
Rayya membawa bungkusan berisi makanan yang tadi ia pesan. Langkahnya biasa, normal… tidak cepat atau lambat. Ia merasa tidak buru-buru mendatangi ruangan mantan suaminya. Namun dalam hatinya memang ada rasa kesal… dan ia ingin menumpahkan emosi kepada lelaki itu karena kedatangan istri barunya. Atas teori bagaimana sih wanita itu tadi berani mengajarinya omong kosong? Mungkin dia habis mabuk malam tadi. Karena itu ia berani mengoceh di ruangannya.
Rayya mengakui, setengah pikirannya ingin cepat mendatangi lelaki itu-- buru-buru dan di lain sisi, ia tidak terlalu mau menemui mantan suaminya karena… ia ingin berdamai dengan keadaan. Menemui mantannya untuk mengurusi masalah yang sebenarnya sepele malah akan membuat lukanya terbuka, lagi. Makanya… dia memilih berjalan biasa… tidak cepat pun lambat.
Wanita itu melihat ke arah meja sekretaris. Ke mana mereka? Kedua lelaki yang menjadi sekretaris Daus pergi bersama? Ini memang makan siang namun… mereka apa tidak bisa kalau bergantian istirahat? Rayya menggeleng takjub, apa gunanya membayar karyawan sebanyak itu kalau mereka bahkan tidak bisa mengatur waktu istirahat? Bagaimana kalau telepon penting masuk? Apa bosnya perlu menjawab sendiri?
Boros!
Lebih baik membayar satu karyawan saja. Bahkan Rayya hanya memiliki seorang sekretaris merangkap sebagai asisten pribadi. Meski uang gaji yang ia beri lebih besar dari standar karyawan biasa, namun tidak begitu mahal dibandingkan mengangkat dua sekretaris sekaligus.
Perempuan itu melangkah, mendorong pintu perlahan. Ia mengernyit ketika pendingin ruangan menyala. Tapi, lelaki itu tidak nampak di mana pun. Ia bergumam kalau mungkin mantan suaminya pergi lalu lupa menonaktifkan ac-- air conditioner. Padahal, perusahaan mereka gencar mengkampanyekan go green dan menghemat listrik, demi kelestarian bumi… katanya, namun malah ternyata jajaran direksi melakukan pemborosan.
Ia melangkah cepat ke arah remote yang di gantung di tembok. Ia memekik terkejut ketika melihat seseorang terlelap di sofa. Astaga! Untung lelaki itu tidak ikut terkejut. Ia masih terlelap, tidak mendengar teriakan wanita itu.
Rayya mengurungkan niat kemudian memilih mendekat ke sofa. Ia letakkan bungkusan berisi dua porsi makanan yang ia bawa. Dalam diam, Rayya mengamati mantan suaminya.
Lelaki itu memiliki bulu mata lentik, kedua mata elangnya berhias alis yang tebal. Rambutnya ikal cepak, lelaki itu tidak pernah melupakan jel rambut sejak ia memasuki masa puber. Penampilannya mencerminkan kalau lelaki itu tipe manusia yang mementingkan penampilan.
Rayya mendengkus. Bagaimana bisa tipe pria seperti ini memiliki istri yang bahkan… mengenai padu padan saja kurang mengerti. Di mana… siapa sih yang mengajarkan istri barunya memilih pakaian? Kalau ia belum pandai memilah pakaian, kenapa ia tidak mempekerjakan seorang stylist? Setidaknya ia tidak memalukan seperti itu.
Ya Tuhaaan!
Rayya bergidik… tepat saat ingatannya mengenai penampilan wanita itu kembali datang, ketika menemuinya satu jam lalu. Dia beli baju karena lagi sale atau bagaimana? Seakan asal pilih, asal punya brand ternama, asal kelihatan wah, ia pakai-- tempelkan ke tubuhnya. Bahkan Tuhan tahu kalau koleksi Barbie milik Rayya dulu, memakai pakaian yang lebih fashionable dan normal.
Ia menghela napas kemudian menatap ke arah kotak makan di atas meja. Apa mantannya tadi makan siang dengan istri barunya? Apa sebelum wanita itu menemuinya, ia makan bersama Daus? Untung Rayya mesan salad karena kalau pun lelaki itu sudah makan, ia bisa memakannya nanti.
Daus itu tidak menyukai sayuran tapi kalau buah, apa pun ia terima. Dengan catatan tidak sepat atau masam, lelaki itu tidak akan menolaknya. Maka Rayya menambahkan salad atau sup buah sebagai makanan penutup dibanding cemilan manis.
