
Kedua mata wanita itu perlahan mulai terbuka. Usapan lebut beberapa kali ia rasa di pipi. Perlahan ia menghela napas, kemudian memandang langit-langit.
Wanita itu menemukan mantan suaminya, duduk begitu tenang di samping tempat tidur. Lelaki itu tersenyum lembut kemudian kembali mengelus pipinya. Rasa bahagia memenuhi pikiran Rayya.
Ia kembali memejamkan mata sambil mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Ini bukan kamarnya. Rayya tahu benar kalau ini ruangan asing. Ia mulai berusaha mengingat apa yang ia alami. Pagi tadi ia menonton video melalui ponsel. Kemudian, ia berlari bertelanjang kaki, nyaris kehilangan kewarasan... sekadar untuk mendatangi mantan suaminya. Sepanjang di perjalanan, pikirannya cuma berisi hal-hal buruk mengenai suaminya, betapa lelaki itu membutuhkannya, merindukannya, menyimpan cinta untuknya, melupakan kenyataan bahwa lelaki itu... mungkin benar-benar muak kepadanya.
Usapan lembut ia rasa di pipi. Tangan itu benar-benar hangat. Rayya bahkan berpikir kalau... Daus masih mencintainya. Ia ingin terbahak karena sempat melihat langsung kalau banyak sisa percintaan di sana-sini yang Daus lakukan bersama istri barunya. Rayya benar-benar gila kalau masih berani bermimpi betapa Daus begitu mencintainya!
Refleks ia berusaha menyingkirkan kedua tangan lelaki itu yang mengusap lembut pipi, kening, bibir, mata,pun... helaian rambutnya. Daus bergeming, ia kembali melakukannya... lebih lembut. Wanita itu menangis, menahan isakan ketika menyadari kalau ini semua nyata.
Ia memejamkan mata lebih kuat, berharap ketika membuka nanti, matanya melihat bahwa ini semuanya cuma mimpi buruk. Ia ingin waktu tersadar kelak, ternyata mereka masih menikah. Daus tidak menceraikannya lalu... mereka masih baik-baik saja.
Rayya merasakan gerakan di sampingnya. Matanya terbuka ketika mendengar seseorang merintih perih. Ia menatap ke arah suara.
"Maaf... maafkan Mas," ucap lelaki itu kemudian bersimpuh tepat di pinggir ranjang.
Rayya memilih untuk duduk, kemudian menurunkan kaki menghadap ke arah mantan suaminya. Lelaki itu masih meracau.
"Mas minta maaf," ulangnya.
Rayya menatap lurus. Ia menghela napas, menahan isakan lalu menyeka air matanya sendiri. Wanita itu terus menangis tanpa suara.
" Mas kenapa minta maaf?"
Lelaki itu terisak tambah keras, kemudian menumpukan kening ke lutut Rayya.
"Mas," lirihnya, kemudian bergegas turun lalu terduduk di samping lelaki itu.
Rayya memeluknya... lekat. Menciumi pipinya, kemudian lehernya namun... ia terdiam. ciuman itu berhenti ketika menatap bekas kemerahan. Rayya dipaksa benar-benar sadar ketika ia menemukan bukti baru kalau nyatanya... harapannya kosong, ini benar-benar terjadi. Lelaki itu bukan miliknya lagi. Ia seakan tertampar begitu keras.
Rayya berusaha kuat, kemudian memeluknya erat. Ia menumpukan kening pada lengan lelaki itu. "Mas kenapa?"
Lelaki itu menengadahkan kepala lalu duduk tegap, menghadap wanita itu. "Mas... minta maaf."
Rayya berusaha tersenyum. "Mas... punya salah?" Kedua lengannya melepas pelukan, kemudian matanya menyorot lurus, beradu pandang bersama mantan suaminya itu.
Daus menatap lembut kemudian pelan mengangguk sebelum kembali sendu. "Mas... udah nyakitin kamu," jawabnya.
Rayya menghela napas. "Mas masih cinta?"
Daus menatap takut.
Rayya mengulanginya, menyandarkan kening pada lengan lelaki itu. "Mas masih cinta sama Rayya?"
Daus mengerjap kemudian membelai kepala Rayya. "Kamu... mau Mas ngomong apa?"
"Kamu mau Mas jawab apa ke kamu? Apa kamu itu pingin Mas bilang kalau Mas masih sayang sama kamu?"
"Aku mau Mas jujur," jawabnya cepat. "Aku mau Mas jujur sama aku," ulangnya.
Daus menggeleng.
