
Rayya menyandarkan tangan ke meja. Ia menunduk kemudian memijit kening, mendadak pusing. Kepala Rayya menengadah ketika mendengar suara langkah seseorang masuk ke ruangan.
"Tuan Ibrahim ingin berbicara dengan Nona Rayya," tukas Pak Handoko, melangkah cepat ke arah Rayya, menyerahkan ponsel di dalam genggamannya.
Di luar beberapa manager masih mengamati keadaan di ruangan melalui pintu kaca.
"Kamu kenapa marah-marah?" tanya lelaki tua itu.
Rayya menghela napas. Ia melirik Iman. Lawannya itu berdiri tidak seberapa jarak, menunjukkan mimik kesal karena kelakuan Rayya
"Kakek tahu kan kalau saya sangat membenci pengkhianat?" ucapnya kesal, menyindir Iman. "Gimana bisa dia berkhianat sama Mas Daus, adik iparnya. Dia mau ngerencanain apa sih? Bisa-bisanya dia pengaruhin Kakek?!"
Ibrahim mendengkus. "Kamu pikir, Kakek bisa dibohongin bocah kayak Iman, begitu? Kamu mulai ngeremehin Kakek?"
Rayya mengerjap. "Bukan gitu, Kek. Tapi kan kenyataannya Mas...."
"Kenyataannya, Kakek memang berencana menghukum mantan suamimu. Kakek memang berniat mengganti posisi Daus."
Wanita itu mendelik. "Kenapa? Mas Daus? Kenapa Kakek bisa berpikir... menggantikan Mas Daus kayak gini coba?"
Ibrahim menghela napas. "Apa kamu pikir, Kakek ngebiarin dia kabur dan bebas setelah bikin masalah? Kamu pikir video dia nggak memberi efek ke perusahaan?"
Rayya mengernyit. Ia mengamati Ibrahim. Lelaki tua itu masih memakai piyama. Tapi... itu sepertinya pakaian yang pernah Rayya lihat tapi... bukan sekadar piyama tidur. Itu seperti baju rumah sakit. Sebuah bordir di bagian kantong depan membentuk tulisan yang pernah Rayya baca.
Rayya kembali berusaha memusatkan diri beserta pikiran ketika Kakeknya kembali bicara.
"Kelakuan Daus itu bahkan sempat mengganggu saham perusahaan. Coba kamu pikir, kolega kita udah panik. Headline berita di WAG menyebut Daus, calon penerus Busro company, dicurigai terkena masalah mental."
Rayya melongo, refleks tangannya menutup mulut. Ia memang tidak terlalu perhatian pada grup di media sosial miliknya. Soalnya biasanya cuma berisi info ghibah. Paling banter cuma menginformasikan hal yang sedang happening di lingkungan society mereka. Ditambah beberapa waktu kemarin Rayya sibuk melakukan metamorfosis mental, maka sudah wajar Rayya lantas tidak berminat menyentuh ponsel. Ia memilih berkencan dengan diri sendiri, membaca buku untuk mengisi me time pekan kemarin.
Rayya menatap hal aneh di depannya. Sebuah selang tersambung dengan punggung tangan Ibrahim. "Kakek lagi di rumah sakit?"
"Iya. Makanya, kamu nggak usah nambah pikiran Kakek. Kamu nggak usah mikir kalau Iman mencuci pikiran Kakek. Kamu ngeraguin kemampuan Kakek? Masa bocah itu bisa segampang ini ngehasut Kakek?!"
Rayya menghela napas. Ia melirik malas kemudian memicingkan mata, memberi tanda bahwa ia kelewat kesal kepada musuhnya itu.
"Tapi Iman itu memang nggak bisa kita percaya, Kek. Buktinya dia bisa tanpa merasa bersalah menggantikan Mas Daus. Emang dia nggak ngerasa... bagaimana gitu? Kan Mas Daus adiknya, adik ipar Iman loh!" tukasnya menekankan kata... adik ipar. Seolah-olah memberi beban mental kalau kondisi ini memiliki pelanggaran, minimal melewati batas norma sosial bahkan norma kepantasan.
"Kamu sendiri nggak ngerasa salah? Kamu ngebelain Daus loh. Padahal dia udah jelas salah, bikin masalah."
Rayya menghela napas.
"Biarin Daus memperbaiki kesalahannya, Rayya. Dia itu memang Kakek suruh pindah sementara. Lagian proyek yang kamu larang tapi dia ngotot mau ngambil, lagi kena masalah. Coba... dia udah bikin berapa masalah sebulan ini? Kakek sengaja ganti posisi dia, ngasih kesempatan buat orang lain mencoba posisi itu. Supaya Daus itu sadar, kalau di dunia bisnis, banyak kemungkinan yang terjadi ketika kamu lengah. Dia perlu belajar tanggung jawab."
Rayya mengerucutkan bibir, seakan tidak mau menerima alasan Kakeknya.
"Kalian coba belajar kerja sama. Untuk sementara Iman akan mengisi posisi Daus. Pokoknya, Kakek nggak mau kamu ngamuk lagi. Kalau Kakek dengar kamu nanti bikin ulah lagi... itu berarti kamu... nantangin Kakek."
