
Rayya mengambil bungkusan snack bar dari salah satu lemari kitchen set. Tangannya membuka plastik kemasan, kemudian sibuk mengunyah makanannya. Dalam beberapa detik, ia bahkan telah membuka bungkusan kedua. Matanya beradu-- bertatapan dengan bungkusan plastik lain di sudut lemari. Ia merasa tengah diejek. Dalam gerakan kasar, ia mengambil benda itu.
Shanaz terpekik ketika menemukan Rayya sedang mengudap. "Saya ngerti Miss lagi lapar, tapi....."
Rayya mengernyit mendengar suara Shanaz. Ia ikutan melongo ketika menemukan... dua bungkus plastik kosong, sisa snack bar. Kemudian... tangannya tengah memegang... sebungkus mi instan! Repeat! Sebungkus mi instan yang... literally mi instan.
Astaga!
Rayya bukannya belum pernah sama sekali makan mi instan. Namun ia terbiasa makan mi instan yang bahannya minim gluten, atau tercampur berbagai sayuran, atau minim bahan pengawet, minim sodium, nyaris tanpa mecin, bahkan low kalori, low carbo, tapi high pressure... bikin batin tertekan kalau dikonsumsi karyawan biasa kayak Shanaz. Mi mahal yang... memang mahal.
"Mi khusus punya sultan!" gerutu Shanaz ketika mencari pesanan Rayya di swalayan.
Sedangkan... bungkus mi instan dalam genggaman Rayya itu mi biasa, high carbo, high kalori, porsi besar alias jumbo, dengan sodium beserta micin melimpah, gemah ripah, tumpah dan terasa kelewat artificial karena pastinya... memiliki komposisi bumbu berbahan kimia berbagai macam! Pokoknya dalam kondisi normal, Rayya lebih memilih kelaparan... daripada dipaksa harus memakan mi tersebut. Bagi konsep kehidupan sehat milik Rayya, makanan seperti itu... sudah dihukumi haram.
Sesuatu sedang terjadi. Rayya tidak baik-baik saja kalau rela memakan mi itu.
"Anggap... saya lagi cheating day, khusus kali ini."
Shanaz cuma nyengir mendengar alasan Rayya. Ia masih belum percaya dengan temuannya. Ia mengawasi gerakan Rayya. Atasannya mengambil panci, mengisinya dengan air, kemudian menyalakan kompor. Setelahnya, Rayya membuka kulkas lalu mengambil... astaga! Shanaz mengamati satu persatu, tomat, sawi, telur, tahu, enoki keluar dari chiller. Rayya lalu mencucinya, meniriskannya, kemudian memotong-motongnya.
Tungu dulu!
"Miss mau masak steamboat?"
Rayya mengernyit. "Saya mau bikin mi. Masa kamu nggak ngerti?!"
Shanaz melongo. "Pakai daun-daun... sebanyak itu?"
Rayya kemudian berbalik, menghadapkan tubuh ke arah asistennya. "Mi ini minim serat. Kita perlu mencukupi kebutuhan nutrisi harian, Naz!" jelasnya tegas.
Ia kemudian mengambil bawang... merah, putih, bombay dan membuka-- mengupas kemudian menggeprek, mencincangnya halus. "Bawang bisa menetralisir pengawet," tukasnya sambil memasukkan satu... dua... ti... tunggu... berapa banyak bawang cincang dalam masakan itu?
Shanaz menghela napas. Ia ingin bersorak, kayang, koprol, mutar-mutar monas cuma sekadar merayakan atasannya yang... masih normal. Rayya masih normal!
"Nanti kita makan mi...."
"Kita? Maksudnya?"
"Kamu sama saya, kita makan bareng, Naz. Kamu pikir ini makanan sebegitu banyak bisa saya makan sendiri?"
Astaga!
Shanaz sejenak melupakan kalau atasannya, bisa begitu... menggemaskan! Ia menghela napas meratapi nasibnya, kemudian menarik kursi kecil, di kitchen island, menghadap Rayya yang sibuk memasak. Lagi-lagi malam ini ia harus memakan ramuan entah apa yang dimasak Rayya.
Kedua perempuan itu waspada ketika mendengar seseorang membuka pintu. Keduanya keheranan waktu melihat serorang wanita tua masuk kemudian melangkah ke dapur.
"Bibi balik lagi?"
"Iya, handphone saya ketinggalan," ujarnya menjawab pertanyaan Shanaz.
"Bibi balik ke sini? Dari rumah?" tanyanya lagi. Setahu Shanaz, rumah Bibi terletak agak di pinggir kota. Lumayan kalau ia harus datang semalam ini.
"Nggak, saya dari tadi sore belum balik. Saya dari tadi ada di unit depan," jawabnya.
Rayya mengernyit. "Bibi ngapain ke apartemen situ? Bibi double job? Apa gaji yang Bibi dapat kurang?