“Hai, Mas,” ucap wanita itu ramah ketika mantan suaminya membuka mata. Lelaki itu mengernyit kaget ketika melihatnya.
“Kamu ngapain?” Lelaki itu bangun lalu membetulkan posisi tubuh. Ia mengucek mata kemudian memeriksa jam di ponsel.
“Kamu udah makan?” tanya Rayya ramah. Matanya menatap kotak makan di meja.
Lelaki itu menarik napas. “Kayaknya udah bukan kewajiban kamu memeriksa jadwal makan aku,” jawabnya dingin.
“Aku bawain Mas salad kesukaan kita, kalau-kalau kamu belum makan buah,” lanjutnya mengacuhkan ucapan ketus mantan suaminya.
Rayya tertawa mengejek. Ia kemudian menatap jemari, masih mengabaikan betapa dingin reaksi lelaki itu. Beberapa hari ini dia mengecat kukunya dengan warna beragam. Biasanya, ia memilih untuk memakai satu warna namun, karena ia ingin menyegarkan pikiran, ia mau-mau saja ketika Shanaz mengusulkan kuteks warna-warni di nail art shop. Setidaknya waktu ia menghadapi momen menyebalkan seperti ini, Rayya bisa tersenyum mengamati kukunya yang menggemaskan.
“Terima kasih,” ucap Daus tiba-tiba.
Rayya menengadahkan kepala, melihat lelaki itu
“Terima kasih,” ulangnya. “Kamu… bisa keluar ‘kan? Lain kali kamu nggak perlu repot-repot….”
“Mas,” potong Rayya cepat. Bibirnya tersenyum manis namun matanya menatap tajam. “Aku… juga pinginnya gitu… aku itu beneran nggak mau loh ngurusin kamu. Aku juga ya udah malas kalau harus ngurusin masalah di luar urusan kantor begini. Lagi pula udah cukuplah kamu ngebuang aku terus ngegantiin aku sama anggota lenong begitu….”
“Rayya!” pekik lelaki itu tertahan. “Mas rasa, kamu nggak berhak menghina wanita pilihan Mas.”
Rayya kemudian tertawa sumbang. “Saya ini bukannya kepingin ngehina ondel-ondel pilihan Mas. Saya bahkan emoh mengurusi drama rumah tangga kalian. Gimana pun wanita sehebat saya berhak bahagia, kan?”
Daus masih terdiam ketika mendengar Rayya kembali menghina istri barunya. Lenong? Ondel-ondel? Memangnya istri barunya separah itu?
“Saya pun malas loh ngurusin kalian. Tapi masalahnya, Mas… dia duluan yang mendatangi saya,” tukas wanita itu geram. Meski wanita ini menggunakan nada manja-- terdengar dibuat-buat karena menjijikkan. Perempuan ini bahkan tidak pernah mau merendahkan dirinya karena sekadar menarik simpati. Diminta pura-pura manja demi mendapat simpati pun emoh.
Lalu apa yang membuat Rayya tiba-tiba mendayu-dayu begini sampai membuat Daus nyaris gumoh? Tunggu… tadi dia bilang kenapa?
“Mas tahu belom? Istri baru kamu... masa dia tiba-tiba datang ke ruangan saya. Lalu….,” jedanya, masih menggunakan nada manja-- menye-menye.
“Masa, Mas… dia bercerita ke saya. Kayak ngedongeng gitu,” lanjutnya.
Daus mengernyit. Seseorang, apa ada yang mampu menjelaskan kenapa Rayya mengerikan seperti ini?
“Mas… lebih anehnya lagi, dia itu bercerita soal karma….!” pekiknya kencang, sekencang Dora beserta monyetnya ketika menemukan petunjuk di serial petualangan .
Yaaay! Seperti itu.
“Mas!” Rayya kembali berusaha membuat Daus fokus dengan perkataannya. Matanya seketika menjadi nyalang. Ia mendelik tanpa kedip. “Tolong lain kali, ajarin istri barumu ya. Kalau pingin cerita atau dongeng soal… karma….” Rayya menghela napas, menekankan seluruh ucapannya, tiap kata terutama karma dengan nada manis namun mengejek sadis.
Daus masih berusaha mengartikan maksud kalimat-kalimat tersebut.
“Tolong deh besok-besok kamu kasih tau dia, Mas. Kalau dia mau ngomong soal karma, jangan muluk-muluk. Takutnya, bukan saya… tapi kalian. Bagaimana kalau nanti… karma itu berbalik menyerang kalian?”