His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Kecurigaan Iman



Iman terhenyak ketika Rayya memilih pergi. Ia memilih tetap terdiam ketika Rayya berbalik lalu memandang kecewa. Iman mengawasi tiap gerakan perempuan itu.


“Bang!” Sentuhan Rinai membuat Iman mengerjap, mengembalikan kesadarannya yang seolah-olah ikut terbawa pergi oleh Rayya.


“Abang kenapa bisa berantem sama Mba Rayya?” tanya Rinai, kemudian melangkah mendekat ke bangku taman. Wanita itu bersiap untuk duduk, menyapu dengan tangan beberapa kotoran pun debu di kursi itu.


“Abang nggak niat ribut, Dek,” tukas Iman membenarkan konsep pikiran Rinai. “Kamu kan tahu kalau Abang itu paling nggak tegaan sama cewek. Masa ia cewek cantik malah abang ajak ribut. Kapan sih abang pernah ribut ama cewek? Nggak pernah, ya!”


“Aduh!” pekik Rinai gemas ketika Iman mencubit hidungnya gemas. Ia menepis tangan lelaki itu. “Hih… kalo nggak berantem, tadi kalian ngapain? Mba Rayya tadi sampai narik kerah Abang, kan? Kalau nggak berantem, itu namanya ngapain?” selidiknya sambil memicing.


Iman mengedikkan bahu. “Tadi… kami cuma belajar dansa.”


“Hah?” Rinai melongo.


“Nih… gini, dek… cuaca mendung begini tuh bawaannya romantis. Nah… Abang berinisiatif ngajak Rayya… dansa, Dek.” ujarnya kemudian menduplikasi gerakan dansa, berputar-putar beberapa kali.


Astaga!


“Aduh!” pekik Iman ketika Rinai menarik keras lengannya.


“Malu Bang, diliatin orang!” Wanita itu mencebik kesal, tidak percaya waktu mendengar alasan Iman dan melihat kelakuannya yang kelewat tidak masuk akal. Ia menatap gemas. “Abang kenapa nggak nelpon? Kan aku bisa jemput.”


Iman mendengkus. “Kata siapa nggak nelpon? Coba kamu cek handphone mu, coba!”


Rinai mengernyit kemudian mengangkat kedua tangan. “Nggak bawa… lupa hihi….,” cengirnya pura-pura tidak bersalah.


Iman kemudian menaikkan sebelah alisnya lalu menggerutu. “Abang udah coba nelpon dari pagi, kamunya itu yang nggak ngangkat!” protesnya.


Rinai kemudian terkekeh.


“Apa ketawa-ketawa?”


“Abang nggak pantes ngambek, udah gede!” tukas Rinai. “Lagian, Abang bisa tuh nyampai sini. Kan dulu udah lama Abang tinggal di kota ini. Kalau cuma busway atau KRL, angkot gitu, Abang bisa lah kalo ke sini.”


Iman melirik malas.


“Udah, nggak usah ngambek. Emang tadi ke sini naik apa? Damri? Taksi?” tanya Rinai.


“Mobilnya Pak Handoko.”


Hah?!


Rinai langsung mengernyit mendengar jawaban abangnya. “Abang ke sini naik apa?”


Iman memilih untuk mendekati Rinai kemudian duduk di sampingnya. “Abang itu tadi numpang mobil Pak Handoko.’


Rinai terkesiap. “Abang di bandara ketemu Pak Han?”


Iman menggeleng. “Lebih tepatnya, tadi Pak Handoko nyamperin Abang ke bandara.”


Rinai waspada. Ada sesuatu yang salah.


“Dek… tadi pas lagi di bandara, Abang dikaish tau Pak Handoko soal….” Lelaki  itu menghela napas, kemudian memutar badan, mengarahkan tubuh menghadap adiknya. “Abang udah lihat video kalian.”


“Aku….”


“Abang… bukannya mau ikut campur masalah kamu, Dek. Lagian kan udah Abang kasih tau dari awal, nikah sama golongan mereka itu nggak mudah. Lihat… belum sebulan kalian nikah, udah kena masalah.”


Rinai mencebik. Ia mendengarkan ucapan Iman setengah hati. Kalau boleh ia jujur, sepagian ini ia kekenyangan-- kelelahan sampai terasa kepingin gumoh,  menonton luapan kemarahan Rayya. Apa ia harus, perlu, musti mendengarkan wejangan soal pernikahan dari Abangnya yang bahkan… pacar pun belum tentu punya.


