa mengendalikan emosi-- menurut lelaki itu. Ditambah banyaknya info di luar sana mengenai skandal antara bos dan sekretaris, maka Daus emoh mempekerjakan sekretaris wanita. Sudah cukup kehidupannya penuh dengan rencana masa depan untuk menikahi Tsurayya Busro-- wanita pilihan kakeknya.
Setelah mengajukan perceraian, Daus memilih wanita sebagai sekretarisnya. Rayya merasakan keanehan, namun ketika itu ia berpikir kalau kecurigaannya cuma sekadar cemburu buta. Apalagi, pada waktu itu ia meminimalkan segala keributan dengan Daus. Tuhan tahu kalau ketika masa-masa perceraiannya, Rayya bagiakan kerbau merana dan tercucuk hidungnya alias, mau menuruti apa pun keinginan Daus.
Ia bak wanita bodoh yang cuma memikirkan bagaimana membuat mantan suaminya berubah pikiran dan mengurungkan perceraian itu. Hingga beberapa hari lalu kecurigaannya terbukti, mantan sekretaris Daus--wanita itu menjadi istri barunya. Jadi benar kecurigaannya kalau Daus memang sengaja memilih perempuan itu sebagai sekretarisnya? Apa memang mereka selingkuh ketika Rayya dan Daus masih menikah? Apa wanita itu merebut serta menggoda Daus ketika Rayya masih menjadi istrinya?
“Maaf, Bu,” seorang lelaki melarang Rayya membuka pintu dan yang lain sibuk menelepon.
Rayya mengernyit kemudian menatap kedua lelaki muda itu, satu persatu dari kepala hingga kaki, beberapa kali.
“Maaf, Bu. Pak Daus….”
“Satu,” potong Rayya cepat. “Saya tidak suka dipanggil Nyonya atau Ibu karena saya… belum setua itu,” tukasnya sinis. “Panggil saya… Miss!”
“Baik… Mi…Miss,” sahutnya cepat.
Rayya menatap tajam membuat lelaki itu menunduk karena merasa kewalahan dengan dominasi Rayya. “Kedua… kamu… belum tahu siapa saya?” tanyanya mendesis, terdengar sebagai kemarahan setengah ancaman. “Kamu belum tahu saya?” ulangnya.
Lelaki itu menunduk makin dalam, menyadari kalau ia melakukan kesalahan besar.
“Saya tahu, Miss… anda Tsurayya Busro, tapi….”
“Apa?” tukas Rayya, menyela ucapan lelaki lainnya. Ia terlihat baru meletakkan telepon dan masuk dalam pembicaraan itu. Mungkin sekretaris kedua ini ingin menolong temannya yang sudah ketakutan dimarahi Rayya.
“Tuan Daus melarang siapa pun masuk ke ruangannya,” jawabnya.
Rayya tersenyum lalu ganti menatap tajam. “Tapi, saya bukan siapa pun. Kalau-kalau kamu belum mengerti, saya ini….”
“Mantan istri saya,” tukas seseorang di belakang Rayya.
Seketika ia berbalik saat mendengar suara lelaki itu. Daus Busro, berada tepat beberapa senti di depan Rayya. Seketika kedua tangannya mengepal. Luapan perasaan serta ragam emosi mulai berebutan dalam hati Rayya. Ia tidak tahu, ia belum tahu apa arti perasaan ini karena… antara kecewa atau rindu ia tidak tahu mana yang lebih menguasai dirinya.
“Dia Tsurayya Busro, mantan istri saya sekaligus… calon penerus perusahaan ini,” tukas Daus kepada kedua sekretarisnya. “Kalian ingat itu. Kalian juga harus tahu kalau lain kali perlu bersikap lebih sopan kepadanya,” tambahnya.
Rayya ingin menangis. Dalam sekian puluh masa dan momen pem-bully-an yang dilakukan Daus, kali ini ia merasa kecewa begitu besar. Rayya sudah tahu nyatanya Daus memilih untuk dibenci daripada dirindukan.
