His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Video Viral



Di luar beberapa kelompok awan kelabu bergerak perlahan… membuat langit menggelap, agak mendung. Rayya menarik napas, kemudian meregangkan tangan. Ini merupakan hari sabtu. Shanaz izin tadi malam. Dia sih bilang kalau ingin melakukan bakti sebagai anak-- mengunjungi orang tuanya yang tinggal di pinggiran kota. Rayya mengiyakan permintaan asistennya. Lagi pula, libur begini tidak ada kewajiban untuk terus mengurusi atasannya.


Memang dari mulai pisah ranjang, Rayya sudah biasa sendiri. Daus pindah ke apartemen lain. Meskipun Rayya belum diberitahu oleh Ibrahim dan Pak Han… mereka tetap bersikukuh tidak mau memberi tahu di mana tempat tinggal Daus, tapi Rayya berkeyakinan kalau pria seperti Daus, paling malas menghadapi kemacetan… akan memilih apartemen di sekitar area kantor dibanding rumah tapak.


Rayya menebak-nebak beberapa kemungkinan kenapa Ibrahim Busro dan Pak Han menyembunyikan alamat Daud. Apa mereka pikir Rayya akan menyergap ke rumah mantan suaminya? Atau mereka takut Rayya akan mengekori lelaki itu seperti penguntit atau psikopat?


Astaga!


Rayya memasang kewaspadaan ketika mendengar seseorang membuka pintu. Ia pikir itu asistennya datang karena berubah pikiran, namun tebakannya terjawab ketika tidak lama suara berisik muncul dari dapur. Itu mungkin Bibi, asisten rumah tangganya. Hari ini ia masih memiliki jadwal masuk dan membersihkan rumahnya. Ia memang hanya punya libur satu hari setiap pekan, sesuai kesepakatan mereka.


Wanita itu berpikir, menebak-nebak menu yang ingin dimakan nanti siang. Rasanya Rayya tertarik makan di rumah mengingat masakan asisten rumah tangganya memang lezat. Kalau di hari biasa, Bibi memang tidak memasak karena Rayya membawa makanan sepulang kerja… kecuali ketika waktu itu… Rayya mengurung diri, bersusah hati tepat setelah Daus menikah kemarin. Bibi rajin menyiapkan makanan macam-macam, untuk mendukung pemulihan mood Rayya. Meski memang wanita itu malah menghibahkan-- memaksa Shanaz untuk menyantap makanan tersebut.


Rayya mulai membuka aplikasi dalam ponsel ketika seseorang menghubunginya. Ia mengernyit waktu membaca nama di layar.


“Hal….”


“Miss!” pekik asistennya tanpa aba-aba.


“Naz! Kamu kenapa teriak-teriak begitu? Kamu nggak lagi kena sawan, kan?” cibirnya.


Wanita di telepon menghela napas. “Saya serius, Miss!”


“Terus kalau kamu serius, kamu bisa teriak-teriak kayak gitu?” tukasnya dingin. “Kamu ngapain pagi-pagi nelpon? Mau minta gajimu naik? Nggak bisa, belum waktunya penilaian kinerja.”


“Ih… Miss sentimen pagi-pagi,” protesnya. “Saya serius, Miss,” sahutnya lagi.


“Kamu pikir ini nggak serius? Saya udah bilang, kamu nggak bisa minta naik gaji sekarang,” jawab Rayya cuma sekadarnya, ngasal plus malas. Sepagi ini wanita itu harus mendengar suara melengking asistennya. Ia kira hari libur begini, ia bisa bebas melakukan kegiatan-kegiatan yang ia ingin lakukan sejak kemarin-kemarin. Rayya bisa meditasi, olahraga di tempat kebugaran, lari di taman umum sambil menghirup udara bebas, atau… menghubungi spa langganannya dan melakukan perawatan dari kepala hingga kaki.


Tapi mungkin kan asistennya membutuhkan sesuatu?


 “Kamu bener butuh uang? Kalo nggak, ngapain kamu nelpon saya jam segini?”


“Miss ngomong begitu? Gini-gini saya tuh kalo masalah uang nggak se-desperate  itu. Saya kan tabungannya banyak, saya anak baik, cantik, rajin nabung, Miss!” pamernya.