Iman mencondongkan tubuh. “Sebenarnya, kalian ngapain? Ada masalah besar sampai-sampai suamimu ngamuk di tempat umum?”


Rinai menggaruk tengkuk. Kebiasaan mereka memang serupa. Ketika gugup, bingung, berpikir keras, keduanya terbiasa tanpa sadar mengusap area tengkuk.


“Banyak komentar yang ngomong kalo suamimu masih cinta sama mantan istrinya, benar?” selidik Iman.


Rinai mengalihkan pandang, mencari-cari beberapa kemungkinan jawaban dan alasan untuk membungkam kakaknya.


“Sebenarnya, kalian itu gimana?”


“Apanya?” tanya Rinai bingung.


Astaga!


“Nggak gitu ceritanya!” protes Rinai. “Meskipun kelihatannya begitu, tapi… nggak gitu ceritanya!”


Iman menghela napas. Setidaknya Rinai bukan perebut suami orang. Maka paling tidak, Iman tidak kelewat malu ketika menemukan postingan mengenai adiknya kelak.


Lelaki itu kembali menatap adiknya. “Kalau gitu, cerita sebenarnya gimana?”


Rinai terbatuk waktu tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Iman sekilas kemudian menggigit bibir.


“Kalau bukan karena kamu rebut, kenapa Daus bercerai?” tanyanya kemudian. “Dan… Rayya tadi… apa dia begitu gara-gara kalian?”


“Begitu gimana? Kami ngapain Mba Rayya, Bang? Perasaan tadi baik-baik aja Mba Rayya, loh!” protes Rinai berusaha membela diri.


Iman mendengkus. “Kamu tadi nggak liat, Rayya itu penampilannya kayak… orang lupa mandi tiga hari. Eh… bukan… kayak orang yang… diusir dari kontrakan gara-gara nggak bisa bayar, terus kelaparan, terlunta-lunta di tengah jalan,” ucapnya menjelaskan. “Nah! Kayak kucing nggak keurus!”


Astaga!


Rinai bergidik. Ia tidak bisa percaya ketika mendengar teori Iman. Bagaimana bisa wanita itu disamakan dengan kucing? Perasaan Rinai, Rayya tadi masih kelihatan memukau meski… memang rambutnya tampak sedikit kacau. Namun messy hair ala Rayya tidak separah orang biasa. Lha… perawatan rambutnya itu menghabiskan uang jutaan rupiah. Rinai memastikan treatment versi Rayya ketika mendaftar di spa langganannya.


“Benar nggak kalau kalian… nah!” Lelaki itu berteriak kemudian menepuk bahu Rinai, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. “Jangan-jangan… kalian tadi berantem, ya? Buktinya tadi waktu Abang mau izin masuk ke security, Abang malah lihat Rayya keluar dari lift.”


“Jadi itu yang bikin kenapa Abang ngikutin Mba Rayya?”


“Heh… Abang lagi tanya. Coba kamu jawab, bener… kalian tadi berantem?” selidiknya. Lelaki itu masuh memegangi pundak Rinai, membuatnya kesulitan untuk mengalihkan pandangan dan mencari topik pembicaraan lain.


Tuhan Maha Baik!


Wanita itu menatap langit. Bulir tetes hujan menyelamatkan Rinai dari ocehan Iman. Rinai bergegas bangun kemudian menarik tangan lelaki itu. “Abang! Ayo! Kita musti lari kalo nggak mau basah.”


Iman tergeragap. Ia mengimbangi langkah Rinai. Wanita itu bergerak cepat. Sebenarnya Iman tidak sesulit itu menyejajari kaki adiknya, cuma bawaanya berupa ransel serta travel bag-- meskipun cuma ukuran kabin, namun itu menyulitkannya. Apalagi Rinai menarik-narik lengannya.


