
Rayya melangkah cepat ke arah dapur sedangkan Arsa menuju ke arah balkon kemudian membukanya. Lelaki itu disambut angin malam ketika ia membuka pintu. “Kamu mungkin bisa sedikit santai, semoga dengan ini, kamu bisa lebih nyaman. Kita nggak benar-benar berduaan, Rayya. Kita ditemanin banyak orang… di bawah sana,” tukasnya sambil tersenyum, menunjuk ke luar.
Rayya tersenyum sekilas. Ia bergerak menyiapkan minum. “Mas mau yang mana?” tanyanya sambil menunjuk kapsul minuman.
Arsa menatap ke mesin kopi, kemudian mengambil cangkir milik Rayya yang tergeletak di atas meja makan dan berisi green tea latte. “I think I should pick this one,” tukasnya kemudian dengan bergegas menyesap minuman tersebut. “Mas baru tahu kalau kamu sekarang punya mesin kopi?”
Rayya mengerjap. Untungnya itu tadi belum diminum. Kalau tadi ia sempat meminum, maka itu berarti Arsa menyesap bekas minuman Rayya. Ia mengambil cangkir lain, kemudian setelahnya mengambil sebuah kapsul lalu memasukannya ke mesin. “Shanaz ngasih ide, Mas. Katanya saya ini perlu mencoba beberapa hal di luar kebiasaan supaya saya ganti suasana.”
“Good! Nggak salah kalau kamu mau mencoba, karena selama ini kamu kan kayak… apa istilahnya…? katak dalam tempurung, ikan dalam kolam? Intinya… mau sebagus gimanapun tempurung dari Kakek… kamu itu cuma berputar-putar di poros yang sama. It’s nice to go out there, and find your new amazing life, Rayya. Stop living in a fake fairy tale, ok?”
Rayya mengerjap. Ia tersenyum kecut. A fake… fairy tale? Apa begitu dunia miliknya selama ini? Perempuan itu mengerjap ketika Arsa mengangsurkan plastik, meletakkannya di depan Rayya.
“Oh, iya… sebentar, Mas,” tukasnya kemudian mengambil piring serta sendok. Ia melirik ke arah Arsa. Lelaki itu melangkah ke arah sofa. Rayya mengangguk pelan. Arsa ingin makan sambil menonton.
Setelah menata makanan, perempuan tersebut mendatangi Arsa kemudian mendekat, memberikan makanan milik Arsa. “Mas ingat ya kalau nasi buat aku cuma separuh porsi… tapi Mas malah lupa, biasanya Mas itu nggak mau pakai timun, dan cuma pakai sedikit… sedikit sambal dan daun singkong, kan?” tukas Rayya kemudian menggeleng pelan. “Kok bisa Mas lupa sih? Kalau begini, Mas bisa kepedasan loh.”
Rayya itu menyukai masakan serba rempah, sebenarnya. Meski memang ia tidak sering memilih menu seperti itu sih, mungkin… beberapa kali dalam sebulan. Walau ia musti menakar porsi nasi, berhati-hati kapan ia bisa memakan atau menikmatinya, kemudian memastikan total kalori di hari tersebut. Bagaimana pun, siapa sih yang sanggup menolak aroma rendang serta gulai dan sambalado seperti itu?! Bagaimana bisa… how come?!
Arsa mengangguk-angguk kemudian menatap Rayya. “In fact, I do care any kind of things about you more than about my own self,” tukasnya kemudian tersenyum.
Rayya mengerjap tidak memercayai kalau ia mendengar perkataan Arsa. Ternyata lelaki itu bisa melucu meski… little bit… awkward.
Arsa menatap lurus. Sedangkan Rayya memilih mengalihkan pandangan. Perempuan tersebut menekuri makanannya. Tangannya kemudian bergerak mengambil remote di meja, berniat menyalakan televisi. Arsa terlihat mulai memilah makanan, menyisihkan sambal dan timun ke pinggir piring. Rayya mencuri pandang, melirik beberapa kali kemudian mulai menyuap.
