His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
penawaran Ibrahim



Iman belum bisa memahami kenapa orang memiliki budaya hidup tergesa-gesa? Terutama ketika budaya ketergesaan itu membuat pelakunya melanggar aturan, seperti kali ini. Ia cuma bisa menghela napas, memerhatikan para penumpang.


Berkali-kali pramugari mengingatkan mereka, sejak dari take off, selama di udara, kemudian sebelum landing. Para penumpang dilarang melepaskan sabuk pengaman sebelum lampu tanda sabuk pengaman dimatikan, namun... nyatanya mereka-- penumpang lain, sibuk menurunkan bagasi bahkan sebelum pesawat terparkir sempurna.


Astaga!


Bahkan di bagian depan ada yang sudah sibuk berdiri, menggendong-- menggoyang-goyangkan bayi yang ada dalam buaian ketika pesawat masih bergerak seperti ini. Iman kemudian berpikir membayangkan kalau ia yang memiliki anak, apa ia akan melakukannya? Melanggar peraturan untuk membuat anak tenang dan tidak rewel? Meskipun itu... berbahaya?


Begini, ada alasan kenapa peraturan dibuat. Maka peraturan untuk tetap menggunakan sabuk pengaman atau dilarng menyalakan ponsel sebelum turun dari pesawat dan memasuki ruangan bandara itu kan dibuat dengan alasan tertentu. Lupakan ucapan beberapa orang mengenai "aturan dibuat untuk dilanggar".


Mungkin mereka belum pernah menonton film dokumenter atau Discovery Channel mengenai keselamatan penerbangan. Mungkin mereka belum melihat atau mendengar cerita mengenai pesawat yang tiba-tiba mengalami insiden seperti berbelok atau nyaris lepas kontrol dan untungnya, para penumpang selamat, selain memang takdir Tuhan, namun mereka pun menggunakan sabuk pengaman. Seperti beberapa waktu lalu ketika ada dua pesawat bersinggungan di landasan pacu karena mis komunikasi, bisa bayangkan bagaimana kalau singgungan itu lebih keras, mengguncangkan seisi pesawat dan membuat para penumpang yang merasa over PD a.k.a tidak menggunakan sabuk pengaman karena merasa pesawat sudah di darat cuma sekadar belum diparkir sempurna... lalu minimal... minimal terantuk lantai pesawat?! Mereka tidak tahu betapa keselamatan para penumpang itu seharusnya dijaga oleh kita semua dengan... paling tidak, menaati peraturan yang telah dibuat.


Belum lagi, peringatan mengenai larangan menyalakan ponsel sebelum memasuki ruangan kedatangan. Iman lagi-lagi hanya bisa menghela napas, kemudian sekadar membatin... mereka mungkin belum pernah menonton video mengenai betapa frekuensi sinyal bisa mengganggu lalu lintas komunikasi di menara ATC-- Air Traffic Control. Mungkin mereka belum paham kalau... keselamatan penerbangan ini merupakan sesuatu yang memerlukan tanggung jawab dari semua pihak.


Iman seumur hidupnya... belum pernah memahami budaya ketergesa-gesaan seperti yang dianut banyak orang begini. Ia teringat beberapa nasihat kedua orang tuanya, terutama mengenai kesabaran.


"Man Shabara zhafira, siapa pun yang bersabar akan beruntung," ucap bapaknya waktu ia kecil dulu.


Maka Iman memercaya, terlepas dari takdir Tuhan... ia berusaha untuk menjadi penyabar agar senantiasa dilimpahkan keberuntungan. Maka ia berusaha agar selalu sabar kemudian menjauhi kebiasaan serba... terburu-buru, tergesa-gesa, atau serba cepat-cepat.


Iman mulai tumbuh menjadi pria yang selalu memperhitungkan tiap langkah kehidupannya. Ia memetakan tiap rencana dari A sampai Z, ia punya cadangan-cadangan agenda di kepalanya. Iman juga  bangun selalu lebih awal, bepergian tepat waktu, dan menjaga diri dari banyaknyanya perilaku tidak etis yang mungkin ia lakukan jika ia mengalami kepanikan dan salah satu kuncinya adalah: berusaha untuk tidak panik, yang artinya... jangan terburu-buru, karena biasanya budaya panik dimiliki oleh orang yang terbiasa buru-buru... tanpa perencanaan, tanpa pikiran yang matang.