Begitu mereka menginjakkan kaki di lobi, Iman menurunkan travel bag miliknya yang ia tenteng memutari taman apartemen. Lelaki itu merapikan pakaian, memastikan kalau penampilannya pantas. Bagaimanapun, apartemen Rinai ini memiliki akses bersama ke pusat perbelanjaan. Bagaimana kalau tiba-tiba ada klien, kolega, parten, rekan bisnisnya yang kebetulan melihat Iman. Ketika mereka berpapasan kemudian Iman terlihat semrawut, itu bisa menurunkan-- mengganggu imagenya yang menjabat sebagai pimpinan di sebuah biro konsultan keuangan. Apa kata kliennya kalau seorang konsultan keuangan... dicurigai mendadak melarat karena penampilannya... tampak mengenaskan? Meskipun pakaiannya cuma baju keluaran departement store, setidaknya ia tidak boleh kelihatan… sengsara… merana… bahkan gundah gulana.


“Abang… ngapain bengong?” tanya Rinai, membuat Iman terkesiap. Ia kemudian menyudahi kegiatannya, bercermin di sebuah sisi pintu kaca lobi apartemen.


Rinai kembali menariknya, melewati para petugas keamanan. Mereka melenggang bebas tanpa protokol keamanan mengingat Rinai membawa kartu akses. Begitu ia mendapat kabar kalau Abangnya sampai, ia memilih untuk turun dan menghampiri ke lobi. Rencananya ia ingin meminta kartu akses baru agar Iman bisa bebas keluar masuk tanpa perlu menunggu konfirmasi atau izin darinya dan Daus. Namun, begitu sampai di lobi, ia bingung waktu mendapati lelaki itu berbalik pergi. Lebih kagetnya lagi, Rinai menemukan Iman sedang asyik bertengkar dengan Rayya.


“Abang! Ayo, “ ajaknya gemas ketika Abangnya malah sibuk mengeluarkan ponsel.


Lelaki itu mengikuti langkah Rinai, masuk ke dalam lift. “Ntar deh, Jah… aku kasih tahu. Aku baru nyampai,” ucapnya kemudian memasukkan kembali ponsel ke saku.


Rinai mengernyit. “Siapa sih, Bang?”


“Ijah… biasa,” jawab Iman cepat.


Rinai ber ‘oo’ lirih kemudian mengangguk-angguk.


“Kita sampai!” pekik Rinai bersamaan dengan denting lift. Begitu semangat wanita tersebut keluar lalu kembali menarik Iman menuju pintu apartemennya.


“Abang pasti nanti suka! Apartemen Rinai bagus, Bang,” ucapnya, lagi. Berkali-kali dari kemarin, wanita itu bercerita mengenai hunian barunya. Iman mengikuti gerakan adiknya masuk ke apartemen itu.


 Iman rasanya bosan setiap Rinai menceritakan kehidupan pasca pernikahannya. Ia ingin menuduh adiknya… flexing-- melebih-lebihkan kemewahannya… namun mengingat iparnya merupakan kaum crazy rich-- kaum gila kaya raya dan… menyaksikan sendiri bagaimana luasnya ruangan ini, maka mungkin cerita adiknya mengenai kehidupan serba mewah bukan cuma bualan.


Iman teringat video dari Pak Handoko. Lelaki itu menatap Rinai. Mungkin memang benar kalau Rinai tidak flexing masalah materi yang ia dapat, adiknya itu cuma… pencitraan. Berpura-pura bahagia meski kehidupan pernikahan dan percintaannya… belum benar-benar bisa sentausa.


Astaga!


Lelaki itu hanya mengerjap ketika mendapati iparnya duduk di sofa ruang tengah. Rinai menepuk kening. Memang benar kalau suaminya sudah mengganti pakaian. Lelaki itu pun nampak rapi. Namun… bekas-bekas cakaran tercetak nyaris memenuhi wajah, terlihat begitu nyata di kulit suaminya.


Rinai menatap ke arah suaminya, kemudian berbalik cepat meringis melirik Iman. “Aku bisa jelasin….”


Iman menatap tajam. Ia bolak-balik bergantian menatap adiknya, kemudian iparnya beberapa kali. Daus cuma bisa ikut meringis. Ia lupa bahwa iparnya menginap di sini hari ini. Ia pikir istrinya tadi turun karena mengambil paket atau ntah apa. Sekarang, ia perlu menjelaskan luka-luka di mukanya.  “Saya… bisa….”


“Ya… ya… kalian memang harus menjelaskan ke saya apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan kalau perlu, kalian ceritakan ke saya… rahasia-rahasia apa yang sedang kalian sembunyikan dari saya."


Rinai tahu kalau… meski ia merasa lelah, namun… nyatanya siang itu masih sangat sangat sangat panjang!