“Mas! Aku nggak mau kamu….”
“Ikut aku,” potongnya cepat, membuka pintu ruangannya.
Rayya melangkah tepat di belakang Daus.
“Jangan ditutup,” tukasnya tiba-tiba ketika Rayya nyaris merapatkan pintu. “Kita sudah… bukan muhrim,” imbuhnya dalam satu ******* napas.
“Mas!” pekik Rayya kaget mendapati lelaki itu bisa setega ini.
Lelaki itu memalingkan mata dan mengabaikan kekecewaan Rayya. Ia melangkah ke arah kursi kerjanya. Rayya mengejar cepat dan duduk di depannya. Rayya terus menatap seakan mencari tahu apa yang salah dari Daus? Kenapa ia bisa sebesar ini membencinya? Demi Tuhan… Daus terang-terangan mengumumkan bahwa di antara mereka, ada dinding yang bahkan Rayya pun tidak boleh melupakan itu. Bahwa mereka sudah bukan muhrim, mereka bukan lagi suami istri. Mereka sudah bukan siapa-siapa.
Astaga!
Ya Tuhan!
“Kamu ada perlu apa?” tanya Daus sambil pura-pura sibuk. Tangannya sibuk menggerakkan mouse dan matanya menatap komputer.
“Kamu… udah makan, Mas?” tanya Rayya manis. Demi lelaki ini ia melupakan sejenak harga dirinya.
Daus menghela napas lalu kembali berpura-pura membaca data dalam layar di depannya.
“Kamu… udah makan, Mas?” tanya Rayya untuk kedua kali.
“Kamu ke sini karena mau nanya saya udah makan apa belum?” tanya Daus tanpa memalingkan mata dari pekerjaannya.
Rayya terdiam beberapa detik kemudian menarik napas lalu berdeham. Dulu… dulu ketika mereka masih kecil hingga remaja, Daus menggunakan bahasa formal dengan Rayya. Wanita itu paham kalau Daus berusaha menegaskan posisinya-- posisi mereka bahwa Daus adalah atasan Rayya, bosnya… dan wanita itu bukan siapa-siapa! Rayya merasa tengah diingatkan sepanjang waktu bahwa dirinya itu hanyalah upik abu yang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa.
Sampai… entah sejak kapan ketika ia menyadari kalau Daus mulai menggunakan kata ganti “aku” dan “kamu” ketika berbicara dengan Rayya. Mungkin itu berawal ketika lelaki itu menyadari kalau Rayya sudah pantas menjadi pendampingnya. Mungkin itu ketika mereka menemukan momen-momen manis yang mungkin, meskipun sekejap, membuat Daus menyukainya. Mungkin itu momen sesaat di mana Rayya… punya tempat meskipun sebentar… di hati Daus.
Lalu lelaki itu kembali menegaskan batas di antara mereka.
“Saya sudah makan pagi tadi,” jawab Daus, melirik sekilas lalu mendapati kalau wanita di depannya itu menunduk lemah. Rayya memandangi tumpukan kertas di tangannya.
Daus mengamati wanita itu beberapa detik. Wajahnya nampak kelelahan, bukti kalau pola kehidupan mantan istrinya mulai tidak bagus. Rayya tidak pernah mau tidur kemalaman. Baginya, tidur kelewat malam itu akan membuatnya memiliki kantung mata, membuat kulitnya kendur, melewatkannya memiliki golden time untuk recovery kolagen dan sel-sel regenerasi tubuhnya. Maka Rayya, seumur-umur-- sepengetahuannya tidak akan mau begadang.