“Do… you love?”
Astaga!
Rayya terbatuk ketika mendengar pentanyaan Arsa. “Pardon?” tukasnya cepat. Sepersekian bagian dalam kepalanya mulai mengajaknya memikirkan macam-macam. Debaran di dadanya semakin cepat, membuatnya mewaspadai detak jantungnya. Kalau ia memakai jam pintar miliknya, mungkin sudah muncul peringatan kalau… jantungnya berdetak tidak beraturan.
Rayya mengerjap, mendengar lelaki itu bicara lalu terdiam, seakan membuka teka-teki baru. Wanita tersebut menarik napas, sebelum kemudian membuka suara, ketika ia telah percaya kalau jantungnya normal kembali. Terlebih setelah tangan Arsa menyentuh pinggir bibir. “What… kind… what kind of love, that… you ask… for?
Detik itu juga Rayya merutuk kekurangajaran otaknya. Kenapa bisa dari sekian miliar kalimat, bibirnya diperintah oleh otaknya sendiri, mengucapkan kalimat itu?
“Maksud Mas bukan itu… cuma kalau kamu mikir ke sana, nggak papa, bagus malah.”
Rayya tersenyum cepat kemudian malah terkekeh, mengakui kebodohannya sendiri. “Mas nggak usah ngomong love sama aku, sih. Begini-begini aku wanita, Mas. Bisa baper loh,” tukas Rayya. Ia kemudian menyendok makanan kemudian mengalihkan pandangan, menatap televisi.
“Would… you love to teach me? How should I face my feeling? ”
Rayya menoleh, memerhatika lelaki itu. Ia mendapati bahwa pria di sampingnya menatap lurus seakan ia berusaha menyelami berbagai rahasia dalam kepala Rayya. “Mas?”
Arsa kembali tersenyum. “How should I face my feelings?”
Rayya menghela napas. “What kind of feelings?”
Arsa meletakkan piringnya, kemudian menyandarkan punggung ke sofa. Ia menggulung lengan kemeja. Kemudian ia bergerak, merubah posisi duduk, menghadap Rayya. “Honestly, I don’t know how should I face my feelings… for instance I really care anything about you, than about my own self. Tell me, how should I face this kind of feelings?”
Rayya menelan cepat, kemudian meletakkan piringnya. Ia merasa isi perutnya seperti sedang teraduk-aduk. Ini… kenapa tiba-tiba dia mengalami momen absurd bersama… Arsa? Maksudnya… ini benar… Arsa… kan?
“Mas?”
“Well, never mind. Saya mungkin cuma lapar makanya… saya merasa… sedikit pusing,” tukasnya kemudian mengambil piring, kemudian memilih makan… dengan cepat yang saking cepatnya, Rayya khawatir kalau-kalau Arsa… belum makan bertahun-tahun.
Rayya memilih menyuap makanannya sambil sesekali menatap Arsa. Lelaki itu tiba-tiba nempak mulai normal. Bukan berarti ia tadi aneh, cuma mungkin… agak tidak biasa. Rayya mengingat-ingat, sejak kapan… Arsa mulai belajar menggombal. Begini… tadi itu dia sedang digombali… digoda oleh Arsa, kan? Tapi kenapa? Mereka bersama bertahun-tahun tapi kenapa baru sekarang Arsa mulai menggodanya? Maksudnya… kemarin-kemarin dia itu ke mana aja? Kenapa baru sekarang, Arsa baru terang-terangan membual soal… perasaannya? Atau… itu cuma perasaan milik Rayya saja? Mungkin… semua itu cuma becanda ala Arsa?
Rayya mengangguk pelan. Mungkin, karena lama tinggal di negara sebelah, budaya bercanda ala Arsa mengalami perubahan signifikan. Bukankah di luar sana, kehidupan lebih bebas? Maka pola bercanda pun mengalami pergeseran nilai. Rayya mengingatkan untuk berhati-hati memainkan hati mengingat Arsa… sepertinya cuma bercanda.