His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
this new look, of a new life, new her



Pekan ini merupakan pekan ke empat, dan ini berarti senin ini rapat kantor bukan hanya membahas weekly report, namun sekalian bersama-sama membahas proyeksi penjualan bulanan. Tentunya, hari ini bermacam divisi pasti berkumpul, termasuk Divisi keuangan. Maka Rayya, kemungkinan besar bertemu dengan Daus.


Wanita itu menghela napas. Ia telah berdiri mengelilingi walk in closet, memilih setelan berwarna apa, atau model yang seperti apa yang sebaiknya ia pakai hari ini. Rayya bukannya berniat untuk sok berdandan atau dress up, cuma… memilih pakaian biasanya mampu menaikkan moodnya. Mengingat pekan kemarin Rayya mengalami insiden melelahkan… lahir dan batin, maka menurutnya ia harus berhati-hati memilih pakaiannya di hari pertama bekerja. Belum lagi, ia mengingatkan untuk tidak sembarangan memakai pakaian. Kesalahan memilih model, bisa membuatnya terlihat menggelikan atau menyedihkan, terlihat tidak fit atau bahkan membuatnya nampak merana. Maka itu berarti… memberi celah bagi Daus, sekadar untuk mengasihaninya.


Wanita itu menghela napas, kemudian menatap berbagai macam komposisi warna dalam deretan setelannya. Kesalahan memilih warna pun mampu memberi kesan mengerikan. Itu bisa membuatnya nampak pucat, kulit kurang cerah, atau kusam. Nanti karyawan bisa menjadikannya aset pergosipan, apalagi masalah video yang memang tersebar di berbagai media sosial masih panas. Rasanya mustahil berharap tidak ada yang menonton sama sekali. Bahkan mungkin itu sudah menjadi trending topik di berbagai grup chat karyawan. Makanya, khusus kali ini, ia tidak boleh sembarangan memilih pakaian.


Rayya memegang blazer berwarna hitam. Ia kemudian meletakkannya kembali. Wanita itu bahkan ketika normal, kurang menyukai warna itu. Kalau tiba-tiba ia mengenakannya pagi ini, orang akan berasumsi ke sana sini. Padahal niatnya untuk memberi kesan tegas, nanti malah dipikir ia sedang bersedih.


Ia melangkah ke samping, melewati setelan berwarna navy-- the new black. Dibandingkan warna hitam, Rayya memilih mengoleksi navy. Ketika fashionista beramai-ramai mengatakan kalau Navy is a new black. Rayya bersorak. Setidaknya ketika ia perlu memakai warna hitam atau mendatangi acara dengan dress code kelam, ia punya warna alternatif selain hitam. Sekali lagi, Rayya tidak begitu menyukai hitam karena kelewat kelam. Navy maybe is more than enough.


Rayya menimbang-nimbang warna itu sebelum kemudian, tertarik mengenakan warna royal blue. Berbanding dengan navy, warna royal blue lebih cerah. Terlebih warna itu melambangkan kepedulian, kepekaan, dan kelembutan. Mungkin, setelan itu bisa menjadi pilihan yang baik untuk dipakai sebagai awalan pekan ini.


Wanita itu mengulurkan lengan, berusaha menjangkau pakaian tersebut. Tidak sengaja wanita itu menyenggol sebuah rok span dengan motif kotak-kotak besar, model preppy look. It’s burruberry!. Rok itu terlepas dari gantungan. What a coincidence!


Rayya menunduk, mengambil benda itu. Ia mengingat-ingat, itu merupakan benda pertama dari banyaknya rok yang ia beli-- dibelikan lebih tepatnya, ketika Rayya lulus kuliah, bersiap untuk masuk kerja. Dibanding warna cokelat-- warna khas brand burruberry, Rayya dan duo Mangkumulyo memilih warna forest green mengingat lebih unik dibandingkan motif kotak cokelat yang agak pasaran.


Saat itu ia menemani Dhita dan Arsa berbelanja. Arsa waktu itu membeli kemeja kotak-kotak flanel dengan hijau gelap. Alasan sama, dibanding cokelat yang sudah biasa sebagai warna statement brand tersebut, warna kehijauan lebih menarik.


Ia tiba-tiba melihat rok midi, ada di display, bersebelahan dengan kemeja pilihan Aksa. Refleks Dhita bergegas mengambilnya dan mengatakan, “kalian kayak couple kalau mba Rayya pakai ini!”


Arsa tersenyum, kemudian mengambil benda itu dari tangan Dhita. “Rayya makin nggak kepingin pakai. Dia nggak tertarik jadi pasangan Mas,” sahutnya. “Padahal, ini warna yang bagus. Forest green, artinya… reborn… kesuburan, dan keberuntungan,” lanjutnya.