Iman pernah hampir bertengkar dengan temannya  ketika mereka membicarakan betapa lebay orang-orang yang kelewat mematuhi hukum seperti dirinya. Lagipula selama ini mereka merasa baik-baik saja meski mereka melanggar satu atau dua peraturan. Iman... membenci orang bebal seperti mereka. Bukannya bersyukur karena karena Tuhan belum membuat mereka berurusan dengan hukum, namun malah membanggakan ke-jahiliyah-an mereka. Setidaknya, kalau mereka bebal maka mereka tidak menunjukkannya, minimal sekadar-- walau mungkin cuma merasa malu atau merasa bersalah. Bukan malah tambah mentang-mentang, menantang kehendak Tuhan lalu kemudian mengajak orang lain untuk ikut bebal dengan mengatakan bahwa "Saya orang beruntung, paling beruntung sedunia!


Astaga!


Iman ingin bersumpah serapah namun ia takut dosa. Ia lalu cuma geleng kepala, malas melanjutkan perdebatan mereka karena... percuma kalau harus adu mulut dengan orang jahiliyah. Ibaratnya itu bagai menulis di pasir pantai. Sekalinya tulisan itu disapu ombak... wuss... bubar sudah tanpa bekas. Semoga mereka bisa tersadar sebelum mereka terkena masalah seperti... kehidupannya babak belur karena melanggar aturan-aturan, atau pakem yang berada di masyarakat.


Iman bergumam. Kalau memang benar beberapa peraturan itu tidak begitu penting atau genting, kenapa peraturan tersebut tidak dihapus? Kalau memang penting, nyatanya tidak punya sanksi keras. Maka masyarakat cuma berdalih, "nggak apa-apa, selama ini baik-baik saja," kata mereka.


Maka apa artinya... peraturan-peraturan tersebut tidak begitu penting? Kalau bisa mengganti dengan peraturan lain, misalnya... kenapa membiarkan masyarakat malah... terbiasa menjadi pelanggar aturan? Kalau peraturan tersebut diganti dengan yang lain, maka mungkin bisa lebih ditaati masyarakat. Terserahlah... itu bukan tugas Iman. Ia cuma masyarakat, dia objek yang musti mentaati peraturan, bukan pembuat peraturan, kan?


Iman menengok ke arah samping. Seorang penumpang berjalan cepat, menyempil di antrian penumpang lain, menuju ke arah... toilet. Dia merupakan salah satu penumpang pelanggar peraturan. Bukannya tidak boleh memakai kamar kecil sebelum pesawat terparkir sempurna? Ok, itu panggilan biologis. Namun... kalau sampai begitu terdesaknya, apa lelaki itu, mungkin kah ia menahannya sejak pesawat masih terbang? Kenapa ia tidak ke kamar kecil dari tadi?


Iman berusaha khusnudzhon-- berpikir positif, mungkin penumpang itu memiliki gangguan kemih kronis. Ia kembali menghela napas, memandangi raut wajah para penumpang yang berjajar rapi menunggu pintu pesawat dibuka, tidak kalah masam... seperti lelaki yang bergerak cepat ke toilet tadi. lagi-lagi, Iman berusaha tetap khusnudzhon, berucap dalam hati... mungkin para penumpang lain juga mengalami... gangguan kemih kronis.


Iman mulai bergerak, melepas sabuk pengaman ketika kabin makin lengang. Di dalam tersisa beberapa penumpang yang mulai melangkah ke depan. Maklum cuma bagian pintu depan yang digunakan untuk turun. Lengan laki itu terulur menurunkan tas yang ia letakkan di bagasi kabin kemudian melangkah keluar. Ia cuma memberi respon sekenanya kepada pramugari, bukannya ia bermaksud tidak ramah namun... ia sekadar bersikap sopan mengingat ketika waktu penerbangan tadi, ada pramugari yang beberapa kali mencuri pandang kepadanya. Iman tidak ingin ge-er sih, namun ia cuma waspada kalau-kalau ia kelewat ramah kemudian dianggap pe-ha-pe atau malah genit. Lagipula moodnya hari ini sedang kurang baik.


Ia menapaki garbarata, menyusuri beberapa tapak hingga sampai pada beberapa jarak... Iman terdiam bingung ketika mendapati orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam menghalanginya.


"Anda Iman?"


Lelaki itu mengerjap, melongo.


"Anda Bapak Iman?" ulang lawan bicara tersebut.


Iman kembali mengerjap. Orang-orang itu ternyata benar-benar mencarinya.


"Anda benar Bapak Iman?" tanyanya untuk ketiga kali.


"Iman? Benar, saya Iman-- Sulaiman," jawabnya ragu. Iman bukan meragukan keaslian namanya. Ia meragukan maksud mereka.