Rayya menghela napas. “Terus kamu mau apa? Kamu lagi kangen saya? Nggak, kan?” cemoohnya.


“Miss… serius loh,” protesnya. “Miss udah cek toktok belum?”


Rayya mengernyit. “Kamu pikir kalo saya kurang kerjaan? Kapan kamu pernah lihat saya main sosmed?”


Shanaz menghela napas, gemas. “Coba Miss lihat,” tukasnya cepat, kemudian terdiam beberapa saat. “Itu coba video tadi Miss lihat bentar.”


Rayya melongo, “Kamu ngomongin masalah apa sih?”


“Itu… barusan Miss… itu loh barusan saya kirim video. Coba Miss lihat bentar.”


Rayya mengernyit, kemudian mengecek whazupp, membuka video yang barusan ia terima. Ia mengerjap ketika menemukan kerumunan orang. Mereka sedang apa?


Matanya mendelik begitu menonton rekaman yang dikirim asistennya, melihat mobil yang ia hapal. Itu… mobil milik mantan suaminya. Benda itu terlihat mengerikan. Kaca bagian pengemudi pecah. Nampak seseorang memukuli atap mobil. Lelaki itu kemudian merosot, terduduk lalu berteriak di parkiran. Orang-orang makin banyak mengerumuninya.


Itu… Daus! Rayya tahu itu mantan suaminya. Ia ingat pakaiannya kemarin, ia ingat bahwa kemarin ketika ia menemuinya di ruang kerja, Daud mengenakan kemeja itu. Dia… sedang mengamuk?


“Miss! Itu… itu… beneran Pak….”


“Naz! Kamu dapat ini di mana?”


“Di mana-mana trending, Miss… bahkan akun gosip punya selebgram dari tadi malam malah udah pada ngomongin video Pak Daus,” jawabnya.


Rayya melongo, setengah mengantuk berusaha membaca keadaan. Ia lapar, perutnya menuntut untuk diisi makan. Meskipun kadang tidak sarapan, namun Rayya tiap pagi minimal minum air putih hangat. Ini, ia bahkan belum melakukan ritual pagi apa pun setelah bangun tadi. Tiba-tiba ia menerima kabar mengejutkan.


Mantan suaminya berteriak histeris, menangis… mengamuk di tempat parkir sambil… menyebut nama… Rayya?!


“Bentar, Naz… nanti saya telepon,” tukasnya kemudian memutus sambungan sepihak.


Rayya menajamkan pendengaran, memastikan kalau yang ia sadari benar-benar nyata. Lelaki itu berteriak, menangis sampai tersedu-sedu, kemudian memeluk seorang wanita yang Rayya tebak itu istri barunya. Tapi… kenapa Daus… berteriak-teriak menyebut namanya? Rayya memastikan beberapa kali, membuka akun sosial media lain. Sama… Shanaz benar, di selebgram lebih ramai.


Astaga!


“Rayya! Tolong beritahu bagaimana cara… melupakan… Rayya?!”


Demi Tuhan…! Daus itu masih mencintai Rayya? Kalau tidak, kenapa ia meraung-- memohon begitu? Apa memang… ia masih belum melupakan Rayya? Apa itu… mungkin karena ia mencintai Rayya? Ia masih mencintainya?


Rayya memerhatikan beberapa komentar di akun tersebut.


Ini babang ganteg kenapa? Ya Allaah…. kesian peluk-peluk, bang --tulis sebuah akun.


Ini… babangnya kenapa? Ganteng-ganteng rada gila. Mas… kamu ngapain ngamuk di situ-- tulis akun lain menghina Daus terang-terangan.


Perih di hatinya membaca komentar yang melecehkan lelaki itu. Rayya tidak bisa bohong kalau ia masih menyayangi Daud terlepas dari perlakuan lelaki itu kepadanya. Bagi Rayya, Daus merupakan hidupnya, misi seumur hidup yang diberikan keluarga Busro.


Rayya cuma tahu kalau dalam hidup ini, ia seharusnya mengabdi kepada lelaki itu… namun ia ternyata malah diceraikan secepat ini. Ia sekarang tidak tahu lagi harus melakukan apa. Seakan-akan kehilangan tujuan hidup sampai kemudian… video itu memperlihatkan sebuah kenyataan, bahwa… lelaki itu-- Daus masih mencintai Rayya, kan?!