"Nggak, Non. Saya tadi bersihin apartemen depan karena disuruh Tuan," ujarnya.
Rayya menepuk kening. Ia baru ingat satu lantai ini properti milik Busro Corp. "Kakek nyuruh bersihin? Buat siapa? Maksudnya, apa ada yang mau nempatin?"
Bibi menggeleng. "Saya kurang tau. Saya cuma bersihin, Non. Mana saya berani sih nanya-nanya gitu ke Tuan Ibrahim," jawabnya kemudian terkekeh. "Saya permisi balik, Non."
Rayya mengangguk cepat. Ia mengamati Bibi kemudian menatap asistennya. "Apa pikiran kamu sama dengan saya?"
Shanaz melongo. "Miss mikir apa sih?"
Rayya mendelik gemas. "Kamu nggak bisa nyimak omongan Bibi? Dia bersihin unit depan, Naz!"
Asistennya cuma merespon singkat, mengangguk-angguk.
Rayya menggeleng. Ini Shanaz benar-benar tidak mengerti? "Kalau Bibi bersihin apartemen depan, itu artinya bakalan ditempatin, Naz."
Shanaz mengernyit. "Siapa tahu cuma bersih-bersih biasa."
Rayya menggeleng. "Kalau cuma bersihin biasa, apartemen ini menyediakan pekerja khusus, itu udah bagian fasilitas maintenance. Kalau Bibi yang bersihin langsung, itu berarti unit itu mau dipakai dan yang mau nempatin nanti biasanya keluarga Busro sendiri atau tamu keluarga Busro." ujarnya panjang.
Shanaz mengerutkan kening, makin dalam.
"Menurut kamu, siapa keluarga Busro yang mau pakai apartemen itu?"
Shanaz melongo. Mana ia tahu. Pertanyaan seperti itu tidak dapat ditemukan jawabannya melalui aplikasi ponsel atau ditanyakan ke google. Apa Shanaz harus bertanya ke Ibrahim langsung?
"Atau malah... Mas Daus yang mau pindah? Selama ini kan Kakek menyembunyikan alamat mereka. Setelah saya tahu, mereka nggak perlu lagi sembunyi," tukasnya kemudian mengangkat mi sambil kembali memikirkan macam-macam. "Apa... Mas Daud pindah ke situ?"
Shanaz menggeleng. "Nggak perlu mikir kejauhan, Miss. Siapa tahu cuma...."
"Kamu tahu, Naz?" tanyanya, memotong ucapan wanita muda di kursi seberangnya. "Bagaimana kalau mereka pindah, kita bakalan bertetangga sama Mas Daus dan istri barunya?"
Shanaz melongo. Ucapan Rayya mungkin... ada benarnya.
"Apa menurutmu, Kakek mau ngusir saya?"
"Ha? Gimana?"
"Heh... kamu itu cuma hah hoh hah hoh?! Coba kamu itu bayangin, bagaimana perasaan saya kalau... musti dipaksa tetanggaan sama mereka. Kamu nggak mikir kalau saya ngerasa nggak nyaman?!"
Shanaz menghela napas.
"Saya mending pindah kalau mereka... benar tinggal di sana. Kita besok pindah, Naz!"
Shanaz kembali menghela napas. "Nggak usah buru-buru, Miss. Siapa tahu itu cuma pikiran Miss. Kalau memang Tuan Ibrahim mau Miss pindah, maka sedari awal, Miss disuruh pindah. Tapi kan malah... Tuan Daus yang ngalah. Dia malah tinggal di apartemen menara sebelah. Itu artinya Tuan Ibrahim memikirkan kenyamanan untuk Miss," jelasnya. Lagi-lagi wanita itu membuat satu teori mengenai pemikiran Ibrahim.
Rayya bertanya-tanya berapa persentase kebenaran teori Shanaz. Karena kalau teori tersebut salah, maka ia harus mulai mencari tempat tinggal lain, entah di mana. Pokoknya ia tidak mau dipaksa menjadi tetangga mantan suaminya. Bagaimana ia bisa move on kalau suaminya ada di dekatnya. Ini bukan novel percintaan "Ex Husband Next Door" yang di belakang cerita itu mereka bakal rujuk, kan? Tsurayya telah bertekad mau melupakan mantan suaminya dan menata masa depan. Cuma masalahnya itu, bagaimana ia bisa melangkah bebas kalau pada kenyataannya bahkan tiap kehidupannya, selau dicampuri bayang-bayang rencana milik Ibrahim Busro.
Apa sih yang sebenarnya diinginkan Ibrahim? Kenapa ia terus menyetir kehidupan Rayya. Ia tahu kalau... ia memiliki hutang budi kepada keluarga ini. "Naz, apa menurutmu... nanti seumur hidup, saya musti terikat dengan keluarga ini?"
Shanaz waspada mendengar perkataan Rayya.
"Bisa nggak kalau saya... pergi menjauh dari keluarga ini?"