Meski pekerjaannya menumpuk, tidur malam tepat waktu merupakan keharusan bagi Rayya. Tapi… wanita ini memiliki raut kelelahan. Meski wajahnya masih menawan dan memiliki rona memikat, namun bertahun-tahun lelaki itu mengenal Rayya, ia paham bahwa skin care tidak mampu menutupi seutuhnya pola hidup yang tidak baik dan mantan istrinya ini… sedang tidak baik-baik saja.
Kalau ia boleh jujur, Daus ingin meninju dirinya sendiri kemudian berlutut di depan Rayya, mengiba maaf wanita itu untuk membuat perasaannya tenang. Namun… Daus tidak bisa. Ia telah berjanji, kepada Ibrahim juga kepada dirinya sendiri.
“Saya udah makan, Rayya,” gumamnya dengan lebih lembut. Ia menghela napas lalu menghadapkan tubuh sepenuhnya kepada Rayya. “Kamu ke sini kenapa?”
Rayya mengangkat kepala lalu kembali menatap lelaki itu. Beberapa menit wanita itu hanya diam mengamati raut lelaki di depannya. Daus tidak benar-benar baik-baik saja. Ia terlihat… berantakan.
“Mas udah lama nggak cukuran?”
Refleks Daus mengernyit lalu meraba dagunya. Ketika menyadari kelakuannya, ia segera menurunkan tangan, mencoba bersikap wajar. “Selain menanyakan makan atau cukuran, kamu mau apa ke sini?” tanyanya dengan nada kembali datar, menyadarkan Rayya dan… dirinya sendiri kalau mereka sekarang memiliki pembatas. Mereka tidak boleh lupa dengan posisi masing-masing.
“Kenapa… kenapa posisi kita malah ditukar, Mas?” tanya Rayya, pasrah karena Daus terus menolak perhatian yang ia beri. Rayya tidak boleh menghina harga dirinya, kan? Dengan mendatangi mantan suaminya seperti ini, sebenarnya ia telah melukai harga dirinya. Lalu… seberapa perlu ia merendah kepada lelaki yang sudah menceraikannya?
“Ini… namaku kenapa malah ditulis begini? Harusnya itu yang tanda tangan kamu kan, Mas?”
“Nggak, itu udah benar. Mulai sekarang… mulai beberapa hari kemarin, kamu diangkat jadi Direktur Strategi dan….”
“Aku belum bilang setuju, Mas,” tukas Rayya gemas. “Dan Mas tahu kalau ini salah!”
Rayya mengernyit. “Ya… bagian… ini… ini salah Mas, ini semua salah! Kamu tahu kalau menjadi Direktur Strategi dan Operasional itu artinya akan menjadi pewaris utama perusahaan. Ini salah, Mas. Harusnya kamu yang menjabat karena….”
“Sayang….”
Astaga!
Astaga!
Astaga!
Demi Tuhan… tadi lelaki itu bilang apa?
“Sayang?” Rayya bergumam mencoba mencerna hal yang baru mantan suaminya itu.
Daus berdeham kasar lalu mengambil berkas di tangan Rayya. “Sayangnya….”
“Sayang?” ulang wanita itu. Matanya tertuju kepada lelaki itu.
Daud mengalihkan pandangan pura-pura sibuk melihat kertas di tangannya. “Sayangnya, kita semua tahu kalau kakek memutuskan sesuatu, ia tidak boleh dibantah.”
Rayya melenguh, batinnya berdarah-darah. Ia merasa kalau meski hanya beberapa menit, ia dilambungkan, diberi harapan, diberi kesempatan untuk sebentar saja, merasa kalau lelaki pujaannya ini masih mencintainya.
“Sayangnya, kakek memilih untuk mengangkatmu sebagai Direktur Strategis dan Operasional, menukar posisi kita.”
“Mas!” pekik Rayya putus asa.
“Kita semua tahu, Rayya… bahkan dari kemarin pun ketika saya yang menjabat di situ dan kamu yang jadi Direktur Keuangan, kita selalu bertukar pekerjaan. Kamu mengerjakan tugas-tugas saya dan saya mengerjakan tugas-tugas kamu,” ujarnya sungguh-sungguh. “Jadi kalau posisi kita ditukar, itu sebenarnya sama aja,” tambahnya.