"Mas pernah bilang kalau Mas dulu... dulu Mas benci kan sama Rayya? Terus... Mas tiba-tiba bilang Mas suka sama Rayya, Mas nerima pernikahan kita. Terus... Mas... Mas minta cerai! Apa... apa Mas benci lagi sama Rayya?"
Daus menggeleng, kemudian berusaha memejamkan mata... menutup kenyataan betapa Rayya kelewat terluka karena kelakuannya. Kalau lagi-lagi untuk kesekian kalinya ia dipaksa menghadapi Rayya dalam keadaan sesedih ini.
"Kita pernah bahas ini, Rayya," jawabnya lembut kemudian membelai kepala wanita itu perlahan. "Kita pernah bahas ini," ulangnya. "Mas dulu pernah salah karena Mas jahatin kamu. Mas waktu itu belum sadar kalau... kalau kamu... cantik begini," ucapnya sambil tersenyum, manis. "Mas kan udah pernah ngomong kalau perceraian itu bukan salah Rayya, tapi murni kesalahan Mas. Mas udah pernah ngomong, kan?!"
"Tapi Mas belum kasih Rayya jawaban yang sebenarnya. Kenapa, Mas? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang manis? Apa aku kurang baik? Apa aku...."
"Rayya, Rayya! Dengar Mas! Mas nggak mau kalau kamu begini, kamu nggak boleh nyalahin diri sendiri!" Tukasnya cepat, mengguncang kedua bahu wanita itu. "Lihat Mas! Kamu Tsurayya Busro... kamu kebanggan Kakek, bahkan nggak boleh satu orang pun meremehkan kamu! Ngerti kan?!"
Rayya mengerjap menyadari perkataan mantan suaminya.
"Kenapa kamu itu selalu meremehkan diri sendiri? Kamu... cantik, kamu baik, kamu itu wanita paling sempurna untuk Mas jadikan istri, Rayya," tukasnya sambil tersenyum lembut... lembut pun hangat sehingga Rayya lupa kalau ia telah diceraikan.
"Kenapa... Mas minta cerai kalau... Mas bilang... Rayya wanita paling sempurna untuk... dinikahi?" Tanyanya sambil bergetar. Kedua bibirnya bahkan tidak sanggup untuk mengeluarkan suara kalau kebingungannya tidak mengambil alih pikirannya. Otaknya nyaris buntu membayangkan apa yang lelaki ini rencanakan. Seakan mendengar banyak omong kosong ketika mereka membahas masalah ini beberapa kali.
"Kenapa Mas?" Rayya memekik kencang, "Kenapa menikah lagi kalau Rayya sesempurna itu? Kenapa mas menceraikan Rayya kalau masih mencintai Rayya? Kenapa Mas bisa menangis sesedih itu? Kenapa.... Mas... menceraikan Rayya kalau Mas... bahkan masih punya sisa rasa... walau pun cuma sedikiiit, Mas... masih ngerasa cinta kan sama Rayya?!" pekiknya makin kencang. "Jawab!"
"Rayya, Rayya," tukas lelaki itu kemudian bergegas memeluk erat mantan istrinya agar kembali terduduk. Wanita itu nyaris bersujud di lantai, seakan meminta maaf... kepada Allah... kepada Tuhan... kepada pemilik semesta, sekadar... memohon untuk mencari jawaban. Apa kesalahan terbesarnya yang membuat ia... disingkirkan?
Daus mendekapnya, menenangkannya, menyalurkan rasa hangat antara kedua lengannya. Lelaki itu merebahkan kepala Rayya ke pundaknya.
"Kamu... terlalu sempurna, kamu bahkan nggak pernah salah apa pun. Kamu... wanita sempurna, rayya," ulangnya. "Rayya nggak boleh terus-terusan menyalahkan diri sendiri, okey?!"
Wanita itu melepaskan pelukan. Ia menatap bingung, lagi-lagi... Daus memujinya. Lelaki ini berpikir apa? Daus berusaha kembali memeluknya, kemudian cepat... Rayya melepaskan tangan lelaki itu. Ia memberi tatapan tajam.
Pelukan seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah!
Lelaki itu menatap langit-langit kamar, kemudian mencari keberanian sebelum kembali menatapnya. "Kamu... nggak salah, Rayya. Kamu nggak kurang apa pun. Kamu itu udah sempurna. Kamu... kelewat sempurna bahkan... sampai-sampai... Mas...." Daus menghela napas kemudian melanjutkan kalimatnya. "Mas... ngerasa nggak berhak menjadi suami kamu."
What the....
"Gimana?" tuntutnya cepat. "Mas tadi bilang bagaimana?"
"Mas... ngerasa kamu terlalu sempurna, Rayya. Mas... nggak berani terus-terusan jadi suami kamu."