"Bapak bisa ikut kami? Ada seseorang yang ingin menemui anda," pintanya sopan.


Iman mengernyit, mengigat-ingat dosa yang ia lakukan. Seingatnya di waktu dekat, ia tidak melakukan-- memiliki catatan kriminal apa pun. Bahkan sejak ia memasuki masa dewasa, kenakalannya paling banter cuma menyumpah serapah di dalam hati ketika menemukan lawan bicara yang menyebalkan.


Iman bahkan belum sekali pun memberi anjuran sesat kepada para kliennya ketika meminta nasihat keuangan. Selama berkarir menjadi konsultan keuangan, ia bahkan telah menyelamatkan para klien dari ancaman kebangkrutan massal. Lalu.. kenapa lelaki berpakaian serba hitam mencarinya? Apa merka polisi? Atau mafia?


Astaga!


Tepat ketika ia menaiki mobil listrik-- boogie car, kendaraan antar terminal bandara, Iman menyalakan ponsel kemudian menghubungi asistennya.


"Jah! Setahu kamu... di perusahaan kita, ada konsultan yang menawarkan MLM atau menyarankan investasi bodong?" tanyanya lirih, berbisik sambil melirik. Iman dikawal dua orang dalam boogie car itu. Tiga boogie car lain di belakang mengangkut  gerombolan yang sama, mengingat pakaian mereka serupa.


Di seberang telepon, asistennya cuma memberi jawaban "Ha?" singkat, kemudian Imam bergegas menutup sambungan ketika lelaki di sampingnya berdeham.


Imam mengingat-ingat beberapa bulan lalu ada sebuah perusahaan konsultan keuangan yang ditutup paksa karena mereka belum memiliki izin resmi dan beberapa di antara konsultan itu dicurigai menawarkan investasi bodong.


Astaghfirullaah! Amit-Amit!


Iman menggaruk tengkuk sambil mengingat-ingat siapa di antara para karyawannya yang berani menikam dari belakang. Kalau sampai ia temukan karyawannya melakukan penyelewengan, awas saja! Jangankan memaafkan! Ia akan ikut bekerja sama memenjarakan oknum itu! Bukankah ketika ia dan teman-temannya membangun perusahaan dulu, mereka semua memiliki niat mulia, menolong klien yang datang. Kalau malah terjebak investasi palsu itu artinya mereka mengkhiantai para klien beserta ilmu dari dosen-dosen dan profesor mereka di universitas.


Astaga! Naudzubillaah.


"Kita sudah sampai, Pak" tukas lelaki di sebelahnya tepat ketika kendaraan mereka tiba di depan sebuah executive lounge.


Iman bagai tahanan. Ia mengikuti mereka, berdiri di tengah antara para lelaki berbaju hitam yang membuat barisan rapi, mengarahkannya untuk masuk ke sebuah ruangan. Ia berhenti beberapa saat kemudian mengamati ruangan itu. Executive Lounge ini sepi, entah ke mana para penumpang lain. Iman kembali tersadar ketika pengawal di belakangnya membuka suara.


"Silakan, Pak. Anda diminta untuk ke sana. Silakan lewat ke sebelah sini, Pak," tukasnya menunjuk ke arah pojok ruangan.


Iman kembali melangkah. Ia menemukan laki-laki, berusia paruh baya menunggunya sambil menyeruput secangkir kopi. "Silakan," ujar lelaki itu setelah meletakkan cangkir. Ia memberi Iman permintaan agar duduk di depannya.


Iman mendekat kemudian menarik kursi sesuai permintaannya. Para pengawal menjauh, memberi mereka waktu untuk mulai berbicara.


"Anda Iman? Kakak lelaki Nona Rinai?"


Iman mengerjap tepat ketika mendengar nama adiknya disebut. Tubuhnya mulai gemetar. Ia baru ingat kalau dari pagi ia kesulitan menghubungi adiknya. Tadinya ia berpikir kalau mungkin karena ini Sabtu pagi, adiknya sedang "beraktivitas" atau minimal berkegiatan ntah apa bersama suaminya. Ia berusaha berpikir positif meskipun selama ini Rinai jarang mengabaikan telepon. Minimal ia berusaha mengirim pesan kalau telepon dari abangnya tidak sempat ia angkat. Namun, dari shubuh tadi hingga jam makan siang, belum terlihat tanda apa pun yang mengabarkan adiknya baik-baik saja.


Ia pun belum tahu atau bahkan sekadar berani berspekulasi kalau... sesuatu, sebuah keributan tengah terjadi di apartemen Rinai.