Rayya kembali membaca komentar lain.


Kayaknya dia ini belum bisa mup on dari mantannya yang sese embak itu. Kan dia nyebut-nyebut nama mantan istrinya, deh-- tulis sebuah komentar.


Ternyata Rayya benar, pendengarannya normal. Ia mendengar ucapan lelaki itu begitu jelas dan namanya disebut berkali-kali. Daus menangis tapi sambil memanggil-manggil namanya.


Itu mbak ini bukan?-- balas komentar lain, sambil menandai akun media seseorang. Astaga! Itu akun milik Rayya. Ia ingat beberapa waktu lalu pernah dibuatkan akun di aplikasigram oleh sepupunya, Dhita. Katanya, crazy rich itu perlu membuat akun di media-media seperti ini. Mereka bisa mengedukasi masyarakat mengenai apa saja. Karena kaum the riches itu selalu menarik perhatian orang banyak.


“Alaaah, paling kamu cuma mau pamerin kehidupan kamu. Ya, kan?!” cibir Rayya beberapa bulan lalu.


Mas ini yang kemaren ceremei kan? Dia itu crazy rich itu ya? Yang mantan istrinya mba sese crazy rich juga. Kayaknya bener, mas ganteng belum bisa ngelupain mantannya-- komentar akun lain.


Daus belum bisa melupakannya, kan?


“Naz!” pekiknya setelah telepon itu kembali tersambung.


“Iya, Mi…”


“Kamu tahu alamatnya?”


“Ala… mat? Siapa Miss?” tanya asistennya bingung.


Astaga!


“Rumah Mas Daus lah, Naz. Emang siapa lagi? Apa menurutmu, saya lagi tanya alamat rumah upin ipin?!” teriak Rayya kesal.


“Kan saya bukan asistennya Pak Daus, Miss… kenapa saya harus tahu rumah Pak Daus….”


Rayya mematikan telepon, tidak sabar. Tangannya kemudian menekan nomor milik orang lain.


“Hal….”


“Halo Pak Han… Bapak bisa bilang ke saya di mana rumah Mas Daus?”


Lelaki itu terdiam, ia mencerna pertanyaan Rayya.


“Pak… saya mohon, saya sudah tahu, Pak… Kakek melarang Bapak untuk memberi tahu. Tapi… ini masalah gawat. Ini antara hidup atau mati, Pak!” pekiknya.


“Gimana?” tanya lelaki itu panik. “Anda bicara tentang apa?”


“Pak! Pokoknya saya mohon, Bapak kasih tahu di mana rumah Mas Daud kalau Bapak masih mau melihat Mas Daus selamat!”


Astaga! Rayya ini barusan menakut-nakuti atau memang terjadi sesuatu? Lelaki tua itu berperang dengan pikirannya beberapa waktu sebelum kemudian menyebut sebuah alamat.


Tepat ketika ia mendapatkannya, Rayya melangkah keluar kamar, setengah berlari menuju pintu.


“Non! Non… Non!” pekik Bibi waktu melihat Nona mudanya bergerak cepat membuka pintu. Demi Tuhan… ia khawatir mendapati Rayya seperti orang kerasukan. Rayya bahkan cuma mengenakan piyama tidur berupa atasan tanpa lengan dan celana selutut berbahan sutra, mencetak lekuk tubuhnya jengkal demi jengkal.


Ya Tuhaaan!


Apa yang ingin Rayya lakukan dengan pakaian setengah telanjang seperti itu?


“Noon…! Non Rayya!” pekik wanita itu, berbelok sebentar ke kamar Rayya, menyambar sebuah  cardigan yang digantung di pinggir ruangan, kemudian ikut berlari keluar.


Astaga! Wanita itu tidak melihat sosok majikannya di mana pun. Ia mendapati pergerakan lift, mungkin Rayya telah turun menggunakan lift. Wanita tua itu mengambil ponsel, menghubungi seseorang.


“Tuan Ibrahim, sepertinya ada yang salah dengan Nona Rayya.”