“Nggak begitu juga konsepnya, Mas. Kita semua tahu kalau Mas seharusnya di posisi itu karena mas yang akan menjadi penerus….”
“Raya!”
Wanita itu mengerjap saat lelaki itu meneriakkan namanya.
“Kita semua tahu kalau kakek baik-baik saja. Ia pasti berumur panjang dan memimpin perusahaan ini dalam waktu lama. Karena itu… bisa kita berhenti membicarakan soal siapa yang akan mewarisi perusahan ini atau… siapa yang meneruskan siapa?!” tegasnya.
“Apa karena Mas menikah lagi? Kakek marah karena Mas nikah lagi? Lalu kalau Mas ngerti keadaan kakek, kenapa Mas buru-buru nikah? Mas tahu kalau kakek nggak gampang nerima orang. Kenapa Mas buru-buru nikahin wanita itu? Kenapa Mas nggak ngomong dulu ke aku? Kenapa Mas nggak….”
“Cukup!” pekik Daus keras.
“Tapi… Mas… kenapa Mas malah nikah secepat ini….”
“I said enough!” pekiknya lebih keras.
Wanita itu memekik melihat kemaran Daus seperti ini.
“Untuk masalah ini, tolong… Rayya… I said enough,” tukasnya dengan nada lemah.
Daud mengejapkan mata lalu memalingkan tatapan ke penjuru ruangan, ke mana pun asal tidak menatap wanita ini. Seseorang, tolong bilang pada lelaki itu, apa yang harus ia lakukan untuk menyembuhkan dirinya? Untuk mengembalikan harga dirinya? Untuk menguatkannya menyimpan rahasia itu selamanya, sesuai perjanjiannya pada kakeknya? Bahwa Tsurayya Busro, selamanya tidak boleh tahu.
Lelaki itu terpejam, saking gemasnya kepada Rayya. Kenapa wanita ini harus mengejarnya segigih ini? Tidak tahukan ia kalau Daus melakukan ini demi menjaga kewarasannya, menjaga kesadarannya?! Kalau ia tidak menikahi Rinai, ia tidak tahu apakah saat ini ia masih waras atau sudah gila mengingat ia harus menyembunyikan rahasia besar dari Rayya. Mengingat… betapa ia pun sesungguhnya mencintai mantan istrinya namun ia tahu kalau ia terlalu pengecut untuk memilikinya dan… Tuhan tahu bahwa ia terlalu pengecut untuk menjadi suami seorang Tsurayya Busro.
“Kenapa?” tanya Rayya. Ia berusaha mengikis jarak, mencondongkan tubuh lalu menyentuh tangan lelaki itu.
Daus mendelik ketika merasa sentuhan Rayya di kepalan tangannya. Refleks ia bergetar dan hampir memohon untuk diampuni. Ia hanya ingin menyelamatkan dirinya, ia hanya ingin Rayya berhenti menginginkannya, ia hanya ingin… Rayya paham bahwa ia punya pilihan untuk menentukan hidupnya sendiri dan melupakan pernikahan mereka.
Kedua tangannya bergetar ketika merasakan sentuhan Rayya. Wanita itu menepuk kemudian mengelusnya beberapa kali, kebiasaan Rayya ketika lelaki itu tengah menghadapi masalah besar. Wanita itu akan menepuk atau mengelusnya bahkan pernah memeluknya hanya agar membuat lelaki itu merasa nyaman atau aman. Rayya, memberitahunya-- dengan sentuhannya kalau lelaki itu akan baik-baik saja, semua akan kembali, seterusnya baik-baik saja karena Rayya ada di sampingnya.