"Perkenalkan saya Handoko, asisten pribadi Tuan Ibrahim Busro," tukasnya cepat. Ia mengulurkan tangan lalu disambut Iman. Mereka bersalaman terburu-buru.


Iman makin kebingungan. Kenapa Ibrahim Busro mengirim asistennya? "Apa yang terjadi dengan Rinai?"


Lelaki itu berdeham. "Adik anda baik-baik saja."


Iman menghela napas. Setidaknya ia tidak membawa kabar buruk.


"Saat ini ia baik-baik saja. Nona Rinai berada di apartemennya bersama Tuan Daus," ujarnya dingin.


Iman mengernyit. Kenapa ia harus pakai kata "saat ini?" Memangnya kemarin-kemarin atau besok, adiknya akan terkena apa? Pikirannya gusar, perasaanya mulai tidak menentu.


"Tuan Busro ingin mengajak anda kerja sama."


"Hah? Maksud... saya, apa?" tanya Imam belum mengerti.


"Anda itu konsultan keuanganan, kan? Anda diajak bekerja sama dengan Tuan Ibrahim," jelasnya.


Imam mengernyit. "Tapi begini, bukannya mau menolak, namun selama ini klien saya cuma perorangan, pengusaha kecil, pelaku industri umkm... atau cuma...."


"Anda pernah bekerja sebagai akuntan publik sebelumnya, bukan? Anda itu... bersama tim anda, bahkan pernah menjadi auditor terpercaya dari beberapa BUMN," selanya cepat.


Iman tersenyum beberapa waktu, kemudian mengusap wajah. Ia punya banyak alasan kenapa ia memilih untuk menyingkir dari hiruk pikuk ibu kota, hijrah ke kota lain, meskipun bukan kota kecil, namun ia... punya lusinan cara plus argumen agar bisa menyingkir dari pekerjaannya dulu. Apa ia harus menuruti permintaan Ibrahim? Bekerja sama untuk apa?


"Anda bisa bekerja sama dengan Tuan Ibrahim sekaligus... menyelamatkan pernikahan adik anada."


Hah?!


"Kenapa?" refleks Imam melongo. "Mak... maksudnya, adik saya... kenapa?"


Lelaki tua itu mengeluarkan ponsel. Kemudian menyalakannya. "Ini, mungkin anda belum lihat, silakan periksa."


Iman mengambil cepat ponsel itu kemudian memutar rekaman di layar. Ia mengernyit. Terlihat seorang laki-laki....


Astaga!


Itu... Daus? Adik iparnya! Ia mengamati video tersebut kemudian mengerjap ketika mendapati adiknya bersimpuh, memeluk suami barunya yang dari tadi berteriak-teriak memangil... Rayya.


Ada apa ini? Apa ada masalah kah antara mereka? Astaga... yaa Tuhan! Pernikahan adik tirinya itu kan belum genap satu bulan. Kenapa... mereka malah viral karena masalah video ini?


Iman membaca beberapa komentar di sana. Beberapa netizen berpendapat kalau mungkin Daus... masih mencintai mantannya. Iman merutuki kebodohan serta pilihan adiknya. Iman sebenarnya tidak menyetujui keputusan adiknya menikahi Daud. Wanita itu bahkan baru putus dari mantan pacarnya, tiba-tiba mengajak orang lain ke pesta pernikahan mantannya... sekadar membuktikan bahwa ia bisa mendapatkan lelaki lain yang lebih baik. Tidak lama ia kemudian mengumumkan akan menikah lelaki itu.


Demi Tuhan... Iman tidak menyetujui pilihan Rinai. Selain karena mungkin... Rinai menikah untuk balas dendam kepada mantan pacarnya, kepada mereka yang mencemooh kebodohan Rinai karena pernah menjadi budak cinta dulu, ia... ingin membalas mereka, menikahi laki-laki yang lebih pantas, lebih bermartabat berbanding mantannya itu.


Tuhan tahu kalau... para kaum crazy rich itu punya alasan kenapa dijuluki... crazy. Lihat! Bahkan dalam waktu begitu cepat, pernikahan adiknya berada dalam masalah, kan?!


"Anda bisa bekerja sama dengan Tuan Ibrahim, kemudian anda pun... bisa menolong pernikahan adik anda."


Iman menatap lurus, membaca maksud yang lelaki itu sembunyikan.


Handoko menghela napas, kemudian menyesap kopinya. Ia mengamati ekspresi anak muda itu. "Jadi bagaimana? Apa anda tertarik bekerja sama dengan kami?"