Rayya mengerjap.
Rayya nyaris tersedak air ludahnya sendiri. Kerongkongannya tercekat. Satu-satunya prediksi yang mesti Rayya pikirkan adalah... kalau ia menantang Kakeknya, maka lelaki itu mau melakukan apa? Ia bisa berbuat apa?
Setahunya, ia tidak memiliki kelemahan. Nyaris tidak memiliki kelemahan. Ia bahkan tidak punya sesuatu untuk sekadar diimpikan atau diinginkan. Wanita itu bahkan bertekad melupakan Daus. Lalu ia bisa mendapat ancaman apa dari Ibrahim?
Paling-paling ia cuma memikirkan cara bertahan. Karena kalau ia macam-macam, bisa-bisa ia ikut terancam lalu diusir dari perusahaan dan namanya akan di blacklist dari seluruh perusahaan di negara ini. Rayya... masih perlu bertahan hidup.
Iman berdeham kemudian menatap serius ke arah Rayya. "Gimana, kamu bisa berdamai sama aku kan?"
Rayya menutup ponsel kemudian melangkah ke arah Handoko, mengembalikan ponsel miliknya. Rayya melirik malas ke arah suara. Lelaki itu berdiri tegak kemudian kembali memberi penawaran.
"Gimana, kita bisa berdamai?"
Rayya masa bodoh kemudian menatap Pak Handoko. "Kakek sakit?"
"Tuan Ibrahim cuma kelelahan."
"Kelelahan sampai diinfus kayak gitu?" selidiknya. "Sejak kapan Kakek sebegini lemah sih?" tuntutnya lagi. Dari dulu yang ia ingat, Ibrahim Busro itu berhati-hati dengan kesehatannya. Memang beberapa kali pernah sakit, tapi mengingat ia sendiri paham kalau perusahaan ini menanggung kehidupan ribuan karyawan, Ibrahim merasa bertanggung jawab untuk menjaga kesehatan. Demi kestabilan perusahaan. Demi kestabilan harga saham. Demi kestabilan kesejahteraaan karyawan.
Handoko menghela napas. "Tuan Ibrahim itu sudah sangat tua. Kondisi fisik beliau mulai menurun beberapa bulan kemarin."
Ia memicingkan mata. "Kakek nggak lagi ngerjain saya?"
"Untuk masalah itu, Nona Rayya bisa langsung ke Singapur kalau mau mengecek kesehatan Kakek."
Tangannya refleks menutup mulut. Kalau Kakeknya bahkan pergi ke negara sebelah, itu berarti penyakitnya bukan main-main. "Kakek sakit beneran? Sakit... apa?"
"Kemarin Beliau mengeluh sesak. Pagi ini tim dokter memilih untuk merujuk ke Royal Hospital."
Rayya menghela napas. Kebiasaan buruk Ibrahim Busro itu salah satunya... mengkonsumsi tembakau. Mau itu merokok, menggunakan lintingan, cerutu... lelaki tua itu bisa dikatakan... ketergantungan dengan tembakau meski para dokter mewanti-wanti supaya dia bisa berhenti mengkonsumsi benda itu.
"Kata dokter bagaimana?"
Handoko menggeleng pelan. "Baru sore besok medical check up keluar hasilnya."
Rayya mengusap kening. Baru beberapa waktu kemarin perempuan itu berharap Kakeknya terkena musibah. Ia tidak menyangka kalau... Tuhan mendengar do'anya kemudian memenuhi keinginannya secepat ini. Rayya mendadak merasa sedih, ia merasa bersalah.
Kadang, manusia terbiasa menyumpah serapah ketika sedang marah. Kalau tiba-tiba Tuhan mengabulkan keinginan sebegini cepat... rasa bersalah tiba-tiba ada, datang sebagai pengingat kalau nyatanya, Tuhan itu Maha mendengar. Bagaimanapun, ia merasa penyakit Kakeknya kambuh karena sumpahnya. Mendadak ia merasa mendurhakai Kakeknya. Segala kekesalan yang ia rasa kemarin mendadak menguap, menyaksikan Ibrahim Busro terpasang selang infus di tangannya.
Dulu, tangan itu merupakan penyelamatnya. Rayya menggenggan Ibrahim Busro keluar dari panti asuhan. Rayya menggenggam Ibrahim Busro masuk ke kehidupan yang baru. Dan setelah dewasa, Rayya malah menyumpah serapah penolongnya.
Rayya menatap Iman. Lelaki itu hanya tersenyum manis, kelewat manis sampai Rayya menebak kalau senyumannya sekadar mainan. Tidak tulus, cuma dibuat-dibuat.
"Semisalnya pun Kakek memaksa saya nerima kamu, saya tetap nggak sudi nerima kamu jadi partner saya. Jangan pernah mimpi! Jangan pernah berharap kita akan berdamai. Dan... jangan pernah berkhayal saya mau mengakui kamu di perusahaan ini." ancamnya kemudian memilih keluar, membiarkan situasi tetap memanas di antara mereka.