Tapi bagaimana kalau kenyataannya kali ini, meski Rayya berusaha membuatnya nyaman, mengelusnya, menepuknya bahkan memeluknya, Daus tetap merasa salah, merasa tidak baik-baik saja?!
“Percaya, Mas… semua akan baik-baik saja,” ucapnya pelan nyaris mendesis, berbisik. Kalau saja tidak dibatasi meja, Rayya mungkin memeluknya sedari tadi. Ia mengamati lelaki itu. Kedua matanya memejam. Mungkin Daus mencoba mengurai kejadian ini satu per satu, mengartikan perasaan yang disalurkan Rayya. Ia percaya bahwa mantan suaminya sebenarnya masih memiliki rasa untuknya.
“Mas!” sebuah teriakan membuat kedua orang tersebut terdiam sesaat. “Kenapa Mas nggak mau ngangkat voice callku?” tanya wanita itu ketus. “Ngapain Mas berduaan sama dia?!” pekiknya kesal.
Rayya menatap perempuan muda ini. Tidak terlampau muda sih. Mungkin usia mereka malah bisa di bilang hampir sama meski memang agak dua tahunan dia lebih muda tapi… penampilan Rayya tidak terlalu setua itu. Sedangkan wanita ini, penampilannya seperti anak kuliahan yang baru pulang dari kampus.
Hanya karena wanita ini menggunakan rok berdraperi renda-renda-- berbahan brokat dengan tank top yang dilapisi kemeja bunga-bunga, memang membuatnya terlihat seperti dedek gemesh yang baru keluar dari kelas atau konsultasi skripsi dengan dosen, berbanding terbalik dengan Rayya yang menggunakan setelan kerja lengkap. Rayya memang memilih pakaian model ini ketika datang ke kantor. Meski ia tahu cara berpakaiannya serius, namun ketika bersama Daus, Rayya berpenampilan beberapa tahun lebih muda.
Ia menunjukkan keseriusannya ketika menghadiri rapat atau untuk menemui lawan bisnisnya. Tapi waktu berada di rumah atau sedang berduaan dengan mantan suaminya dulu, ia bisa kok kalau sekadar menggunakan pakaian ala anak baru gede seperti wanita itu. Tidak mungkin kan kalau ia memakai pakaian unyu seperti perebut suaminya ini ketika bekerja?!
“Mbak bisa keluar sekarang?” usir wanita itu kesal.
“Rinai!” pekik Daus berusaha mencegah istrinya.
“Mbak… keluar sekarang!” ulangnya lagi.
“Rinai!” pekik Daud lebih keras.
“Mbak keluar sekarang atau saya panggil kemanan?!” ancamnya keras.
“Rinai!” Daus berdiri bergegas menarik wanita itu.
Wanita itu berusaha melepaskan tangan suaminya. “Saya tidak suka anda mengganggu suami saya. Sekarang saya minta anda keluar dari ruangan ini!” usirnya sambil menunjuk ke arah muka Rayya.
Rayya tersenyum dingin lalu menepis tangan wanita itu. Ia kemudian berdiri, lalu melangkah mendekati mantan suaminya. “Mas tahu kalau kita masih bisa rujuk?!” tukasnya setengah berbisik di telinga mantan suaminya.
Daus memejamkan mata ketika Rayya terang-terangan tertawa mengejek ke arah istri barunya. Setengah mati wanita itu berusaha untuk tidak menampar Rayya. Rinai paham kalau posisinya ini tidak sebanding dengan Rayya.
“Mas tahu kan kalau sekalinya Mas bilang rujuk maka kita... akan kembali bersama,” bisiknya di telinga lelaki itu. Tangannya menepuk bahu Daus dan membetulkan dasi mantan suaminya itu.
Ketika Daus menarik napas lalu mengumpulkan keberanian untuk membuka mata, Rayya telah memilih keluar dari sana dan membiarkan kedua manusia itu memulai sebuah pertengkaran.