Dhita mengangguk. “Warna deep green, alias forest green, a.k.a warna hutan memang katanya lambang kelahiran kembali, keberuntungan baru. Kamu beli deh, Mba! Trust me, I think you need a new luck for your future.”


Rayya mengerjap. Ia mengamatinya, a line skirt menutupi lututnya, yang kemudian dibelikan Dhita, bukan Arsa. Lelaki itu bukan tipe pemaksa, namun Dhita, beda cerita. Wanita itu lebih persistent, sedikit memaksa.


“Kamu nggak usah takut dikira pasangan saya. Pasangan bukan cuma kekasih, kita bisa menjadi adik-kakak. Couple is not always lovers, we can be like a sibling.”


Rayya tersenyum waktu mendengar perkataan lelaki tersebut.


“Every time you need a good luck, choose this one. And remember, you will always… have a backup!”


Rayya menarik napas, mencoba benda tersebut kemudian menatap pantulannya melalui kaca. Arsa benar, Rayya butuh backup. Ia butuh keberuntungan juga, dan… masa depan yang baru. Mungkin Rayya butuh rok ini.


Rayya menggunakan hairband-- bando, lalu memberi face mist, menyemprotkan beberapa kali, memberi kesan lembab di kulit muka. Kemudian ia memakai krim pagi lalu meratakannya. Beberapa menit kemudian, ia membaurkan cushion foundation berSPF, hanya satu lapis tipis, sekadar sebagai penangkal ultraviolet. Wanita tersebut menepuk-nepuk bagian wajahnya, memastikan produk tersebut sudah merata.


Setelahnya Rayya merapikan alis, membenahi bulu mata, kemudian membubuhkan highliter di area tulang pipi. Daripada memakai blush on dengan warna-warni, Rayya memilih untuk mempertegas pipi menggunakan warna natural keemasan. Sekadar memberi tampilan glass skin look, kulit sehat dan segar.


Tidak memakai banyak lapisan, cukup satu cushion foundation sebenarnya sudah membuat Rayya segar. Namun, pagi ini ia berencana melakukan permainan pada penampilannya. Ia pun berpikir untuk melakukan eksperimen pada rambutnya.


Bergegas ia melepas hairband, kemudian menyisir poni ke pinggir. Rayya mengangkat tinggi rambut, mengikatnya model ponytail. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, mengingatkannya pada ikatan rambut boneka Barbie.


Rayya tersenyum. Ia kemudian melangkah keluar kamar, bersiap untuk menyeduh minum.


“Ya Allaah…! Astaga!”


Rayya menatap kesal, kaget mendengar teriakan itu. Asistennya melongo mengamati penampilan Rayya sejak keluar kamar. Ponytail Rayya, menyentuh punggung bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya.


“Saya kira, Miss siapa! Kayak bocah SMA yang mau pergi sekolah.” ujarnya sambil menggeleng.


Rayya menghela napas, meraih cangkir kemudian menyeduh minuman. Pagi ini ia memilih membuat teh hijau murni, tanpa krimer. Cuma teh hijau yang diseduh menggunakan air panas.


“Kamu bisa berhenti ngeliatin saya nggak? Saya ngerasa kayak alien kalo kamu ngeliatin begitu. Kamu nggak usah pakai melongo. Saya masih atasan kamu, masih orang yang sama.”


Asistennya menggeleng. “Miss kayak bocah SMA!” tukasnya takjub. “Roknya kotak-kotak, kayak seragam sekolah. Blousnya warna krem pakai pita, kayak mau upacara. Kalau nanti blazernya warna polos… nanti kayak almamater. Udah fix… Miss nanti bisa dikira bocah nyasar.”


“Saya kok kepikiran pingin pakai sneaker. Biar beneran dituduh jadi murid nyasar.”


Shanaz masih mengoceh. Ia sibuk berkomentar ‘astaga’, ‘Oh God’, ‘Astaghfirullah’ berkali-kali.


“Percaya deh ini Gigih Hadeed nggak ada apa-apanya!”


Rayya mengernyit. “Lebay!” Wanita itu menarik napas, membayangkan reaksi pegawai lain. Setidaknya, penampilannya tidak tampak menyedihkan. Paling tidak, orang bisa berpikir kalau di video itu, Daus mengamuk karena menyesal menceraikan Rayya. Mereka tidak perlu mengetahui kalau nyatanya… seperti perkataan Daus, ia bukanya menyesal. Ia malah terlanjur muak dipaksa menikahi Rayya.